Menelusuri Gua-gua Peninggalan PD II Jepang di Kota Mbay

Dwi Setijo Widodo – Maumere

 

Jalan-jalan di Kabupaten Nagekeo, Flores: Menelusuri Gua-gua Peninggalan PD II Jepang di Kota Mbay

Apa yang di benak Anda saat diajak berwisata menelusuri gua-gua peninggalan tentara Jepang masa pasca Perang Dunia ke-2? Mungkin sama dengan pikiran saya: gelap, kosong, tidak menarik, dan membosankan. Mungkin jawaban pertama dan kedua ada benarnya. Tapi bila merunut jawaban berikutnya, Anda ternyata jangan cepat mengambil kesimpulan. Termasuk bila membicarakan gua-gua Jepang di Mbay, Kabupaten Nagekeo ini.

Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo, ada 33 gua atau bunker peninggalan kolonial Jepang yang tersebar di wilayah adat Lape, Kecamatan Aesesa, di kota Mbay ini. Memang tidak semuanya mudah diakses. Namun, menelusuri gua-gua ini, terutama yang selama ini dipergunakan masyarakat setempat untuk berteduh saat menggembala ternaknya, jalurnya cukup menarik bila dikaitkan dengan wisata lintas alam karena lokasi gua-gua tersebut yang terletak tersembunyi di balik perbukitan yang cukup hijau dengan rimbunan semak dan pepohonan.

Titik awal aktivitasnya bisa dimulai dari kota Mbay sendiri. Perlu seorang pemandu lokal untuk membantu dalam menemukan gua-gua tersebut. Saat penelusuran pada 11 Juni 2011, selain didampingi oleh Disbudpar Nagekeo & perwakilan TMO (Tourist Management Organization) ”Peo Nabe Nagekeo”, kami juga dipandu oleh pemangku adat Desa Lape yang sangat mengenal dimana seluruh ”bunker” tersebut berada. Karena jalurnya masih direncanakan untuk ditata oleh Pemda Nagekeo, berinisiatif untuk menelusuri sendiri jalur lintas alam tersebut bukan ide yang tepat. Alih-alih ingin menemukan gua-gua tersebut, tanpa pemandu lokal, kita hanya akan berputar saja di area perbukitan yang masih dipenuhi oleh pepohonan kesambi, bidara cina, dan beberapa pepohonan dan tetumbuhan liar lain.

Lintas alam menelusuri gua-gua ini ternyata sangat menarik. Di luar keberadaan gua-guanya yang bisa jadi menjadi urutan terakhir, daya tarik dari wisata ini sebenarnya adalah jalur lintas alamnya yang akan memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk belajar dari alam. Sebagai area yang masih bebas dengan rerimbunan pepohonan dan tetumbuhan yang masih liar, berbagai fauna sebangsa burung, misalnya elang, puyuh, dan burung-burung kecil lainnya menjadikan area ini sebagai tempat aman untuk bermukim.

Oleh karena itu, tak heran, berbagai satwa tersebut mudah ditemukan saat kita melintas di sana. Seperti saat kami berada di sana. Beberapa elang dengan gagah memamerkan gaya terbang soliternya. Bila tertarik dengan kegiatan pengamatan burung di area ini, berangkat awal pagi tentu akan memberikan kesempatan bagi penikmat untuk bertemu dengan berbagai jenis satwa liar ini. Sejauh ini, masyarakat penggembala kambing belum pernah menemukan keberadaan satwa ular, baik di area luar maupun dalam gua. Jadi, jangan khawatir akan menemui satwa berbahaya sejenis di area ini. Secara keseluruhan, jalur-jalur lintas alam ini dapat dikatakan cukup aman untuk umum.

Selain satwa liar, pemandangan dalam jalur ini begitu luar biasa. Dari puncak perbukitan, memandang ke utara, kita akan melihat pelabuhan Marapokot dengan hijaunya persawahan di sekitarnya. Dari arah timur dan barat, kota Mbay dengan lekuk liku dataran-dataran rendahnya yang diselimuti pepohonan dan rumput sabana  terlihat mengesankan dipandang dari sini. Termasuk kegagahan gunung aktif Ebulobo dan juga juga dataran-dataran tinggi bila menengok ke selatan.

Perbukitan ini rasanya juga menjadi tempat yang romantis untuk menyaksikan datang dan perginya matahari. Bila jalur lintasannya telah dibuka, dibenahi, dan ditata – seperti diungkapkan oleh pihak Disbudpar Nagekeo – termasuk pemberian petunjuk arah lokasi gua dan alternatif lintasan masuk dan keluar di area tersebut, bukan tak mungkin lokasi ini dapat menjadi taman kota dan tempat wisata dalam jangkauan kota yang menyenangkan. Yang sangat perlu diperhatikan nantinya bila saatnya lokasi ini resmi dibuka untuk wisata, sosialisasi kepada masyarakat lokal untuk ikut serta menjaga lingkungan dan tidak menggembalakan ternaknya di area-area yang telah ditentukan. Satu lagi yang terpenting adalah penanganan sampah dari pengunjung, terutama sampah plastik, yang sering pada akhirnya menjadi penyebab rusaknya dan kotornya lingkungan daerah wisata.

Menelusuri sejarahnya sendiri, gua-gua tersebut adalah gua-gua buatan dari inisiatif tentara Jepang saat menduduki kota Mbay sekitar 1942-1945. Dilihat dari jejak-jejaknya, gua-gua yang sengaja dibangun mengecil di pintu masuk dan luas saat sudah berada di dalam dan dengan mempergunakan tenaga kerja paksa (romusha) penduduk lokal pada masa itu adalah, selain untuk perlindungan, untuk menyimpan berbagai keperluan logistik saat perang.

Selain itu, gua-gua yang sangat gelap di dalam karena ventilasi udara diberikan kecil dan terbatas dekat jalur masuk sehingga banyak dihuni oleh kawanan kelelawar yang menyeruak keluar saat kami mengarahkan senter kami untuk melihat situasi di dalam, ada yang digunakan sebagai semacam tempat ibadah dengan ditemukannya ceruk yang mirip altar sembahyang. Yang menarik, dari wilayah yang terlihat cukup kering ini, tentara Jepang berhasil membuat semacam gua kecil dimana air tawar bening dan segar mengalir tanpa henti dalam segala cuaca. Bisa jadi ini adalah sumber air artesis yang berasal dari persedian tadahan air hujan yang tersimpan di dalam tanah perbukitan kapur dan cadas di wilayah ini.

Berbicara mengenai pakaian saat berwisata ke sini, memakai pakaian tertutup sangat disarankan untuk menghindari beberapa tanaman dan ilalang berduri yang cukup banyak di sepanjang perjalanan. Tentu saja sepatu yang nyaman dan topi untuk penahan panas juga penting. Nah, untuk perbekalan yang perlu dipersiapkan, jangan lupa membawa minuman dan makanan kecil secukupnya, krim anti nyamuk, kamera, dan yang terakhir yang tidak boleh lupa adalah senter yang sangat diperlukan untuk mengeksplorasi di dalam gelapnya gua-gua tersebut.

Menarik? Tentu saja. Jadi, apabila tiba-tiba Anda diajak berwisata lintas alam menelusuri gua-gua semacam ini, jangan menolak lebih dulu. Yang pasti, lain tempat, lain pengalamannya. Siapa tahu ternyata pengalaman Anda tidak kalah menariknya seperti menelusuri gua-gua Jepang di kota Mbay yang juga terkenal dengan gudang padinya Flores ini. Selamat bertualang!
——————————-

Salam hangat dari Maumere,

Dwi Setijo Widodo

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

29 Comments to "Menelusuri Gua-gua Peninggalan PD II Jepang di Kota Mbay"

  1. Dwi Setijo Widodo  21 April, 2017 at 17:20

    Dengan senang hati berbagi hasil blusukan saya selama bertugas di Flores, Mbak/Ibu Sierli!

  2. Sierli FP  12 April, 2017 at 09:02

    Seruuuuu, suka banget sm artikel ini. Thank Dwi.

  3. Dwi  10 July, 2015 at 19:59

    Mas Andi Aulia, wah, kaget juga ternyata ada yang masih baca tulisan saya beberapa tahun lalu. Hehe…
    Wilayah Kabupaten Nagekeo memang merupakan salah satu basis tentara Jepang pada saat Perang Sekutu sekitar 1942-1945. Selain gua-gua tersebut, bukti yang lain adalah bekas landasan pesawat terbang Jepang yang dinamakan landasan Surabaya II di daerah Kota Mbay. Karena bukti inilah Nagekeo ingin juga mempunyai sebuah bandara di kabupatennya.

  4. andi aulia  10 July, 2015 at 18:18

    Baru tau.tenyata jepang sampai k mbay juga…

  5. Dwi Setijo Widodo  24 January, 2013 at 12:03

    Pak Kristian Melang,

    Salam kenal juga. Satu saat kita pasti akan jumpa.

  6. Kristian Melang  23 January, 2013 at 18:33

    Salam kenal,, sy salah satu staf Budpar Nagekeo,, yg membidangi seksi purbakala,,sy bahagia n senang sdh mempromosikan situs2 yg ada di nagekeo,, kami dr dinas siap membantu suport data manakala suatu ketika membutuhkan utk lbh komplit lg,, apa lagi situs2 di atas akan kami siapkan menyongsong sail komodo 2013… Tks

  7. Dwi Setijo Widodo  5 September, 2012 at 08:16

    Mbak Deslin,

    Salam kenal.
    Baiklah Mbaaakk. Asal sabar yaaaa…

  8. deslin  5 September, 2012 at 08:08

    sya yakin gua belum peninggalan jepang ini blum banyak dketahui msyarakat nagekeo sndri
    tlng jga update tentang kebudayan2 nagekeo pleeeeeeeeeeeeeeesssssssssssss

  9. Handoko Widagdo  26 October, 2011 at 13:11

    Rukmini bilang: “untunglah orang Jepang dulu berpusat di Jakarta sehingga suka masuk ‘gua’. Kalau orang Jepang berpusat di Semarang maka mereka pasti suka masuk ‘saya’

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *