Pemerkosaan Bukan Karena Rok Mini

Cinde Laras

 

Pernah dengar cerita ini?

* Seorang ibu yang sedang menyusui bayinya di dalam sebuah rumah, diperkosa oleh seorang pemuda tetangga yang tergiur oleh kemolekan si ibu.

Atau yang ini…..

* Suatu siang seorang remaja putri yang terganggu jiwanya berjalan menyusuri sebuah jalan di kawasan Cilacap, masih lengkap dengan baju seragam SMA, meski tubuhnya kotor dan pikirannya linglung. Tiba-tiba di tengah jalan, segerombolan pemuda menyeretnya ke sungai, memandikannya ramai-ramai, lalu memperkosanya dengan bergiliran sambil sebagian lainnya memegangi di gadis. Setelah selesai, pemuda-pemuda itu membuang si gadis linglung ke kawasan kebun karet nun ke arah Bandung.

Atau yang ini…..

* Seorang nenek berusia 70 tahun diperkosa oleh seorang pencuri barang berharga. Sejumlah perhiasan berhasil dibawa kabur, sementara itu si nenek pingsan.

Atau yang ini…..

* Seorang kakek yang gelap mata memperkosa cucunya sendiri yang berusia 7 tahun hingga sang cucu mengalami pendarahan.

Ya, banyak contoh kasus pemerkosaan yang diliput koran-koran. Sebagian terungkap dengan begitu gamblang, sebagian lagi tak ketemu titik-terang. Sebagian dilakukan orang asing, sebagian lagi dilakukan orang dekat yang hidup di lingkungan korban. Tak ada satupun dari korban itu yang tak mengalami trauma, semua mengalami ‘kehancuran’ baik mental maupun fisik, dan tak sedikit juga yang tetap menderita ketakutan hingga mereka dewasa, bahkan bisa jadi sampai mereka mati.

Pemerkosaan adalah suatu tindakan dimana seseorang/sekelompok orang memaksakan kehendaknya dengan kekerasan (biasanya) untuk alasan seksual atas individu lain, baik itu yang sejenis ataupun yang menjadi lawan jenis. Pemerkosaan bisa terjadi pada seorang perempuan oleh seorang lelaki, atau seorang perempuan oleh perempuan, atau seorang lelaki oleh seorang lelaki lainnya, atau bisa saja pada seorang lelaki oleh seorang perempuan.

Adalah sebuah peristiwa yang terjadi beberapa saat lalu, ketika seorang perempuan muda bernama Livia Pavita Soelistio yang telah mengalami perkosaan lalu kemudian pembunuhan atas dirinya. Jenazahnya ditemukan di sebuah selokan sebuah kebun di Cisauk. Saat ke kampusnya di BINUS, Livia mengenakan baju putih dan rok hitam. Dan dari baju yang dikenakan korban pembunuhan serta dari kalung liontin yang melekat darinya, keluarganya meyakini betul kalau itu adalah Livia. Malang benar nasibnya. Pasti gadis itu sangat ketakutan….

Gubernur DKI dalam sebuah wawancara sempat melontarkan himbauannya agar perempuan tidak mengenakan rok mini saat bepergian dengan angkutan kota agar terhindar dari pelecehan atau bahkan pemerkosaan. Himbauan yang lumrah diucapkan seorang kakek atau ayah pada anak perempuan mereka. Tapi tunggu dulu, yang dibicarakan adalah tentang korban perkosaan bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh oknum sopir tembak angkot jurusan M 24 di Jakarta beberapa saat yang lalu. Bukan hanya perkosaan, tapi juga pembunuhan.

Dan alangkah naifnya bila mengira seorang Livia yang saat pergi mengenakan rok hitam untuk menghadiri acara sidang skripsi di kampusnya, menghadiri acara itu dengan mengenakan rok mini. Lalu seberapa minikah rok yang dikenakannya? Bukankah sudah ada semacam standar yang diberikan pihak kampus untuk para mahasiswinya agar dalam acara semacam itu mereka wajib mengenakan rok dengan batas yang sudah ditentukan? (biasanya di bawah lutut). Apa iya Livia ikut sidang skripsi dengan rok mini? Kalau demikian adanya, ceroboh sekali dia. Tapi kalau tidak semini itu rok Livia, betapa malangnya dia, masih disalahkan pula oleh Pak Foke untuk rok yang dipakainya.

Lepas dari seberapa pendek rok seseorang, rasanya tak pantas bila rok mini dijadikan alasan untuk me’logis’kan alasan mengapa seseorang sampai diperkosa hingga dibunuh. Seperti juga alasan mengapa seorang ibu yang sedang menyusui anaknya sendiri di rumahnya diperkosa pemuda tetangga, atau alasan mengapa seorang bocah umur 7 tahun diperkosa kakeknya. Yang jelas, pemerkosaan adalah sebuah tindakan kejahatan yang sama sekali tak bertanggung-jawab, seperti apapun sanksi yang diterima pelaku bila dia tertangkap. Karena bukan hanya fisik yang menderita, tapi juga batinnya. Luka fisik akan pulih, meski bisa saja tak akan seperti semula. Tapi luka batin akan bertahan selama-lamanya.

Menyalahkan pada diri korban adalah hal yang paling mudah ditudingkan orang bila terjadi suatu pemerkosaan. Bisa jadi menyalahkan baju yang dikenakan, bisa jadi karena sikap yang menurut sebagian orang dianggap mengundang untuk terjadinya suatu pemerkosaan. Bisa saja kedua alasan itu diterima akal sehat. Tapi bagaimana dengan kasus-kasus yang ada selama ini. Karena rok minikah? Atau karena sikap mengundang yang dilakukan korbankah? Sepertinya jauh sekali kedua alasan itu dari kejadian diperkosanya si ibu bayi atau si nenek tua. Pasti alasan yang paling masuk akal adalah pada miskinnya keimanan seseorang, rendahnya moral, serta minimnya pengendalian emosi dan akal sehat pada diri pelaku. Itu saja. Titik.

Ketika saya menuliskan ini, tiba-tiba teringat kisah tentang seorang pemuda yang diperkosa 10 perempuan di Papua Nugini. Seingat saya, di Afrika pun pernah terjadi hal yang sama. Untuk alasan emansipasikah? Kalau untuk itu alasannya, lebih baik saya tidak disebut feminist.

 

23 Comments to "Pemerkosaan Bukan Karena Rok Mini"

  1. Lani  25 October, 2011 at 05:48

    21 KORNEL : klu kamu se7777 apakah kamu jg berani nglempar batu tuh ke batok sipemerkosa????? klu kg berani kerahkan semua baltyrawati…….aku tanggung dlm tempo seperempat jam tuh orang game……..wakakaka

  2. Lani  25 October, 2011 at 05:47

    19 KANG ANUUUUUUUU hahahah…….wakakkaka……….dasar wong sudrun!

  3. Kornelya  24 October, 2011 at 21:56

    Mba Cinde, kalau begini, aku setuju untuk pemerkosa, dijatuhi hukum rajam didepan umum, biar yang lain jera. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.