Buku Kehidupanku (6): Dita Sang Dewi Cintaku

Meitasari S

 

Ini cerita tentang putriku, Sang Dewi Cinta, Skolastika Meitrisya Aprodite. Gadis mungil yang cantik dan luar biasa. Semenjak kecil dia selalu melakukan hal-hal yang tak terduga. Bahkan guru TKnya saat itu berkata, “Saya heran lho bu, tiba-tiba mbak Dita sudah bisa membaca.”

Ya, Dita memang luar biasa. Seingatku aku tidak pernah mengajarinya membaca, tetapi tiba-tiba ketika dia melihat sebuah tulisan di jalan ia membacanya dengan lancar. Memang saat dia di kandungan, aku merasakan kelak anak ini akan menjadi anak yang hebat. Walau saat TK sampai kelas 1 SD dia sangat cengeng dan penakut, setiap masuk kelas, ayahnya harus menunggu dia di dalam kelas sampai istirahat I, tapi Dita sarat dengan prestasi. Ia mengikuti berbagai kejuaraan modeling. Oh ya bahkan dia juga pernah memenangi kejuaraan Tae Kwon Do. Ia juga pernah menjadi bintang sebuah iklan Jamu. Dari SD kelas 1 – 6, prestasinya sangat cemerlang.

Saat duduk di bangku SMP dia mulai penuh pemberontakan. Malas belajar dlsb. Tapi nilainya tetap saja bagus. Di kelas 3 SMP, Dita sedikit berselisih paham denganku. Permasalahannya adalah masalah jatuh cinta. Ya, gadisku mulai jatuh cinta. Ho ho ho….Tentu saja ini membuatku waspada. Kami sempat berselisih paham, karena aku khawatir pergaulannya akan mengganggu pelajarannya. Tahun itu ia akan menghadapi Ujian Nasional. Aku meminta Dita untuk memutuskan sementara hubungan dengan teman dekatnya itu dan berkonsentrasi pada Ujian.

Saat aku berbicara demikian, kulihat wajahnya yang mengeras dan menahan tangis. Hmmmmm, kekerasan hatinya mewarisi watakku. Aku tahu. Melihat dia serasa melihat cermin di depanku. Ya kami lahir di bulan yang sama, hanya selisih dua hari saja. Perbedaannya hanya satu. Dia tidak tomboy seperti ibunya. Dan tentu saja cantik Dita… ha ha ha. Akhirnya walau dengan menahan tangis dia berjanji mengurangi komunikasi dengan teman dekatnya itu. Meski aku juga tahu bahwa ia menjalin hubungan diam-diam di belakangku. Tapi tak apalah,  begitulah masa remaja. Aku jadi ingat sendiri masa remajaku dulu. Ha ha ha…..

Saat kelulusan tiba. Aku yakin Dita pasti bisa. Dan memang begitulah adanya. Dita lulus dengan nilai yang memuaskan. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah memilih Sekolah Menengah Atas. Aku memberikan pilihan padanya 3 sekolah favorit. Satu sekolah swasta, 1 sekolah negeri RSBI, dan 1 lagi sekolah berasrama.   Untuk urusan memilih sekolah  aku memang masih memberikan pengarahan agar anak-anakku mendapat lingkungan dan suasana belajar yang baik dan memadai.

Sepertinya Tuhan memang akan membentuk anakku ini menjadi pribadi yang indah. Dita yang keras hati, cuek, malas dan sederet atribut kurang positif di belakangnya akan dibentuk menjadi manusia baru olehNya. Entah kebetulan, tes di sekolah favorit yang mulanya dia masuk jalur prestasi, harus terganjal di tes wawancara. Demikian juga saat kesempatan menggunakan jalur tes reguler, rumah kami dikepung banjir. Alhasil, pupuslah sudah masuk di SMA swasta favorit itu. Ia berkeras tidak mau di sekolah  asrama. Tapi aku membujuknya,”Tak apa mbak. Untuk cadangan saja kalau di SMA negeri itu tidak diterima.” Dengan setengah hati dan muka yang masam dia menuruti saranku.

Kami berangkat serombongan untuk mengantar tes Dita di sebuas SMA berasrama sambil rekreasi dan menghibur Dita yang ogah-ogahan. Tes masuk di sana dilaksanakan selama 2 hari. Cukup berat memang.   Tapi sekali lagi, Dita selalu menunjukkan kualitasnya sebagai anak yang luar biasa. Dita diterima. Saat kuberitahu bahwa ia diterima, dengan ketus dia mengatakan. Aku tidak mau sekolah di sana. Aku mau di SMA negeri. “Well, I have no objection! Silahkan mencoba,” kataku. Tapi demikianlah Tuhan bekerja. Ada saja kesalahan yang dia buat saat mendaftar secara online. Dan memang Dita tidak diterima. “Inilah saatnya Tuhan membentukmu, nak,” batinku.

Saat masuk sebagai siswa baru tiba. Di sekolah berasrama tersebut Dita mengalami awal yang pasti cukup berat. Dia harus mencuci sendiri. Beradaptasi dengan teman-teman dengan berbagai karakter. Tanpa komunikasi dengan teman dan kerabat selama 1 bulan, dan bulan berikutnya komunikasi hanya di hari tertentu saja. Makan seadanya dan banyak lagi hal-hal berat lainnya. Itulah yang menjadi keberatannya. Tapi yang paling berat kata dia adalah berpisah dengan Vento, anak bungsuku. Memang Dita dan Vento sangat dekat. Mereka sangat saling menyayangi.

Aku teringat sekali, bagaimana Dita tak peduli mengurus baju-baju serta keperluan untuk sekolah di asrama itu. Semua diatur olehku dan si mbak uu, pengasuh anak-anak kami. Bahkan sampai masuk gerbang asrama ia tak mau membawa bawaannya. Terlihat sekali dia sangat kesal. Tapi biarlah, aku cukup memahami pergulatan batinnya. Ia masih lima belas tahun saat itu. Harus terpisah dari keluarga, hidup mandiri dan mungkin tanpa kesenangan dan kemudahan seperti yang ia dapatkan di rumah.

Proses hidupnya berjalan. Kehidupan asrama dan pendidikan di sekolah itu telah membentuk dia menjadi manusia baru menurutku. Banyak sekali perubahan sikapnya. Dita yang cuek, sekarang menjadi Dita yang penuh perhatian peduli terhadap kesulitan orang lain. Ada hal yang mengharukanku, yaitu saat Antya , anak ketigaku berulang tahun. (Selama ini komunikasi antar anak-anak ku sepertinya kurang baik. Entahlah mungkin aku yang salah. Mereka jarang bercanda bersama. Untunglah si bungsu, Vento selalu menyemarakkan rumahku dan mempersatukan kakak-kakaknya.)

Aku melihat Dita minta si mbak untuk membuatkan mi. Lalu ia memanggil adik-adiknya ke kamar duduk melingkar. Setelah itu ia mengajak adik-adiknya berdoa. Lalu mereka saling menyuapkan mi. Ah,….. perayaan ulang tahun yang sangat sederhana, tapi penuh makna untukku. Aku terharu, dan dalam hati, aku mengucap syukur padaNya, yang telah merubah Sang Dewi Cintaku. Bukan hanya itu saja.

Ternyata  prestasi demi prestasi diraih Dita. Dia terpilih mewakili sekolahnya, bahkan mungkin propinsi untuk maju dalam Olimpiade Ilmu Sosial. Secara kelompok dia mendapat peringkat 5. Tetapi secara pribadi, Dita meraih predikat DUTA MUDA. Dita juga sering dikirim ke berbagai kejuaraan akutansi mewakili sekolahnya. Dan masih banyak lagi prestasi yang lain. Saat sekolahnya menyelenggarakan program Orientasi Panggilan Profesi, dimana program ini memantapkan cita-cita anak ke depan, Dita ikut seorang politisi. Dia ikut hadir pada sidang di gedung wakil rakyat. Ha ha ha…., ternyata dia menulis ingin menjadi politisi…., benarkah??? Kita lihat saja nanti.

Sekolah hidup Dita terus berjalan. Sekarang ia kelas 3 SMA. Tapi ia belum menentukan akan melanjutkan ke perguruan tinggi mana. Aku berharap ia bisa mendapatkan beasiswa. Yah…..semoga… Aku percaya bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk Dita.

28 Juli 2011
Mbak Dita : This is special note for you. Don’t be angry,kid!
Mommy just want to share, how proud I am having a lovely girl, like you!  
The Twins kata mbak Dita
Dita n Vento
Dita, si Duta Muda Oilimpiade Ilmu Sosial

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

42 Comments to "Buku Kehidupanku (6): Dita Sang Dewi Cintaku"

  1. Meitasari S  31 October, 2011 at 08:21

    mb dew : ha ha fitnah tuh !!! Berkat n kerja keras dita kok. Tx ya mb … Si ganteng tuh yg hebat spt ibunya …

  2. Dewi Aichi  31 October, 2011 at 07:01

    Anaknya hebat karena ibunya juga hebat….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.