Sepiring Nasi dan Sepotong Tempe Untuk Ibu

Ida Cholisa

 

Ibu selalu menghidangkan makanan lezat untukku, setiap waktu. Pagi, siang dan sore. Sepiring nasi putih, sepotong  telur dadar, sepotong tahu atau tempe, dan semangkuk sayur serta satu sendok kecil sambal setengah pedas. Biasanya ibu memasakkan sayur lodeh atau sayur asem kesukaanku.

“Jagungnya yang banyak ya, Bu,” demikian selalu permintaanku. Dan ibu selalu menuruti semua mauku.

Ibuku seorang janda. Aku anak lelaki satu-satunya. Saudara kembarku, Agus, telah berpulang saat usianya menginjak enam tahun. Tak banyak kenangan masa kecil yang mewarnai ingatanku, kecuali kenangan tentang saudara kembar dan figur seorang ayah yang juga telah berpulang setahun setelah kematian saudara kembarku. Saat itu aku masih berusia tujuh tahun. Kebahagian itu terpenggal sudah. Kini yang tersisa di rumah kecil ini hanya aku dan ibuku. Kehidupan penuh gelombang ujian dan segenap perjuangan kini menjadi santapan sehari-hariku.

Ibuku janda miskin. Ayah pergi menghadapNya tanpa meninggalkan warisan apa-apa. Bahkan ibu harus membanting tulang demi melunasi hutang pengobatan yang ditinggalkan ayah selama ia sakit. Untuk makan sehari-hariku, ibu banyak menggantungkan diri dari upah buruh mencuci di rumah tetangga. Hebatnya, sepayah apa pun pekerjaan ibu, ia selalu memberi makanan terbaik untukku. Ia tak pernah mengurangi jatah makan untukku, pun mengganti menu makan lezatku, meski kesulitan uang selalu melilitnya sepanjang waktu.

Suatu pagi aku melihat ibuku terbaring lesu. Matanya cekung, mukanya tirus dan rambutnya kusut. Aku berjalan mendekati ibu.

“Ibu sakit?” tanyaku.

Ia menggeleng. Tak seperti biasanya, ia menatapku hambar tanpa cahaya.

“Ibu kenapa?” tanyaku lagi.

“Tak apa-apa. Cepatlah mandi, Nak. Sarapan dan berangkat sekolah.”

Aku beringsut menjauh dari ranjang ibu. Kutarik handuk kusam dari besi berkarat ranjang tidurku. Kaki kecilku melangkah menuju kamar mandi. Kulongok bak air berwarna abu-abu kusam itu. Airnya tinggal sedikit, aku mesti menimba terlebih dulu. Bunyi kerekan yang membawa air di dalam ember dari dalam sumur rupanya membuat ibu tergopoh-gopoh memburuku.

“Agung, biar ibu yang menimba air untukmu. Mandilah sana, nanti kau terlambat.”

Ia mengambil ember timba dari tanganku, dan menuangkan air ke dalam lubang yang mengalir menuju bak mandi.

“Tapi Ibu sedang sakit,” sergahku.

“Tak mengapa. Buat kamu tak ada kata sakit bagi Ibu,” ia tersenyum kepadaku. Senyum yang seolah dipaksakan agar hatiku tak berrendam kesedihan. Aku tahu itu, karena memang itulah yang selalu dilakukan ibu. Berusaha tak mengusik perasaanku dengan selalu bersikap tegar dalam kondisi apa pun. Seperti saat ini.

“Sarapan, Nak. Setelah itu berangkat ke sekolah,” ia menarik kursi kayu di meja makan lusuh itu.

“Habiskan nasi dan telurnya. Kau ingin jadi anak pintar, kan? Jangan sia-siakan makanan,” katanya lembut.

“Ibu tak sarapan?” tanyaku.

“Nantilah,” jawabnya sambil tersenyum kepadaku. Kumasukkan suap demi suap nasi itu ke dalam mulutku, hingga habis tak bersisa sedikit pun makanan itu.

***

Aku menyimak pelajaran yang diterangkan guru di ruang kelas dengan tatapan membisu. Bayang tirus wajah ibu tiba-tiba mengganggu pikiranku. Ah, aku takut terjadi sesuatu pada ibu. Tiba-tiba saja aku ingin pulang.

“Agung, kau melamun?!” Pak Tohir, guru kelasku, sedikit bersuara keras padaku. Dengan susah payah kubangun konsentrasiku, hingga ingatan tentang ibu berpendar dalam ingatanku.

Siang makin menanjak, dan seiring bel pulang berbunyi, aku merengsek keluar kelas setelah terlebih dahulu mencium tangan legam Pak Guru. Aku berlari meninggalkan teman-temanku. Kaki telanjangku bagaikan kaki ramping kijang yang berlari sangat kencang. Aku ingin bertemu ibu, aku ingin bertemu ibu…

Lamat-lamat rumah kecilku tampak. Aku terus berlari dan berlari. Tiba di depan pintu hatiku ragu. Di mana ibu? Tak ada suara apa pun di sekelilingku. Biasanya jam siang begini ibu telah berada di rumah setelah  bekerja menjadi buruh cuci di beberapa rumah tetanggaku.

“Ibu…., ibu….!” aku berteriak memanggil ibu. Hingga serak suaraku, tak jua ibu membuka pintu. Kucoba untuk mendobrak pintu terkunci itu, tapi sia-sia saja usahaku. Tubuh kecilku tak kuat melawan pintu bambu yang kokoh itu.

Aku berlari menuju rumah yang terletak lima belas meter dari rumah ibu. Rumah besar yang menurutku paling kaya di desaku. Di rumah itu ibu bekerja sebagai buruh cuci. Aku bergegas menuju rumah itu.

“Ibu….., Ibu….!” aku berteriak memanggil ibu.

Tak ada sahutan, tetapi yang muncul adalah tubuh gendut seorang perempuan pemilik rumah besar itu.

“Heh, anak kecil. Ibumu tak ada di sini. Berjam-jam aku menunggu. Niat kerja nggak sih ibumu?!”

Aku mundur selangkah. Tatapan tak bersahabat pemilik rumah besar itu menyiutkan nyali kekanak-kanakanku. Sebelum ia lebih jauh mengomeliku, aku berbalik arah dan kembali mencari ibu.

“Ibu di mana…, Ibu di mana?” aku hampir menangis menyusuri jejalanan. Berharap bertemu ibu yang mungkin tengah mencari kayu bakar. Tapi sia-sia, aku tak bertemu sosok ibuku…

“Kau lihat ibuku?” aku bertanya pada seorang gembala di sebuah padang rumput. Ia Tardi, anak Wak Warjo yang ak pernah mengenyam bangku sekolah.

“Ibumu? Aku tadi melihat ia menuju makam,” jawabnya sambil menunjuk arah pemakaman umum.

Hatiku bergetar. Makam? Tanpa pikir panjang aku berlari mengejar ibu.

Mataku jalang menatap areal pekuburan yang sangat luas. Pepohonan yang rimbun dan sepinya pekuburan membangkitkan rasa takut. Sungguh ini kali pertama aku menyusuri areal pekuburan seorang diri. Demi ibu, demi mencari ibu…

Tapi tak kutemukan sosok wanita lemah itu. Aku mulai panik. Langit berselimut menduing, seperti mendung di mataku yang telah menggantung. Aku takut kehilangan ibu, aku takut berada seorang diri di tanah pekuburan yang sunyi dan beku…

“Agung….”

Aku terkesiap. Suara di belakang badanku terasa menggetarkan perasaanku.

“Ibu….! Ibu…..! Ibu jangan tinggalkan aku…..,”  aku berlari dan memeluk tubuh kurus ibu. Kuhamburkan hujan air mataku.

“Mengapa Ibu di sini?” aku menggenggam erat tangan ibu. Ia tak menjawab. Titik air mata tiba-tiba saja meluncur dari mata cekungnya.

“Ibu rindu ayah dan saudara kembarmu,” ucapnya lirih.

Kupapah tubuh lemah ibu. Kuikuti langkahnya menuju pemakaman dekat pepohonan rimbun.

“Itu makam ayah dan saudara kembarmu,” ibu menunjuk gundukan tanah dengan nisan kayu yang sedikit keropos. Kami duduk bersimpuh di sisi dua makam itu, sembari meniupkan seribu doa untuk ayah dan saudara kembarku.

***

Sudah empat hari ini ibu jatuh sakit. Panas badannya sangat tinggi. Tubuhnya lemah, hampir-hampir tak memiliki tenaga. Tak ada lagi perempuan bersahaja yang selalu menyediakan makanan lezat untukku. Bahkan ibu tak lagi memiliki uang untuk kebutuhan makan sehari-hari. Majikan ibu tak mau mengerti kondisi kesehatan ibu. Sedikit pun ia tak mau mengulurkan tangan membantu ibu, minimal meminjamkan uang untuk memenuhi  kebutuhan makan kami. Padahal ibu telah memohon dengan janji akan bekerja penuh waktu setelah sembuh nanti.

“Nak, maafkan Ibu. Beberapa hari ini Ibu tak bisa mengurusimu.”

Aku memegang tangan ibu. Kupijit badan kurusnya, kuhibur ia agar tak terlalu memikirkanku.

“Agung sudah besar, Bu. Ibu tak usah khawatir, aku akan menggantikan pekerjaan Ibu,” kataku mantap.

Ibu hanya memandangku. Pandangan sendu menahan pilu. Perut ibu berbunyi, tanda lapar sangat mendera diri. Bergegas aku keluar rumah. Kuhampiri rumah majikan ibu.

“Kau mau menggantikan tugas ibumu? Bisa kerja apa kau? Awas kalau cucianmu kurang bersih. Kupotong upahmu!”

Tak terlalu kumasukkan dalam hati ucapan kasar majikan ibu ini. Demi ibu aku akan melakukan apa saja. Aku lelaki perkasa, aku lelaki umur sebelas tahun, aku lelaki yang telah beranjak remaja. Kini saatnya kugantikan peran ibu. Kini saatnya aku mengurusi ibu…

“Bagus! Bisa kerja juga kau rupanya? Baik, besok datang lagi ke sini. Ini upah untuk satu minggu. Awas kalau mangkir!” kuterima upah dari tangan majikan itu. Kuhitung ia, tujuh puluh ribu rupiah. Aku sungguh gembira. Majikan ibu akhirnya mau memberikan bayaran di awal kerjaku.

Aku pulang. Kakiku berlari kencang. Ingin segera kuberitahu ibu tentang hasil kerja kerasku. Ibu pasti senang, ibu pasti senang. Aku akan membeli nasi dan lauk daging untuk ibu, serta susu agar ibuku cepat sembuh. Hatiku sungguh riang. Bayangan wajah gembira ibu menari-nari di kepalaku.

“Ibu…, ibu…., aku pulang…, aku pulang bawa uang…!” kudobrak pintu ruang depan, dan aku berlari menghambur ke kamar ibu. Seketika kegembiraanku musnah. Aku histeris melihat ibu…

Perempuan malang itu tergolek di atas lantai, dengan mulut mengeluarkan darah. Ibu sakit apa, Tuhan…., aku memekik. Kuangkat badan lemah ibu, kubaringkan badan ringkih ibu. Ia hanya diam dan diam membisu.

“Ibu…., ibu kenapa? Mari kubawa ibu ke dokter…”

Ia menggeleng. Tapi aku segera berlari keluar. Langkahku terhenti demi ingat lembaran uang. Bagaimana aku mesti membayar jasa dokter? Bagaimana aku membawa ibu ke rumah praktek dokter di ujung desa itu? Berjalan? Tak mungkin. Menyewa angkot tetangga? Aku tak memiliki banyak uang untuk ongkosnya. Hatiku perih tiada tara. Tuhan, begini nistanya nasib orang tak punya. Tiba-tiba saja aku teringat saudara Wak Tardi, seorang tukang becak yang sering mangkal di tikungan jalan.

“Lek Jon…., ” aku menghampirinya dengan nafas terengah-engah.

Lelaki seumuran empat puluh tahun itu menoleh dan menatapku dengan penuh keheranan.

“Lek…, boleh aku pinjam becaknya?” dengan sedikit rasa takut aku menghiba.

“Pinjam becak? Buat apa?” ia balik bertanya.

“Ibu sakit, aku mau bawa ia ke dokter. Tapi aku tak punya uang lebih untuk ongkos jalan…”

Lelaki itu menatapku lekat. Peluh yang menetes di lehernya ia usap, dan dengan suara mantap ia berkata;

“Mari kuantar ibumu. Tak usah kau bayar aku,” mulutku ternganga, dan seketika aku melompat ke atas becak mengikuti komando Lek Jon. Di antara pedih perih aku mengucup syukur. Terima kasih Tuhan, kau turunkan aku dewa penolong…

***

Ibu telah kubawa pulang. Dokter menyarankanku agar ibu banyak beristirahat. Hatiku galau. Uang tujuh puluh upah buruh nyuciku kini telah terpakai untuk biaya berobat ibu. Tinggal tiga puluh ribu rupiah uang yang tersisa. Bagaimana aku membeli makanan untuk ibu? Aku ingin ibu cepat sembuh. Aku tahu ibu lapar. Aku ingin memberikan ibu makanan terbaik sebagaimana ia selalu menghidangkan makanan lezat untukku…

Tapi bagaimana? Uang di tanganku hanya cukup untuk membeli beras empat liter. Dua puluh ribu aku belanjakan beras dengan kualitas sedang, sisanya sepuluh ribu rupian untuk membeli lauk. Tapi…., lauk apa yang bisa kuhidangkan untuk ibu, dengan jumlah sangat minim itu?

Aku menangis di sudut hati. Aku mengaduh menahan perih. Tuhan…, tolong aku, tolong ibuku…

Di antara bulir air mata yang tertahan, aku, lelaki kecil yang perkasa, menyusuri jalan menuju sebuah warung. Kutatap lembar uang sepuluh ribu di tangan kecilku. Sedikit ragu aku melangkah, hingga sebuah keberanian akhirnya menghampiriku.

Kubeli sepotong tempe dan  seperempat minyak goreng curah. Hanya itu saja yang mampu aku beli. Selanjutnya aku beralri pulang dengan hati penuh bimbang.

“Dari mana, Gung?” suara parau ibu menyambutku.

Aku tergagap. Kusembunyikan sepotong tempe daun dan seplastik minyak goreng curah di belakang punggungku.

“Agung ke belakang dulu ya, Bu?” aku beringsut menuju dapur. Di ruang belakang aku  kembali gamang. Apa yang harus aku lakukan? Sejenak aku mengingat kebiasaan ibu. Menaruh beras di wadah khusus, mencucinya, kemudian meletakkannya ke dalam panci untuk dimasak. Tungku kayu segera kunyalakan, dan sambil menunggu nasi tanak aku segera menggoreng tempe. Kucari tempat di mana ibu biasa meletakkan bumbu dapur. Aku masih ingat betul bumbu tempe goreng. Garam, ketumbar dan bawang putih. Kebiasaan menemani ibu memasak di dapur membuatku sedikit mengenal bumbu masakan tertentu, termasuk bumbu tempe goreng.

“Ibu, makan dulu. Cuma nasi dan tempe goreng gosong….” sedikit ragu aku meletakkan sepiring nasi dan sepotong tempe di meja dekat ranjang ibuku.

“Kau masak sendiri, Nak? Kau melakukan banyak hal untuk Ibu. Ke dokter, belanja, masak….,” tiba-tiba ibu terguguk. ia menangis memelukku.

“Maafkan Ibu, Nak….” ia terus memelukku.

Kubaringkan kembali ibu. Kuganjal kepalanya dengan dua bantal lusuh. Kusuapi ibuku…

“Enak sekali masakanmu, Nak…” ibu memujiku. Mulutnya lahap mengunyah nasi dan potongan kecil tempe goreng sedikit gosong itu.

“Tambah ya, Bu?” aku menawarinya.

Ia mengangguk sembari tersenyum kecil kepadaku.

“Masakanmu enak, Agung. Ibu jadi pingin nambah lagi…”

Tuhan, hatiku girang! Ibu menyukai masakanku, meski hanya nasi dengan lauk tempe goreng.

“Ini, Ibu,” aku menyuapinya kembali. Dengan lahap Ibu mengunyah. Wajah kuyunya sedikit berubah. Ibu tampak lebih cerah.

“Masakanmu laksana obat buat Ibu. Terima kasih, Nak. Istirahatlah, kamu jangan sampai kecapekan. Besok sekolah, kan? Nanti kalau Ibu sudah kuat, Ibu akan bekerja seperti biasa. Ibu rindu memasakan makanan untukmu, Nak…”

Aku kembali membaringkan ibu. Membereskan semua peralatan makan dan alat masak, membersihkan rumah, dan melakukan pekerjaan lain yang sebenarnya berat untuk ukuran tubuh kecilku. Tapi syukurlah, selalu ada kekuatan yang tak kumengerti tiap aku melakukan sesuatu untuk ibu.

***

Aku kembali bersekolah. Kesedihan hatiku pupus sudah.  Ibu kini telah sehat. Seperti biasa, saat aku tengah menimba ilmu di sekolah, ibu dengan penuh semangat bekerja sebagai tukang cuci di rumah tetangga. Dan setiap aku kembali ke rumah, sepiring nasi dengan lauk lezat telah menunggu di meja makan. Sayur, sepotong telur dadar, tempe atau tahu, serta secuil sambal.

Siang ini kembali kujumpai menu lezat ibuku. Perut laparku tak kuasa manahan hasrat menggebu. Aku ingin menikmati masakan itu. Saat hendak kutuang sayur dan lauk ke atas piring nasiku, suara halus ibu membelai kedua telingaku.

“Makan yang banyak ya, Nak. Jangan sampai terbuang. Tak boleh menyisakan makanan,” demikian selalu kalimat yang sering ibu lontarkan.

“Ibu tak makan?” tanyaku heran.

“Nantilah, perut orang tua tidak sama dengan perut anak kecil. Kau butuh energi untuk tumbuh kembang. Makanlah yang banyak, Nak…!” pinta ibuku.

Aku menyantap habis masakan ibu. Beberapa jam sesudahnya aku merasa sangat mengantuk. Aku ingin tidur. Belum lelap tidur siangku, telingaku seolah mendengar suara seseorang di dapur. Ah, itu pasti ibu. Tapi sedang apa ia? Bukankah ia telah selesai memasak bahkan telah menghidangkan makanan untukku? Aku memasang telinga, berharap mengetahui apa yang tengah dilakukan ibu di dapur sana.

Tak kudengar suara apa-apa, akhirnya aku memutuskan untuk melangkah ke ruang dapur. Aku penasaran ibu sedang apa. Saat mataku menelanjangi seisi dapur, mataku menangkap punggung ibu membelakangi pintu. Oh, ibu tengah makan siang! Kudekati ibu…

“Saya temani ya, Bu?” kataku lembut.

Ibu membalikkan badan. Senyum kecilnya tersungging menawan.

“Tidurlah, Nak. Kau lelah sepulang sekolah,” ibu menurunkan piring makan dari tangan keriputnya.

“Teruskan makannya, Bu,” pintaku. Kuambil kembali piring berisi nasi dan lauk itu, kemudian kuberikan ia pada ibuku.

“Aku heran, Ibu. Untukku Ibu selalu menyajikan yang terbaik. Tapi buat Ibu sendiri, hanya sepotong tempe yang menjadi lauk nasi…” kataku pelan.

Ibu tertawa. Ia meletakkan kembali piring nasinya.

“Dengar, Nak. Setiap menikmati tempe goreng ini, Ibu selalu teringat masakanmu. Tempe goreng buatanmu enak sekali, dan Ibu selalu rindu untuk menikmati masakan itu kembali.”

Demikianlah, maka ibu selalu tak lupa membeli tempe setiap kali ia berbelanja. Ia akan menggorengnya, dan dengan lahap ia akan menyantap sepiring nasi dan sepotong tempe goreng itu dengan sangat lahap.

Hingga suatu ketika…

Sakit ibu kambuh lagi. Ia hanya mampu terbaring di atas ranjangnya. Makanan apa pun yang kusuguhkan, ia tak mau menyantapnya, kecuali nasi dan sepotong tempe goreng. Maka di antara tubuh kecil perkasaku, aku seperti biasa membanting tulang menggantikan pekerjaan ibu. Pagi buta aku telah membuka mata. Membereskan pekerjaan rumah, merebus air untuk ibu, memasak makanan untuk ibu, kemudian berangkat bekerja ke rumah tetangga. Siang harinya aku berangkat ke sekolah.

Jika jadwal belajarku masuk pagi, maka aku akan mengganti jadwal bekerjaku. Demikian seterusnya. Dari hasil bekerjaku itulah aku mampu menghidupi ibu dan diriku. Meski gaji yang kuterima hanya cukup untuk membeli makanan sederhana. Tempe goreng, tempe goreng, dan tempe goreng seperti yang ibu minta.  Kadang aku bosan menyantap nasi putih dengan lauk tempe goreng itu. Tapi demi ibu aku akan menyesuaikan seleraku. Aku rindu masakan ibu. Sayur, sepotong telur dadar, sepotong tempe tahu, secuil sambal. Tapi kini ibu tak mampu menghidangkan lagi masakan kesukaanku.

“Agung…., maafkan Ibu ya, Nak? Ibu tak bisa lagi mengurusimu,” tangan rapuh ibu membelai kepalaku.

“Tak mengapa Ibu. Yang kuinginkan Ibu cepat sembuh. Oh, ya. Makan dulu ya, Bu?”

Kusuapi ibuku menjelang keberangkatan sekolahku. Minggu ini kebetulan jadwal aku masuk siang. Di antara sempitnya waktu kusempatkan diriku menyuapi ibu. Bahkan untuk makan malam aku pun telah menyiapkan nasi putih dan lauk tempe goreng. Aku selalu berjaga-jaga siapa tahu saat aku berada di sekolah ibuku merasa lapar. Dengan menaruh nasi dan lauk di dekat ranjang ibu, aku berharap ia bisa menyantapnya begitu lapar menyapanya.

Hari ini aku belajar di sekolah seperti biasa. Pikiranku tenang karena keadaan ibu semakin membaik. Tadi siang sebelum aku berangkat sekolah, ibu bisa berjalan sendiri menuju kamar mandi. Aku sungguh gembira, karena dengan demikian berarti ibu akan sembuh kembali. Semangat belajarku menyala kembali. Kata Pak Guru nasib orang bisa berubah kalau kita mau bekerja keras. Maka aku pun bertekad untuk merubah nasibku. Aku ingin menjadi manusia berhasil. Aku ingin membahagikan ibu, agar tak setiap hari ibu menyantap nasi dan tempe goreng melulu. Aku ingin membelikan ibu kornet, sosis, roti, keju, daging, coklat, buah dan makanan lezat lain yang belum pernah disantap ibu.

Dari langit barat sang surya perlahan masuk dalam peraduannya. Langkahku bergegas meninggalkan gedung sekolah. Berlari kecil aku menuju rumah.  Bayang wajah ibu memenuhi benakku; ibu, aku pulang…

Kuketuk pintu, kuucap salam, kumasuki rumah kecilku. Di sana, di ranjang kamar tidur ibuku, seraut wajah teduh menatap syahdu ke arahku.

“Nak, syukurlah kau sudah pulang. Lihat, masakanmu telah ibu habiskan. Masih adakah tempe goreng itu, Nak? Ibu menginginkannya lagi…”

Tuhan. Aku tertegun. Seingatku aku telah menggoreng semua tempe itu. Seingatku telah tak ada sisa tempe mentah maupun tempe goreng di dapur itu. Tuhan…

“Mana, Nak? Masih adakah?” ibu mengulangi pertanyaannya.

“Ma…masih, masih ada, Bu. Sebentar, aku bikinkan dulu, ya? Ibu tunggu, ya?”

Aku berlalu dari kamar ibu. Rasa bingung menyergapku. Tuhan, harus bagaimanakah aku? Kuraba kantong celana seragam sekolahku. Tak ada uang. Kucari di dalam tas sekolahku. Tak ada uang. Ya, bagaimana aku akan menemukan uang itu kalau aku tak pernah membawa uang saku? Kuburu dapur. Aku ingat, aku masih menyimpan kembalian uang belanja dari upah buruh nyuciku. Empat ribu lima ratus rupiah! Aku beralri menuju dapur. Aku buka botol kecil tempat aku menyimpan sisa uang belanja. Uang receh dalam botol itu sengaja aku selipin di antara perkakas dapur yang berjejer di meja kayu.

“Ibu, aku keluar dulu, ya?” aku berpamitan pada ibu.

“Ke mana, Nak?” ibu bertanya.

“Ke warung sebentar, Bu.”

“Hati-hati, hari mulai gelap…”

“Iya, Bu. Tunggu sebentar ya, Bu? Aku akan mencari tempe untuk ibu. Mudah-mudahan warung di seberang itu masih buka. Biasanya tempenya masih ada, Bu.”

Ibu melepas kepergianku. Kututup pintu rumah, dan aku berlari kencang menembus hari yang mulai gelap. Tak sampai sepuluh menit aku telah sampai kembali di rumah. Bergegas aku menyalakan tungku, mengulek bumbu, mengiris tempe dan menempatkan wajan di atas tungku. Bunyi tempe yang dimasukkan ke dalam minyak goreng panas terasa membelai telinga. Sebentar lagi ibu akan merasakan tempe goreng buatanku kembali. Taburan rasa syukur memenuhi ruang hatiku. Terima kasih Tuhan, masih ada rizki tuk penuhi keinginan sederhana ibu, keinginan yang hanya membutuhkan sedikit uang. Sisa uang empat ribu lima ratus rupiah yang kupunya mampu tuk membelikan keinginan kecil ibuku.

Kutempatkan beberapa tempe yang telah kugoreng ke atas wadah kecil. Kutuang nasi ke atas piring. Tak lupa kutuang segelas air. Kutempatkan semua di atas penampan. Bergegas aku menemui ibu.

“Ibu…., Ibu…, ayo makan…” seruku.

“Ibu…., bangun Ibu, makanannya telah siap. Ayo makan, Ibu…”

Ibu tetap diam. Matanya terkatup. Ia nampak tenang sekali. Ingin segera kubangunkan ibu, tapi aku takut memenggal istirahat ibu. Maka kuurungkan niatku.

Aku berjalan mondar-mandir di dekat ibu. Tempe goreng panas lama-kelamaan menjadi dingin, sedingin hatiku yang merindukan terbangunnya ibu. Ah, lama sekali ibu tidur. Aku ingin menyuapinya…

Sambil menunggu ibu bangun aku membereskan buku-buku pelajaranku. Besok pagi aku mesti bekerja di rumah majikan ibu, setelah itu siangnya berangkat ke sekolah. Tiba-tiba saja aku rindu ibu, rindu ia mengurusiku seperti dulu…

Air mataku meluncur dengan derasnya. Aku lelaki kecil yang telah kenyang dengan bermacam perjuangan hidup. Aku lelaki kecil yang dipaksa memahami masalah hidup, karena takdir yang memang harus aku jalani. Aku kehilangan masa bermainku, aku kehilangan masa ceriaku. Keadaanlah yang membuatku  seperti ini. Tapi aku tak menyesali. Aku cinta ibuku. Hanya aku satu-satunya muara kasih sayang ibu, setelah bertahun silam ayah dan saudara kembarku meninggalkanku dan ibuku.

Keheningan malam membuat hatiku semakin pedih. Ini untuk kesekian kali malamku terasa sepi. Ibu hanya terbaring di atas tempat tidur, sementara hatiku dipenuhi gelombang bermacam rasa yang terus berdebur. Oh kepada siapa aku mengadukan lara. Ayah tak ada, saudara tak ada, ibu pun tengah dirundung lara.

“Tok-tok-tok….!”

Aku terkesiap. Ketukan keras pintu ruang depan membuatku menahan nafas. Siapa malam-malam begini mendatangi rumahku? Jangan-jangan….

“Agung…! Agung…, buka pintunya…!”

Suara itu, suara itu…, ya aku tahu benar, itu suara majikan ibu! Cepat-cepat kubuka pintu. Searut wajah masam menohok perasaanku.

“Mana ibumu?!”

Aku menunjuk ke kamar di mana ibu tengah berbaring.

“Jangan ganggu Ibu, ia tengah tidur,” aku sedikit melarang ketika majikan ibu melangkahkan kaki menuju kamar ibu.

” Heh bocah kecil, dengar, ya? Aku mau bilang ke ibumu kalau kerjamu kurang becus! Akhir-akhir ini cucianmu kurang bersih. Akju tak sudi kau bekerja lagi di rumahku. Jika ibumu tak sanggup lagi bekerja di rumahku, aku akan mencari pembantu baru. Ngerti?!!”

Aku mengangguk pilu. Kesedihan merayapi dinding hatiku. Jika saja aku bukan lelaki kecil yang perkasa, aku akan menghamburkan tangis pedih perihku. Tapi tidak. Aku tak boleh menangis. Aku jagoan ibu, apa pun yang terjadi aku tak boleh menangis, setidaknya menyembunyikan tangis agar tak terlihat mata ibu…

“Mbok…, bangun! Aku mau bicara sebentar. Ini tentang pekerjaanmu!!!” majikan ibu mengeluarkan suara keras di pintu kamar ibu.

Tak ada jawaban dari ibu. Sungguh sedih hatiku, ibu yang tengah istirahat harus terganggu teriakan perempuan gendut tak berperasaan itu.

“Biar aku bangunkan…” aku memohon supaya perempuan itu tak lagi mengeluarkan suara keras.

“Ibu…….,” aku mengguncang-guncang badan ibu dengan pelan. Tak ada reaksi. Ibu tetap tidur dengan pulasnya. Ah, sebenarnya berat hatiku untuk kembali membangunkan ibu.

“Suaramu kurang keras, hai anak kecil!” teriak perempuan majikan ibu.

“Ibu…., bangun Bu…, ada tamu…” kembali aku menepuk dan mengguncang badan ringkih ibu. Tetap tak ada reaksi apa-apa.

“Huh, babu manja, tidurnya kayak kerbau saja…!” sungut perempuan itu.

Tuhan, sungguh aku inginj menyuruh perempuan ini untuk keluar dari kamar ibu. Ia kasar sekali. ia mengguncang-guncang badan ibu dengan sangat kasar.

“Mbok…! Bangun, aku mau ngomong sebentar. Mulai besok kau tak perlu lagi bekerja di rumahku. dan tak perlu lagi anakmu menggantikan tugas mencucimu. Ngerti?!”

Aku menahan air mataku.

“Ibu…, bangun sebentar Bu, ada tamu….”

Perempuan majikan ibu terlihat marah melihat ibu tak mau bangun. Ia menghampiri dan bersiap menyemprotkan amarah pada ibu. Tapi tiba-tiba ia ternganga…

“Mbok…, Mbok…, kau…., kau sudah meninggal, Mbok?”

“Apa???!!!!” aku mengguncang-guncang badan ibu, Aku memeluk ibu,

“Ibuuu…, bangun Bu, bangun Ibu…., aku sudah memasakkan tempe goreng untuk Ibu. Bangun Bu…, ayo aku suapin….!”

Tapi ibu diam saja. Tak ada reaksi atau gerak apa pun. Aku mulai panik.

“Ibumu telah meninggal…” perempuan itu mengulangi perkataannya. Aku lemas seketika. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

***

Aku siuman setelah puluhan orang mendatangi rumahku. Kusaksikan tubuh ibu ditutupi sehelai kain. Orang-orang tampak sibuk. Seorang lelaki memegangku kuat, ia Lek Jon, tukang becak yang pernah berbaik hati mengantarkan ibu ke dokter. Dunia gelap. Aku kembali menghambur memeluk jasad ibu. Sungguh air mataku menggelontor, air mata sia-sia, karena begitu kerasnya aku menangisi ibu, sungguh ibu tak akan pernah kembali lagi…

Kini tak ada lagi suara ibu di rumah kecilku. Tak ada lagi tatapan teduh mata ibu. Tak ada lagi halus belai tangan ibu. Tak ada lagi perempuan mulia yang selalu ikhlas mengiurusiku. Aku kehilangan tongkat hidupku, aku kehilangan harta berhargaku…

***

Kenangan bersama ibu tak akan lekang di makan waktu. Kini aku, Agung, lelaki kecil perkasa yang hidup sebatang kara telah pergi jauh ke sebuah tempat. Pedihnya masa kecilku telah membawaku pada kegemilangan masa dewasaku. Kini aku telah menjadi pria dewasa yang mampu menggenggam apa pun yang aku pinta. Cita-citaku untuk meraih dunia tercapai sudah. Tapi aku sedih. Angan-anganku untuk membelikan ibu kornet, daging, sosis, coklat, susu dan makanan lezat lain tinggal angan-angan belaka. Tak mampu lagi kini aku membahagiakan ibu, pun menghidangkan sepiring nasi dan sepotong roti seperti masa kecilku….***

 

Bogor, 2011-

 

18 Comments to "Sepiring Nasi dan Sepotong Tempe Untuk Ibu"

  1. jackythea  7 December, 2011 at 14:36

    sungguh bgt lhr dan mulia hti seorang ibu,agung yg cerdas serta bgt baik ,pekerja keras dan taggung jawab,slalu tgr dlm setiap langkahnya.
    Mudah”n crita ini menjadi contoh yg baik dan bisa menjadi sugesti dlm khdpn pembacanya.

  2. Dewi Aichi  24 October, 2011 at 22:51

    Bu Ida kalau sudah menulis….memang luar biasa, selalu menyentuh…

  3. alif  24 October, 2011 at 11:30

    ceritanya agung sekali…
    mengherukan……………………

  4. matahari  22 October, 2011 at 16:12

    Buat saya ..ini cerita paling indah dan dalam…yg pernah muncul di Baltyra…ketulusan cinta seorg mama kepada anak nya dan cinta kasih anak ke mamanya.disajikan begitua natural pergolakan ..ditengah2 kemiskinan dan rasa ingin menyenangkan serta menyembuhkan org yang dicintai…Majikan sang ibu adalah gambaran banyak orang Indonesia yang kalau sudah bisa menggaji org walo secuil…langsung merasa hebat dan bicara seenak mulutnya..gak ngerti tata kerama dan mengira orang miskin tidak punya perasaan ..merasa bahwa org miskin butuh mereka…jadi apapun bisa mereka katakan…mereka2 ini kurang sadar bahwa semua yang kita lakukan akan kembali ke kita cepat atau lambat …Kalo cerita ini kisah nyata…saya salut ama penulis…diusia 11 thn sudah begitu dewasa dan kalau cerita ini hanya fiktif…tetap saya salut krn tulisan ini memang sangat indah….

  5. Esti Yoeswoadi  21 October, 2011 at 15:20

    guguk mocone :’-(….
    Percaya Ibunda sdh tenang di haribaan Nya mas Agung

  6. Meitasari S  21 October, 2011 at 14:35

    nanti daging dan sosisnya beliin saya saja ya….. don’t cry.. smile for me , plizzzz

  7. [email protected]  21 October, 2011 at 14:33

    orang tua yang luar biasa… pastinya….
    *sujud*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.