Orang-orang Kalah

Tantripranash

 

“Surga itu jauuuuhhhh lebih indah daripada yang mampu kau bayangkan,” matanya setengah memejam seakan bisa langsung melihat surga melalui kelopak mata yang tertutup.

Aku ikut memejamkan mata, berharap bisa sampai ke tempat yang sama dengannya.

“Bukan itu, bukaaaannn …” Ia goyangkan lenganku kasar, buyarkan kemilau cahaya mencorong gambaran surga ala imajinasiku.

“Kau pikir bisa masuk ke sana tanpa pernah berbuat apa-apa?” Lelaki muda itu menyeringai seperti serigala lapar.

Aku terperangah. Di hadapanku kini ia tampak agresif. Sosoknya yang tenang dengan tutur kata lemah lembut, perlahan berubah. Jauh dari gambaran hari-hari kemarin ketika pertama kali ia menepuk bahuku di mushola itu.

Saat itu seakan kutemukan telaga di matanya, tempat jiwaku bisa berenang-renang di dalamnya. Petuah teduhnya seperti menyejukkan jiwaku yang gelisah. Ditemani sepiring ketoprak dan teh hangat kami melanjutkan obrolan di pojok halaman musholla, Tak jauh dari hingar bingarnya terminal. Udara dan debu musim panas berputar-putar di atas kepala.

Kisah-kisah perjuangan sahabat nabi kudengar mengalir lancar dari bibirnya. Dijawabnya semua keingintahuanku dengan sabar. Baru kali ini aku merasa dianggap sebagai manusia utuh. Aku cuma tukang bebersih musholla, setelah putus asa mencari pekerjaan di kota ini. Hendak kembali ke kampung masih malu hati. Sesekali aku juga membantu mencuci piring di warung nasi untuk tambahan uang rokok, selain bisa dapat sepiring nasi gratis dengan lauk telur. Selama ini tak ada yang peduli dengan keberadaanku. Ada aku atau tidak, seperti tak ada bedanya.

Hari-hari selanjutnya lelaki itu selalu datang sehabis Ashar. Kami mengobrol sampai lepas Isya dan ditutup dengan makan malam di warung sebelah, tentu saja lelaki itu yang membayari. Cerita perjuangan sahabat nabi masih dilanjutkan, tapi kini telah sampai episode perang melawan musuh. Aku terbawa di dalam kisah-kisah jihad yang dituturkannya, seakan aku betul-betul ikut berperang dan angkat senjata.  Dengan pedang terhunus aku melawan sang angkara. Debu, keringat dan darah bercampur menjadi satu. Kematian pun tampak begitu indah di medan laga. Saat nyawa terlepas dari tubuh, surga menanti di sana.

Selalu kunantikan tiap hari kedatangannya. Aku penasaran sekali dengan lanjutan kisah yang terputus kemarin. Bila ia tak datang sehari aku seperti layangan putus benang. Angan melayang-layang tak tentu arah.

“Kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk bisa masuk ke sana?” tanyanya memutus lamunanku.

“Hah? Kemana?”

Lelaki itu menggeleng tak sabar, “Tentu saja ke surga. Bukankah itu tujuan semua manusia setelah mati?”

Aku menggeleng .bingung.

“Kau bisa langsung ke sana tanpa capek-capek menunggu ajal,” bisiknya penuh misteri. Setelah itu ia pergi meninggalkanku dengan senyum. Meninggalkan seribu pertanyaan di dalam benak.

***

“Pernah dengar bidadari surga?” tanyanya tiba-tiba.

Ia tak memberiku kesempatan untuk menjawab

“Cantiknya melebihi semua wanita di jagad raya. Merekalah perawan-perawan suci yang belum pernah disentuh lelaki,”

Aku berusaha membayangkan kecantikan mereka, tentu kecantikan si Markonah yang pernah menolak dan menghina pinanganku kalah jauh.

“Ada tujuh puluh dua bidadari surga yang menunggumu, jika kau mau melakukan sesuatu atas nama jihad,”

“Jihad? Melawan siapa?”

Ia tersenyum penuh arti, “Tentu saja melawan orang-orang yang tak sama dengan kita.”

***

Tiga hari kemudian, lelaki muda itu membawaku ke rumah kontrakannya di pinggir kota. Di sana ia memberiku telepon genggam, katanya untuk memudahkan komunikasi. Diterangkannya sekilas cara menggunakannya. Cuma satu jam di sana, kemudian kami berputar-putar dengan angkot. Kami berhenti di dekat sebuah tempat ibadah agama lain. Sambil berjalan kaki, ia mengajak aku mengamati orang-orang yang masuk ke gedung itu.

“Merekalah salah satu sasaran jihad kita.” Bisiknya tegas di telingaku.

Aku terbelalak, “Me … mereka itu musuh?”

Si lelaki muda mengangguk mantap, “Dan … masih banyak lagi,”

“Tapi orang-orang yang seperti mereka pernah bagi-bagi sembako di kampung saya,”

Ia mencibir penuh jijik dan meludah ke samping.

“Bahkan dari agama yang lainnya lagi memberi pengobatan gratis untuk orang-orang di kampung pemulung, itu letaknya di sebelah kampung saya.” aku ragu-ragu melanjutkan.

Mendadak wajah si lelaki muda yang selalu tampak simpatik menjadi merah padam. Urat-urat di kening bertonjolan. Ia mendengus, “Tahu apa kamu tentang mereka??”

Namun beberapa detik kemudian wajahnya kembali teduh seperti biasa, “Aku yang menentukan siapa sang angkara. Ilmu agamamu belum cukup untuk itu,” bisiknya lembut.

***

Matahari belum juga sepenggalah tapi aku sudah berkeliaran di sekitar tempat tujuan. Badanku terasa dingin mungkin juga menggigil. Kukepalkan jari-jari tanganku kuat-kuat sampai buku-bukunya memutih. Sesekali kupejamkan mata sejenak, bayangan tujuh puluh dua bidadari surga menari-nari di pelupuk mata. Sebentar lagi mereka akan menjadi mempelaiku. Tanpa kentara kuraba detonator yang terikat rapi di perut. Jacket yang kukenakan menyamarkan mesin pembunuh yang kubawa-bawa ini.

Di warung dekat situ, aku berlagak membeli minuman. Kusedot perlahan hingga alirannya terasa benar-benar di tenggorokan, sambil mengamati kegiatan di gedung seberang. Sebentar lagi Sabtu yang cerah ini akan menjadi Sabtu kelabu.

Satu jam kemudian aku mendekat ke arah pintu gerbang rumah ibadah itu. Dapat kulihat wajah-wajah orang yang keluar dari sana. Mereka tampak seperti orang-orang biasa, manalah mungkin sama dengan sang angkara. Apalagi wajah polos anak-anak yang ceria sambil menggandeng tangan orang tuanya.  Aku mulai ragu dengan keyakinan si lelaki muda. Wejangan ajengan Rusli di kampung dulu terasa lebih masuk akal, “Di jaman sekarang ini, jihad sesungguhnya adalah jihad melawan hawa nafsu.”

Tanganku kembali meraba detonator, memastikan segalanya tetap pada tempatnya.

“Jangan memerangi orang yang tidak memerangi kita, Rasulullah tak pernah mencontohkannya.” Kembali terdengar suara ajengan di telinga.

Kuraba kembali detonator di perut, kali ini tanganku bergetar hebat. Suara teriakan ceria gadis kecil di dekat situ terasa mengiris jantung. Ia menggandeng tangan ibunya sambil memeluk sebuah buku di dadanya. Sekilas kutatap bola matanya yang jernih. Orang-orang saling menyapa dan tersenyum, tak ada aura kekerasan di situ apalagi permusuhan. Bahkan seorang bapak yang baru saja lewat, tersenyum dan mengangguk padaku.

“Jangan merasa diri paling suci karena di situlah setan bersembunyi,” Tiba-tiba kutbah ajengan Rusli memiliki arti.

Keraguanku terputus oleh HP yang bergetar.

“Segera laksanakan. Sampai jumpa di surga kelak, mujahidinku …” Klik, telepon putus.

Selang dua menit yang terasa panjang telepon berdering lagi.

“Sep, nuju (sedang) di mana?” suara Mang Ogin seperti halilintar. Aku sempat bertukar kabar pada Mang Ogin tempo hari, mumpung si lelaki muda memberi HP gratis berikut pulsa terisi. Mang Ogin satu-satunya kerabat Abah di kampung yang punya HP. Itu juga pemberian bossnya, si juragan sayur.

Belum sempat aku menjawab, Mang Ogin bicara cepat, “Tadi malam abahmu ditabrak truk pasar,”

Nafasku berhenti di tenggorokan.

“Se … selamat?” tanyaku gagap dengan nafas tercekat.

Sejenak terdengar suara-suara berisik, suara Mang Ogin timbul tenggelam.

“Hallo? Hallo? Halooo …?? ”

“Iya Sep, … ini Mamang masih di rumah sakit. Alhamdulillah, abahmu masih diberi umur panjang tapi memang lukanya agak parah.”

Nafas lega kuhembuskan keras-keras dari hidung, seraya mengucap syukur dalam hati.

“Tadi malam dibawa ke rumah sakit kabupaten. Abah butuh darah untuk transfusi,” lanjut suara di seberang. “Tapi kantong darah untuk abahmu masih kurang. Sulit sekali cari darah karena persediaan kosong,”

“Terus?? Biar saya pulang cepat ke kampung, Mang!! Bilang Abah bertahan dulu,” seruku panik.

Suara-suara berisik terdengar lagi, “Tenaaaang … sudah selesai masalahnya. Tadi malam Pak Karto yang donor darah. Dia juga suruh anak buahnya yang sama golongan darahnya untuk mendonor malam itu juga.”

Sekejap mataku dialiri aliran hangat, “Juragan Karto?”

“Ia, beliau juga yang menemani ke rumah sakit. Kalau tidak Mamang mah bingung kudu kumaha (harus bagaimana).”

Mang Ogin berpesan untuk berdoa bagi kesembuhan abah. Telepon kututup dengan tenang.

Beberapa detik kemudian telepon berdering lagi, “Cepat laksanakan!!!” bentak si lelaki muda tak sabaran. Kusadar ia diam-diam mengawasi tak jauh dari situ.

Kutarik nafas dalam-dalam dan perlahan kulangkahkan kaki menjauhi tempat itu. Doa-doa dalam hatiku membumbung naik ke langit. Jiwaku terasa ringan melayang ke awan. Selama ini kukira aku memang orang kalah dalam kehidupan. Hidup pas-pasan dan tak punya masa depan, tapi aku tak mau kalah melawan nafsuku ingin masuk surga. Surga bisa kuraih tanpa membunuh sesama manusia. Aku malu pada juragan Karto. Walau berbeda keyakinan, ia relakan darahnya mengalir dalam tubuh Abah.

Ternyata sesungguhnya si lelaki muda itulah orang yang kalah, bukan aku!!

***

(Tamat)

Catatan :

Menurut Prof. Dr. Adrianus Meliala (Pakar Kriminologi Universitas Indonesia),

sasaran calon pengantin bom biasanya adalah orang-orang kalah yaitu orang-orang yang kalah dalam persaingan hidup, mencari nafkah atau dalam kehidupan sosial. Tingkat pendidikan dan wawasan yang terbatas memudahkan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki tujuan khusus .

 

27 Comments to "Orang-orang Kalah"

  1. tantripranash  3 November, 2011 at 09:46

    @Chandra Sasadara : Terima kasih Pak Chandra atas apresiasinya … harapan saya juga begitu bisa dibaca oleh kalangan yg lebih luas, tapi sayang saya belum cukup punya akses untuk itu. Teman2 di facebook ada juga beberapa yg sharing tulisan ini shg mungkin bisa dibaca juga oleh teman2 di luar pengunjung tetap Baltyra. Syukurlah jika tulisan saya bisa menginspirasi atau bermanfaat untuk orang lain, apalagi kalau bisa sampai mencerahkan orang lain … thanks to Baltyra yg sdh memuatnya

  2. Chadra Sasadara  2 November, 2011 at 12:16

    ini kisah yang sangat menyentuh dan inspiratif. sangat penting untuk menjadikan gagasan toleransi dan keberagaman seperti yang terdapat dalam kisah orang-orang kalah tsb sbg sumber tenaga untuk melakukan dialog dengan mereka yang merasa paling berhak atas surga. smoga damai tetap bersama kita.

    salam;

  3. Chandra Sasadara  2 November, 2011 at 12:05

    Dear Tantripanash

    ini kisah yang sangat menyetuh dan inspiratif. sayang kisah sebagus ini hanya dibaca oleh orang-orang yang memiliki pemahaman yang sama terhadap toleransi, perdamaian dan keragaman. mungkin akan bagus kalau sudut pandang dan cara baca yang berbeda terhadap keragaman seperti ini bisa didialogkan dengan pihak yang marasa paling benar, paling religi dan mereka yang beranggapan bahwa sorga menjadi miliknya dan kelompoknya secara esklusif. smoga damai tetap menjadi milik smua manusia.

    salam;

  4. tantripranash  30 October, 2011 at 12:37

    @Probo : Terima kasih sudah berkenan mampir di sini, Bu guru Probo … menurut saya, masalah pemakaian kerudung pun sebaiknya tidak ada pemaksaan (bagi muslimah idealnya datang dari kesadaran diri sendiri ) … yang memutuskan memakai selayaknya di hargai dan yang non muslim ataupun tidak memakaipun di hargai sebagai pilihannya … selamat berakhir pekan Ibu …

  5. probo  30 October, 2011 at 06:11

    tulisan yang menarik mbak Tantri,
    saya sedang deg-degan……..kalau-kalau guru2 di sek saya diwajibkan berkerudung……..
    biasanya saya ke kantor selalu pakai rok panjang tanpa kerudung

  6. tantripranash  29 October, 2011 at 20:01

    @Wahnam : ya betul, padahal otak manusia seharusnya membuatnya lebih mulia daripada binatang tapi karena nafsu jahat, otak manusia bisa lebih kejam dari binatang

  7. Wahnam  29 October, 2011 at 08:06

    Kadang otak bisa menjadi BUDAK daripada minatnya. Seseorang yg berniat melakukan sesuatu yg salah dia akan berusaha berbagai cara untuk mencapai tujuannya tsb.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.