Sebongkah Batu Es Yang Merindu

Bamby Cahyadi

 

Masih ingatkah kamu? Sewaktu kita berdua kelaparan di pinggiran jalan San Francisco yang dingin. Ketika bulir-bulir salju turun pelan-pelan menutupi trotoar jalan. Bulir salju itu serupa serpihan kapas putih yang ditebar dari atas langit mendung yang kelam jatuh menumpuk menimbun tanah.

Saat itu kita hanya sanggup duduk bersedekap memeluk lutut masing-masing dan saling melempar tatap, seraya membayangkan makanan-makanan enak yang tersaji tiba-tiba di depan mata.

“Aku lapar Yo,” ucapmu lirih dengan bibir bergetar. Mulutmu beruap. Tanganmu menggapai-gapai tanah. Mengais apa saja yang terjangkau.

“Aku juga…” balasku tak kalah lirihnya, namun aku berusaha menyembunyikan getar bibirku dengan membuat sebaris senyum. Aku hanya ingin tampak tegar di depanmu. Bagaimana pun, aku lebih tua darimu. Aku berusaha menenangkanmu saat itu.

Tentu kita berdua masih ingat Tere. Saat di mana, kau mulai berhalusinasi. Aku kira, saking laparnya kau telah kerasukan semacam roh lapar yang aneh. Pasti kamu ingat. Ketika kau mulai memakan daun-daun kering dan ranting-ranting pohon cerry yang berserak di tanah. Kau bilang, rasanya seperti makan hamburger. Ranting-ranting itu kau bilang selezat french fries panas dan renyah. Dan gumpalan salju di genggamanmu, dengan rakus kau jilati dan kau kunyah lalu lumer dalam mulutmu. Sambil kau berteriak: Sundae yang lezat!

Malah kau sempat menyodorkan tanganmu ke mulutku, berusaha menyuapiku dengan daun dan ranting-ranting. Maafkan aku Tere, aku menolak. Aku menepis tanganmu. Kamu tidak marah kan?

Aku ingin menangis. Tapi apa daya, aku pun tak berdaya. Kita berdua saat itu hanya sepasang kanak-kanak bodoh yang terjebak di keremangan senja jalanan San Francisco yang sunyi berbaur bising raungan sirine mobil-mobil polisi yang mengejar-ngejar penjahat jalanan. Tidak ada yang memperhatikan kita. Tidak ada yang peduli terhadap nasib kita yang kelaparan. Kurasa waktu itu kau mulai membeku. Selayak batu es. Aku saksikan itu. Ya, aku saksikan.

“Yo, apakah kamu merasa sangat dingin?” tanyamu memandangku. Aku mengangguk. Dan pertanyaan itu adalah kalimat terakhir yang kudengar darimu.

“Ya, aku juga merasakan dingin yang luar biasa Tere,” jawabku merapatkan jaket tebalku.

Saat itu mulutmu penuh dengan ranting-ranting yang masih kau kunyah dan belum sempat kau telan. Kita kembali saling bertatap. Kulihat dirimu perlahan-lahan dengan pasti berubah menjadi sebongkah es. Dirimu membeku. Tidak ada teriakan rasa sakit ketika seluruh tubuhmu berubah menjadi sebongkah es. Tidak ada gigil. Mungkin roh lapar yang aneh telah begitu merasukmu, sehingga saat kau berubah menjadi sebongkah es, kau pun tak merasakan apa-apa. Tapi aku yakin, sebelumnya kau telah kenyang. Perutmu telah penuh dengan daun cerry dan ranting-rantingnya.

“Tereee…!” aku tercekat. Tak ada suara yang keluar dari tenggorakanku.

Aku sendiri hanya bisa menatapmu tanpa berkedip. Kurasa aku pun telah berubah menjadi sebongkah batu es yang sangat dingin. Dingin merayapi sekujur tubuhku, dari ujung kaki hingga akhirnya kepala, membeku.

Apabila saat itu, ada orang yang sengaja memegang tubuh kita berdua, mungkin mereka akan tersengat dingin tubuh kita. Mungkin mereka pun menjadi es seperti kita.

Dan dugaanku benar.

Seorang gelandangan yang mendorong troli besar penuh barang rongsokan tak berguna, rupanya penasaran dengan onggokan batu es yang menyerupai dua manusia yang sedang meringkuk. Itu kita.

Ia, lalu mendekati kita. Aku masih bisa melihat dari balik bening es yang membalut tubuhku. Aku tahu, kau pun masih melihatku sebagai sebongkah es yang meringkuk. Kau pun melihat, perlahan-lahan, gelandangan itu mendekati kita berdua. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa onggokan itu benar-benar es. Ia tampak ragu-ragu. Tapi rasa penasarannya mengusai dirinya, ia lalu memegang kita berdua. Ia mengelus-elus kita berdua, ia begitu takjub.

“Seniman patung es kaliber dunia manapun tak akan bisa menciptakan sebongkah batu es mirip manusia.” Ia berdesis. Kita mendengar pengemis itu begitu memuja-muji rupa es kita.

Maka kesalahan terbesar telah dilakukan oleh gelandangan itu, seperti yang aku bilang. Kita sangat teramat dingin untuk ukuran dingin es. Maka perlahan-lahan, gelandangan itu mendadak membeku dari ujung kakinya merembet hingga ujung kepalanya menjadi bongkahan es menyerupai manusia yang sedang memegang kepala kedua anaknya. Ah, Tere ia pun pasti merasakan sensasi dingin saat tubuhnya dijalari dingin menjadi batu es.

Masihkah kau ingat, bahwa musim dingin di tahun itu adalah musim dingin terpanjang dalam sejarah peradaban manusia di Amerika. Tak perlu aku ceritakan padamu, karena kuyakin kau masih ingat. Apakah ini akibat pemanasan global? Mana aku tahu Tere.

Beberapa saat setelah si gelandangan itu menjadi es seperti kita, para pejalan kaki yang kebetulan melewati trotoar jalan sepi di bawah jembatan Golden Gate yang angkuh dan sunyi itu, kemudian mengerubungi kita. Mereka terkagum-kagum dengan tubuh es kita. Bahkan ada yang berseru dan bertanya: Mana pematungnya?

Tentu mereka tak akan pernah menemukan pematung itu. Karena kita terbentuk dari dingin. Bukan dari liukan pahatan tangan manusia.

Belum juga tuntas rasa kagum mereka, seorang dari mereka, perempuan cantik berleher jenjang, memegang kita begitu lama. Mengelus, merabai setiap lekuk tubuh kita dan bahkan ia menciumi kita satu per satu.

“Ah, bukankah ini sebuah keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, bahkan dengan sajak seindah apapun di dunia,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Maka tak perlu kuceritakan padamu, betapa cepat ia berubah menjadi es ketika ia mendaratkan bibirnya di pipi gelandangan itu. Seperti kita, ia lantas berubah menjadi manusia es. Perempuan itu pasti merasakan sensasi beku juga kurasa. Semua orang yang melihat terkesiap tak percaya. Kau pun melihatnya dari balik bening es di matamu.

Sejak itu, tak ada lagi orang yang berani menyentuh tubuh es kita. Mereka hanya memandang kita dengan tatapan mustahil. Kulihat mulutmu masih penuh mengulum ranting-ranting kering yang tak sempat kau telan. Tentu kau melihatku juga dengan mata yang nanar menatapmu sedih. Kita berdua melihat, gelandangan yang takjub sedang mengelus kepala kita berdua. Dan perempuan berleher jenjang sedang mencium pipi gelandangan yang sedang mengelus kita. Kita bisa melihat di antara kita, namun sebagai sebongkah es batu yang menyerupai manusia. Kita tidak bisa berkomunikasi antar kita. Apalagi melakukan perlawanan.

Ya, perlawanan. Beberapa hari kemudian, kabar membekunya kita tersiar seantero kota San Francisco. Bahkan ke semua negara bagian di Amerika yang masih diguyur salju tebal berhari-hari sampai berbulan-bulan kukira. Mungkin kabar ini telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Entah untuk tujuan apa. Kita dipisahkan. Kulihat orang-orang berseragam putih-putih, bermantel tebal putih, bersepatu bot putih, bermasker putih yang menutupi seluruh wajah dan dengan sarung tangan tebal anti dingin berwarna putih mengangkat kita.

Sepertinya mereka sangat takut tersengat dingin kita, sehingga kita diperlakukan selayak virus flu yang mematikan. Mereka pun tak berani menyentuh tubuh es kita walaupun mereka telah memakai sarung tangan tebal. Ya, mana ada yang mau berubah menjadi sebongkah batu es mirip manusia. Seperti kita.

Setelah mereka mengangkat kita pada sebuah tempat. Lantas mereka memisahkan kita. Mereka menggergaji kita Tere! Suara gergaji mesin sampai kini masih terngiang-ngiang ngilu di kupingku. Mata gergaji yang tajam kemudian memutus kedua telapak tangan gelandangan yang sedang memegang kepala kita, lalu dengan garang meraung menggergaji ujung mulut perempuan berleher jenjang yang tengah mencium pipi gelandangan itu.

Mereka telah membuat kita terpisah dan sekaligus berpisah.

Selesai itu, tak lama dari pemisahan. Kita lantas dimasukkan dalam sebuah kontainer mirip portable freezer seukuran tubuh kita masing-masing. Maka sejak truk yang membawa tubuh bekuku menderu meninggalkan trotoar jalanan sunyi di kolong jembatan Golden Gate. Aku tak pernah lagi mendengar kabarmu.

Kini aku sangat rindu padamu. Tujuhbelas tahun telah berlalu. Masih ingatkah kamu?

***
Plung!

Sebutir batu es jatuh di atas gelas minuman bersoda milik seorang gadis yang tengah dikerubungi oleh teman-temannya. Gadis itu tampak sangat bahagia dan melempar senyum penuh pesona. Ia kini tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Gadis itu sedang merayakan hari ulang tahunnya. Semua orang yang ada di sini ceria dan suasana sangat meriah.

Berpuluh-puluh gelas minuman siap menuntaskan dahaga para undangan. Makanan pun berlimpah.

Plung!

Sebutir es batu jatuh lagi di gelas yang lain. Berdenting.

Plung!

Plung!

Plung!

Semakin banyak butiran-butiran batu es berjatuhan di atas gelas-gelas yang lain, bunyi air minuman bersoda bergemericik saat batu es berjatuhan. Dan gelasnya berdenting-denting.

“Apakah itu kamu Tere?” ***

Pondok Indah, Jakarta, 13 Juli 2009

 

3 Comments to "Sebongkah Batu Es Yang Merindu"

  1. Dewi Aichi  31 October, 2011 at 07:00

    Imajinasi yang luar biasa…..

  2. Linda Cheang  29 October, 2011 at 10:05

    es batunya aku kunyah, lho!

  3. James  29 October, 2011 at 09:21

    O N E ……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.