Resepsi Prasmanan atau Duduk?

Ki Ageng Similikithi

 

Tiba-tiba seseorang berteriak lantang dari barisan belakang. “Kene kurang loro raaa”. Suasana hiruk pikuk sedikit meredam gema teriakan itu di antara para hadirin yang sedang menghadiri acara resepsi perkawinan. Tetapi saya yang berdiri di dekatnya tersentak kaget. Saat itu sedang menghadiri resepsi perkawinan seorang ponakan di tahun 1981 di Pekalongan. Acara berlangsung siang hari.

Pesta resepsi perkawinan di kota itu masih klasik. Resepsi duduk, mendengar beberapa pidato, kemudian acara makan dan hiburan. Rentetan hidangan biasanya dimulai dengan minuman teh panas dengan makanan kecil. Sesudah beberapa pidato, urutan hidangan makan mulai dari nasi dengan lauk sambal goreng ati atau krecek, telor separoh, bestik daging bersama kerupuk udang. Kemudian sup ayam, makaroni dan wortel. Ditutup dengan es pudding.

Saya selalu menikmati resepsi duduk seperti itu. Porsi makan tak terlalu berat. Hanya bagi yang suka makan banyak, kadang memang tak tepuaskan. Tamu yang berteriak tadi mungkin habis mencangkul di sawah, belum sarapan, terus datang ke resepsi. Harapannya bisa makan habis-habisan. Tahunya porsi terlalu kecil untuk menutup panggilan perut yang belum kenyang. Dalam keadaan lapar orang bisa tampil dalam watak aslinya walau dalam resepsi dengan jas dan dasi rapi.

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikan. Kebisaan jamuan perkawinan juga berbeda di lain tempat. Juga bisa berubah dari waktu ke waktu. Ada tempat tempat yang masih mempertahankan cara resepsi duduk dengan hidangan yang dibagikan secara urut. Kelemahan resepsi duduk karena tamu seolah harus mengikuti seluruh acara yang mungkin berlangsung dua jam atau lebih. Banyak orang semakin sibuk dan waktu terbatas. Dibuatlah resepsi berdiri. Tamu tinggal datang, mengisi daftar hadir dan meninggalkan kado, memberikan selamat ke pengantin dan tuan rumah, langsung menikmati hidangan. Boleh pilih mana yang disenangi. Bisa ngobrol jika ketemu teman atau saudara. Bisa menikmati hidangan apa saja atau langsung pulang.

Kelihatan lebih praktis, tetapi juga harus lebih hati-hati menyiapkannya. Banyaknya hidangan harus benar-benar diperhitungkan jangan sampai kurang. Kebiasaan di masyarakat, kadang datang berbondong sama anak, cucu dan keponakan. Yang diundang sekalian (berarti dua orang), yang datang bisa sebelas orang, sekalian bal-balan. Masih sering kita lihat kebiasaan yang tidak layak dalam menghadiri resepsi.

Ada saja orang yang rakus. Setiap jenis makanan dijelajah, mulai dari Mongolian beef, kambing guling, sapi guling, bakso, soto, dimsum dan sebut apa lagi. Ambilnya juga kadang tak tanggung-tanggung, sepiring penuh. Jika rasa makanan tak cocok cicipi sedikit lalu ditinggal begitu saja. Lalu menjelajah lagi. Bah tak elok atau saru dalam bahasa Jawa. Jika alur tamu tak diatur dalam antre makan, bisa rebutan seperti pasar malam. Jangan terlalu bernapsu mengundang tamu berlebihan, jika tak siap dengan kuota yang diperlukan. Kadang ada kecederungan untuk mengundang tamu sebanyak mungkin, sampai kenalan dari liang semut. Bukan tak boleh, tetapi harus siap logistiknya.

Memilih mau resepsi duduk atau berdiri dengan prasmanan juga harus lihat kebiasaan setempat. Jika memang biasanya kebiasaan resepsi duduk di tempat itu, hati-hati untuk menyelenggarakan pesta prasmanan. Apa yang saya ungkapkan di atas bisa terjadi. Semua bisa kacau. Awal tahun 90an, saya menyelenggarakan acara seminar di suatu kota. Diakhiri dengan makan siang. Peserta 300 orang sesuai rencana. Katering pesan 400 paket. Seminar berjalan lancar. Pas acara makan siang baru masalah datang. Entah karena saking enaknya, sebelum semua peserta dapat giliran makan, ayam goreng habis. Serep oleh katering juga ludes. Ternyata yang giliran duluan ambil porsi berlebihan. Sebagian dibungkus. Tamu saya yang men-sponsori acara tak ikut makan siang akhirnya.

Saya tak pernah bisa menikmati makan prasmanan. Paling banter makan sup sama minum es. Tak tahu sebabnya. Saya selalu membayangkan masa kecil dulu, saat ikut resepsi. Duduk tenang, menunggu hidangan makan keluar. Biarkan yang pidato di depan, mau ngomong apa jangan ambil pusing, tenang saja menunggu. Kadang menebak supnya dulu atau nasi dan lauknya keluar duluan. Bisa ditebak, pasti nasi sepucuk, sambel goreng ati atau krecek, bistik daging sapi atau potongan ayam dan kerupuk udang. Sup bening ayam dengan sosis dan macaroni. Tak ada yang teriak-teriak, tak ada yang rebutan antre makan.

Terakhir pesta perkawinan dengan resepsi duduk ketika seorang tetangga mantu kira kira tiga belas tahun lalu. Almarhum pak Mardi, pensiunan polisi, mantu putri bungsu. Kenal sejak tahun 95 ketika saya pindah ke sebelah rumahnya. Selalu manggil saya Dan. Semula nggak mudeng apa maksudnya. Ternyata singkatan Komandan. Siapa yang nggak seneng dipanggil Komandan? Saya khusus datang bersama Nyi. Saya benar-benar menikmati acara resepsi duduk di halaman dengan tenda. Acara sederhana, tak bertele-tele. Lancar dan efisien. Hidangan persis yang saya bayangkan di tahun tahun lima puluhan. Singkat tak sampai satu setengah jam. Masih ingat sampai sekarang.

Salam damai mohon jangan rakus kalau prasmanan.

 

Ki Ageng Similikithi
Manila, 13 Oktober 2011

 

27 Comments to "Resepsi Prasmanan atau Duduk?"

  1. Ki Ageng Similikithi  23 October, 2011 at 05:42

    Sebentar lagi musim perkawinan. Siap siap saja, mau duduk mau prasmanan, nikmati saja secara optimal. Bertemu orang saling menyapa

  2. Daisy  22 October, 2011 at 08:15

    Saya juga lebih suka yang “duduk”.
    Kalau di desa nenek saya masih dilakukan, pertama dikasih sup, lalu makanan utama kayak nasi dan rendang daging gitu, terakhir dikasih es buah.
    Sayang di kota, dianggap aneh, jadi tidak ada yang mendukung andai saya mengusulkan resepsi “duduk” di sebuah pesta pernikahan hehe ^^

  3. Lani  21 October, 2011 at 23:56

    24 MBAK PROBO : aku jg begitu, semuanya ingin aku cicip klu pesta prasmanan, tp cm ambil sak-cuil…….sak-iprit…….namanya ngicip, jd piringku gak setinggi gunung MERAPI hehehe……….yg penting udah ngicip, nah baru dibaleni ambil lagi utk yg plg aku sukai……..jd weteng ora mblending……..koyok balon

  4. probo  21 October, 2011 at 19:46

    saya juga punya teman, kalau datang ke prasmanan ‘harus’ nyicip semua hidangan….heran saja…kok ya muat perutnya…..
    saya juga suka resepsi yang duduk, makan tinggal makan, tak harus berebut…….
    toh resepsi duduk model sekarang amat simpel….tak banyak ‘pidato’

    hidangan mengalir tak putus…..
    plus hidangan mata…..tari-tarian….wow mantab

  5. matahari  21 October, 2011 at 19:33

    Sering kaget liat pesta yg mengadakan prasmanan….justru wanita2 yang cakep cakep dan keliatan sangat kaya dan dari keluarga berada pada rebutan ngambil makanan sampai piring spt gunung rinjani tingginya dan saya lihat makanan juga gak dihabiskan….Justru makan di rumah yatim piatu dng anak anak yatim piatu sering sangat tertib nunggu giliran…duduk diam dan baru ngambil begitu disuruh…itu juga merekangambil nya dng dng segan…

  6. lembayung  21 October, 2011 at 11:46

    Artikelnya pas dengan suasana hati. Ayo maem e sak madya wae… Gitu nasehat simbah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *