[Exclusive] Yogyakarta Royal Wedding: Pawiwahan Ageng Kraton Yogyakarta (1)

Probo Harjanti

 

Hari ini, Minggu 16 Oktober keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memulai Hajat Dalem, mantu. Jeng Reni bungsu Sultan HB X masih memiliki seorang kakak yang belum menikah, yakni GRAj Nurabra Juwita, atau Jeng Abra. Karenanya Jeng Reni harus meminta ijin dan restu sang kakak, salah satunya dengan acara Plangkahan, Jeng Reni memberi pelangkah pada Jeng Abra.  Jeng Abra Sang kakak dipersilakan meminta pelangkah yang harus dipenuhi sang adik. Nampaknya yang diminta pun bukan barang yang susah didapat, dalam arti tidak ingin mempersulit adiknya, sekedar pemenuhan syarat seremonial saja. Pelangkah itu diserahkan pada hari ini, saat saya menulis artikel ini, pada acara plangkahan.

Tuntas sudah penantian Jeng Reni dan Ahmad Ubaidillah, pasangan calon pengantin kraton Yogyakarta. GKR (Gusti Kanjeng Ratu) Bendara adalah nama baru Jeng Reni setelah diwisuda. Sedangkan Ubaidillah mendapat gelar KPH (Kanjeng Pangeran Haryo) Yudanegara. Saya sertakan foto setelah wisuda.

Pasangan ini betul-betul serasi, Putri  yang cantik dengan Pangeran yang tampan. Sama-sama pintar berbicara di depan umum, terutama di depan insan pers. Tak mengherankan, Jeng Reni adalah mantan atlet sepatu roda, juga pernah menjadi finalis putri-putrian. Sedangkan Ubaidillah adalah PNS, dengan karier yang  bagus di istana wakil presiden.

Sang Putri berkomitmen untuk memajukan pariwisata Jogja, karena itu pernikahan ini juga terakit dengan pariwisata. Seperti saat diadakannya acara Pit-pitan Ngiring Temanten beberapa hari lalu. Juga berkeinginan melestarikan dan mengembangkan lurik yang di Jojga kurang dilirik. Meskipun, jogja juga memiliki  lurik, namun masih kurang bergema dibanding batik.

Tamu yang sudah memastikan hadir di Bangsal Kencana pada upacara panggih temanten di antaranya  Presiden, Wapres, plus 20 menteri. Selain itu, seluruh mantan Presiden dan wakil Presiden juga diundang, sebagaimana raja-raja seluruh Nusantara. Karenanya tempat duduk di Bangsal Kencana ditambah menjadi 60 buah.

Gladi bersih iring-iringan kereta yang akan membawa  pasangan pengantin, penari bedaya manten, dan kuda yang bakal dinaiki penari Lawung, sudah dilaksanakan. Upacara adat panggih, juga sudah dilakukan gladi bersih (gladhi resik) disaksikan langsung oleh Sultan.

Ada 6 kereta istana disiapkan untuk kirab tanggal 18 Oktober nanti. Kirab yang ditunggu ribuan kawula Jogja, dengan rasa tak sabar dan penasaran ingin melihat kecantikan dan ketampanan pasangan pengantin ini. Sultan menghendaki penutupan jalan Malioboro sesudah jam 15.00, karena tak ingin ada masyarakat yang dirugikan, terutama pedagang di Pasar Beringharjo. Beliau pun tetap ngantor dan memimpin rapat pada hari itu (Selasa 18 Oktober 2011), artinya aktivitas kantor gubernuran tidak terganggu.

Untuk menyambut Pawiwahan Ageng (pernikahan agung) ini, diadakan pesta rakyat di Plaza SO 1 Maret, kompleks Museum Beteng Vredeburg, dengan pertunjukan kesenian rakyat tradisional mau pun modern. Juga ada  Malam Sastra Malioboro  yang akan menampilkan sejumlah penyair. Mereka akan membawakan karya alm Ragil Suwarno Pragolapati.

Selain itu juga disediakan angkringan gratis bagi pengunjung perta rakyat seperti  nasi kucing  dan kawan-kawan (yang tak disuka Itsmi) tapi yang lain juga ada, seperti bakso, wedang ronde, jagung bakar dan lain-lain.  Angkringan gratis ini merupakan sumbangan sukarela dari berbagai kalangan (perusahaan, perguruan tinggi, komunitas hobi, social , juga secara individu).  Yang sudah-sudah, mereka,  para penyumbang memesan (mborong) angkringan, jadi jangan salah, penjual angkringan tidak dirugikan, malah semua dagangan diborong habis.

Persembahan Ini merupakan salah satu bentuk kecintaan dan bekti (bakti) kawulo Jogja kepada Sulatan HB x sebagai rajanya Jogja. Karena Sultan memikirkan dan memperhatikan rakyatnya, maka rakyat pun bersikap seperti itu. Tahta untuk kesejahteraan masyarakat, justru berbuah kecintaaan dan ketaatan kawulo. Jogja memang istimewa bukan? Jadi siapa yang meragukan keistimewaan Jogja lain dengan propinsi lain?

Baiklah teman-teman, tunggu liputan prosesi pernikahan dan kirabnya ya….biasalah ‘memanfaatkan’ suami.

 

 

81 Comments to "[Exclusive] Yogyakarta Royal Wedding: Pawiwahan Ageng Kraton Yogyakarta (1)"

  1. probo  20 October, 2011 at 05:32

    pak ODB…tidak pak….
    saya orang kebanyakan Pak…sungguh
    kebetulan saja suami mendapat akses masuk karena orang pers

  2. Oscar Delta Bravo USA.  20 October, 2011 at 00:13

    Sejak pertamakali artikel bu GuCan ttg “Kraton Jogja”saya sudah menduga,pasti berdarah biru juga,lohhh tahu semuanya sampai sedetail2nya.Mantaaff.Salam dari Florida yang sedang memasuki musim dingin

  3. Mawar09  19 October, 2011 at 00:03

    Bu GuCan: terima kasih ya artikel dan foto2nya, bagus semuanya. Pasangan yang serasi. Ditunggu ya lanjutannya. Salam!

  4. HN  18 October, 2011 at 23:20

    Bu Gucan… hehehe. Ngakak saya membaca kalimat terakhir “memanfaatkan suami.” Ohya, kalau dipandang dengan seksama, Jeng Reni paling mirip sama Ratu Hemas ya.

  5. Reca Ence Ar  18 October, 2011 at 20:50

    Pasangan yang sangat serasi…….
    Iiiiiiiiiiiiiiiiihhh…….jadi pengen lagi, xixixixixixi
    Salam bahagia u/ kedua Mempelai

  6. Meazza  18 October, 2011 at 20:38

    yg cowok cakep banget, yg cewek biasa aja

  7. probo  18 October, 2011 at 18:01

    nevergiveupyo Says:
    October 17th, 2011 at 12:22

    oh suami2 termanfaatkan istri (dedicated vor pak guru heheh)
    (masih jauh lebih baik darapada suami takut istri nev hehehe)

    ditunggu laporan pandangan matanya lbh detil bu guru… makasih lho.. jadi tau..cantik betul putri-ku ini
    emang cantik dan tampan……

  8. probo  18 October, 2011 at 17:58

    RM Says:
    October 17th, 2011 at 12:21

    @mba Probo,

    nuwun liputannya yg makyuuuus….ditunggu edisi berikutnya…
    klo boleh nitip pesan utk yg suka ngindhik2 d balik layar….nitip menu2 yg bikin ngences itu dpajang d sini ..biar tambah cleguk2…hehe..
    sambel goreng indhil2 masuk daftar menukah?

    cheers…

    wah…nggak janji ya…untuk nginguki pasugatan (hidangan) resepsinya lo….

  9. probo  18 October, 2011 at 17:53

    Osa Kurniawan Ilham Says:
    October 17th, 2011 at 11:28

    Bu Probo,
    Priyagung Cikeas punapa enggih diundang kaliyan Sri Sultan? Punapa sedaya undangan kedah ngagem pakaian tradisional ?

    kasinggihan…lan rawuh sekaliyan……pun papag gendhing monggaang….mligi kagem panjenenganipun
    (tetamu mboten wajib ngagem busana tradisional….menyesuaikan kemawon….)

    Liputannya ekslusif banget nih. Baltyra hebat nih, bisa jadi referensi berita Royal Welding Ngayogyakarta bagi media lain.
    (walah nijh mboten to…..wong telat-telat ngaten kok)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.