Sebutir Airmata Ebu Lobo

Handoko Widagdo – Solo

 

Ebu Lobo tegak berdiri. Senyum menyungging dari bibirnya. Asap putih yang mengepul dari kepundan adalah ucapan syukur kepada Tuan Allah yang telah memberi pagi yang indah. Puncaknya yang biru gelap membentuk garis kontras dengan langit yang cerah.

Pohon-pohon bambu meriap di kakinya. Bambu-bambu ini memberi kehangatan bagi penduduk Ebu Lobo. Dinding dan atap rumah dibuat dari batang-batang yang tumbuh di segala tanah.

Penginapan ini sangat sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Sebenarnyalah Wisma Nusa Bunga adalah rumah yang dikaryakan menjadi penginapan. Fasilitas kamarpun seadanya. Dua buah dipan dengan kasur spon, kamar mandi berlantai semen yang tersambung langsung dengan kamar, tak ada lemari apalagi TV. Selain kamar yang berada di bangunan utama, di sisi kiri rumah juga dibangun lima buah kamar yang masing-masing berisi dua dipan dan kamar mandi di dalam.

Bangunan Wisma Nusa Bunga agak unik dibanding dengan bangunan-bangunan rumah disekitarnya. Rumah ini berarsitektur Belanda. Sama bentuknya dengan rumah-rumah peninggalan Belanda di Tawangmangu, Surakarta. Halaman depan luas dengan pohon jambu dan pohon alpukat menghiasinya.

Saat saya memasuki ruang utama rumah, saya baru menyadari ada yang lain dari rumah ini. Beberapa foto tua tertampang di dinding. Dua buah patung Flores menghiasi pembatas ruang tamu dengan ruang keluarga. Ada pedang bagus yang dipajang di samping foto seorang raja. Segera saja saya cari tahu dari pengelolanya, Mama Maria. Mama Maria berumur lebih 60 tahun. Dia menjelaskan bahwa rumah ini sebenarnya adalah rumah dari adik Raja Boawae.

Raja Boawae adalah teman Sukarno. Saya tidak mendapat informasi sejauhmana Sukarno berteman dengan Raja Boawae. Namun saya yakin bahwa Sukarno pernah berkunjung ke Boawae. Buktinya, Sukarno tahu ada penari-penari hebat dari Boawae. Sukarno mengundang penari-penari dari Boawae untuk pembukaan Ganefo di Jakarta. Raja Boawae datang untuk memimpin rombongan penari yang berjumlah 10 orang.

Dekat dari Wisma Nusa Bunga terdapat rumah Raja Boawae. Saya berharap rumah ini bisa dijadikan musium peninggalan kerajaan Boawae.

Dari Boawae saya berkunjung ke Kampung Adat Wogo, dekat Mataloko. Perjalanan dari Wisma Nusa Bunga ke Kampung Adat hanya sekitar setengah jam saja. Kampung adat ini tersusun rapi. Rumah-rumah adat masih dihuni oleh komunitasnya. Di tengah-tengah ada lapangan yang cukup luas dan dihiasi oleh rumah lelaki dan rumah perempuan. Rumah lelaki terdiri dari satu tiang besar yang diberi atap.

Batang tersebut berukir indah. Sedangkan rumah perempuan berbentuk bangunan dengan pintu kecil dan juga beratap. Rumah lelaki dan rumah perempuan berhadap-hadapan dimana pintu rumah perempuan terbuka menghadap rumah lelaki. Saya bebas menikmati kampung adat ini. Namun saya tidak mendapatkan penjelasan apapun dari para penghuninya. Saya mencoba untuk bertanya kepada beberapa ibu yang sedang bersantai diberanda rumah. Seorrang nenek menjelaskan bahwa perayaan pesta tahun akan dilakukan pada Bulan Januari. Itu saja penjelasan yang saya dapat dari mereka. Tidak ada penjelasan tentang sejarah kampung adat tersebut.

Saat saya berkunjung, tidak ada turis lain yang sedang berada di Kampung Adat. Hanya saat saya akan pulang, ada tiga turis manca negara yang berkunjung. Saat saya mengamati turis manca tersebut, ternyata nasipnya sama dengan kami. Tidak ada guide yang memberi penjelasan tentang kampung adat tersebut.

Seorang bapak berpakaian adat sedang memainkan alat musik dari bambu. Dia menyodorkan buku tamu yang berisi daftar tamu yang pernah datang dan berapa rupiah mereka menyumbang. Saya amati daftar tersebut. Turis lokal hanya membayar Rp 5000, turis asing menyumbang Rp 50,000 – Rp 200,000.

Flores memang indah. Danau Kelimutu, snorkling dan diving di Pantai Paga, Sunset di Pantai Ende adalah beberapa contoh. Masih banyak lagi tempat-tempat yang bisa bercerita kepada pengunjung selain dari tempat-tempat wisata yang sudah umum tersebut.

Saya membayangkan seandainya saya adalah bagian dari rombongan turis yang datang melalui Bandara Ende, menginap di Wisma Nusa Bunga, menyaksikan tarian Boawae yang terkenal, mengunjungi rumah Raja Boawae dan kemudian menikmati Kampung Adat. Selanjutnya menikmati nasi kacang hitam dengan ikan bakar dari Laut Ende yang biru cemerlang sambil menikmati matahari tenggelam. Hmmmm.

Namun sayang potensi wisata ini tidak tergarap dengan baik. Lihatlah betapa kotornya saluran air di Bandara Ende. Belum lagi pesawat yang tidak menentu jadwal keberangkatannya sehingga sulit untuk bisa mendapat koneksi ke Denpasar, Surabaya atau Jakarta.

Pada kunjungan ini saya juga sempat bertamu ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) milik Gereja Katholik. SMK ini dulunya adalah Sekolah Pertanian yang awalnya dibuka oleh seorang Belanda. Kepala Sekolah menjelaskan kepada saya bahwa SMK ini telah berjasa besar bagi pertanian NTT, khususnya Flores. ”Hampir semua penyuluh pertanian di Flores, orang dinas, bahkan beberapa orang dinas di Kupang (propinsi) adalah alumni sekolah ini.” Namun sayang saat ini kontribusi SMK ini menjadi hanya semenjana.

Sejak menjadi SMK, sekolah ini terputus hubungannya dengan Kementerian Pertanian. Sekarang sekolah pertanian ini berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional yang sama sekali tidak mengerti soal pertanian. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional yang sama sekali tidak menyentuh kebutuhan lokal. Flores adalah pulau yang menghasilkan kopra, kakao dan kemiri. Hampir semua penduduk Flores ekonominya bergantung atau setidaknya bersinggungan dengan tiga komoditas di atas. Namun sayang, SMK ini tidak ada matapelajaran tentang kelapa, kakao dan kemiri.

Maka kita bisa maklum, tetapi memendam kemarahan, jika ada orang-orang Flores yang gampang tertipu dibidang pertanian. Baru-baru ini ada orang yang menjual jamur yang katanya bisa menghasilkan gaharu. Jamur ini bisa disuntikkan ke tanaman apa saja dan akan menghasilkan gaharu. Banyak orang Flores yang begitu saja percaya dan membeli jamur tersebut dengan harapan akan mendapatkan gaharu yang harganya sangat mahal. Sayangnya yang mereka dapatkan adalah pohon kemiri besar yang mati meranggas yang hanya menghasilkan kayu lapuk dan bukan gaharu.

Di perjalanan pulang, ketika saya melewati Ebu Lobo, mendung sedang menghadang. Tak bisa kupandang kegagahan Ebu Lobo. Ketika mendung sedikit tersingkap, kusaksikan sebutir airmata di puncak Ebu Lobo. Sedih.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

52 Comments to "Sebutir Airmata Ebu Lobo"

  1. Anastasia Yuliantari  1 September, 2012 at 14:31

    Untung saya bersama Pater Paskalis saat mengunjunginya, walau tak lengkap paling tidak saya bisa mendapatkan teman bercakap untuk menanyakan satu dua hal tentang kampung Wogo yang sunyi senyap di pagi hari Minggu, dan tak ada yang menyodorkan buku catatan untuk membayar sumbangan. Barangkali mereka sungkan pada pastor yang kebetulan sering melayani mereka.

  2. Handoko Widagdo  7 November, 2011 at 07:08

    Sami-sami Mas Warno. Salam untuk keluarga di Sidoarjo.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.