Lagi-lagi Bullying

Alvina VB – Canada

 

Bullying terjadi di ruang kelas, di pekarangan sekolahan dan di luar sekolahan melalui internet/social media  seperti chatting on line, FB dan twitter. Statistik Canada memperkirakan satu dari sepuluh anak-anak melakukan bullying dan 25% anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 adalah korban bullying. Menurut laporan jurnal kesehatan anak-anak  di Canada satu dari tujuh anak-anak usia 11-16 tahun adalah korban bullying.

Jadi, masalah bullying bukan hal yang asing lagi bagi anak-anak di sekolahan saat ini, bahkan di sekolahan private yang terbaik sekalipun. Baru-baru ini ada ibu dari kawan anak saya mengalami bullying melalui text messaging, yang sering disebut cyber-bullying. Si ibu ini dengan sigap membawa Iphone anaknya ke Kepala sekolah dan menunjukan text yang dikirim oleh anak yang bullying (dapat diartikan intimidasi secara emosional) anaknya tersebut. Karena ini sekolah swasta/ private yang boleh dibilang salah satu terbaik, kepala sekolah langsung mengambil tindakan dan mendisiplinkan anak yang bullying tersebut.

Masalah bullying tidaklah mudah diselesaikan dengan tuntas kalau tidak ada tindakan tegas yang cepat diambil. Selanjutnya bullying dapat berkembang  menjadi social bullying, menyebarkan rumours dan  gossip tentang satu anak dan satu gank yang mengucilkan anak tersebut.  Lebih gawat lagi kalau sampai ke physical bullying, adanya pemukulan dan pengeroyokan kalau the bully punya gank atau pengikut.

Pada artikel saya sebelumnya Anak Campuran, Diskriminasi dan Bullying (http://baltyra.com/2010/11/22/anak-campuran-diskriminasi-dan-bullying/) menceritakan  beberapa korban  bullying di sekolahan, yang rata-rata orang tua anak-anak tersebut menarik keluar anaknya dari sekolahan. Saya rasa ini tindakan yang tepat sebelum dampak bullying  bertambah parah, seperti halnya beberapa kasus di Canada dan US baru-baru ini, di mana orang tuanya tidak memindahkan anaknya ke sekolahan, walaupun anaknya sudah meminta berulang kali dan akibatnya fatal, anak-anak tersebut bunuh diri dan orang tuanya menyesal karena menyepelekan permintaan anaknya.

Mari kita coba untuk melihat sebetulnya siapa anak yang suka bullying, yang kerap disebut ‘the bully’. Dari pengamatan saya pribadi dan juga masukan dari rekan pendidik di sini, saya bisa mengambil kesimpulan kalau the bully ternyata juga seorang korban, entah itu korban bullying, kekerasan, atau korban pelecehan di dalam rumah atau lingkungannya sendiri.  Ada juga beberapa bully dari ethnic keluarga (tanpa dilihat latar belakang suku, bahasa atau agamanya), yang mendidik anak (laki-lakinya terutama) dengan kekerasan (entah itu dengan kata-kata kasar, cacian, makian ataupun pukulan) supaya anaknya tumbuh tangguh dan tidak cengeng,  tanpa mengetahui effek sampingan dari kejiwaan anak tersebut.

Salah satu bully yang pernah saya dengar di sini, ternyata dia korban kekerasan dari rumah. Kalau dia salah ngomong/ salah melakukan sesuatu, ibunya memukul anak tersebut bahkan menggores lidahnya dengan pisau, sehingga anak tersebut tidak bisa makan dan minum. Ada lagi yang lainnya, dia adalah korban pelecehan sexual, yang menyebabkan dirinya marah dan melukai siapapun yang coba mendekatinya, termasuk bullying kawannya di sekolahan. Ada salah satu bully yang kita tadinya  kurang mengerti, karena dia dari keluarga baik-baik dan orang tuanya berpendidikan tinggi.  Tetapi setelah kita lihat lebih lanjut lagi, ternyata orang tuanya cuma org tua part-time/week-end saja, karena kesibukan kerjaan dan karir mereka, anaknya kurang diperhatikan. Anak ini hidup dan besar dengan nannynya sehari-hari dan seperti yang kita perkirakan nannynya yang abuse anak ini.

Intervensi dari orang tua (yang bukan abuser), pendidik  bahkan psycholog anak-anak memegang peranan yang penting setelah terjadi bullying. Pemulihan fisik dan jiwa akan memakan waktu. Jadi ada baiknya sebelum bullying terjadi, kita ciptakan kegiatan yang positif, yang dapat menghindari bullying dengan mengajarkan anak-anak untuk lebih berdamai dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mengasihi sesamanya walaupun latar belakang yang berbeda dengan kegiatan social yang sudah ada ataupun menciptakan yang baru, dan memberikan harapan bagi anak-anak yang memerlukan perhatian ataupun yang terbuang.

Banyak sekali organisasi (NGO) saat ini yang membuka peluang bagi anak-anak untuk ikut serta dalam kegiatan social dari anak-anak untuk anak-anak, salah satunya adalah PEACE, LOVE & HOPE.  Anak-anak usia 5-15 tahun melakukan kegiatan seni (dalam hal ini seni membatik) di sekolahan mereka masing-masing. Hasil karya mereka dipamerkan ke public dan dengan bantuan sekolahannya, mereka melakukan fundraising untuk membantu anak-anak yang mengalami kekurangan sandang, pangan dan papan, membantu mengirimkan anak-anak yang kurang mampu ke sekolah,  melakukan dialog terbuka dengan anak-anak di dunia lainnya dengan jalan koresponden ataupun melalui skype dan masih banyak kegiatan positif lainnya yang dapat menghindari anak-anak untuk melakukan hal-hal yang negative, termasuk bullying .

“Love begins at home, and it is not how much we do… but how much love we put in that action”

 Mother Teresa

Note:

Untuk berperan dalam mengatasi bullying ini, kami secara aktif mencoba mengadakan aktivitas yang semoga dapat mengurangi bullying ini.Project ini dilombakan dan kami berterima kasih mendapat kesempatan untuk maju ke babak berikutnya. Berikut catatan dari Alvina and The Team.

Dear friends,

Project kita mendapatkan kesempatan kedua untuk masih bisa running untuk masuk ke babak selanjutnya. Dengan ini, mohon bantuannya untuk voting lagi (dalam waktu 15 harian y.a.d. mulai hari Senin, Oct 24 – Nov 9), harap forward link ini ke kerabat/ kawan yang bisa bantu voting.

Link utk voting di:

http://www.avivacommunityfund.org/ideas/acf11257

Yang sudah pernah registrasi sebelumnya, tinggal log in, kalau ada yang belum pernah registrasi dan mengalami kesulitan untuk registrasi bisa balas e-mail ini dan saya bantu untuk registrasi dari sini, jadi hari Senin y.a.d. tinggal log in untuk voting.

Terima kasih utk dukungannya selama ini.

Best regards,

Alvina & team PLH

 

32 Comments to "Lagi-lagi Bullying"

  1. Anastasia Yuliantari  27 October, 2011 at 07:42

    Yu Lani: hehehehe…berarti kisah KB dingklik wis tamat yo? (Anoew mesti merindukan perdingklikan iki)

  2. Meitasari S  27 October, 2011 at 03:53

    Yu lani tunggulah nanti waktunya akan tiba n yu lani akan tau… Ha ha ha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *