Dari Mana Datangnya Ide?

Khrisna Pabichara

 

Catatan: Tulisan ini dimaksudkan sekadar pengantar bincang-bincang. Tentulah Sahabat Fesbuker sekalian punya cara atau teknik berbeda, dan senang rasanya jika Sahabat sekalian berkenan saling berbagi di sini. Salam takzim, Rumah Kata.

 

DARI MANA DATANGNYA IDE?

“Ide itu binatang liar. Cari dan jinakkan!”

—Khrisna Pabichara

Pertanyaan sederhana yang kerap diajukan kepada saya di dunia maya adalah, “Dari mana datangnya ide?” Seperti biasa, selalu saya jawab dengan cara sederhana pula, “Ide bisa datang dari mana saja, kapan saja, dan di mana saja.” Ya, ide tak kenal kompromi. Bisa datang bahkan pada saat yang paling tidak kita duga sama sekali. Karena itu, begitu ide datang, harus segera ditangkap dan dijinakkan.

Kita semua menyadari bahwa aset paling berharga bagi pengarang adalah ide. Semua hasil karya sastra bermula dari ide. Ide membuat apa yang Anda tulis tidak sama dengan yang ditulis oleh orang lain. Manakala tema yang Anda sasar sama dengan topik yang dibahas pengarang lain, maka ide bisa menjadi pembeda.

Jika ada harta paling berharga yang harus Anda kumpulkan sebagai seorang pengarang, maka  tak ada pilihan selain ide. Artinya, semakin banyak ide yang Anda miliki, semakin kaya Anda selaku pengarang. Gelar yang paling mengerikan bagi setiap pengarang adalah miskin ide. Dan perilaku paling memalukan bagi seorang pengarang adalah memalsukan ide (baca: plagiasi).

Ide tidaklah seperti hujan yang bisa tercurah begitu saja dari langit. Kita pun tidak mungkin menjadi pengarang kaya ide hanya dengan merapal mantra sim salabim atau abrakadabra. Jangan juga berharap menjadi Aladin yang bisa apa saja karena lampu ajaib yang dipunyainya.

Kata kuncinya: ide itu harus dicari.

Ide, konon, bersifat setali tiga uang dengan maling—kerap datang tak diundang, pergi tanpa pamitan. Ia bisa muncul tiba-tiba, kadang hanya sekelebat ketika sedang buang hajat, lagi asyik ngerumpi dengan teman curhat, sedang mengendarai motor atau mobil, saat bekerja, atau kapan saja. Datangnya pun kerap tanpa kabar.

Begitulah. Ide itu bak binatang liar. Maka, tugas pertama Anda—jika bermimpi jadi pengarang—adalah menangkap, menjinakkan, dan mengandangkannya.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan ide?

Kita mulai sekarang mencari asal-muasal ide. Ada tiga bekal yang harus Anda siapkan dalam petualangan mencari ide. Pertama, banyak berjalan. Dari bekal ini, Anda akan memperoleh hasil banyak melihatKedua, banyak buku. Lewat bekal ini, Anda harus mengolahnya dengan banyak membacaKetiga, banyak bergaul. Melalui bekal ini, Anda pasti akanbanyak mendengar.

Sederhana, bukan? Memang begitulah adanya.

Tak perlu ribet menepuk jidat atau mengerutkan kening hanya untuk menjaring ide. Segera lakukan. Keluar dari kamar, berjalan di seputar kompleks, amati apa dan siapa saja, rekam dalam memori Anda, lalu kembali ke kamar dan catat.

Anda juga bisa meniru gaya Putu Wijaya dalam menjaring ide. Nongkrong di depan televisi, lalu memutar channel  berita. Maka lahirlah serentet ide yang—ketika dikemas dengan apik—dapat menjadi cerita yang dahsyat dan penuh pukau. Hal berbeda dilakukan oleh Bambang Trim, seorang penulis ternama, yang mengail ide dari pelbagai katalog buku yang kerap didaras banyak penerbit. Dari judul-judul buku yang terbaca olehnya, mencuat rupa-rupa ide. Ada lagi teman saya yang menjaring ide di tengah keramaian, Bamby Cahyadi. Ia memilih duduk di tengah riuh mal, lalu melamun liar—memainkan imajinasi—dan membayangkan cerita demi cerita.

Bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, Anda pun sebenarnya sangat kaya ide. Yang Anda butuhkan adalah menemukan, menjinakkan, dan membiakkan ide itu.

Takalar, Februari 2011

 

8 Comments to "Dari Mana Datangnya Ide?"

  1. Adhe  28 October, 2011 at 12:02

    Ide timbul saya langsung simpan di Note Pad. jika mau nulis tinggal cari data pendukung. setuju banyak jalan, banyak buku dan banyak bergaul.

  2. Handoko Widagdo  28 October, 2011 at 06:19

    Muchtar Lubis selalu membawa buku saku untuk mencatat ide-ide yang tiba-tiba muncul.

  3. Kornelya  28 October, 2011 at 04:35

    Nara sumber idenya banyak, menuturkan dengan runut dan bergaya yang sulit. Salam

  4. anoew  28 October, 2011 at 01:21

    kadang pas jongkok di toilet duduk pun ide bisa datang tiba-tiba, yaitu tentang membuat artikel bagaimana cara BAB yang baik dan benar.

  5. Reca Ence Ar  27 October, 2011 at 22:57

    Kadang ide banyak
    Tapi mengaplikasikannya yg agak macet
    hehehehe
    salam kenal

  6. Linda Cheang  27 October, 2011 at 18:32

    Mas penulis, ide, mah, banyak tapi kalo ide tidak menemukan muaranya yang tepat untuk merelasisasikan idenya, bisa menguap, tuh, sebrilian, sehebat apapun idenya…

  7. J C  27 October, 2011 at 16:39

    Ide bisa datang dari mana saja, anytime, anywhere. Tapi kalau sudah macet ide, mau gimana pun susahnya minta ampun kalau mau mulai nulis…

  8. James  27 October, 2011 at 14:50

    U N O …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.