Mata Keranjang

Ida Cholisa

 

Benci aku sama lelaki “ngetop” itu. Aku yakin ia tak kenal aku,  meski ia kerap bertemu wajahku. Tapi aku tahu benar siapa lelaki itu. Hah, lihat muka playboy-nya, rasanya aku ingin menghantam palu besi ke muka jeleknya. Ups, kupikir ia tak jelek, tapi entah mengapa aku teramat sangat membencinya…

Lelaki itu bernama Memet. Duda tanpa anak yang digugat cerai istrinya itu kabarnya tengah main mata dengan perawan matre berkulit hitam manis. Ih, mau-maunya si perempuan itu. Lha iyalah, wong si lelaki playboy itu punya duit segepok, gimana si cewek gak klepek-klepek….

Suatu pagi aku bertemu dengan lelaki playboy itu. Sumpah, aku muak setengah mati. Matanya yang jelalatan dengan senyum lebay yang memuakkan membuatku merasa muntah.  Entah mengapa aku begitu sangat membencinya. Padahal aku tak memiliki kepentingan apa-apa dengannya.

Satu saja. Aku benci lelaki itu. Memet si duda mata keranjang benar-benar mengobarkan api kebencianku….

“Hallo, Sayang, sendirian saja? Mau aku temani?”

Kupalingkan mukaku. Lelaki mata keranjang itu mengerjipkan mata kepadaku.

“Wah, sombong banget sih kau ini. Belum tahu ya siapa aku? Memet, duda kaya yang tengah mencari cinta….”

Kutinggalkan duda mata keranjang itu. Perutku mual, mau muntah. Sungguh, aku benci setengah mati pada pria menyebalkan itu.

***

“Ssst….., lihat tuh Memet, nggandeng siapa lagi, tuh?” Tuni, sahabat karibku, berbisik pelan di telingaku.

“Tahu ah, bukan urusanku,” jawabku.

“Ih, lihat dulu. Siapa cewek itu? Cantik banget, booooo…..”

Akhirnya, tergoda juga aku untuk menatap perempuan yang tengah digandeng si lelaki playboy itu. Alamak!!!

“Kenapa, Sri? Koq tiba-tiba wajahmu berubah? Kagum ya sama kecantikan perempuan itu? Atau…, jangan-jangan kau iri pingin ngedapetin lelaki itu…., hihihi….”

Kucubit lengan sahabatku. Mataku tak lepas mengawasi perempuan cantik yang tengah bergandengan mesra dengan lelaki itu. Hingga kemudian mereka berlalu dari pandangan.

Kepalaku pusing tak karuan. Rasa benci pada lelaki itu sungguh tak tertahankan. Bagaimana tidak. Seminggu yang lalu aku memergokinya berduaan mesra dengan Anita, gadis kampung yang baru lulus SMA. Dua hari sesudahnya, aku mendapatinya berboncengan mesra dengan janda cantik beranak dua. Hari berikutnya, aku menemukannya tengah makan malam bersam perempuan asing yang tak pernah aku kenal siapa namanya. Lha, hari ini aku mendapatinya kembali menggandeng mesra perempuan berikutnya. Tapi yang membuatku geram tak terkira adalah perihal sang perempuan itu. Bagaimana tidak. Perempuan itu adalah adik kandungku!

“Mbak jangan ngiri ah sama aku. Kalau Mbak ingin jalan berdua sama lelaki, buruan donk cari calon suami. Jangan usil melarang aku pacaran sama pacarku itu. Ingat ya Mbak, gak usah ikut campur urusanku. Titik.”

Aku memilih untuk mengalah. Tak lagi mengurusi tingkah polah Memet dan adikku. Kalimat telak Ratna, adik kandung yang yang kusayang itu, membuatku tersinggung dan terhina.

Hingga tiga bulan sesudahnya, Ratna mendatangiku sambil beruarai air mata.

“Maafkan aku, Mbak. Aku tak mendengarkan omongan Mbak. Ternyata benar, Mas Memet lelaki mata keranjang. Setelah menodaiku, ia pergi bersama wanita lain. Aku hamil, Mbak…..”

“Apa???!!!!”

Mataku melotot. Darahku naik ke ubun-ubun. Rasa marah benar-benar menguasaiku. Wasiat almarhum ibu agar aku menjaga adik perempuanku ternyata tak mampu aku emban. Aku terlalu mengalah pada keras kepala adik perempuanku.

“Mbak, tolonglah aku….”

Ia menghiba dan meratap padaku.

“Tolong aku, Mbak…, tolong aku….”

Ia berusaha memelukku, tapi kutepiskan tubuhnya hingga ia terjengkang.

“Pergilah, minta tanggung jawab lelaki itu. Tak ada gunanya lagi kau mengharap pertolonganku. Aku kecewa.”

Kutinggalkan adikku. Kuhidupkan sepeda motorku. Jam mengajar telah memanggilku. Dalam perjalanan menuju tempat mengajarku, aku melihat Memet, lelaki mata keranjang itu, tengah bersenda gurau di atas sepeda motornya bersama seorang perempuan berambut panjang.

Aku memalingkan muka. Persetan dengan mata keranjang itu. Persetan dengan perempuan pemilik rambut panjang itu. Mau dia gadis, mau janda, mau primadona, mau kuntilanak, aku tak akan peduli lagi kepadanya….***

Bogor, 2011-

 

11 Comments to "Mata Keranjang"

  1. Anastasia Yuliantari  2 November, 2011 at 01:22

    Komentar Yu Lani singkat dan padat….hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.