Anakku Yang Bukan Anakku

Anwari Doel Arnowo

 

Yang tercetak dengan huruf berwarna biru di bawah ini adalah kutipan attachment email seorang teman. Isinya sudah lama saya ketaui akan tetapi baru kali ini yang saya dapatkan agak lengkap. Puisi yang menggugah hati banyak orang yang membacanya dengan tenang dan membuka pikiran, yang membuat bukan hanya otak kita saja, tetapi hati kita juga ikut berpikir. Pikiran universal atau internasional ini, juga antar ras dan antar golongan, apapun agama dan kepercayaannya.

Di dalam bukunya yang berjudul “The Prophet” (Sang Nabi), Gibran, warga Amerika kelahiran Libanon menulis puisi berjudul “On children.”

Khalil Gibran dilahirkan pada 6 Januari 1883 di Bsharri, Libanon dan meninggal pada 10 April 1931 di New York City. Dia seorang penyair dan  seniman yang beragama Kristen Katolik Maronit.

Puisi Khalil Gibran dalam The PROPHET, tersebut berbunyi:

On Children

And a woman who held a babe against her bosom said,
“Speak to us of Children.”
And he said:
Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
You are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and
He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies, so
He loves also the bow that is stable.

Bukankah ada pepatah di dalam bahasa Indonesia yang berbunyi: KASIH IBU SEPANJANG JALAN, KASIH ANAK SEPANJANG GALAH atau SEPENGGALAN ?

Sudah lebih dari dua orang ibu yang istri teman-teman saya sendiri mengeluarkan keluhan: SEBEL kepada anak perempuannya yang telah menikah dan masih tinggal bersama orang tua mereka. Pertama kali, saya sungguh terkejut medengarnya. Anaknya berubah perangai? Iya, kok jadi lain ya anakku? Katanya mengeluh panjang pendek. Wah, begitu??? Bukankah sudah ada suaminya? Lagi pula mereka tinggal bersama, kan??

Bukan sesuatu yang mudah waktu untuk pertama kalinya saya mengucapkan seperti yang berikut ini: Saya dan istri berusaha sekuat-kuatnya untuk menghindari campur tangan ke dalam rumah tangga anak saya setelah dia menikahi pasangan yang dipilihnya sendiri. Saya melepaskan diri dari ikut campur mengenai kehidupan mereka bersama cucu-cucu yang ada, bukan karena kurang rasa kasih sayang kepada mereka, akan tetapi sebaliknyalah yang saya tuju. Dengan menyerahkan sepenuhnya tata cara membesarkan cucu-cucu, justru saya memberi wibawa kepada anak-anak mereka itu dalam menghormati ayah dan ibunya. Bukankah ayah dan ibunya itu adalah anak-anak saya sendiri juga?? Rasa dihormati atau respect itu tidak bisa didapat karena turun dari langit, tetapi harus diupayakan atau earned !!

Saya bermaksud menggugah ingatan kita, mendalami isi puisi ini, apabila kita sedang menghadapi kondisi tak terduga seperti terbersit dari peristiwa sejenis di atas, bila saatnya tiba jatuh di hadapan kita. Saya percaya banyak orang tua yang tidak akan menyangka bahwa kejadian dimaksud akan menimpa diri sendiri. Biasa saja kalau kita membicarakan kejadian seperti itu yang menimpa diri orang lain. Itu terlihat dan terlintas biasa saja. Tetapi benarkah kita sudah menyiapkan diri sendiri bila kita, para orang tua atau senior, secara tiba-tiba menemui hal yang seperti itu?

Mari kita lebarkan horizon kita.

Kejadian tersebut bisa saja menimpa yang sebaliknya.

Orang tua meninggalkan anaknya, tidak menaruh perduli, sang ayah menikahi wanita lain atau ibunya jatuh hati kepada orang lain juga. Malah kedua orang tuanya bercerai karena banyak sebab lain, bukan karena orang ketiga. Hanya, bisa saja misalnya karena kegemaran yang tidak disukai pasangannya, seperti narkoba, korupsi, mabok minuman keras, berjudi dan berpolitik praktis. Banyak ragam dan jenisnya. Semua itu menyebabkan mutu peringkat berumah tangga menjadi jatuh tercerai berai, yang ujung-ujungnya akan menimbulkan keresahan dan keterpurukan terhadap anak-anaknya dan terhadap sekelilingnya.

Saya memandang perceraian dalam sebuah pernikahan bukanlah sesuatu yang selalu harus dihindari. Rasa tidak serasi terhadap pasangan itu menyebabkan hidup seperti tidak nyata. Anak-anak yang hidup bersama mereka menjadi korban dan ikut masuk ke dalam kubangan masalah yang tanpa ujung. Mereka sedikit sekali, malah mungkin tidak berkontribusi apapun, terhadap kemelut yang terjadi.

Kalau kita bisa memaklumi bahwa pasangan suami istri itu, jelas memang berasal dari dua kelompok atau keluarga yang berlainan latar belakangnya, tanpa toleransi, maka asal lingkungan itu tidak akan bisa berasimilasi. Beda ras dan keningratan, kaya, miskin dan intelektual, tidak berpendidikan hampir pasti akan menimbulkan suasana rawan konflik. Kata kunci untuk memperbaiki keretakan tiada lain adalah toleransi, tepo seliro.

Apa saja unsur yang ada di dalam kata toleransi? Misalnya dimunculkannya rasa/sikap obyektif dan permissive, terhadap opini, praktek yang dilakukan oleh orang lain yang meliputi rasa nasionalisme dan agama serta kepercayaan apapun. Sebagian sikap yang seperti ini saja, saya rasa akan banyak sekali bisa meredam rasa cemburu sosial, rasa permusuhan antar golongan dan rasa amarah yang tidak terkendali yang disebabkan oleh apapun jua. Sikap-sikap yang bersifat tolerant akan memberi ruang bagi pergaulan yang sopan dan santun serta disiplin diri menjadi mencuat keluar.

Saya berani menyimpulkan harapan-harapan baik yang tersebut di atas tidak akan mungkin bisa kita capai apabila kita harapkan akan datang dari atau dengan bantuan pemerintah sebuah Negara. Tetapi hal seperti ini haruslah dimulai dari diri sendiri, kemudian meluas dari keluarga kita masing-masing, ke lingkungan keluarga dekat kita yang lain.

Marilah kita lakukan sebisanya, semampu kita.

 

Anwari Doel Arnowo – 2011/10/18

No Legacy is so rich as honesty

 

12 Comments to "Anakku Yang Bukan Anakku"

  1. Anwari  28 October, 2011 at 17:07

    Terima kasih, Dewi, saya hargai isi hatimu yang tertuang didalam kalimat-kalimat yang baik dan teratur.
    Sungguh melengkapi isi tulisan saya.
    Salam
    Anwari -2011/10/28 —Hari Sumpah Pemuda 2011

  2. Dewi Aichi  28 October, 2011 at 16:54

    Saya selalu senang membaca tulisan pak Anwari yang kadang memberikan sudut pandang yang berbeda. Tentu saja pengalaman hidup dan wawasan serta lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir seseorang.

    Permasalahan seputar yang bapak tulis yaitu orang tua yang terlalu masuk ke ranah rumah tangga anak, kalau dalam budaya orang kampung/Jawa, biasanya terdorong rasa kasih sayang dan kekhawatiran berlebihan akan kemampuan anak/menantu dalam mencari solusi kehidupan rumah tangga .

    Hal itu mungkin dapat dipahami, dan saya memahami juga. Tetapi dimasa kini, dimana banyak sekali kemajuan jaman dan semakin global, campur tangan ortu dalam rumah tangga anaknya, sedikit demi sedikit bias dipupus, kurang bijak rasanya jika ortu terlalu masuk ke ranah rumah tangga anak.

    Kemandirian di era sekarang ini sangat dituntut….demi kelangsungan hidup(hidup berumah tangga).
    Jika menemui ortu/mertua yang begitu, sadarkan dengan pelan-pelan, tidak mengurangi rasa hormat, yang paling dihindari ya jangan sampai bertengkar dengan ortu/mertua.
    Saya sendiri tidak mengalami hal-hal tersebut, dikarenakan sejak belum menikah sudah hidup sendiri, dan setelah menikah apalagi, tidak merasakan mempunyai mertua, karena sudah tiada.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.