Hati-hati Pada Pesonaku

Alexa – Jakarta

 

“Xa…”, aku yang sedang tekun merubah display toko sesuai dengan tema nyaris terlonjak mendengar suara khas yang sudah lama tak kudengar. Aku bangkit dari jongkok dan segera berdiri menghadapinya – Francine Dewantoro, pria masa laluku. Tuti di meja kasir di sudut ruangan melirik sebentar dan mas Yudhis si kepala bagian maintainance Mall tempat tokoku berada menatap penuh perhatian sosok tampan bertubuh atletis itu.

“Eh kamu….apa kabar?”, jawabku ringan sembari mengulurkan tangan menyalaminya. Dia terkejut melihat aku yang biasa-biasa aja (reaksi yang sangat beda dibandingkan waktu perpisahan itu). Dia mengajakku untuk ngopi di café seberang, suatu ajakan yang dengan ramah terpaksa kutolak karena aku harus menyelesaikan display tematik untuk Maret nanti – apalagi aku sudah menyeret-nyerat mas Yudhis supaya membantuku dalam memberikan sentuhan lighting pada display kali ini.

Dia memaksa untuk ngobrol bareng dan akhirnya kusepakati saat makan siang tapi dengan mengajak mas Yudhis bersama seraya beralasan kalau aku sudah janji ke mas Yudhis buat traktir makan siang (padahal sih memang butuh seseorang yang netral di antara kami). Akhirnya jadilah kami bertiga makan siang, aku dan mas Yudhis yang asyik bercanda….awalnya Francine hanya bicara ala kadarnya tapi candaan kami berdua akhirnya membuat dia terpancing dalam canda kami. Selesai makan siang, kami berpisah setelah sebelumnya dia minta no Hpku yang terbaru sebab nomor terdahulu sudah kuganti.

Aku kembali ke toko untuk meneruskan pekerjaan sebab masih ada tiga toko lagi yang harus dirubah displaynya (toko-toko tersebut milik bossku lho). Hubungan pekerjaan yang terjalin pada akhirnya menjadi hubungan pertemanan yang akrab dengan mas Yudhis bahkan dengan isteri dan anak-anaknya yang kadang singgah ke Mall juga.

Esok sore mas Yudhis mengajakku ngopi…

“Xa, seneng dong kemarin si mantan datang. Terus dia dah telpon…ngajakin CLBK?”.

“Halah mas nanya seperti wartawan infotainment aja…gue bukan artees lho.”

Yoi elo bukan artis, yang gue inget sih waktu elo mewek-mewek pas patah hati, kata mas Yudhis seolah mengingatkan budi baiknya waktu meminjamkan bahunya buat aku menumpahkan tangis broken heart itu.

Aku langsung tertegun dan mengucap, “Iya mas sowri deh…jadi gue harus kasih laporan lengkap ya?”. Dan kulanjutkan bahwa si mantan memang menghubungi kembali dan mengajak balikan cuman aku merasa let the gone be by gone – sudah tak ada yang tersisa dalam ruang hatiku buat dia…bahkan rasa bencipun tak ada….it’s just plain.

“Sumpee looo, Xa. Waktu itu kan elo mpe nangis darah gitu.”

Aku menghela napas panjang mengingat saat-saat itu dan merasa beruntung bahwa mas Yudhis selalu menyediakan a shoulder to cry on…dan kemudian mereview kembali perasaan-perasaan waktu itu dan perasaan saat ini.

“Mas…kata-kata bijak yang bilang time’ll heal itu ternyata benar ya. Dan boleh percaya boleh enggak – kalau ingat-ingat saat itu, sebenarnya waktu itu feelingku sudah gak nyaman ama hubungan kami bahkan sebelum pertengkaran itu – aku mencatatnya  di diary. Tapi aku berusaha mengabaikannya. Trus tau engga mas…waktu kami bertengkar itu dan dia dah mau pergi ninggalin aku…

Aku mengejarnya bahkan memeluknya dari belakang. Tau kan itu adegan film Korea yang selalu ingin kulakukan n you know what happen?”

“Sek-sek….akhirnya kejadian juga nih kamu melakukan adegan impian serial Korea itu…ckckckck….masih mengambil kesempatan dalam kesempitan,” kata mas Yudhis yang tahu banget tingkat addictedku pada mini seri Korea.

Aku ketawa cekikikan, “Mas, u know what my feelin’ that time…EMPTY …boro-boro berdebar-debar bahkan keinginan buat menangis aja gak punya.

“Ckckckck….emangnya elo ngarepin gimana.”

“Hei aku memeluknya dari belakang dan meletakkan dia tepat di jantung hatiku…seharusnya ada debar-debar dan letupan-letupan gimanaaaa gitu.”

“Ya ya ya…terus kenapa mewek-mewek ke gue…bini gue sempet curiga jangan-jangan elu di MBAin tuh laki…”

“Jhiahahaha, nah tuh juga gue pikirin belakangan ini. Gue rasa mas mungkin ini efek kehilangan…enggak hanya terjadi di gue aja tapi juga ke orang-orang lain. Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, tapi kalau orang dewasa kan lebih parah sebab main hati.” .

“Heem ya udah, gue lega kalo gitu….beneran kan dah baik-baik aja.”

“Iyaa my brother wannabe…aku sehat, waras n siap nyengir sepanjang waktu.

Btw..u know why Bisma n Francine  pingin CLBK mas?”

 

Kenapa Xa?….  “Because I am loveable, don’t you agree?”

Mas Yudhis ngakak sembari bilang, “Nah kalo gini gue yakin kalau elo memang dah pulih.”

Hati-hati dengan pesona yang tersaji…saat engkau mengenalku,

Jatuh hati dan bertekuk lutut lemas tak berdaya pada tuturku,

Terpana pada sudut kerlingku,

Terjerat pada belitan kasihku,

Terpaku pada segenap resah yang tercipta,

Saat kau ingin pergi –

kau tak kan pernah bisa tuntas meninggalkan,

(….hihihi, sekedar catatan narsis di hari Minggu….puisi modifikasi punyanya mas WW…)

 

Catatan:

Daniel Kahneman, peraih Nobel atas kBismanya berjudul Prospect Theory, seperti dikutip Nadia Felicia di Kompas Female, menjelaskan bahwa secara umum manusia akan lebih merasa sakit jika kehilangan sesuatu daripada gagal ketika berusaha memperoleh sesuatu itu. Secara psikologis, kehilangan dirasa lebih berat daripada gagal mendapatkan sesuatu yang baru. Seseorang akan jauh merasa sedih kehilangan uang daripada gagal memperolehnya meskipun dalam jumlah yang sama.

45 Comments to "Hati-hati Pada Pesonaku"

  1. nevergiveupyo  20 October, 2011 at 14:16

    ooo..nomernya dah ganti to… pantesan waktu di tilpun itu nggak kenal lagi sama yg nilpun…

  2. Linda Cheang  20 October, 2011 at 13:58

    Xa : sedih, mah, pasti, tapi jangan kelamaan sedihnya, kan, enggak ada gunanya juga menyedihkan yang udah hilang. pokonya, mah, no lebay, ah.

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  20 October, 2011 at 12:33

    Gak tahu Xa, tapi ucpannya mengingiang di telingaku. Mau jual “sesuatu” buat dia?

  4. Lani  20 October, 2011 at 12:31

    XA jelassssssss sgt amat fenasaran…….utangku dibayar yo……..

  5. Lani  20 October, 2011 at 12:29

    XA ya udah nanti japri ya…….

  6. Lani  20 October, 2011 at 12:16

    XA 19 : jelas aki buto deleg2……..krn kamu menangis menderu-deru didepannya……….kkkkkkk

  7. Linda Cheang  20 October, 2011 at 12:13

    rugi dan hilang, itu biasa dalam hidup, jadi udah kagak perlu pake gaya lebay lagi, deh. udah basi!

  8. IWAN SATYANEGARA KAMAH  20 October, 2011 at 12:00

    Saya tak pakai Kahneman Theory. Saya lebih senang pakai ajaran Roy Marten, “hidup diingat yang senang-senang aja, yang merugikan jangan diinget”.

  9. Lani  20 October, 2011 at 11:27

    XA ; hayooooooooo ngaku, aku ketinggalan sepur iki…….banyak to yg kau bikin HANCUR hatinya??????? woalaaah XA kejamnya dikau…….hikkkkkks

  10. J C  20 October, 2011 at 11:25

    Lani, ditagih sekalian ceritanya kenapa bisa sampe gegerungan, nangis gulung koming, sudah bikin siapa saja nangis gulung koming juga…(wis ah, kabuuuuurrrr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.