Ifan & Lomba Komputer – Sebuah Pelajaran Bagi Diri

Yeni Suryasusanti

 

Beberapa hari yang lalu Ifan bertanya, “Bun, punya flash disk nggak? Punya Ifan yang dulu hilang…”

“Bunda nggak pakai flash disk Bang, adanya pocket harddisk. Kenapa?”

“Katanya Ifan diikutkan lomba komputer, buat Power Point Presentation.”

“Nanti Bunda tanya Ayah ya…”

Hari Jumat, 21 Oktober 2011, Ifan menghubungi saya di HP.

“Bun, jangan lupa beli flash disk ya… Lombanya jadi besok…”

“Ha? Kog edaran lombanya belom sampai ke Bunda? Bunda besok ada acara NCC, Bang…” sahut saya agak panik, karena besok sudah terlanjur ada acara sedangkan suami saya sedang di luar kota.

“Baru hari ini dibagiinnya… Nggak apa-apa kog Bun, berangkatnya bareng-bareng pakai mobil sekolah…” kata Ifan santai.

“Ya udah, Abang buat dulu aja di komputer dan di’save di hard disk ya, nanti malam baru dipindahkan ke flash disk.”

Pulang kantor, saya mampir ke Gramedia untuk membeli flash disk, dan baru tiba di rumah hampir jam setengah sembilan.

Sampai di rumah, saya melihat Ifan sedang santai duduk di depan TV.

“Udah dibuat materi Power Point-nya?” tanya saya.

“Belum Bun, mouse-nya nggak ada…” jawab Ifan santai.

“Lho, paling juga ketarik jatuh… Udah di lihat di dekat CPU?”

“Belum, takut kesetrum.”

“Lah, terus dari siang Abang ngapain aja?”

“Baca PLBJ kelas 4.”

“PLBJ kelas 4? Ngapain? Harusnya Abang  minta tolong mbak Yanti kalo takut kesetrum, atau telepon Bunda kan juga bisa… Nanti Bunda yang ngomong sama mbak Yanti…” kening saya mulai berkerut membayangkan waktu yang sudah terbuang, sedangkan seharusnya materi lomba itu tinggal di pindahkan saja, dan Ifan bisa segera tidur agar besok pagi bangun dengan segar.

“Materi lombanya kan tentang Lingkungan, Ifan ambil materi tentang “Air Bersih” dari buku PLBJ kelas 4, Bun…”

Saya pun akhirnya terdiam. Meskipun saya tetap berpikir akan lebih mudah membaca materi sekilas dan langsung membuat materi presentasi berdasarkan pointers yang diambil, baru kemudian mempelajari secara detail point-point yang akan dipresentasikan.

Saya membiarkan Ifan membuat sendiri semua materinya, hanya 5 halaman saja ternyata, itu pun termasuk halaman Judul.

Sejak usia 3 tahun Ifan memang sudah terlihat sangat menyenangi komputer. Namun demikian, tetap saja saya cukup terpesona dengan lancarnya Ifan membuat materi, dan lancarnya Ifan memilih efek yang diinginkannya untuk pemunculan presentasi itu. Hanya sekitar setengah jam Ifan sudah selesai.

Meskipun saya mengetahui bahwa materi Power Point Presentation memang termasuk kurikulum kelas 5 di SD Bhakti (Ifan sekarang duduk di kelas 5), tapi saya tetap saja takjub – Wow, demikian seru hati saya – karena saya sendiri baru belajar membuat Power Point Presentation secara otodidak di tahun 2002, ketika saya harus menyampaikan training di kantor :D

Saya membaca Surat Edaran dari sekolah. Lomba tersebut diadakan di SDK Samaria Tomang, pada tanggal 22 Oktober 2011, biaya Rp 50.000,- per peserta (biaya di tanggung oleh SD Bhakti), mengenakan celana panjang hitam dan kaos seragam Computer Club, dan berangkat bersama dari sekolah pada pukul 07.00 WIB dengan mobil sekolah. Lomba baru akan selesai sekitar jam 15.00 WIB.

Duh, sedangkan acara NCC di Gramedia Melawai berlangsung pada pukul 14.00 – 16.00 WIB.

Siang harinya, saya menghubungi Guru Pendamping ke HP yang dicantumkan pada Surat Edaran. Sang Guru dengan berbisik meminta saya menghubungi sekitar 15 menit lagi karena saat itu tepat Ifan sedang presentasi, suaranya samar-samar terdengar di latar.

Saya sempat tertegun dan berkata dalam hati, “Oh, ternyata di presentasikan langsung juga?”

Sempat ada rasa bersalah tidak bertanya secara detail mengenai lomba ini karena sempitnya waktu yang diberikan untuk mempersiapkannya :(

15 menit kemudian saya menelepon kembali Guru Pendampingnya, sekali lagi dengan sedikit perasaan bersalah saya menyampaikan bahwa saya tidak bisa menjemput Ifan di sekolah sedangkan ayahnya sedang di luar kota. Alhamdulillah, Ibu Guru berkata biar nanti Ifan diantar supir sekolah sekalian pulang nanti.

Sekitar jam tiga sore, Ifan menghubungi HP saya. Ketika itu saya masih di tengah Acara NCC di Gramedia Melawai.

“Bun, Ifan dapat juara Harapan 1 ! Tapi pialanya baru akan dibagikan nanti tanggal 19 November…” lapornya.

“Wahhh… Selamat ya Bang… Nanti kalo Bunda udah di rumah Abang cerita lengkapnya ya…”

Kemudian saya segera mengirimkan sms ke suami, Papa dan Ibu saya, seperti biasa jika Ifan ikut lomba, apa pun hasilnya :)

Malamnya Ifan bercerita tentang lombanya. Juara 1, 2, 3 dan Harapan 2 jatuh ke sekolah lain. Ifan mendapat juara Harapan 1, dan temannya Alix mendapat juara Harapan 3.

Karena dari dulu saya tidak pernah menuntut Ifan menjadi Juara di setiap kompetisi, Ifan bercerita dengan bersemangat meskipun hanya mendapatkan Juara Harapan 1 :)

Ketika saya bertanya tentang cara Ifan menyampaikan presentasi, Ifan berkata ada materi tentang Air Bersih yang tidak Ifan masukkan di materi Power Point, namun Ifan jelaskan secara langsung.

“Yang tentang apa, Bang?” tanya saya cukup takjub.

“Salah satunya tentang Kaporit, Bun,” kata Ifan dengan mata berbinar-binar.

Saya meminta maaf tidak bisa menghadiri lombanya, memeluk Ifan, tidak bisa lagi berkata-kata.

Masih terselip sekelumit rasa berdosa karena sempat merasa Ifan kurang tepat karena membaca terlebih dahulu dan tidak membuat materi dengan segera, dan merasa “cara saya lebih baik” – seharusnya membuat materi dulu baru melatih presentasi – meskipun Alhamdulillah hal itu hanya saya ucapkan dalam hati.

Malam itu saya kembali belajar, bahwa saya tidak boleh memaksakan metode saya pada siapa pun. Saya harus bisa membiarkan orang lain – termasuk putra saya sendiri – memilih metode yang dirasa paling tepat bagi dirinya. Dan saya pun akhirnya menyadari bahwa Ifan bisa dengan cepat membuat materi tadi malam justru karena Ifan sudah paham apa yang akan di presentasikannya…

Ya Allah, sungguh tidak terbayang oleh saya, Ifan yang dulu sempat mengalami keterlambatan bicara sehingga sempat selama beberapa waktu mengikuti terapi wicara, bisa menyampaikan presentasi di depan publik pada usia yang terbilang sangat muda.

Alhamdulillah ya Allah…

 

Jakarta, 24 Oktober 2011

Yeni Suryasusanti

 

16 Comments to "Ifan & Lomba Komputer – Sebuah Pelajaran Bagi Diri"

  1. nevergiveupyo  6 November, 2011 at 19:21

    asyiknya ngikuti serial ini.. pelajaran terus…
    semoga saya bisa selalu inget artikel ini…

  2. Mawar09  4 November, 2011 at 23:28

    Yeni: anakmu cerdas ya!! Salam

  3. Dewi Aichi  2 November, 2011 at 20:31

    Yeni, bagus ya…dan suka salut dengan keberanian anak-anak yang mau berbicara di depan publik…yang aku akui sendiri, bahwa aku tak mampu melakukan itu. Minggu lalu juga ada tugas dari sekolah anakku, setiap anak diberi tugas, membuat materi sendiri, tapi dilarang memakai komputer, harus tulis tangan, dan apa yang di tulis, ide anak sendiri tentunya, harus dipresentasikan di depan semua undangan.
    Untungnya, aku selalu menghadiri setiap undangan dari sekolah, tak pernah sekalipun absen, dan aku berhasil merekam saat anakku tampil di depan umum, hanya saja hasilnya kurang bagus, dari durasi 4 menit, hanya 2 menit terakhir yang jelas.
    Tapi tetap kagum dengan anak-anak yang mau tampil di depan umum..selamat untuk keberanian Ifan…

  4. Yeni Suryasusanti  2 November, 2011 at 18:09

    @ Linda : Yup, saya belajar setiap hari dari setiap kejadian Makasih ucapan selamatnya…
    @ Oom DJ : makasih atas ucapan selamat dan doanya oom, amin….

  5. Dj.  2 November, 2011 at 04:14

    Selamat untuk Ifan….!!
    Semoga semua usahanya akan selalu berhhasil .

  6. Linda Cheang  1 November, 2011 at 23:02

    “saya tidak boleh memaksakan metode saya pada siapa pun. Saya harus bisa membiarkan orang lain – termasuk putra saya sendiri ”

    yah, para ortu suka nggak sadar, karena merasa metodenya paling baik buat anaknya, padahal belum tentu bikin si anak jadi nyaman. jaman sekarang udah enggak laku lagi cara begitu. yang mau jadi orang tua berikutnya semoga tidak mengikuti cara begini…

    selamat buat Ifan.

  7. Yeni Suryasusanti  1 November, 2011 at 15:22

    @ Alexa : makasih ya
    @ Mas Hand & JC : iya, sudut pandang anak2 masih “bebas” dari polusi paradigma mungkin ya…

  8. J C  1 November, 2011 at 11:52

    Yeni, pak Hand, bener sekali, lebih sering logika anak berpikir melampaui orang dewasa. Orang-orang dewasa terbiasa berpikir terstruktur “supposed like this” atau “supposed like that”, padahal belum tentu benar. Sering justru anak-anak kita jalan pemikirannya lebih abstrak dan mendahului jalan pemikiran kita…

  9. Handoko Widagdo  1 November, 2011 at 10:40

    Yeni, selamat buat Ifan. Saya punya pengalaman menarik tentang lomba. Saat itu anak ragil saya masih di TK kecil dan diikutkan lomba menggambar (dia memang pintar menggambar) Saat lomba sedang berlangsung, anak saya mendapat ‘arahan’ dari guru TK-nya supaya mengganti warna langit dengan biru dan bukan hitam. Anak saya langsung marah, menangis dan tidak mau melanjutkan. Hal ini mengejutkan semua peserta dan panitia. Saya segera saja mengambilnya dari tempat lomba. Setelah tenang saya tanya mengapa dia mengamuk. Dia menjawab: ‘Lha itu bu guru salah sih…tapi memaksa… kan kolamnya tidak ada air…kasihan kodoknya…maksud saya saya mau gambar langitnya mendung mau hujan supaya kolamnya terisi air. Kalau langitnya biru gak ada hujan…’ Itulah sebabnya dia mogol dan tidak mau melanjutkan menggambar.

    Dari peristiwa ini saya belajar bahwa anak kecil punya logika dan kemapuan pikir yang kadang tidak kita hargai.

  10. lani  1 November, 2011 at 08:11

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.