Pindah Rumah

Chandra Sasadara

 

Angin barat seperti menghipnotis aku, tidurku di depan gubuk nenek seperti mati suri, sangat nyenyak. Mungkin nenek telah memanggilku beberapa kali sebelum mendekati dan menyentu pundakku. Aku duga bunyi kentongan dari balai desa baru tabuh tiga dini hari, itu artinya aku baru melepas kantukku satu tabuh yag lalu setelah begadang di dermaga perahu.  Seperti biasa angin barat yang kencang membuat kami kaum nelayan hanya bisa menambatkan parahu di tempat yang terlindung, parahu-parahu itu biasanya kami tambatkan masuk lebih dalam di muara sungai agar terlindung dari terpaan angin dan gelombang barat.

Siang  hari kami menghabiskan waktu di parahu yang bersandar untuk jerumat jaring, mengencangkan tali rawe, menambal lambung, mengecat badan parahu, mengganti oli mesin atau hanya sekedar membersihkan lumut yang menempel di kemudi.  Malam hari  biasanya kami begadang di dermaga perahu, yang kami sebut sebagai dermaga itu hanya balai bambu tanpa dinding di tepi sungai untuk menjaga parahu. Kami menghabiskan malam dengan bermain kartu, catur atau sekedar cangkruk sambil ngebon rokok dan kopi di warung sebelah dermaga. Malam itu aku berada di dermaga dan bermaksud begadang sampai tabuh subuh, rupanya mataku hanya sanggup bertahan sampai tabuh dua. Aku bergegas pulang dan meringkuk di depan gubuk nenek.

Tidak biasanya nenek membangunkan aku sepagi itu, biasanya paling pagi ia akan membangunkanku di tabuh lima. Aku menduga nenek kehabisan sirih atau gambir untuk nginang sehingga begitu perlu membangunkanku pagi sekali, nenek pasti tahu kalau aku baru merebahkan tubuh pada tabuh dua. Aku sudah menyiapkan jawaban kalau nenek memintaku untuk ke pasar pagi itu, memang pasar di kampung kami sudah mulai ramai pada tabuh tiga terutama oleh pedagang hasil bumi yang datang dari kampung lain. Aku akan meminta waktu sebentar untuk meneruskan tidurku yang baru aku nikmati satu kali tabuh, setidaknya dua tabuh lagi. Sebelum aku sadar betul karena bangun mendadak akibat setuhan nenek dipundakku, nenek telah membisikkan kalimat pendek bernada perintah ke telingaku.

Aku kenal nenek sebagai perempuan tua yang jarang bicara, dalam satu hari mungkin hanya beberapa kata yang keluar dari mulutnya yang selalu disumpal susur. Ia lebih banyak diam di dalam bilik gubuknya, sesekali memanggil ibuku atau aku kalau ada keperluan. Tidak jarang ia berhari-hari tidak berbicara, untuk keperluan menjawab sapaan atau pertanyaan orang lain ia hanya menggangguk atau menggelengkan kepala. Ibuku sangat paham apa kebutuhan nenek dan bagaimana mengkomunikasikannya.

Dugaanku meleset, ternyata nenek memerintahkan aku untuk segera pergi ke rumah Mbah Dongkol. Tidak jauh, rumah Mbah Dongkol masih satu kampung dengan kami. Rumah itu ada di dekat balai desa, sedangkan rumah nenek yang sekarang dihuni keluargaku ada di pinggir perkampungan. Dulu tanah yang ditempati sebagai rumah adalah pategalan milik Mbah Dongkol yang diberikan kepada nenek untuk dibuat rumah di atasnya.

Aku tidak membantah, memang tidak berani membantah. Setahuku belum ada yang membantah nenek, entah segan karena usia nenek atau ada hal lain. Beberapa orang menyebut nenekku itu sumber tenaga, tapi sampai saat ini aku sendiri belum paham apa maksud kalimat itu. Nenek sendiri bukan jenis perempuan tua yang suka memerintah, jangankan memberikan perintah berbicara saja sangat sedikit.

Kantukku tiba-tiba hilang, aku berbegas ke padasan di samping gubuk untuk cuci muka. Sepanjang perjalanan menuju rumah Mbah Dongkol otakku mencoba menemukan jawaban, dari mana nenek tahu kalau aku dipanggil Mbah Dongkol. Bukankah tidak ada utusan Mbah Dongkol yang datang ke rumah, kalau ada yang datang pasti akan menemui ibu atau aku lebih dulu. Biarlah, nanti aku tanyakan langsung ke Mbah Dongkol siapa orang yang datang ke rumah, kenapa tidak langsung disampaikan ke aku kalau keperluanya untuk meminta aku datang.

*****

Aku lihat Mbah Dongkol duduk di teras rumah sambil memejamkan mata, persis seperti kebiasaan nenek memejamkan mata. Sepertinya ia sengaja menunggu aku.

Assalamualaikum,” sapaku sebelum melepaskan sandal di depan teras rumah.

Ngalaikumsalam, tunggu Pakdemu,” katanya Mbah Dongkol singkat.

Rupanya selain aku, Pakde Wahab juga yang dipanggil. Pakde Wahab adalah anak laki-laki Mbah Dongkol, aku masih terhitung keponakan Pakde Wahab. Ibuku dan Pakde Wahab masih satu bapak, sama-sama anak Mbah Dongkol tapi bedah ibu. Pakde Wahab lahir mbarep dari istri pertama Mbah Dongkol. Sedangkan ibuku lahir dari rahim nenek, nenekku dulu adalah istri kedua Mbah Dongkol.

Mbah Dongkol masih tetap memejamkan mata, tidak bergeser dari tempat duduknya. Meskipun aku berada tidak jauh dari tempat duduknya, tidak satu katapun diucapkan Mbah Dongkol. Kepalaku mulai dihinggapi berbagai pertanyaan. Ada apa Mbah Dongkol memanggilku dini hari begini, bukankah bisa nanti siang. Mengapa hanya aku dan Pakde Wahab yang dipanggil, sedangkan ibuku tidak.  Kalau akan membicarakan persoalan keluarga harusnya semua anaknya dipanggil, lagi pula anaknya hanya ibuku dan Pakde Wahab.

Akhirnya Pakde datang, setelah mengucapkan salam ia langsung bertanya kepadaku alasan  Mbah Dongkol mamanggil kami pagi ini. Aku tidak memberikan jawaban karena memang tidak tahu. Mbah Dongkol mengajak kami masuk ke ruang tengah, kami diminta duduk di deretan kursi anyaman rotan yang berusia tua. Mbah Dongkol sendiri tidak langsung duduk tapi masuk menuju bagian belakang rumah, mungkin masuk ke dalam kamarnya.  Ia keluar sambil membawa tas kulit, aku tidak tahu apa isinya. Tidak ada orang berani masuk kamar Mbah Dongkol apalagi membuka tas tua itu, termasuk Pakde Wahab. Hanya ibuku yang sering masuk, itu karena Ibuku yang mengurus kebutuhannya meskipun kami hidup berpisah rumah.

“Wahab,” kata Mbah Dongkol mulai membuka pembicaraan.

“ Ada apa kok pagi sekali Pak?” kelihatanya Pakde mulai menumpahkan penasaranya.

“Aku titip isi tas ini kepadamu dan keponakanmu ini,” kata Mbah Dongkol.

“Apa isi tas ini?,” tanya Pakde.

“Buka saja di sini,” jawab Mbah Dongkol singkat.

Rupanya tas Mbah Dongkol itu berisi surat tanah dan rumah. Aku mencoba kembali menemukan jawaban rasa penasaranku. Mungkin Mbah Dongkol mau menjual tanah dan rumah yang sekarang ditempati atau mau menyerahkan kepada Pakde Wahab untuk dibagi bersama ibu. Apakah Mbah Dongkol berencana hidup satu rumah dengan Pakde Wahab. Kalau hanya urusan itu mengapa harus dini hari untuk membicarakannya. Menurut aku, itu urusan biasa yang bisa dilakukan siang hari. Kalau memang ada hal-hal yang perlu diurus di balai desa bukankah aku juga bisa membantu Mbah Dongkol untuk mengurusnya.

Ngene cung,” Mbah Dongkol menengok ke arahku. Aku terperanjat, Mbah Dongkol seperti tahu apa yang aku pikirkan. “Inggih Mbah” sautku singkat.  Menurut Mbah Dongkol, surat itu diserahkan kepada Pakde dan aku karena dirinya akan pindah rumah. Mungkin pertanyaan di kepala Pakde Wahab juga sama dengan yang bersarang di kepalaku ketika mendengar Mbah Dongkol berencana pindah rumah. Mau pindah ke mana, lagi pula umur Mbah Dongkol sudah tua meskipun masih sehat untuk orang seusianya.

Cung, Mbahmu ini sudah waktunya pindah rumah jadi tolong sipakan saja apa yang diperlukan saat pindahan pada senin legi nanti.” Mbah Dongkol mencoba menjelaksan pertanyaan yang belum sempat aku sampaikan. Sepertinya Pakde sudah mulai tidak sabar, sambil mendorong tas ke arah Mbah Dongkol ia mulai angkat bicara.

“Bapak ini sudah tua, mau pindah ke mana, siapa yang akan mengurus, bukankah di sini  ketunggon anak, putu, mantu lan sedulur?.”

“Bapak ini tidak bisa dieman oleh anak lan putu.”

“Apa bapak sudah tidak mau lagi hidup bersama anak, cucu, menantu dan saudara-saudara di kampung ini?.”

“Apa bapak mau nikah lagi, apa tidak cukup dirawat sama anak sendiri?” Pakde menghujani pertanyaan.

Seperti biasa, Mbah Dongkol hanya diam sambil memejamkan mata. Semua pertanyaan Pakde dan penasaranku menguap tanpa jawaban satupun. Sebelum meninggalkan kami yang masih belum paham apa maksud Mbah Dongkol untuk pindah rumah, ia sempat titip pesan untuk disampaikan kepada kepala desa. “Cung, sampaikan kepada kepala desa bahwa Mbah akan pindah rumah senin legi,” katanya singkat. Dengan nada jengkel Pakde mengatakan kepadaku, “Mbahmu iki wis pikun.”

Begitu ke luar dari rumah Mbah Dongkol mataku berasa berat sekali, kantuk yang aku rasakan pada saat masih di dermaga perahu tadi seperti hadir lagi. Tidak sempat aku bertanya kepada nenek ke mana Mbah Dongkol akan pindah rumah untuk mejawab penasaranku. Senin legi masih tujuh hari lagi, masih ada kesempatan untuk tanya kepada nenek alasan Mbah Dongkol pindah rumah pikirku. Tapi kantuk ini, tidak bisa ditahan. Begitu sampai di gubuk nenek langsung aku rebahkan tubuhku di teras bambu.

*****

Seperti umumnya orang kampung, nama tidak pernah disebut lengkap dalam komunikasi sehari-hari. Muslimah dipanggil Cima, Mustakim dipanggil Takim atau Karmijan dipanggil Jan. Tidak jarang ketika sedang bercanda pangilan Jan ditambah cuk, jadi Jancuk. Dalam suart-surat resmi yang dimiliki, Mbah Dongkol bernama Suro Admojo, aku menduga ia sebenarnya bernama Suryo Admojo. Suryo Admojo adalah nama lain dari Basu Karna, seorang Bupati Awangga. Anak mbarep Dewi Kunti Talibrata sebelum diperistri oleh Pandu Dewanata. Pandu adalah seorang Raja Hastina Pura yang cacat lehernya. Bersama Kunti, Pandu menurunkan para pandawa. Cerita kepahlawanan Basu Karno yang bepihak kepada kurawa di padang kuru setra itu yang diceritakan berulang kali oleh Mbah Dongkol kepadaku. Kelihatnya ia sangat mengagumi saudara tua para pandawa itu. Hal itu yang mendasari dugaanku bahwa sebenarya Mbah Dongkol bernama asli Suryo Admojo.

Orang di kampung kami yang seusia bapakku mengenal Mbah Dongkol sebagai Suro Admojo. Ketika masih menjadi kepala desa Mbah Dongkol dikenal dengan sebutan Petinggi Suro, sedangkan orang-orang seusia aku di kampung hanya kenal orang tua yang suka menyapu halaman masjid itu sebagai Mbah Dongkol. Dongkol sendiri merupakan sebutan yang biasa diberikan untuk orang-orang yang pernah menduduki posisi penting di desa. Selain petinggi dongkol, di kampung kami juga ada orang yang disebut dengan carik dongkol atau calak dongkol.

Ibu pernah bercerita bahwa perceraian nenek dengan Mbah Dongkol terjadi setelah pembunuhan empt orang BTI di desa kami oleh beberapa anak muda dari desa sebelah. Pada saat itu nenek meminta Mbah Dongkol sebagai kepala desa untuk mencegah agar kejadian pembantaian petani di desa tetangga tidak terjadi di desa kami. Nenek mengancam kalau sampai ada satu warga desa yang mati dibunuh oleh laskar sebelah desa itu, maka ia akan meninggalkan Mbah Dongkol.

Nenek benar-benar meninggalkan rumah besar Mbah Dongkol, pergi bersama ibu yang saat itu masih remaja dan tinggal di gubuk di tengah kebun. Gubuk itu biasa digunakan istirahat oleh penggarap kebun Mbah Dongkol. Delapan bulan setelah ditinggal nenek, Mbah Dongkol memintah carik untuk menggantikan posisinya sebagai pejabat kepala desa sampai pemilihan kepala desa berikutnya. Mbah Dongkol mengundurkan diri, dibantu beberapa orang anak buahnya mendirikan gubuk bambu di atas tanah kebunya di desa tetangga. Meninggalkan rumah besar yang selama ini dihuninya bersama keluarga besarnya. Hampir sebelas tahun Mbah Dongkol tinggal di gubuk bambu sebelah desa itu sebelum kembali ke rumah besar miliknya.

Menurut ibu, Mbah Dongkol seperti orang menyesal. Memiliki dua istri dan keduanya meninggalkannya meskipun dengan asalan yang berbedah. Istri pertama, ibunya Pakde Wahab pergi meniggalkan Mbah Dongkol karena wayo dengan nenek, sedangkan nenek meningglkannya karena alasan yang tidak jelas, setidaknya bagi aku. Meninggalkan suami karena kesalahan orang lain, yaitu pembunuhan petani di desa kami oleh laskar sebelah desa.

Meskipun jarak antara nenek dan Mbah Dongkol hanya berbeda desa tapi mereka tidak saling bertemu. Tujuh tahun berikutnya Mbah Dongkol datang ke gubuk nenek karena ibuku mau menikah. Mereka saling menyapa dan bertemu, seperti tidak pernah ada masalah. Hanya yang kedengaran gajil menurut ibuku saat itu Mbah Dongkol memanggil nenek dengan sebutan “yu”, sedangkan nenek memanggil Mbah Dongkol hanya dengan “dongkol”. Bukankah sebutan “yu” merupakan kependekan dari mbakyu yang berarti kakak, “mengapa bapak memanggil ibu dengan sebutan yu saja,” tanya ibuku dalam hati saat itu.

Mbah Dongkol jarang pulang ke rumah, meskipun rumahnya tidak jauh dari masjid desa yang biasa ia tempati untuk duduk, berdiam diri dan memejamkan mata tapi tidak tidur. Ibuku yang sering datang untuk membersihkan atau mengantar makanan di rumah Mbah Dongkol. Rumah Mbah Dongkol terdiri dari dua rumah kayu besar, bagian depan merupakan rumah besar yang difungsikan sebagai balai desa ketika Mbah Dongkol masih menjabat. Rumah bagian belakang yang terpisah beberapa meter dari rumah bagian depan ditempati sebagai hunian. Di belakang rumah hunian itu ada lumbung yang dipakai untuk menyimpan padi dan jenis palawija lainya pada saat Mbah Dongkol berkuasa. Rumah yang dulu difungsikan sebagai balai desa itu sekarang disewakan kepada majikan baso dari Malang.

Makananya memang ibuku yang menyediakan, tapi sangat jarang ibu mengantar makanan, kadang tiga hari sekali bahkan sering lima atau enam hari sekali itupun menunggu perintah nenek. Kalau nenek tidak memerintahkan untuk mengantar makanan, maka sampai berminggu-minggu ibu tidak mengirim makanan ke rumah Mbah Dongkol. Lagi pula makananya hanya jenis umbi dan kacang-kacangan yang tawar, kalau ibu lama tidak mengirim makanan biasanya nenek meminta ibu untuk mengirim bubur beras tawar yang dibuat sendiri.

Meskipun mantan kepala desa, Mbah Dongkol bukan orang yang hidup dengan kemewahan. Hari-harinya diisi dengan menyapu halaman masjid, membersihkan tanaman liar yang tumbuh di pinggir kuburan desa, berlama-lama duduk di serambi masjid sambil memejamkan mata bahkan sering terlihat membersihkan rumput di halaman geraja di desa kami. Ia adalah orang yang mengijinkan pembangunan gereja ketika masih menjadi kepala desa dulu.

Pakde Wahab pernah menanyakan kepada Mbah Dongkol tentang pembangunan gereja di desa kami itu, tepatnya menggugat kebijakan yang pernah dikeluarkan bapaknya tentang pembangunan gereja. Mengapa Mbah Dongkol sampai mengijinkan pembangunan gereja di desa yang mayoritas beragama Islam. Mbah Dongkol tidak menjawab, hanya balik bertanya.

Opo Gusti Allah arep ngadili agamane manungso?”

Nek pancen Gusti nikso manungso amergo agamane, ning endi têtêping adil?”

“ Wahab, Gusti Allah kang asipat rahman ora niksa manungso kang ngrasuk agamo liyo kang ora tumindak luput, sarto ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili kanggo têtêping adil”.

*****

Antara tidur dan terjaga aku seperti mendengar ibuku menangis, sepertinya ibu menangisi kepindahan Mbah Dongkol. Namun nenek berusaha untuk menenangkan ibu agar menghentikan tangisnya. “Jangan ditangisi, bapakmu hanya akan pindah rumah, tidak jauh, semua orang akan pindah rumah, nanti gubuk tua ini juga akan aku tinggalkan kalau tiba waktunya,” kata nenek. Ibuku tidak berhenti menangis, bahkan semakin berduka ketika nenek bilang bahwa ia juga akan meninggalkankan gubuk tuanya. “Banyak yang akan mengurus bapakmu di rumah barunya nanti, bahkan sudah lama bapakmu ditunggu kedatangnya,” kata nenek berusaha menghibur ibu. Mendengar tangisan ibuku, aku juga ikut bercucran air mata. Bahkan saat ibuku membangunkanku, air mata yang aku rasakan pada saat mimpi itu masih membasahi pipiku.

Aku seperti orang yang sedang berduka sangat dalam. Aku duduk, menyandarkan punggung sambil bertanya-tanya tentang mimpi yang baru saja aku alami. Mengapa ibuku menangisi kepindahan Mbah Dongkol, mengapa aku juga ikut menangis, bukankah pindah rumah itu hal biasa. Jangan-jangan dugaan Pakde Wahab benar bahwa Mbah Dongkol mau nikah lagi dan ibuku tidak setuju. Tapi kalau betul Mbah Dongkol mau nikah lagi mengapa nenek justru menjelaskan soal pindah rumah, bahkan nenek juga bilang mau meninggalkan gubuk tuanya.  Atau nenek dan Mbah Dongkol akan rujuk lagi, lalu membangun rumah baru di suatu tempat. Mana mungkin mereka akan menikah lagi, untuk apa menikah lagi. Ada-ada saja.

Tiga hari yang lalu aku tanyakan rencana pindah rumah yang akan dikukan oleh Mbah Dongkol kepada nenek. Jawaban nenek justru menjadi teka-teki baru bagi aku. Nenek mengatakan bahwa rumah baru Mbah Dongkol tidak jauh, bahkan sangat dekat. Ketika aku tanyakan alasan Mbah Dongkol untuk pindah rumah, sambil tersenyum nenek hanya mengatakan kalimat pendek “wis titi wancinê  boyongan”. Sudah waktunya pindahan kata nenek.

Aku beranjak dari gubuk nenek, berjalan ke arah rumah yang dihuni keluarga kami. Aku lihat ibu sedang memetik bunga kantil dan melati di samping rumah. Ibu memang biasa memetik bunga-bunga itu untuk dititipkan kepada pedagang bunga di pasar. Aku ambil dua bakul kecil yang sudah penuh dengan kantil dan melati, tapi ibu mencegahku. “Biarkan di situ, jangan dibawa masuk ke rumah” kata ibu. Bakul itu aku letakkan lagi, ibu melambaikan tangan memanggilku. “Cung, iki wis senin legi” kata ibu pendek.

Aku memang tidak tahu hari pasaran Jawa, aku tahu bahwa hari ini memang senin. Aku berbegas untuk mengambil linggis dan cangkul, tapi barang itu sudah tidak ada di tempatnya. Mungkin sudah dibawa bapak ke rumah Mbah Dongkol, aku terlambat pikirku. Aku percepat langkah ke rumah Mbah Dongkol. Sampai di halaman rumah tidak kelihatan ada persiapan akan pindah rumah, barang-barang dan perabotan rumah tidak dikeluarkan. Memang sudah ada banyak orang di halaman rumah Mbah Dongkol.

Aku lihat kepala desa dan rombonganya. Mereka sudah siap dengan segalah peralatan tukang untuk membongkar rumah. Beberapa orang dengan ikat kepala hitam mengedarai kendaraan terbuka, mereka dari desa lain. Aku kenal mereka karena sering datang di rumah Mbah Dongkol. Tapi mereka tidak membawa peralatan untuk membongkar rumah, mereka justru membawa beras beberapa karung dan kelapa beberapa pikul.

Aku melihat seorang nenek dengan tongkat ditemani pemuda turun dari kendaraan pribadi, mungkin seusia nenekku. Perempuan tua itu menatapku, matanya sangat mirip dengan mata Mbah Dongkol. Mata yang sejuk dengan pancaran teduh. Mata yang sering membuat tamu-tamu Mbah Dongkol menangis saat menatapnya, beberapa orang menyebut bahwa mata Mbah Dongkol seperti pengilon. Aku mendekati nenek dengan tongkat itu, aku mengambil tangannya dan menciumnya. Nenek itu tersenyum dan menepuk punggungku dua kali. “Ngger, kamu akan sangat letih hari ini” kata nenek itu singkat.

Aku semakin tidak mengerti dengan ini semua. Mbah Dongkol mau pindah rumah di usianya yang lebih dari sembilan puluh tahun. Orang-orang aneh dengan ikat kepala hitam datang dari desa lain, siapa yang menghubungi mereka sebab selama ini aku adalah cucu Mbah Dongkol yang selalu diminta untuk memanggil orang-rang ketika dibutuhkan. Lalu untuk apa nenek yang seusia dengan nenekku itu datang, bukankah pindah rumah tidak membutuhkan nenek-nenek dan apa pula maksudnya hari ini aku akan letih. Ibuku, ya ibuku mengapa masih di rumah dan tidak memasak sesuatu untuk makan para tetangga atau tamu yang akan membantu Mbah Dongkol pindah rumah.

*****

Aku masuk ke dalam rumah, Mbah Dongkol dan Pakde Wahab kelihatan sedang duduk di kursi rotan. Mereka tidak saling bicara, Mbah Dongkol kelihatan memejamkan mata dengan kedua tangan diletakkan di atas paha. “Mbah,” sapaku. Tidak ada jawaban, hanya Pakde yang menengok ke arahku. Beberapa orang dengan ikat kepala hitam menyusul masuk dan langsung duduk bersama kami, di susul nenek dengan tongkat yang tadi aku cium tangannya di halaman rumah. Tiba-tiba nenek itu berbicara, “dongkol, wis wancinê”.  Mbah Dongkol segera membuka mata dan tersenyum kepada kami semua. Beberapa orang dengan ikat kepala hitam itu mendekati Mbah Dongkol, mencium tangannya secara bergantian dengan mata berkaca-kaca.

Mbah Dongkol berajak dari kursinya, dikuti oleh nenek bertongkat dan Pakde Wahab. Aku tetap duduk dikursiku, aku masih tidak mengerti pindah rumah macam apa yang akan dilakukan oleh Mbah Dongkol dan orang-orang ini. “Cung, kamu ikut masuk,” kata Mbah Dongkol kepadaku. Aku bergegas menyusul mereka masuk ke dalam kamar Mbah Dongkol. Wajah Mbah Dongkol kelihatan sangat berseri, ada pancaran mistis di wajah itu. Aku lihat Mbah Dongkol dan nenek itu bertukar pandangan, Mbah Dongkol kemudian mengambil posisi duduk di atas tempat tidurnya, bersandar di dinding dan menutup matanya beberapa saat.

“Salam dari mbakyu” kata Mbah Dongkol sambil tersenyum menatap nenek bertongkat yang duduk di sampingku. Mbakyu, bukankah satu-satunya orang yang dipanggil mbakyu oleh Mbah Dongkol adalah nenekku. Dari mana dan kapan nenek menitipkan salam melalui Mbah Dongkol untuk nenek bertongkat yang duduk di sebelahku ini. Aneh, orang-orang tua yang aneh. Rencana pindah rumah saja diliputi misteri seperti ini.

Kamar Mbah Dongkol hening, semua yang hadir di situ diam. Nenek tua itu kelihatan memejamkan mata, Mbah Dongkol juga melakukan hal yang sama. Hanya Pakde Wahab kelihatan tidak nyaman dengan di tempat duduknya. “Panggil ibumu di dapur Cung,” kata nenek bertongkat sambil menengok ke arahku. Tidak bertanya lagi, aku bergegas ke dapur. Terlintas dalam pikiranku, dari mana nenek tua itu tahu kalau ibuku ada di dapur rumah Mbah Dongkol, bukankah saat berangkat tadi ibu sedang memetik kantil dan malati.

Aku lihat ibu sedang duduk di dingklik jati di pojok dapur, bunga kantil dan melatih yang aku lihat dipetik ibu tadi sekarang ada di depanya. Kenapa bunga-bunga itu dibawa ibu ke rumah Mbah Dongkol, mulai kapan pindah rumah pakai bunga kantil dan melatih segala. Aku segera mendekati ibu, rupanya ibu sedang menangis. Aku tidak berani bertanya kenapa ibu menangis. Aku bisikkan perintah nenek bertongkat itu kepada ibu. Ibu seperti menunggu panggilan untuk masuk di kamar Mabh Dongkol. Tanpa menjawab bisikanku, ibu segera berdiri dan merjalan lebih dulu sambil memperbaiki gelung rambutnya sebelum masuk di kamar Mbah Dongkol.

Ibu langsung menubruk Mbah Dongkol, mencium tanganya sambil bercucuran air mata. “Bapak, ” kata ibu tersendat. Aku ikut menangis dengan alasan tidak jelas, mungkin karena tangis ibu itu yang membuat aku ikut menangis. Pakde Wahab kelihatan seperti orang bingung, sedangkan Mbah Dongkol terus tersenyum.

Trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah, anteng manteng sugeng jeneng,” Kata-kata Mbah Dongkol itu sepertinya ditujukan kepada ibu. Entah karena kalimat itu atau karena ibu sudah kehabisan air mata, tiba-tiba ibu menghentikan tangisnya dan tidak lagi meneteskan air mata. “Wahab, eling-eling yen urip iki manggonan topo, ojo duwe kareman marang pepaes dunyo.” Kata Mbah Dongkol kepada Pakde. Pakde Wahab kelihatan masih belum mengerti. Aku juga tidak mengerti apa maksud kata-kata itu, tapi kelihatanya itu nasehat khusus yang ditujukkan kepada anak mbarep Mbah Dongkol.

Mbah Dongkol menggeser duduknya lebih ke pinggir, mengambil air putih di gelas yang terletak di atas meja. Tidak sampai habis, hanya beberapa teguk air yang memasuki dalam tenggorokanya. “Benderanya sudah tinggi, sampaikan maafku kepada semua orang yang aku kenal,” Mbah Dongkol menghentikan kalimatnya untuk mengambil napas. Belum sempat kebingunganku terurai dengan kalimat itu, Mbah Dongkol melanjutkkan kalimatnya. “Wis aku pamit mule,” kata Mbah Dongkol sambil tersenyum kepada kami semua. Mbah Dongkol menatapku sebelum memejamkan mata. Tiba-tiba nenek tua itu berkata lirih, “wis sampurno mbahmu, wis pindah omah ngger”. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” kalimat itu keluar hampir bersamaan dari mulut ibu dan Pakde Wahab.

 

Daftar Kata  

Jerumat           : Menambal jaring

Rawe               : Rangkaian pancing yang diikat dengan tali senar

Cangkruk        : Nongkrong

Ngebon            : Berhutang

Ketunggon      : Ditemani

Dieman            : Disayangi

Nginang          : Mengunya siri bercampur gambir dan kapur

Susur               : Tembakau berbentuk bulat yang dikulum orang nginang

Pategalan        : Tanah kebun/tanah kering

Padasan          : Bambu atau gentong berisi yang dipakai untuk mengambil air wudlu

Mbareb            : Anak pertama  

Ngene              : Begini

Inggih              : iya

Mantu              : Menantu

Putu                : Cucu

Petinggi           : kepala desa/lurah

Carik               : Sekertaris desa

Calak              :Orang dengan kahlian menyunat

Pengilon          : Cermin

Wayo              : Poligami

Sampurno        : Meninggal dunia

Nyuwargo       :Meninggal dunia

 

Terjemahan :

Opo Gusti Allah arep ngadili agamane manungso?”

(Apakah Tuhan akan mengadili keyakinan orang)

 

Nek pancen Gusti nikso manungso amergo agamane, ning endi têtêping adil?”

(Kalau memang Tuhan akan menyiksa manusia karena pilihan agamanya, di mana ketentuan tentang keadilan itu)

 

Wahab, Gusti Allah kang asipat rahman ora niksa manungso kang ngrasuk agamo liyo kang ora tumindak luput, sarto ora paring ganjaran marang wong Islam kang tumindak ora bênêr, mung bênêr karo lupute sing diadili kanggo têtêping adil”.

(Wahab, Tuhan yang bersifat kasih tidak akan menyiksa manusia penganut agama lain yang tidak melakukan kesalahan, juga tidak akan memberikan pahala bagi orang Islam yang bertindak salah, hanya tindakan benar dan salah yang akan diadili nanti)

 

Trimah mawi pasrah, suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah), anteng manteng sugeng jeneng”.

(Rela menyerah terhadap keadaan yang telah terjadi, jika tak berniat jahat tidak perlu takut, tetap tenang, tidak kenal duka maupun suka, diam sungguh-sungguh maka akan selamat sentosa)

 

Wahab, eling-eling yen urip iki manggonan topo, ojo duwe kareman marang pepaes dunyo.”

(Wahab, ingat-ingat hidup itu tempat bertapa/berpuasa, jangan sampai punya kesenangan terhadap tipu daya dunia)

 

Rujukan

  1. Serat Dharmo Gandul
  2. Piwulang Ageng Sosrokartono
  3. Mocopat Tembang Asmorodhono

 

22 Comments to "Pindah Rumah"

  1. Chadra Sasadara  18 April, 2012 at 10:22

    maaf dech Bu’ ehh… lain kali aku panggil yyk . tks ya mampir ke “rumah dukun” hehehe

  2. Chadra Sasadara  17 April, 2012 at 19:20

    Ibu : Yyk, stjuh tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi tentang jawa dan kejawaan. kalau ada waktu silakan baca lanjutan cerita “pindah rumah” di sini : http://baltyra.com/2012/04/13/dukun/

  3. Handoko Widagdo  31 October, 2011 at 16:36

    Saya yakin bahwa orang Jawa sudah memiliki cara hidup sendiri yang tak tergantikan oleh agama-agama baru yang datang dari luar. Bukannya agama-agama dari luar tersebut jelek, tetapi orang Jawa memahami agama-agama tersebut dengan caranya sendiri. Agama ageming ati.

  4. Chadra Sasadara  31 October, 2011 at 15:14

    Mas Hadhimas;

    saya tidak tahu pasti apakah ada fakultas filsafat di Indoensia yang mempelajari kejawen. tapi klo studi tentang jawa termasuk filsafat jawa sudah sangat banyak.

    salam;

  5. kembangnanas  31 October, 2011 at 14:32

    wahhh, dalem banget ceritanya, perlu konsentrasi tinggi utk membacanya.

  6. Chadra Sasadara  31 October, 2011 at 14:16

    Kang JC

    terima kasih banyak telah memuat cerita ini, lebih-lebih semangat yang Kang JC berikan kepada saya

    salam;

  7. J C  31 October, 2011 at 13:26

    Kang Chandra Sasadara, maafkan saya berkomentar terlambat. Cerita begini harus dibaca dengan khusuk dan takzim. Falsafah dan maknanya sangat mendalam. Seperti mas Hadhimas katakan, bahwa yang begini masih banyak sekali di desa-desa di seluruh pelosok Jawa. Kejawen dan Islam yang berpadu apik serta harmonis. Saya sendiri sempat mengalami tinggal di tengah masyarakat demikian selama 3 bulan waktu KKN saya di tahun 1994.

    Karena tidak ada listrik, setelah magrib dan makan malam kami biasa berkumpul di rumah pak Lurah. Walaupun ada genset kecil di rumah pak Lurah, tapi hanya nyala sampai sekitar jam 21:00. Setelah itu gelap gulita hanya diterangi dengan pelita seadanya. Sungguh asik dan menyenangkan suasananya. Meninggalkan sejenak hiruk pikuk kemoderenan dan jauh dari teknologi (waktu itu pager yang populer). Pak Lurah, beberapa penduduk dan kami team KKN duduk bersama ngobrol, membahas berbagai topik menarik, salah satunya seperti dalam cerita ini. Kejawen dan Islam, sungguh luar biasa menarik.

    Saya sendiri masih belajar banyak. Di rumah ada satu set 20 buku Babad Tanah Jawi terbitan tahun 1916 (kalau tidak salah) atau sekitar 1920’an. Luar biasa menarik, walaupun kadang mengalami kesulitan karena tata bahasa dan kosa kata yang digunakan tahun-tahun itu, untuk menggambarkan satu topik yang menuntut pemahaman mendalam.

    Matur nuwun Kang Chandra Sasadara…

  8. Chadra Sasadara  31 October, 2011 at 12:59

    Dear all friends (Sedulur kabeh/saudara smua)

    terima kasih komentarnya, ada dua cerita lagi yang sedang saya persiapkan untuk menutup cerita Pindah Rumah. mohon do’anya.

    salam;

  9. Chadra Sasadara  31 October, 2011 at 12:49

    Kak Dewi Aichi

    jangan habiskan waktu berlama-lama hanya untuk baca cerita yang saya tulis, kasian anak2 Kakak

  10. Chadra Sasadara  31 October, 2011 at 12:48

    Hadir Bu’ Probo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *