Aku Terpikat Gadis Gurun

Ida Cholisa

 

Tiba-tiba saja rindu yang menggunung itu berguguran. Satu demi satu, sedikit demi sedikit. Hingga tak berbekas sama sekali. Rindu yang kujaga sepanjang waktu. Rindu yang nantinya akan membawaku kembali pada perempuan ayu itu.

Ia melepasku dua tahun lalu. Keinginanku untuk berkelana ke negeri gurun awalnya tak mendapat restu. Bukan hanya kekasihku, semua keluargaku pun menentangku.

“Apa yang kau cari, Imam? Padang pasir yang panas sungguh tak akan membuatku betah tinggal di sana,” demikian kata ibuku.

“Biarkan saja, Bu. Anak keras kepala itu biar merasakan kerasnya kehidupan di sana. Kelak jika ia sengsara di sana, hatinya pasti memintanya untuk kembali ke sini. Saat itulah ia baru menyadari bahwa negeri sendiri sungguh tak tertandingi.”

Aku hanya diam waktu itu. Tak membantah sedikit pun. Bagiku semua kalimat yang masuk telinga kananku akan keluar begitu saja melalui telinga kiriku. Tak ada yang bisa menghalangi niat besarku. Ayah ibuku, saudara-saudaraku, pun kekasihku.

“Mas, urungkan saja niatmu itu. Bukankah tak lama lagi kau akan menyuntingku? Aku khawatir kau tak kembali, Mas…” kekasihku, Widya, berusaha keras mencegah kepergianku.

“Jangan khawatirkan aku, Wid. Untuk sepasang cincin yang telah kita lingkarkan di jari kita masing-masing, aku akan memegang teguh ikatan cinta kita, hingga takdir membawaku kembali ke sini,” kataku mantap.

Widya terdiam. Ia tak menatapku, tetapi membuang pandangannya jauh ke depan. Kutangkap bias resah pada mata lembutnya.

“Percaya padaku, Widya. Tak kan ada pengkhianatan untuk cinta seorang  gadis yang sangat kupuja. Besok aku berangkat, kuharap kiriman doamu setiap saat.”

Gadis itu tak menjawab kataku, dan pelukan terakhirnya saat  kutinggalkan tanah Indonesia cukuplah sebagai restu atas kepergianku…

***

Telepon dan pesan singkat Widya tak pernah berhenti mendatangiku. Meski cinta terpenggal jarak nan jauh, kami tak pernah kehilangan kesempatan untuk melepas rindu yang begitu menggebu. Widya, gadis ayu yang tinggal satu kota denganku, ibarat sekuntum mawar yang sangat jelita. Ia gadis pendiam. tak banyak bicara. Bibir lembutnya lebih sering menyunggingkan senyum, ketimbang mengucap banyak kata.

Tiga bulan sudah aku berada di negeri gurun. Yaman, satu-satunya negara republik di jazirah Arab ini membuatku berdecak kagum. Bukan karena apa, melainkan kecantikan seorang gadis yang kukenal di area kampus. Nama gadis berhidung mancung dan berkulit bersih itu Hadija. Ia kuliah di universitas Al Ahgaff di kota Mukalla, kota di mana aku tinggal sekarang ini. Wajah bening Hadija samar-samar membuat hatiku berpaling. Serasa ada kabut yang menutupi wajah ayu Widya, maka seiring makin sering bertemunya aku dengan Hadija, hatiku mulai terserang virus asmara. Ya, diam-diam aku terpikat pada gadis gurun bermata bulat itu!

Dari Hadija aku tahu banyak tentang negeri Yaman. Satu yang membuatku gembira, gadis gurun nan jelita itu fasih berbahasa Indonesia.

“Aku punya banyak saudara yang tinggal di Indonesia. Kami sering berkomunikasi melalui bahasa Indonesia. Itulah mengapa aku mengerti bahasa negaramu,” katanya.

“Oh, ya? Di mana saudaramu tinggal?” tanyaku berbinar.

“Mereka tinggal di banyak tempat. Aku sering berkunjung ke negaramu, tapi dulu, waktu aku masih kecil. Suatu saat aku ingin berkunjung kembeli ke negaramu yang indah itu,” katanya pelan.

“Pun jika kau mau, aku akan membawamu tinggal lama di negeriku,” kataku sedikit bercanda.

Ia tertawa.Tawa yang membuat hatiku semakin berdebar oleh genderang cinta…

***

Widya masih sering menghubungiku. Tapi entah mengapa hatiku tak seperti dulu. Kehadiran Hadija, barangkalli itu sebabnya. Setiap kucoba menghadirkan bayang wajah Widya, selalu yang muncul dominan adalah wajah cantik Hadija.  Jika dahulu aku mengagumi mata lembut Widya, maka kini aku mulai menyukai mata lembut Hadija. Jika dahulu aku tergoda oleh bibir lembut Hadija, maka kini aku terpanah bibir merekah Hadija. Dan jika dahulu aku jatuh terpukau oleh diamnya Widya, maka kini aku terpesona oleh celoteh riang Hadija. Pendeknya, perbedaan fisik seratus delapan puluh derajat antara Widya dan Hadija membuat hatiku berpaling pada gadis gurun yang ranum dan jelita.

“Sepertinya Mas Imam mulai berubah,” Widya mengirim pesan melalui chat box.

Jujur saja, aku mulai jarang menyapanya. Membalas setiap pesannya pun setengah hati. Pesan-pesan Widya membanjiri handphone-ku. Pesan di inbox pun tak terhitung jumlahnya. Belum lagi misscall di hapeku. Ah, ingin kukatakan bahwa aku tak lagi mencintai gadis itu. Tapi aku tak memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya.

“Kau terpikat gadis padang pasir, Mas?” tanya Widya.

Gamang menyelimutiku. Ah, mesti kujawab bagaimana pertanyaan gadis itu?

“Kapan Mas Imam pulang? Oranng tuaku sering menanyakanmu,” kembali Widya mengirim pesan.

“Aku masih sibuk, Wid. Nantilah kalau senggang kusempatkan pulang,” balasku.

“Sampai kapan aku mesti menunggu? Mas Imam di sini bekerja atau apa?” tanyanya.

“Aku berkelana, Widya. Aku terisnpirasi buku “The Alchemist”-nya Paulo Coelho. Seorang anak gembala yang berhasil menemukan harta karun setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh melewati ribuan mil padang pasir,” jawabku.

“Mas mau mencari harta karun? Harta karun apa? Jangan mengada-ada, Mas! Sebal aku!” kalimat Widya mulai meninggi.

“Aku telah menemukan harta karun itu, Widya,” balasku.

“Apa? Jangan bercanda kau, Mas. Aku yakin kau telah bermain dengan wanita lain. Oke, jika kau berlaku demikian, aku tak akan menghubungimu lagi.”

Aku diam, urung membalas kalimatnya. Widya yang lembut dan pendiam ternyata mampu mengeluarkan ancaman. Sejenak aku teringat janjiku sebelum berpamitan. Teringat keluarga dan kedua orang tuanya yang begitu baik kepadaku, dan teringat pada kedua orang tuaku yang begitu mengharapkannya untuk menjadi wanita pendampingku. Kehadiran Hadija, sungguh membutakan kedua mata serta perasaanku.

Aku tahu Widya kecewa dan marah kepadaku. Tapi demi Hadija aku tak peduli soal itu. Sebelum janur kuning melengkung, aku bebas menentukan pilihanku.

“Kak Imam, bulan depan saudaraku melangsungkan pernikahan,” kata Hadija saat kami menyusuri jalanan kecil di kota Mukalla.

“Saudara yang mana?” tanyaku.

“Yang di negerimu. Aku akan kembali mengunjungi negerimu setelah belasan tahun aku tak menginjaknya,” katanya dengan riang.

“Kau mau ke negaraku?” tanyaku kaget.

“Iya, dan tentu saja kau turut serta, bukan? Tak sabar aku untuk kau perkenalkan dengan orang tua dan keluarga besarmu.”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Ke Indonesia? Berkenalan dengan orang tua dan keluargaku? Oh aku tak sanggup. Bagaimana dengan Widya? Sanggupkah aku menghadapi kemarahan dan rasa kecewanya? Aku takut, aku sungguh tak berani melakukannya.

“Banyak kerabatku yang menikah dengan pria Indonesia. Itulah sebabnya aku merasa beruntung mengenal dirimu. Seperti banyak yang dilakukan para kerabatku, aku ingin suatu saat kau meminang dan menikahiku. Aku ingin tinggal di negerimu. Kudengar negerimu elok dan kaya raya, penuh lembah, gunung, sungai dan lautan. Sementara di sini hanya padang pasir yang terhampar…”

Hadija berhenti bicara. Mata bulatnya menelanjangi wajahku.

“Kenapa Hadija?” tanyaku.

“Hm, tak apa-apa. Aku…

 

 

17 Comments to "Aku Terpikat Gadis Gurun"

  1. Mawar09  4 November, 2011 at 23:54

    Pria yang tidak siap mental menghadapi godaan, buntutnya bisa runyam yaitu yang sudah ada dicampakkan yang baru tidak bisa diraih!!

  2. matahari  3 November, 2011 at 03:40

    Ceritanya gantung….atau ceritanya belum selesai udh keburu pencet ENTER ? Anyway ceritanya bagus…hanya endingnya gantung…Kalo saya ber andai2 cerita ini sebuah sinetron TV di Indonesia…maka kalimat gantung si Hadija …bisa ditebak akan seperti ini : “Hm tak apa apa….Aku……aku hamil mas..”..Untunglah ini bukan sinetron TV jadi bisa aja lanjutan nya “Hm tak apa apa….Aku …..aku…..akan pergi sendirian ke negri mu”….

  3. Dj.  3 November, 2011 at 03:24

    Hasil jepretan yang indah….
    Hanya sayang, kalau Dj. artikan….
    Hidup sebatang kara ditengah padang pasir yabf sangat gersang dan kejam….

    Atau….

    Perjuangan hidup yang berat ditengah-tengah kegersangan, tapi tetap bertahaan sampai akhir…

    Salam,

  4. Linda Cheang  2 November, 2011 at 22:10

    cinta yang tepat di kesempatna yang salah? aeh, aeh.. mudah sekali berjanji, mudah sekali ingkar janji… enggak bisa dipercaya, hehehe..

  5. Meitasari S  2 November, 2011 at 21:09

    elnino, tx ya sudah memanggilku gadis (berbuntut 4) ha ha ha, sudrun e pek en. Ora kanggo aku …

  6. matahari  2 November, 2011 at 19:40

    Fotonya keren bangettttttt…saya pernah liat di discovery pemandangan spt ini..somewhere in africa…..kalau gak salah Nigeria (???)…gunung pasir nya itu…tinggi dan org bisa meluncur kebawah….awesome

  7. Dewi Aichi  2 November, 2011 at 18:36

    Bu…Idaaaaaaaaa…..no problem bu hi hi…kepriben kie….aku ngga mengamati tanda bintang di akhir tulisan…gpp….sudah terlanjur terpikat nih…..kita berdua juga terpikat satu pria…yaitu Andy F Noya ha ha ha……aku tau bu Ida sekarang sudah berada di tempat yang sama, menghadiri undangan di acara Kick Andy…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.