Duduk di Tepi Lapangan

Nyai EQ – Tepi Lapangan

 

Aku duduk sendirian di tepi lapangan.

Setidaknya itu yang kurasakan dan yang tergambar di benakku saat ini.

Aku duduk sendirian. Di atas kursi dari besi yang cat putihnya sudah agak terkelupas di sana-sini. Besinya adalah pipa kosong, jadi kursi itu ringan.

Ada sandarannya. Tapi tidak ada tempat untuk meletakkan tangan, di samping-sampingnya.

Kursi itu memiliki tempat duduk yang dialasi bantal tipis dari kain bludru warna coklat krem pudar. Semua terlihat renta, luntur di makan terik matahari.

Lapangannya luas. Sangat luas. Berdebu. Sangat berdebu. Rumput tumbuh sedikit di sana-sini, meranggas dengan warna hijau samar-samar yang juga pudar oleh matahari dan saputan debu. Tanah putih dipermainkan angin membentuk gulungan-gulungan tipis yang kadang menari, kadang berputar-putar, seperti debu dalam film-film koboi Amerika klasik.

Lapangan itu kosong dan sunyi.

Hewan-hewan kecil tersaruk-saruk diantara daun rumput dan tanah pasir. Semut hitam kecil beriringan, entah apa yang di perbuatnya. Satu dua kumbang melintas tanpa bermaksud untuk singgah, sebab memang tidak ada yang pantas di singgahi.

Udara panas berpendar-pendar, membentuk fatamorgana pelangi di atas lapangan.

Ada sebuah pohon besar yang daunnya cukup rimbun. Menaungi sebagian kecil sudut lapangan yang luas. Aku duduk, entah mengapa, di seberang pohon besar itu. Dan bukan di bawahnya. Meski aku bisa melihat bayangan besar yang teduh di sana.

Pohon itu ada di seberang lapangan. Tidak tepat di seberangku. Dan tidak pula terlihat jelas oleh mataku yang di lapisi debu dan udara panas. Kokoh batangnya, tinggi seperti pohon beringin, tapi aku tahu itu bukan beringin. Tidak ada sulur-sulur yang bergantungan. Daunnya pun tidak sekecil daun-daun pohon beringin. Sebagian daunnya berwarna coklat, kering dan retas. Jatuh berhamburan ke mana-mana, di terbangkan angin yang sesekali lewat. Satu dua daunnya jatuh di bawah kakiku.

Lapangan ini memberikan aroma kering. Bau udara panas yang berdebu. Bau daun-daun dan rumput meranggas yang terpanggang seperti bau kue jahe yang kering di oven.

Ah, ada bekal kantong beludru merah tua di tanganku. berisi sepotong kue coklat madu yang pernah tersimpan dalam benakku, lama berlalu.

Kue itu, akan kuberikan pada burung kecil di tepi lapangan. Tapi karena udara panas, tak ada satu ekor pun yang muncul. Jadi kusimpan saja dalam kantong beludru merahku. Kantong itu pun tampak kusam.

Aku duduk diam, sendirian di tepi lapangan.

Udara panas memutih di sekelilingku.

Memandang lapangan yang begitu luas di hadapanku. Aku berpikir. Entahlah, aku benar-benar berpikir, atau sekedar berkhayal, sebab aku tidak bisa membaca bayangan otakku.

Suara angin diatas lapangan yang luas. Mendesis. Lalu….tring ! menyentuh selembar daun kering. Dan…..tring ! lagi…satu daun lagi melayang. Aneh. Karena aku bisa mendengar denting angin menyentuh daun di ujung lapangan seluas ini, sementara aku duduk di ujung yang lainnya. Dan aku melihatnya menyentuh daun, memetik, dan menerbangkannya.

itu seperti suara petikan sitar. Satu nada di ikuti nada yang lainnya. Dentingnya bening tapi menajam.

Angin yang mendesis, berdenting, mendesis berputar dan berdenting kering.

Kupungut selembar daun yang jatuh di kakiku, tanpa keinginan untuk beranjak dari tempat dudukku. Daun itu daun biasa, meruncing, mengering, tajam pinggirannya, retas di tengahnya. Kukembalikan pada tanah di bawah kakiku. Tak ada yang bisa kubaca dari daun kering itu, selain bahwa dia sekering tanah di bawahku.

Lapangan itu masih terlihat putih oleh kabut debu, dan bercak-bercak hijau dari rumput yang berusaha untuk bertahan hidup.

Langit di atasku begitu biru dan bersih. Kering, seperti cucian di halaman belakang rumah. Satu dua ekor burung terbang, jauh sekali, terlihat seperti bayangan yang sejenak menggores langit-langit biru cerah.

Lagi-lagi kudengar suara angin, Kali ini terdengar berdenyit. Seperti suara senar yang di petik tanpa nada. Dan berdesir-desir. Lalu fatamorgana pelangi itu pelan-pelan menjadi kabut putih. Ada bayang-bayang matahari yang menyentuh pohon besar. Memberi sapuan kelabu gelap pada kabut putih yang bergerak di tengah lapangan.

Dan aku terpaku pada kursiku. Serasa semakin menjauh dari tengah lapangan. Seperti kamera yang di zoom out, aku menjadi semakin jauh, semakin mengecil, atau lapangan itu yang menjadi semakin luas. Dan tarian kabut putih melambat, meski angin masih tetap berdesir-desir membawa udara terik. Entah jam berapa, tak ada tanda sama sekali. Waktu seperti berhenti pada kisaran yang sama. Tidak bergerak. Matahari tidak tampak, hanya sinarnya yang begitu kemilau dan menyengat. Terang benderang, sehingga semua warna lebur di dalamnya. Menjadi putih, putih dan putih. Silau.

Kursiku, dan aku, tergeser makin menepi, di tepi lapangan yang panas dan berdebu. Bayangan yang menari, dan suara desir angin menghilang.

Hening.

Kini semua diam.

Dan lapangan itu tampak semakin luas, atau aku yang lagi-lagi menciut menjadi semakin kecil. Diam tanpa suara. Hanya daun-daun yang bergerak pelan entah kenapa. Tapi tanpa suara. Kabut panas, udara berpendar-pendar, bintik-bintik pelangi.

Blur………………

Aku juga diam. Dari tadi aku juga diam.

Aku berpikir, atau setidaknya aku mengira aku berpikir. Dari tadi aku juga mengira aku berpikir.

Ketika bayangan menari di tengah lapangan, ketika suara angin berdenting : tring !

Kupikir itu adalah bayangannya sedang memetik sitar, mencoba melantunkan kompisisi yang ternyata meleleh di udara, sehingga senarnya terurai tanpa nada.

Aku berpikir, setidaknya aku mengira diriku berpikir. Atau sebenarnya aku berkhayal. Melihat dirimu dalam bayang-bayang kabut putih kelabu. Dan suara angin, seperti suara siulanmu, dan denting : tring ! seperti suara sitarmu.

Aku masih duduk diam di tepi lapangan. Tak ingin beranjak.

Tak juga bergerak, sebab semua telah menjadi diam.

Maka pikiranku pun jadi diam.

Tak ada lagi khayalan dalam benakku. Tak kulihat lagi bayangan yang menari, atau tak kudengar lagi suara denting angin.

Lapangan itu kosong, seperti langit di atasnya. Sunyi. Dan begitu terik.

Uap panas berpendar-pendar ke atas. Pelangi-pelangi menyentuh celah-celah kilau putih. Menjamah bercak-bercak hijau rumput yang bertahan hidup.

Segores warna hijau yang membuatku tetap bertahan dan tetap duduk di kursi besiku, meski panas menyentuh rambut. Menyaput kulit seperti ketika tanganku masuk dalam oven untuk mengangkat seloyang kue coklat bertabur keju kuning.

Pohon besar di seberang lapangan itu memberikan pandangan teduh bagi mataku yang lelah dan kering.

Setidaknya masih ada daun-daun yang tergantung pelan-pelan mengirama lagu yang tiba-tiba tergumam dari bibirku yang sedikit kering. Pelan, lalu melenyap.

Tidak ada lagi yang bisa kulihat. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Semuanya menjadi sunyi.

Aku menunggu.

Ah, aku tidak menunggu.

Aku tidak tahu.

Waktu seperti berjalan sangat lambat. Atau memang tidak bergerak sama sekali. Terpaku pada lapangan yang terik.

Aku masih duduk sendirian, diam di tepi lapangan. Entah apa lagi yang kulihat, ketika semuanya hanya lapangan itu saja yang ada. Lapangan yang luas, dengan sebatang pohon besar di tepinya, dan beberapa lembar rumput yang bertahan hidup. Lalu kabut debu dan desis angin.

Waktu terasa diam tak beranjak

Pagiku diam-diam pergi tanpa jejak

Siangku….

Ah, siangku pun merambat seperti ulat bulu di tengah lapangan yang berusaha keras mencapai ujung lapangan untuk membungkus dirinya dalam kepompong yang teduh.

Dan kepompong itu juga akan diam tak bergerak.

Lalu entah kapan, waktu akan berlalu.

Lapangan itu masih terasa luas dan terik

Dan aku tetap duduk diam di tepinya.

Tak juga beranjak

Jadi, waktu atau aku yang tidak beranjak ?

Aku tetap duduk diam di kursi besiku yang sudah tua.

Menunggu….

Ah tidak

Aku hanya ingin ditemani……………mas……………

 

Jogja, 2011-10-19 10 :48 pm
Diam…………………….di tepi lapangan dalam benakku

 

6 Comments to "Duduk di Tepi Lapangan"

  1. EQ  25 October, 2011 at 00:33

    Lani : kok mesakke gimana toh ?
    kanjenge : waah…ra puitis doong, “soul”nya gak kena kqkqkqkq…..

  2. J C  24 October, 2011 at 07:57

    Nyai, judulnya diganti saja: “Klekaran di Tengah Lapangan”

  3. Lani  22 October, 2011 at 12:17

    waaaaaah……..mesak-e men

  4. EQ  22 October, 2011 at 11:00

    James : hahha..Absen…makasih for being the first one
    Om Handoko : kalo kata temanku, tulisanku surealis ………….aku menulis dengan “melihat” apa yang ada di depanku, sebab pada saat2 tertentu, ada bayangan2/ khayalan2 yang begitu jelas dan mudah untuk di “lihat”, kemudian di tulis.
    kanjenge JC : matur nuwun…sayang ilustrasi gambarnya tidak pas dengan apa yang ada dlm benakku. Lapangan itu seperti lapangan sepak bola yang kering dan luas. ( sebenarnya mau tak gambar, tapi sulit sekali )

  5. Handoko Widagdo  22 October, 2011 at 10:35

    Tulisan Nyi EQ selalu magis

  6. James  22 October, 2011 at 10:30

    O n e

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.