Anak Alang-alang

Cinde Laras

 

Anak-anak sekolah SDN Sukapura berlarian di sepanjang jalan, hari ini sekolah pulang lebih pagi. Ada rapat dadakan yang harus dihadiri semua guru, jadi terpaksa hari ini anak-anak hanya menerima tiga jam pelajaran saja. Among berlari di belakang Sambi, larinya kencang seperti angin. Tak seberapa lama, Sambi pun tersusul olehnya. Among memang pelari tercepat di kelasnya, begitu kencang larinya sampai-sampai dia sering diutus sekolah untuk ikut lomba lari antar kecamatan.

Among berpeluh, ransel di punggungnya membawa setidaknya limabelas buku – lima buku pegangan, lima buku PR, dan lima buku catatan. Begitu setiap hari sekolah, hanya berhenti ketika sekolah libur di setiap hari Minggu. Among tak pernah mengeluh soal beban buku di dalam ranselnya, dan seperti anak-anak lain yang harus patuh pada perintah guru, Among tak pernah lupa membawa buku.

Hari ini Among ingin sekali cepat-cepat sampai di rumah, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan Rimbang, sapi betina miliknya yang sedang hamil tua. Kata ayah Among, Rimbang diinseminasi buatan oleh Pak Penyuluh. Entah apa artinya inseminasi buatan, Among tak paham. Yang jelas sapinya sekarang sudah bunting, dan kian hari perutnya kian membesar saja. Setelah makan siang, Among biasa membawa Rimbang pergi ke padang alang-alang, kira-kira 30 menit perjalanan dari rumahnya. Ladang alang-alang itu ada di batas desa. Disana Rimbang biasa dibiarkannya mencari makan, mengunyah rumput hijau dengan moncongnya yang lebar. Rimbang tak pernah bosan makan rumput di padang itu, terlebih lagi disana juga banyak terdapat tanaman singkong liar yang tumbuh di antara rerumputan.

Among pernah mendengar bila sekarung rumput segar bisa dijual seharga 3000 rupiah di kota. Biasanya rumput itu dijual ke para tukang sado untuk memberi makan kuda mereka. Among sempat merenung, uang 3000 rupiah itu sama dengan tiga hari uang sakunya. Kalau satu kuda habis 2 karung rumput, itu artinya sama besarnya dengan jumlah 6 hari uang sakunya. Ckckckckck…..

Among tak habis pikir mengapa kusir sado di kota tak mencari rumput sendiri saja, atau bisa saja menyuruh anggota keluarganya untuk mencari rumput pakan kuda mereka. Enamribu rupiah…, sayang betul bila untuk membeli dua karung rumput saja. Kalau saja Among boleh memakai uang saku 6000 rupiah per hari, bisa-bisa dia berpesta setiap hari dengan memborong jajanan di warung sekolah. Lontong, gorengan, es lilin, teh manis, bermacam keripik dan kue basah, wuahh…, bakalan kenyang tanpa harus makan siang bila dia bisa jajan dengan uang sebanyak itu saban harinya.

Rimbang melenguh, sepertinya dia kelelahan. Among membiarkan sapi betina itu rebah beristirahat di atas rumput hijau yang menghampar, mulut sapi itu masih saja mengunyah. Among mencari tempat berteduh, kebetulan ada sebuah pohon mangga yang tumbuh tak jauh dari padang rumput itu. Pohon mangga itu sedang tidak berbuah banyak. Biasanya bila sedang musim berbuah, pohon itu akan dipenuhi mangga udang berukuran kecil yang menggantung di setiap ujung dahannya seperti hiasan.

Saat ini, hanya ujung-ujung dahan tertinggi saja yang masih ada buahnya, itu pun hanya sedikit. Untungnya Among tak takut memanjat, jadi dia bisa juga mengambil beberapa buah yang mengkal.  Kalau sedang musim buah mangga, Among sering membidiknya dengan ketapel. Buah yang masih hijau pun dia sasar, lumayan untuk menyegarkan mulut. Tak ada yang marah bila buah mangga udang itu diambil orang, pohon itu bukan milik siapa-siapa. Jadi Among dan anak-anak lainnya yang juga sering menggembalakan sapi atau kambing mereka di ladang rumput itu tak perlu takut akan diteriaki maling. Satu pohon untuk semua, begitu saja.

Kadang kala, Among ingin juga merasakan seperti apa rasanya buah impor. Kata Pak Karwi, walikelasnya, negeri ini sudah dijajah dengan buah impor oleh negara lain. Pak Karwi bilang, buah impor itu warnanya bagus-bagus, seperti gambar lukisan yang ada di kalender sekolah. Among jadi membandingkannya dengan buah mangga mengkal yang baru saja didapatnya dari pohon di ladang alang-alang itu. Buah mangga itu kulitnya hijau, meski daging buahnya sudah agak kuning. Rasanya asam, manis, segar.

Pas sekali kalau dimakan dengan bumbu sedikit garam dan cabai. Among sendiri biasa membawa cabai dan garam tumbuk dalam bungkus daun, sekedar persiapan kalau dia mendapat mangga muda lagi dari ladang. Lalu bagaimana rasa mangga impor ya ?, Among penasaran. Kalau kata Pak Karwi, rasa jeruk impor itu manis seperti gula pasir, tidak asam seperti jeruk yang ditanam di sekitar rumah Among yang tumbuh sejak jaman nenek buyutnya masih ada.

Hari sudah beranjak sore ketika Among memutuskan untuk segera pulang. Dia sudah lumayan kenyang dengan mangga mengkal. Dan di bajunya masih ada dua buah mangga mengkal lagi yang bisa dibawanya pulang untuk oleh-oleh. Among tahu, ibunya suka sekali makan mangga mengkal. Maka setiap musim mangga tak pernah lupa Among memetikkan beberapa untuk ibunya. Among menyelipkan buku pegangan yang tadi sempat dibawanya. Membaca buku pegangan di ladang alang-alang ini lebih mengasyikkan dari pada belajar di rumah saat malam karena lampu di rumah tak terlalu terang. Saat Rimbang sibuk makan rumput, Among bisa membaca setidaknya sepuluh halaman dan mengerjakan setidaknya dua jenis PR dari Pak Karwi.

“Banyak-banyaklah berlatih berhitung, Among…. Semakin kau sering berlatih menghitung, semakin kau paham bagaimana menyelesaikan soal. Kalau perlu, buatlah soal sendiri dengan rumus yang sudah diajarkan Pak Guru…”, kata Pak Karwi yang langsung diamini olehnya.

Among tahu, Sudana punya buku soal lengkap dengan segala macam pertanyaan. Anak Pak Kades itu selalu pamer kalau dia sudah mengerjakan banyak soal matematika, IPA, IPS, dan mata pelajaran lainnya. Katanya, buku semacam itu dibeli di kota. Mana ada orang berjualan buku soal di desa ini ? Kalau buku catatan banyak. Tapi Sudana itu agak pelit, hanya teman-teman tertentu saja yang diperbolehkannya melihat buku soal. Among tidak pernah diperbolehklan melihat. Untungnya, Pak Karwi masih memberinya nilai bagus. Meski nilainya masih berada di bawah nilai Sudana.

Hhemmoooo…….

Terdengar suara Rimbang melenguh panjang. Among menoleh ke arahnya. Dia baru saja akan mengajak Rimbang pulang ketika dilihatnya sapi betina itu susah berdiri. Among melihat kaki belakang sapi itu gemetaran.

“Rimbang…. Kau tak apa-apa kan ?”, tanya Among sambil mengusap kepala sapinya. Rimbang lalu berusaha keras berdiri, tapi kaki belakangnya masih juga gemetaran.

Hheemmmooooo…….

Suara Rimbang terdengar aneh, dan dia tampak sangat gelisah. Among menarik tali yang terikat di leher Rimbang, lalu berusaha mengajaknya pergi. Tapi Rimbang menolak, dia tetap bertahan di tempatnya berdiri.

Hheemmmoooooo………

Hhheeemmmooooo…….

“Ayolah, Rimbang….. Hari sudah hampir gelap. Sebentar lagi mau maghrib. Ayo kita pulang…”, bujuk Among bingung. Tapi sapi betina itu terus-menerus melenguh, dan kian lama lenguhannya kian memilukan. Seperti sedang menangis….

Among memandangi Rimbang dengan seksama, mata sapinya berlinang-linang, dan kedua kaki belakangnya makin gemetaran. Among melihat bagian belakang sapi itu menegang, kakinya bergerak saling berjauhan. Lenguhannya tak kunjung tenang, dan kepala sapi itu kadang mengangguk-angguk tak karuan. Ada apa gerangan?

“Jangan menangis, Rimbang….. Kenapa kau menangis seperti ini ?”, tanya Among cemas tak menentu.

Among tak mengerti mengapa Rimbang melenguh seperti ini. Sapi itu nyata sekali terlihat sedang kesakitan, bunyi lenguhannya menyayat hati. Among makin bingung, melihat sapinya menangis, Among jadi ikut menangis. Lalu peristiwa demi peristiwa terjadi di depan mata Among. Saat Rimbang melenguh hebat dan perutnya makin menegang, saat kemudian sepasang kaki muncul dari bagian belakang Rimbang. Among memekik, darah bercucuran keluar dari bagian belakang sapinya yang sedang kesakitan.

“AAAaaa…..!!!! Apa yang keluar dari badanmu itu, Rimbang ? Huhuhu….. Kau berdarah, Rimbang…”, teriak Among sesenggukan.

Rimbang mengejan kian kencang, sepasang kaki yang terjulur keluar dari tubuhnya itu makin lama makin panjang. Lalu kian lama kian terlihat bentuk utuh yang keluar dari bagian itu, badan seekor anak sapi ! Rimbang masih saja melenguh-lenguh kesakitan. Dia menangis, Among pun menangis bersamanya. Di depan Among kini tergeletak sesosok bayi sapi yang masih lemah. Nafasnya satu-satu…. Dengan menangis, Among membuka baju yang dipakainya untuk mengusap anak sapi itu agar tidak basah oleh lendirnya. Sekarang hanya tinggal kaus dalam yang sudah berlubang yang melindungi badan bagian atas Among. Mata anak sapi itu mengerjap-kerjap. Tapi lehernya masih lemah lunglai, dan ke empat kakinya belum mampu berdiri.

“Kau beranak, Rimbang…. Huhuhuhu….. Aku harus bagaimanaaa…? Aku harus bagaimanaaa…? Ayaaah…? Aku takut, Ayah…. Kenapa tidak ada orang disini ? Huhuhu…..”, kalut Among berteriak pada sapinya, pada sekeliling. Tak ada sahutan dari siapapun disana. Rimbang lemas, darah masih juga keluar dari bagian belakang tubuhnya. Tapi kali ini, lenguhannya tak lagi sepilu sebelumnya. Among bersimpuh di sebelah anak sapi yang masih lemah itu. Badannya penuh lendir dan darah induknya.

“Kasihan anakmu, Rimbaang….. Huhuhu….. Bagaimana kalau nanti anakmu mati, Rimbaang…? Huhuhu…… Kenapa kau beranak disini, Rimbaaang…? Huhuhu….”, isak Among tak henti-henti. Tangannya yang kecil sibuk mengusap anak Rimbang yang masih lemah terbaring dengan baju yang tadi dilepasnya.

Hari sudah maghrib, dan tak ada siapa-siapa lagi di ladang alang-alang itu kecuali mereka bertiga. Among yang terus saja berlinangan air mata itu dengan sesenggukan menunggu anak Rimbang yang belum mampu berdiri dengan kakinya. Rimbang sendiri duduk terjatuh di atas rerumputan, badannya agak demam. Among sudah memberinya sekedar air untuk minum dengan batok kelapa yang ditemukannya di sekitar ladang. Rimbang meminumnya dengan lahap, tapi dia masih terlalu lemah untuk diajak pulang.

Di desa, hari sudah hampir isya’ ketika orang-orang mulai gelisah karena mendengar kabar Among belum pulang. Ayah Among mengabarkan itu pada semua orang yang berkumpul di masjid desa. Biasanya Among sudah sampai di rumah sebelum maghrib. Dan saat ini waktunya sudah terlewat banyak. Dengan dipimpin Pak Kades, mereka beramai-ramai mencari Among. Ibu Among menangis mengingatnya, dia takut terjadi apa-apa. Orang-orang mencari Among ke arah ladang alang-alang. Ayah Among tahu anak lelakinya sering ada disana. Apalagi tadi sempat ada beberapa anak yang mengatakan mereka menggembala ternak mereka bersama-sama Among di sana.

Ladang yang gelap tanpa penerangan membuat Among harus berjalan perlahan sambil menuntun anak sapi dan induknya. Keduanya masih lemah, jadi Among tak bisa mengajaknya cepat-cepat. Hujan yang turun rintik-rintik menambah kesulitan mereka saat berjalan. Jalan setapak jadi becek dan licin. Among masih saja sesenggukan, dia takut bukan main. Untuk mencapai rumahnya, mereka semua harus menyeberangi jembatan kayu di atas satu-satunya sungai besar yang ada di desa ini, dan di jembatan itu tak ada penerangan sama sekali. Dengan tertatih-tatih, anak sapi yang masih lekat dengan tali pusarnya itu melangkahkan kakinya. Sebentar-sebentar anak sapi itu berhenti karena lelah, sementara Rimbang melenguh-lenguh membujuknya.

“Kenapa kau beranak saat tidak di kandang, Rimbang ? Huhuhu…. Aku takut, Rimbang… Huhuhu….”, tangis Among sambil terus bergumam. Dalam rintik hujan seperti ini, langit tak berbintang, dan bulan tak juga muncul menggantikan. Among harus memasang matanya tajam-tajam agar dia bisa mengenali jalan. Langkahnya terhenti ketika dari kejauhan dia melihat sebarisan obor berjalan mendekat….

“Amooong!!!”, teriak orang-orang.

“Amooong!!!”, mereka bersahutan.

Among lega bukan kepalang. Dengan tangis, dia berteriak….

“Ayahh!!! Huhuhu….. Aku disini, Ayah !!! Aku disiniii !!!!! Huhuhu…..”, panggil Among sambil melambai-lambaikan tangan. Dia tak tahu apakah ayahnya dan orang-orang itu melihat lambaiannya, tapi dia tak peduli. Dipanggilnya lagi ayahnya dan orang-orang itu agar lebih mendekat. Sampai akhirnya mereka betul-betul bisa melihatnya di seberang jembatan.

“Amooong!!!”, teriak Ayah Among memanggil. Dia berlari menyongsong anak lelakinya di seberang jembatan, dipelukkan anak lelaki berumur 10 tahun itu dengan erat. Tampak dua ekor sapi berbeda ukuran berdiri tak jauh dari anaknya. Dengan obornya, ayah Among menyadari seperti apa peristiwa yang  dilalui anak lelakinya itu. Diusapnya kepala Among dengan bahagia….

“Kau temani Rimbang melahirkan anaknya ?”, tanyanya dengan haru. Among mengangguk dalam tangisnya, dia memeluk ayahnya seakan tak mau kehilangan. Ayahnya balas memeluk, anak sapi itu tampak sehat, dan Rimbang tampak baik-baik saja.

“Mana bajumu ?”, tanya ayah Among.

“Aku… aku memakainya untuk membersihkan anak Rimbang, Ayah…. Kasihan dia…, huhuhu….”, kisah Among berlinang-linang. Ayah Among terharu, matanya membasah. Dipeluknya lagi anak itu lekat-lekat.

“Anak baik…anak baik….. Sekarang kita pulang…. Maaf Ayah tidak tahu kau mengalami ini, Nak…”, kata ayahnya penuh kasih. Digendongnya anak lelaki itu di punggungnya, lalu orang-orang pun membantunya menggiring Rimbang dan anaknya pulang ke rumah.

*

Among sudah tak lagi mengajak Rimbang ke ladang sekarang. Sebagai gantinya, Among mencarikan sekarung – dua karung rumput segar setiap hari untuk sapinya. Anak Rimbang suka sekali menyusu pada induknya. Dan kini sudah mulai lincah berlari. Pengalaman menunggui Rimbang melahirkan itu sungguh meninggalkan kesan yang berharga. Among melihat betapa kesakitan yang diderita Rimbang saat melahirkan, darah yang mengucur keluar dari tubuhnya, dan bagaimana kaki-kaki Rimbang bergetaran menahan sakitnya. Ibunya dulu pasti juga mengalami hal yang sama saat melahirkannya. Ibunya pasti juga kesakitan seperti Rimbang. Itu sebabnya sekarang Among makin sayang dan menghormati ibunya.

“Kapan kau akan membawa anak Rimbang ke ladang ?”, tanya ayah Among.

“Kalau dia sudah kuat, Yah….”, jawab Among riang.

“Kau tidak takut lagi ke sana membawa sapimu ?”, tanya ayahnya lagi. Among menggeleng mantap.

“Tidak, Yah…. Kalau anak Rimbang sudah siap, aku akan mengajaknya bertualang di ladang alang-alang itu biar dia kuat seperti induknya…”, katanya lagi.

“Akan kau beri nama siapa anak sapi itu ?”, tanya ayah Among ingin tahu. Sejenak Among terdiam, dia berpikir keras.

“Hmm….. Aku akan menamainya Salang !”, jawab Among mantap.

“Salang…. Apa artinya ?”, tanya ayah Among. Among tersenyum mendengarnya.

“Artinya Sapi Alang-Alang…”, jawabnya pendek dengan bibir tersungging senyuman.

Ayah Among tersenyum bangga, dirangkulnya anak lelaki itu dengan rasa bahagia.

SELESAI

 

10 Comments to "Anak Alang-alang"

  1. Dj.  5 November, 2011 at 15:39

    @ Oom Dj : Kalau kejadian Oom yang mengalami harus menunggui sapi melahirkan sendirian gimana, Oom ? Kalau saya bakalan semaput duluan kali, hehehehe
    ————————————————————————

    Mbal C.L….. Kalau masa kanak-kanak, Dj. malah tidak ada yang ditakuti ( tidak pernah mengenal kata takut ).
    Tapi setelah tua, malah kebalikan….
    Ada rame-rame, malah menjjahui…..
    Lihat cucu kena pisau berdarah, malah teriak ke istri…
    Malah jjadi pengecut….hahahahahaha…..!!!!
    Salam manis dan selamat menikmati akhir ppekan….

  2. Mawar09  5 November, 2011 at 03:33

    Cinde: terima kasih ya ceritanya, bagus !!

  3. Mpiet  4 November, 2011 at 08:38

    Sukaa! makasih ceritanya yang bagus sekali….

  4. Cindelaras  3 November, 2011 at 19:53

    @ [email protected] : Tengkyu : )

    @ Handoko Widagdo : Cerita di atas sangat mungkin terjadi di keseharian anak-anak gembala di daerah, Pak.

    @ nevergiveupyo : Mosok seh ? Ini khayalan yang kayaknya bisa jadi nyata. Apa jadinya kalau yang melahirkan itu ibunya Among ya ? Jadi mikir……

    @ SU : Ho-oh, pasti tidak mudah. Tapi logika anak-anak memungkinkan mereka melihat segala kesulitan menjadi keindahan. Among juga jadi makin sayang pada ibunya : )

    @ JC : Hehehehe……. (tersipu-sipu) Jadi mau cerita waktu ibuku membantu dukun beranak saat nenek melahirkan adik ibu yang ke sekian. Cuma membantu yang kecil-kecil sih, masak air, mengambil selimut, menyiapkan handuk, dsb.

    @ Oom Dj : Kalau kejadian Oom yang mengalami harus menunggui sapi melahirkan sendirian gimana, Oom ? Kalau saya bakalan semaput duluan kali, hehehehe

  5. Dj.  3 November, 2011 at 03:56

    Mbak C.L….
    Salam Jumpa….
    Terimakasih untuk ceritanya.
    Dj. benar-benar kagum dengan cerita diatas…
    Seoleh Dj. yang menjadi Among….
    Mengingat saat kecil juga sering menggembalakan sapi tetangga. Tapi belum pernah melihat sapi beranak.
    Salam manis dari Mainz

  6. J C  2 November, 2011 at 17:25

    Mbak Cinde…huebuaaaattttt…cerita yang sangat luar biasa…

  7. SU  2 November, 2011 at 16:39

    Memang tidak gampang menjadi gembala itu.

    Ini sapi2nya Among kah?

  8. nevergiveupyo  2 November, 2011 at 10:23

    wuih.. keren betul… hebat…

  9. Handoko Widagdo  2 November, 2011 at 09:58

    Among anak yang hebat. Dia belajar dari alam.

  10. [email protected]  2 November, 2011 at 08:31

    Nomor Satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.