[Exclusive] Yogyakarta Royal Wedding: Pawiwahan Ageng Kraton Yogyakarta (2)

Probo Harjanti

 

Dari Nyantri, Plangkahan dan Tantingan

 

Nyantri

Bagi Ahmad Ubaidillah, atau KPH Yudanegara yang bukan orang Jawa, perlu belajar banyak hal jelang pernikahannya. Terutama dari sisi adat keistanaan. Oleh sebab itu KPH Yudanegara harus nyantri (dari kata santri). Bagi masyarakat umum, nyantri dilakukan ketika rumah calon pengantin berjauhan, sehingga kalau calon pengantin pria berangkat di hari ’H’ dikuatirkan mengganggu kelancaran upacara. Sebab, segala sesuatu bisa terjadi saat di perjalanan menuju tempat pernikahan. Misalnya keterlambatana karena macet, entah macet karena rusak, ban bocor,  atau terjebak kemacetan lalu lintas di jalan. Dan  yang lebih tragis terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kecelakaan misalnya. Keterlambatan saja sudah menjadikan cemas alang kepalang, apalagi kalau sampai terjadi kecelakaan. Itulah sebabnya, calon pengantin pria ‘diinapkan’ di rumah saudara pengantin pria, atau tetangga.

KPH Yudanegara berjalan menuju Bangsal Kesatriyan untuk menjalani nyantri

Biasanya nyantri hanya semalam, tetapi karena banyak yang harus dipelajari dan penyesuaian, maka KPH Yudanegara dua hari nyantrinya. Itu tentu demi kesempurnaan acara upacara pernikahan.  Kalau jaman dulu, nyantri di kraton 40 hari, namun sejak pemerintahan Sultan HB IX, nyantri diperpendek waktunya. Selama nyantri, banyak yang harus dipelajari KPH Yudanegara, misalnya ‘lampah dhodhok’ (berjalan dalam posisi jongkok, bukan jongkok biasa, tetapi berjalan tumit telapak kaki berjinjit, tumit diduduki, kemudian berjalan dengan lutut menempel di lantai, waktu mengangkat kaki dibantu dengan tangan.

KPH Yudanegara nyantri di Dalem Kesatriyan

Selain itu harus belajar melakukan sembah, jangan salah, sembah di sini adalah bentuk penghormatan kepada raja, tentu berbeda dengan saat manusia menyembah kepada Yang Maha Segala. Ini kadang orang yang tidak tahu asal bunyi saja, masa manusia kok disembah. Dalam hal ini banyak nilai-nilai filosofi yang kadang orang tidak tahu sehingga disalah-artikan.

Sebelum dijemput ke istana, KPH Yudanegara dan keluarga berada di Dalem Mangkubumen, sebelah barat kraton, dekat sekali dengan Pasar Ngasem yang sekarang bukan lagi menjadi pasar burung.

KPH Yudanegara di kompleks Dalem Kesatriyan

Dijemput dengan kereta Kyai Puspaka Manik, calon suami Jeng Reni ini dielu-elukan masyarakat yang sengaja menunggu di pinggir jalan yang akan dilalui. Yang menyambut kedatangan KPH Yudanegara adalah GKR Hemas.

 

Plangkahan

Sementara itu, GKR Bendara menyerahkan ‘pelangkah’ kepada kakaknya yang dilangkahi (didahului menikahnya) pada upacara ‘Plangkahan’. Pelangkah yang diserahkan sesuai permintaan GRAj (Gusti Raden Ajeng) Nurabra Juwita, atau Jeng Abra. Jeng Abra benar-benar berjiwa besar, pelangkah yang diminta bukan barang yang susah dicari, hanya keperluan sehari-hari. ‘Pelangkah’ (barang yang diserahkan) tersebut cerminan kasih saying kakak-adik, dan adik-kakak yang saling menyayangi. Sayangnya kakak karena tidak meminta barang yang aneh-aneh dan susah didapat, sayangnya adik dengan pelangkah lain yang bukan permintaan kakaknya. Tidak mengherankan, keduanya memang amat dekat, mengingat selisih umur hanya 3 tahun, jadi masa bermainnya sama. Kebetulan pula  sama-sama penyuka sepatu roda.

GKR Bendara (kiri depan) menyerahkan pelangkah kepada kakaknya, GRAj Nurabra Juwita di kediaman keluarga Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kraton Kilen

Usai dari situ sang Putri diantar menuju keputren (bangsal Sekar Kedaton), untuk menjalani masa pingitan. Sebagaimana calon suaminya juga ‘dipingit’ di bangsal Kasatriyan.

GKR Bendara di antara ibu, saudara, dan kerabat berjalan menuju Bangsal Keputren

Sementara itu pada hari yang sama, Minggu 16 Oktober 2011, masyarakat mempersembahkan pisungsung berupa hasil bumi untuk keperluan tarub, seperti pisang raja beserta pohonnya, kelapa gading berikut tangkainya, padi, bleketepe (daun kelapa tua yang sudah dianyam), daun kelapa berikut tangkainya (janur), pohon tebu wulung (ungu), tangga bambu dan lain-lain.

Yang berupa ternak juga ada, kambing kendit, kambing hitam dengan semacam cincin putih melingkari perut, dan kepala kerbau. Semua itu kehendak rakyat, sebagai bakti kepada raja, bukan diminta. Mungkin kalau jaman dulu yang disebut dengan pasok bulu bekti.

 

Tantingan

Ditanting artinya ditanya ketegasannya akan sesuatu hal. Dalam hal ini, yang ditanting adalah putri bungsu Sultan, yang nanting adalah Sultan HB X. Tantingannya berupa kesungguhannya untuk menikah dengan KPH Yudanegara. Tantingan dilakukan di Kagungan Dalem emper bangsal Prabayeksa. Disaksikan ibunda dan seluruh kakaknya. Sang Putri pun menjawab dengan mantap, bahwa dirinya benar-benar siap menikah dengan Sang Pangeran Tampan dari seberang laut.

GKR Bendara sungkem kepada ke dua orangtuanya di Kraton Kilen

Upacara Tantingan ini dilaksanakan pada hari Senin pagi, 17 Otober 2011. Sebelumya pada pagi harinya dilakukan upacara  Siraman. Yang melambangkan pembersihan lahir dan batin menjelang pernikahan esok pagi. Sayang sekali, berbeda dengan yang sudah-sudah, siraman kali ini tidak bisa dipotret olah wartawan, kecuali wartawan mitra. Yang sudah-sudah, wartawan boleh memotretnya, meski dari jarak tertentu. Suami saya memilik foto siraman GKR Pembayun, dan siraman GKR Maduretno. Nampaknya dari EO yang melarang, karena sebelumnya wartawan sudah dipandu ke tempat-tempat dilaksanakannya siraman, oleh Rayi Dalem (adik Sultan). Wartawan hanya melihat dari tayangan layar lebar tanpa suara.

Setelah siraman dilanjutkan dengan ‘ngerik’ membuat ‘pola bunga teratai’ untuk paes ageng, dan ngalub-alubi, yakni ‘mengisi’ cengkorongan/ pola bunga teratai yang sudah dibuat, tetapi samar-samar. Ini untuk mempermudah kerja esoknya.

Malamnya dilanjutkan dengan Midodareni, menanti turunnya bidadari di Bangsal Sekar Kedhaton. Teman dekat (putri) boleh berkunjung dan menemani turunnya bidadari. Pada malam itu pula, Sultan dan Permaisuri mengunjungi calon menantunya, dan sempat menengok kamar calon penganten. Pada saat itu, KPH Yudanegara menitipkan bingkisan kepada Sultan yang menerimanya dengan senyum. Bingkisan itu untuk calon istri. Nampaknya KPH Yudanegara termasuk pria romantis.

Maaf ya, saya telat melaporkannya pada teman-teman, meski foto sudah tersedia……

 

68 Comments to "[Exclusive] Yogyakarta Royal Wedding: Pawiwahan Ageng Kraton Yogyakarta (2)"

  1. probo  24 April, 2013 at 22:43

    mas inunk…kok tekan kene…hehehe…
    gitu ya……maklum amatiran tur…ming nunut haha
    makasih ya…

  2. inunknastiti  22 March, 2013 at 14:05

    Eh, saya komennya juga telat. hehe. Untuk acara siraman, fotografer dan wartawan (kecuali mitra) tidak diperkenankan masuk itu bukan larangan EO, tapi kebijakan dari pihak Kraton sendiri. EO hanya menjalankan perintah hehe.

  3. probo  22 October, 2011 at 19:00

    Mawar…nggak ada kata terlambat kok…wong telat hehehe

    Meita, ra duwe panci kok arep ngupluki….

    mbak Lani…neh kaco baksone….nek paci blirike kok silih….

  4. Lani  21 October, 2011 at 05:14

    63 MEITA : panciku???? aku aja pinjam dr aki buto pancil blirikkkkkkkkkk

  5. Mawar09  21 October, 2011 at 00:31

    Bu GuCan : wah.. telat aku baca artikel ini. Terima kasih ya sudah berbagi disini, jadi tahu lebih banyak suasananya. Salam!

  6. Meitasari S  20 October, 2011 at 07:53

    mbak yu guru, lha kersa po tak kupluki panci ne yu lani????? ha ha ah

  7. probo  20 October, 2011 at 05:22

    HN…iya…pada nakal-nakal tuh….
    tapi saya tak tergoda loooo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.