Solok, Singkarak dan Lembah Anai

Handoko Widagdo – Solo

 

Adzan Subuh baru saja berkumandang. Kami sudah bersiap-siap untuk menuju ke pemandian air hangat di pinggir Kota Solok. Setelah teman-teman yang muslim menyelesaikan sholat, kami segera meluncur. Jalanan masih gelap dan sepi. Kabut menyelimuti pagi. Beberapa orang terlihat berjalan keluar dari masjid-masjid.

Hanya perlu membayar Rp 2000 per orang untuk masuk kawasan pemandian air panas. Pemandian Air Panas Bukit Kili Koto Baru terletak menyatu dengan Masjid. Ada dua kolam besar yang menampung air panas dari sumber alam. Satu kolam untuk lelaki dan satu kolam untuk perempuan. Di kolam berkedalaman satu setengah meter ini, bau belerang di kolam tidak terlalu kuat.

Pengunjung kolam air panas ini adalah para turis lokal, namun bukan hanya warga lokal. Pada waktu-waktu tertentu banyak pendatang yang mandi di kolam ini. Bahkan mereka menginap beberapa hari untuk bisa mandi di kolam setiap pagi. Konon mereka yang mandi di kolam ini akan mendapatkan kesembuhan dari penyakit dan bisa kembali muda.

Kolam ini sengaja dipertahankan sebagai kolam murah supaya semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya. ”Lebih baik semua orang sekitar bisa mandi di sini meski sedikit agak kotor daripada dibangun kemudian hanya bisa dinikmati orang kaya”, demikian teman saya Urang Awak menjelaskan kepada saya sambil berendam di kolam.

Setelah puas mandi, di jalur keluar tersedia warung-warung makan yang menyajikan ketan yang ditemani pisang goreng dan kopi atau sekedar mie rebus. Sepiring ketan, dua buah pisang goreng dan segelas kopi mempu menghilangkan lapar di saat pagi.

Warung-warung ini terletak di antara rumah-rumah penduduk yang masih mempertahankan bentuk tradisional rumah gadang. Jadilah rumah-rumah penduduk ini bagian dari keindahan lokasi pemandian air panas Koto Baru.

 

Danau Singkarak

Menjelang siang kami tinggalkan Kota Solok menuju Danau Singkarak. Danau yang berada di bawah Gunung Marapi ini menyambut kami dengan airnya yang biru tenang.

Di tepi danau kami nikmati kopi dan beberapa penganan. Empat gelas kopi dengan beberapa kue hanya Rp 6000. Jadilah aku serahkan Rp 10.000 tanpa minta uang kembali.

 

Lembah Anai

Perjalanan dari Singkarak ke Padang melewati lembah indah yang dinamai Lembah Anai. Jalanan berkelok diantara bukut-bukit berhutan. Di beberapa tempat kami berjalan sejajar dengan rel kereta api yang bergigi di tengahnya. Gigi ini berguna untuk membantu kereta yang memanjat bukit. Setahu saya rel bergigi hanya ada di sini dan di Ambahrawa. Melewati Lembah Anai mengingatkanku kepada A.A Navis yang banyak bercerita tentang jalur kereta api yang membelah lembah ini. Di salah satu kelokan terdapat air terjun yang mengalir deras.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

64 Comments to "Solok, Singkarak dan Lembah Anai"

  1. Handoko Widagdo  3 November, 2011 at 06:47

    ODB, wah saya dari generasi lain yang tidak mengenal lagu-lagu tersebut.

  2. Oscar Delta Bravo USA.  3 November, 2011 at 03:07

    Mas Han jadi ingat lagu plonco TuSiantar, tu Sipirok ,Padangpanjang Fort deKock…sai selamat ma sinegeri2

  3. Handoko Widagdo  22 October, 2011 at 07:10

    Halo Tantripranash, silahkan kontak Herru kalau mau ke Singkarak. Herru adalah putra Singkarak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.