Empat Wanita Menguak Takdir

Alexa

 

Perjalanan mudik Lebaranku kali ini sarat dengan makna…ini seperti suatu kencan… A Date with Destiny

Menelusuri masa lalu oh ini bukan cerita masa lalu dalam percintaan. Ini masa lalu dari perempuan empat  generasi dalam garis keluarga. Tentang perempuan perkasa dari generasi pertama yang tidak (terlalu) perkasa ternyata, tentang perempuan ringkih yang sangat kuat dari generasi kedua, tentang perempuan bersahaja nan bernas dari generasi ke tiga dan tentang perempuan remaja yang ringkih dan perlu dijaga dari generasi ke empat.

rumah peristirahatan terakhir

Tempat pertama yang kukunjungi adalah rumah tua tempat tinggal wanita utama yang jadi tiang utama dari beranak pinaknya keluarga kami….rumah itu beberapa bulan lalu telah dijual (setelah wanita utama itu meninggal 5 tahun lalu)  dan hasilnya dibagikan kepada kami…rumah di jalan utama yang mampu membuat kami menjadi lebih sejahtera dari sebelumnya. Wanita itu telah mengakhiri pertandingan hidupnya dengan baik..kurasa. Bahkan diluar warisan itu, aku masih mendapatkan deal-deal bisnis dengan pihak pembeli….arggh, yang sudah mati menafkahi yang masih hidup.

Dan kemudian aku beranjak ke kota lain – Semarang, tempat  Bu Dhe (tante)ku tinggal…perempuan yang harus jadi single parent sejak muda karena suaminya dijebloskan ke penjara dengan tuduhan PKI. Malam itu rindu yang membuncah membuat kami langsung bicara dari hati ke hati begitu bertemu. Dan saat itu, pertamakalinya dia berterus terang mengenai susahnya kehidupan saat itu. Single mom di usia 35 tahun dengan anak semata wayang baru berusia 3.5 tahun, “Hari-hari kulalui dengan meloakkan piringan hitam peninggalan suami untuk makan sehari-hari. Puncaknya adalah saat yang tersisa hanya tiga handuk bekas dan itupun harus kuloakan.” Aku tercekat mendengarnya, handuk bekas diloakin?.

“Bukannya wanita utama itu kaya raya? Bukankah dia sangat mencintai anak sulungnya (suami Bu De) dan tentunya keturunannya….tidakkah dia memberikan supportnya,” aku bertanya. Dan Bu De hanya menggeleng, “Waktu itu dia sibuk memodali hobi suami barunya – berpacu dan bertaruh kuda pacuan hingga habis beberapa rumah di jalan utama.” Yah pantas saja rumah yang baru saja dilego itu, bangunan belakangnya yang luas menyerupai kandang kuda yang besar dan lengkap dengan bilik-bilik kecil dan pintu dengan setengah bukaan. Aku teringat pada percakapan terakhirku dengan wanita utama itu…suatu malam, “Ini aku sudah buatkan hibah wasiat buat perempuan-perempuan keturunanku yang selalu tabah dan tak pernah merongrongku.” Kusampaikan pesan itu dan airmata menganak sungai di kedua bolamata Bu De, “Makanya kau ingat waktu aku menangis tergugu, usai kita teken kontrak di Notaris dan menguangkan cek di Bank?”.

Saat itu aku sungguh terharu dalam usiaku yang sudah senja ini, aku mendapatkan peninggalan dengan nilai yang begitu fantastis. Uang itu kuserahkan pada anakku kecuali sedikit yang kupakai untuk berHaji dan memperbaiki rumah, lanjutnya.

Ah…wanita utama itu ternyata manusia biasa yang kehilangan cinta sejatinya saat kakek-ku Joyosaroso meninggal dunia sekembalinya dari masa penahanannya di Boven Digoel, dan kemudian kesepiannya membuat dia  terlibat pada cinta yang salah…yang terus merongrongnya hingga usia tua. Dan menyedihkannya, saat dia minta  untuk ikut denganku ke Jakarta…masih kutunda-tunda permintaannya hingga ajal menjemputnya… seharusnya aku segera membawanya ke Jakarta dan membiarkannya dia menjemput maut di antara orang-orang yang menyayanginya.

BuDe memutuskan hijrah ke Semarang dan membuka lembaran baru dalam hidupnya, kakak BuDe membantunya mendapatkan pekerjaan di suatu instansi Pemerintahan dimana dia merajut masa depan bagi anak semata wayangnya, “Sesekali saat ayahmu dinas ke Semarang, dia selalu menengok kami dan meninggali uang yang crispy.” Ah aku malah tak pernah tahu kalau ayahku  begitu peduli…

Dan esoknya datanglah wanita generasi ke tiga…putri dari Bu De. Tinggi, ramping, berjilbab dan sangat bersahaja…seorang dokter yang menamatkan S2nya di Belanda, mengepalai suatu bagian di RS ternama. Hebatnya BuDe dan tentunya mbak Anie-ku…pernah kutuliskan kisahnya di sini. Dan saat ini mbak Anie sedang melanjutkan S3…

rumah conto

Kembali ke Jogja dan tinggal di rumah kakak, bertemu dengan Amalia Syafrina (nama yang kuberikan bagi keponakanku) atau biasa dipanggil Fina…Veena tidur sekamar dengan Fina pada ranjang sodor. Veena menatap Fina yang terbaring tenang di ranjang bawah….ah si keponakan yang ABG sedang merajut masa depannya. Aku teringat mbak-ku  cerita, “Ngerti yo dhek,  dia sampai menangis tiga hari  tiga malam saat  bapaknya mencegah dia ambil kuliah di Jakarta. Padahal dia sudah dapat undangan dari UI (mungkin semacam PMDK gitu)..”. Waktu itu pertimbangannya Bapak rak Sassy (si ketiga yang ingin menampung Fina) sedang sakit kanker…kasihan kalau harus ngurusi Fina juga. Bapake juga nyambung kalau ditaruh di tempatmu…kan kamu sibuk dengan urusan kantormu, ntar ga ada yang ngawasi FIna. Fina akhirnya nyerah  dan tau-taunya Bapaknya dah beliin motor baru itu.”

Yah, aku ingat sejak FIna masih SD…Sassy adikku sudah menawarinya untuk kuliah di Jakarta dan kami tante-tantenya memang sangat antusias membayangkan ada Fina diantara kami….huuuft, kenapa gara-gara Sassy sakit, Fina jadi gak kuliah di UI? Kan bisa dia tinggal bareng aku….haiiish, orangtua terkadang sewenang-wenang memutuskan masa depan anaknya… Pagi itu Fina bersiap-siap kuliah, kuambil sisir di tangannya dan kusisiri rambutnya yang tebal,  “Fina, kok cewek sekalem kamu ambil bidang jurnalistik seh…kamu siap pho kejar-kejar narasumber. Kalo mbak Bocah tuh sekarang hobinya motret-motret kecelakaan di jalanan…mana paling depan lagi sampe dibilangin orang-orang…tuh anak kecil ngapain sih.”

Dia ketawa dan bilang, “Aku ingin menjadi penulis, Bu Le. “ Kemudian dia membuka laptopnya dan menunjukkan jurnal onlinenya yang cute dimana dia mengupload tulisan-tulisannya yang sudah dipublish di Kompas Cetak….hohoho, aku sedikit tersipu tapi bangga padanya…jika aku “sekedar” berKompasiana, Fina yang 18 tahun sudah merambah Kompas Cetak.

Kupeluk bahunya dari belakang, kami bertatapan di cermin dan aku memiliki keyakinan pasti bahwa perempuan-perempuan dari keluarga Joyosaroso telah membuktikan diri sebagai perempuan tangguh yang siap menghadapi kerasnya sekaligus  indahnya dunia….Ibarat pohon yang menancapkan akarnya  ke bumi, kita akan kuat menghadapi sejuta topan dan badai.

pohon di benteng vredeburg

 

14 Comments to "Empat Wanita Menguak Takdir"

  1. Mawar09  29 October, 2011 at 02:00

    Alexa: Bude kamu adalah wanita yang tangguh. Judul artikel seperti judul buku! Hidup Wanita !!!! ha..ha..

  2. Dewi Aichi  28 October, 2011 at 17:04

    pak Han…itulah wanita, dan hanya wanita yang bisa memahami dirinya sendiri he he he…..wanita…inginnya dimengerti…

  3. Handoko Widagdo  28 October, 2011 at 06:29

    Kenapa ya perempuan selalu lebih kuat daripada lelaki, meski mereka meneteskan airmata?

  4. Kornelya  28 October, 2011 at 04:32

    Xa, setuju, perempuan tangguh, tidak meratapi hidup. Maju terus, sibak penghalang. Salam.

  5. anoew  28 October, 2011 at 01:10

    Ibarat pohon yang menancapkan akarnya ke bumi, kita akan kuat menghadapi sejuta topan dan badai

    Xa, urusan tancap menancap kok kayaknya aku suka mbacanya.. itu perlu digarisbawahi (tancap-menancapakan)

  6. Linda Cheang  27 October, 2011 at 17:24

    dari kalimat penutupnya, itu tandanya mesti nonton film Tintin yang nanti mau beredar, neh! hehehe

  7. J C  27 October, 2011 at 17:04

    Alexa, apik!

    Lho, penutupnya kok jadi Kapten Haddock? “Sejuta topan badai”

  8. Dewi Aichi  27 October, 2011 at 16:55

    three in one…

    Iki do ngopo to yo wah……ayo ikutan menguak takdir…!

  9. [email protected]  27 October, 2011 at 16:04

    T W O ….

  10. James  27 October, 2011 at 14:48

    O N E …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *