Kalah Bukan Akhir Dari Dunia

Anwari Doel Arnowo

 

Bila anda mengenal permainan catur atau chess, pasti anda mengenal istilah menang, kalah dan remis. Yang dominan adalah menang dan kalah. Remis hanya terjadi pada dua orang pemain yang sedang berlawanan yang peringkatnya sudah termasuk pandai, ahli, pakar dan master. Tetapi menang dan kalah itu terjadi apabila dua pihak bisa saja bukan berlawanan secara imbang, balanced. Yang kalah itu biasanya yang kurang pandai dari lawannya, atau sedang mengalami nasib sial.

Ini berlaku di dalam kegiatan sehari-hari kita dalam hidup kita berupaya bermasyarakat.

Mengenai diri saya sendiri saja, saya juga sering menaruh rasa heran.

Heran apa dan bagaimana?

Saya ini terlalu sering “memihak” kepada yang sedang kalah, terutama kalau ada masalah yang sekarang sedang populer menggunakan istilah dizolimi, abused, dilecehkan dan lain sebagainya.

Bukankah orang yang sanggup berbuat seperti ini adalah orang yang pandai, cerdik dan licik juga? Jadi di dalam diri saya timbul pikiran bahwa si kalah itu telah diakali, di“tipu” dan di buat kalah dengan segala cara.

Saya berharap agar saya tidak selamanya seperti itu.

Saya memang selalu mengingat-ingat bahwa kalah itu bukan sesuatu yang menjadi akhir dari segalanya.

Malah sifat berbuat zolim, abusing, akal-akalan, lecehan, to look down dan sebagainya kan memang sudah secara alami dipunyai oleh manusia di mana-mana.

Saya ingin, meskipun kadang-kadang saja, kita itu memiliki Presiden dan para anggota Kabinet, yang selain cerdik pandai secara akademis dan pengalaman, tetapi pada waktu-waktu tertentu juga menggunakan sifat-sifat yang seperti saya gambarkan sebagai negatif tadi, yakni licik, cerdik dan cergas. Bukankah ini modal penting bagi para eksekutif pemerintahan kita kalau berhadapan dengan China, Amerika Serikat, Negara-Negara Eropa, Investor yang Yahudi serta Arab sekalipun, dan lain-lain yang merupakan pihak lawan, bila merundingkan perdagangan, ijin eksplorasi dan eksploitasi kekayaan sumber alam kita ?? Selain itu kita selalu harus berani untuk bisa melaksanakan checking and rechecking dalam setiap tahap sepanjang jalannya usaha.

Pegawai Pemerintah kita yang tugasnya mengawasi itu, kalau melakukan inspeksi janganlah hanya menjemput duit melulu. Itu namanya TIDAK TAU MALU sama sekali. …..

Para eksekutif pemerintahan yang pengusaha besar (atau yang mantan pengusaha) yang mempunyai interest pribadi, jangan diberi kesempatan bisa ikut dalam perundingan seperti itu. Biasanya akan terjadi malah justru kerancuan dalam bentuk conflict of interest – benturan kepentingan. Kepentingan yang menggurita untuk pengembangan usahanya akan konflik dan bercampur aduk dengan politik bernegara. Bentuk kesepakatan yang terjadi sudah amat sering akan selalu diarahkan agar sang pengusaha ini menikmati keuntungan yang kurang wajar daripadanya.

Kalah yang saya rasakan selalu terjadi berkelanjutan adalah terhadap rakyat kebanyakan, bukan kepada kalangan menengah ke atas. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak bijak, dan secara otomatis menyebabkan rakyat yang tertimpa kesusahan.

Mari kita simak yang berikut. Ada hal krusial yang sesungguhnya sudah diketaui oleh umumnya masyarakat di Negara kita. Subsidi bahan bakar itu digunakan agar menaikkan citra pemerintah menjadi baik. Dengan memberi subsidi kepada bahan bakar bensin jenis Premium, misalnya saja Rp.1500,- per liter (akumulasinya untuk sekian bulan berjalan menjadi berapa triliun Rupiah??), maka bisa memberi kesan bahwa pemerintah amat perduli terhadap rakyatnya yang tidak tergolong mampu, yang bisa membeli bensin jenis Premium dengan harga hanya Rp.4500,-

Betul, kan?

Saya melakukan perhitungan sendiri seperti ini: Dari 240 jutaan penduduk Negara kita, berapa yang beruntung nasibnya bisa menjadi sebagian dari para pemilik kendaraan sepeda motor dan mobil serta kendaraan beroda lebih dari empat buah? Saya duga jumlahnya tidak akan melebihi 40 juta orang pemilik kendaraan. Saya golongkan mereka yang terakhir ini adalah para jutawan, oleh karena tidak ada satupun dari kendaraan tersebut yang berharga kurang dari Rp. 1000000,- (satu juta Rupiah). Sekarang kita siap meninjau siapa saja yang termasuk 240an juta dikurangi dengan 40an juta penduduk jutawan, yang jelas sekali tidak memiliki kendaraan, di mana di dalamnya banyak yang termasuk orang miskin dan pengangguran. Patutkah orang miskin dan pengangguran ini ikut membayari subsidi kepada para pemilik kendaraan yang jutawan tadi?

Mengapa mereka ikut membayari?

Mereka ini ikut membayari karena uang subsidi yang jumlahnya triliunan Rupiah itu adalah uang mereka juga. Uang kaum miskin dan pengangguran !! Saya condong uang yang triliunan itu digunakan bagi mereka yang bukan jutawan itu. Atau untuk menangani bencana alam yang datangnya selalu mendadak, atau membantu para pengangguran. Bagaimanapun uang yang dikelola oleh pemerintah itu adalah uang milik rakyat Indonesia seluruhnya, bukan hanya milik mereka yang sudah menjadi jutawan saja.

Saya sungguh setuju harga BBM dinaikkan dan tidak lagi membebani rakyat yang memang miskin. Mereka ini ada di mana-mana, di hutan-hutan, di pantai-pantai di Kalimantan dan Sumatra serta tempat-tempat lain di Jakarta sekalipun bila kita mulai dari yang hanya beberapa ratus meter saja dari Monumen Nasional, serta di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Tetapi penggunaannya sering-sering dilakukan dengan cara-cara yang ajaib seperti contoh di atas tadi.

Menaikkan citra pemerintah menjadi “baik” dan membayar biaya upaya menaikkan citranya dengan cara menggunakan uang rakyat miskin.

Yang paling sering kita saksikan sekarang ini adalah: memilih manusia Indonesia di dalam Pemilihan Umum. Terpilihlah beberapa ribuan orang untuk duduk di kursi jabatan di pemerintahan di seluruh Republik ini. Lalu kita dudukkan mereka yang terpilih ini di tempat-tempat yang nyaman dengan melengkapinya dengan fasilitas yang aduhai. Dengan berjalannya waktu, kok tiba-tiba banyak dari mereka yang dengan terpaksa harus melepaskan yang dipegangnya itu dan harus masuk ke dalam penjara. Mata kita tidak berkaca-kaca karena sedih, tetapi dibuat lebih terheran-heran karena menyaksikan mereka ini masih bisa tersenyum simpul, tertawa, mengenakan pakaian yang menunjukkan tingkat ketaatannya dalam menjalankan tata cara beragamanya, di depan kamera televisi.

Mungkin istri dan anak-anaknya serta sanak keluarganya juga menyaksikan tayangan itu.

Saya bukan politikus dan tentu saja juga bukan tikus, bisa berpikir secara logika, saya gunakanlah kemampuan saya untuk terus menerus berpikir.

Apa pikiran saya ini salah?

Biarpun nanti ada tanggapan bahwa saya salah, maka saya tidak akan kalah dan menyesali diri menulis seperti ini.

Apa sebab?

Sebab utamanya adalah saya bisa membuat diri saya tidak berhenti berpikir (itu membuat sel-sel otak saya menjadi aktif dan tidak mati) dan mengurangi kemungkinan saya menjadi pikun.

Saya beranggapan adalah wajar-wajar saja menggunakan pikiran sendiri yang dengan demikian maka bisa bebas merasa membela rakyat jelata, yang telah terlalu sering kalah.

 

Anwari Doel Arnowo

2011/10/28 – Hari Sumpah Pemuda (1928 – 2011)

No Legacy is so rich as honesty

 

9 Comments to "Kalah Bukan Akhir Dari Dunia"

  1. nevergiveupyo  2 November, 2011 at 10:45

    sependapat pak Anwari. yang dibutuhkan saat ini pemimpin dan pejabat yang berani kalah terhadap kebutuhan dasar rakyat (atau memenangkan mereka..bukan kalah thdp kekuasaan pemilik modal/uang)

  2. Anwari Doel Arnowo  30 October, 2011 at 18:46

    Responses dari anda semua, setuju atau tidak, itu biasa. Saya mengucapkan terima kasih.
    Interaksi seperti itu mendorong kita menjadi menambah nilai lebih dalam bermasyarakat.
    Rasa kecewa karena kalah dan sebaliknyapun bukan sesuatu yang kekal, bisa berubah ke arah sebaliknya.
    Terimalah hal seperti itu dengan besar hati dan lapang dada.

    Anwari Doel Arnowo – 2011/10/30

  3. matahari  30 October, 2011 at 18:33

    Saya suka tulisan ini

  4. Meitasari S  30 October, 2011 at 16:06

    kalah n menang cuma waktu n cuma dibatasi sekat yg tipis. Bagai 2 sisi mata uang… He he ngomong apa yak?

  5. Linda Cheang  30 October, 2011 at 15:39

    yo’i…

  6. tantripranash  30 October, 2011 at 13:30

    bila kalah setelah bertarung dengan kekuatan seimbang tentu lebih bisa diterima dg sikap sportif … tetapi yg sering kita dengar bila berhadapan dgn penguasa, si jelata selalu dikalahkan

  7. Sumonggo  30 October, 2011 at 09:31

    Wah sekarang banyak betul ya yang dizolimi, dari presiden sampai menteri yang kena reshuffle semuanya merasa dizolimi

  8. probo  30 October, 2011 at 09:22

    stujuuuu banget Pak….

  9. James  30 October, 2011 at 09:00

    UNO DOMINGO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.