Kota Tua Lijiang

Handoko Widagdo – Solo

 

Ketidak beresan tidak selalu berarti kerugian. Karena perencanaan yang kurang baik, saya tidak mendapatkan tiket pesawat langsung dari Kunming ke Shangrila. ”Tiket habis, ini masih musim liburan. Anda kami bookingkan tiket ke Lijiang dan dari Lijiang kita jalan darat 4 jam ke Shangrila”, demikian teman saya yang mengurus tiket perjalanan menyampaikan.

Awalnya saya marah. Perjalanan lewat Lijiang berarti harus menunda satu hari workshop yang sudah disiapkan jauh-jauh hari. Namun, akhirnya saya mengalah untuk memperpanjang kunjungan saya selama sehari untuk mengganti hari yang hilang karena gagal mendapat tiket.

Dulu saya pernah lewat Lijiang. Namun tak sempat melihat-lihat. Kini, aku pergunakan waktu yang sempit untuk menikmatinya. Saya sampai di Bandara Lijiang jam 7 malam. Namun hari belum gelap benar. Kami segera menuju kota dan mencari penginapan. Harga penginapan murah hanya 50-100 RMB (setara dengan Rp 45.000 – Rp 90.000). Namun jangan tanya kalau ketahuan anda adalah orang asing. Mereka akan pakai harga orang asing yang nilainya 3 kali lipat.

Pagi hari kami pergi mencari sarapan. Aku coba mie ayam ala suku Naxi. Jika di Indonesia banyak mie ayam, di Lijiang kudapati mie ayam khas suku Naxi. Daging ayam direbus di depan penjualnya. Rasanya? Nikmat bana…!

Kota ini sangat ramah bagi para difabel (different ability). Buktinya trotoar dibuat jalur landai bagi pengguna kursi roda. Trotoar juga dibuat nyaman bagi para tunanetra dengan cara diberi dua lajur tegel berbentuk lain sebagai penanda bagi mereka.

Selanjutnya saya sempatkan untuk berkunjung ke kota tua Lijiang. Kota yang didominasi oleh suku Naxi ini mempunyai kota tua. Kota tua yang telah diubah menjadi tempat wisata ini tetap saja indah. Jalan-jalan dari batu, rumah-rumah dengan arsitektur tradisional memberi sajian indah. Lihatlah saluran-saluran airnya yang jernih. Bunga-bunga bermekaran di tepian aliran air. Ikan-ikan koi gembira bermain di antara rumput-rumput air.

Di salah satu sudut kota tua, aku temukan sumur tua dimana Kubilai Khan dan tentaranya minum saat mereka menuju Dali di tahun 1253. Sumur ini dipercaya memberi kekuatan bagi siapa saja yang meminum airnya. Di tepi sumur disediakan mangkuk-mangkuk untuk para pengunjung yang ingin melepas dahaga dengan air dari sumur ini.

Jangan takut kelaparan di Kota Tua. Di salah satu sisinya tersedia berjenis-jenis makanan. Anda bisa mencari yang ringan yang bisa dimakan sambil jalan, atau mencari makanan yang benar-benar mengenyangkan perut.

Dalam perjalanan darat ke Shangrila, saya sempat mampir ke sebuah biara tua. Biara ini telah berumur 700 tahun lebih.

Jadi, nikmatilah ketidak beresan. Maka dikau akan mendapatkan anugerah darinya.

 

Artikel lain tentang Lijiang yang pernah terbit di Baltyra adalah: http://baltyra.com/2009/08/23/kota-tua-li-jiang/ tulisan Mammamia dan Sophie Mou.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

52 Comments to "Kota Tua Lijiang"

  1. Handoko Widagdo  14 November, 2011 at 19:38

    Hennie, kotanya memang sangat nyaman.

    kalau masalah pakai trotoar itu orang China kalah kreatif dari orang Indonesia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.