Matinya Tambak Garam

Ary Hana

 

Pagi itu ladang garam di sepanjang Benowo-Osowilangun nampak sunyi. Mati. Tanahnya pecah-pecah. Merongkah. Tanda lama tak bersua air laut. Di beberapa bagian tergenang air hujan. Pipa-pipa yang biasa menyalurkan air laut dari sumur sekitar pun mangkrak, lama tak diguna. Siwur, kincir angin, maupun rol besar tergeletak begitu saja.

Di sela-sela tambak, menyembul gubuk-gubuk dari anyaman bambu. Gubuk yang reyot dan nyaris runtuh. Lama tak dihuni. Tak ada lagi buruh penggarap garam rakyat yang datang kemari. Padahal biasanya sejak April ladang garam sudah ramai oleh pekerja. Namun kini sungguh sunyi.

“Semoga mereka segera datang. Hujan mungkin penyebabnya,” kata Supar, seorang lelaki, yang menjadi pengawas sekitar 50 ha ladang garam di perbatasan Gresik-Surabaya ini. Hujan salah mangsa atau climate change dituduh sebagai penyebabnya. Namun benarkah demikian?

 

Kerja Rodi Buruh Garam

Di awal 1980-an, sepanjang Surabaya-Gresik-Lamongan tak putus ladang garam rakyat memenuhi kiri kanan jalan. Di masa itu menjadi penggarap garam nampaknya jadi pekerjaan yang menjanjikan. Seiring perkembangan jaman, ladang garam pun berkurang, berganti wajah menjadi areal perumahan, pabrik, wilayah industri, mall dan pertokoan, serta jalan tol.

Kini hanya menyisakan kurang 50 ha ladang garam, di antara pembangunan gedung wah Gelanggang Olah Raga Bung Tomo dan TPA Benowo, tempat pembuangan sampah terakhir yang penuh masalah.

Di masa jayanya, penggarap garam rakyat mampu menghasilkan 50 kg garam per hari per ha ladang yang mereka garap. Bahkan bisa lebih saat kemarau. Sayangnya, garam mereka kerap dibeli sangat murah. Pernah hanya mencapai Rp 4 per kg. Artinya, kerja sehari hanya dihargai Rp 200. Alasannya, kualitas garam rakyat sangat rendah!

Menurut Lembaga Standar Nasional Indonesia (LSNI), paling tidak garam harus memenuhi 13 standar mutu. Semisal kandungan Iodine antara 30-80 ppm, bersih, putih warnanya, tidak berbau, rendah tingkat kelembabannya, tak terkontaminasi logam berat, dan kandungan NaCl harus lebih dari 95 %.

Jika standar di atas tak dipenuhi, garam akan dibeli sangat-amat murah. Pemerintah kemudian lebih suka mengimpor garam dari India dan Australia yang memenuhi standar mutu ketimbang memperbaiki mutu garam rakyat. Pemeo ini akhirnya mematikan garam rakyat.

Padahal, kebutuhan garam Indonesia terus meningkat. Tahun lalu saja kebutuhan garam nasional sebesar 2,86 juta ton. Sedang produksi garam rakyat hanya 24 ribu ton. Sisa kebutuhan beberapa ribu ton dipenuhi PT Garam dan mayoritas dari impor.

Sungguh ironis mengingat Indonesia adalah negara kelautan. Laut sebagai sumber utama garam tersedia melimpah, dimana-mana. Namun tambak garam rakyat, semakin tahun makin menyusut jumlahnya. Misal di tahun 2001 ada 256.000 ha tambak garam rakyat, yang terpusat di sepanjang pantura, cirebon dan Indramanyu, NTB, serta Bali. Kini tak sampai separonya.

Jumlah penggaram di Madura awal tahun 2000-an lebih 100.000, kini tak sampai seribu orang. Banyak penggarap garam di Madura yang memilih menjadi tki, ada pula yang bermigrasi ke Jawa sebagai pemulung dan tukang becak. Alasan mereka sama, menjadi buruh garam tidak menguntungkan, mirip kerja rodi.

Lebih parah lagi, ketika garam rakyat dihargai murah, harga jual garam beryodium buatan pabrik di pasar relatif tinggi. Misal 10 kg garam beryodium dihargai Rp 20.000, sedang satu kg garam petani yang paling baik mutunya  dihargai Rp 800. Umumnya malah malah kurang Rp 500 per kg.

Prof Soetandyo WignyoSoebroto, gurubesar Universitas Airlangga yang pernah meneliti penggaram menyebutkan, ada tiga masalah yang dihadapi  penggaram: cuaca, kejujuran juragan, dan harga garam yang tak stabil. Kenyataannya, harga yang tak stabil yang memicu penggaram hengkang dari pekerjaannya.

Bukan rahasia lagi kalau buruh garam di Benowo adalah penggaram yang tersingkir dari pekerjaannya di Madura. Umumnya mereka berasal dari dusun-dusun miskin sekitar Sumenep, seperti Desa  Kertasada, Merengan, Pinggir Papas, dan Kali Mojo.

Menurut Zaini, seorang penggaram yang sudah lebih dua puluh tahun menekuni kerjanya, sejak dibangun PT Garam di Kalianget, pembuat garam tradisional lokal tersingkir. Terpaksa mereka mencari lahan lain buat bekerja, di antaranya ke Gresik dan Surabaya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juragan pemilik tambak akan meminjami mereka uang antara Rp 75.000-Rp 100.000 per minggu. Begitu panen tiba, upah mereka akan dipotong pinjaman ini. “Dulu saya bisa dapat satu sampai satu setengah juta setelah kerja enam bulan di sini. Duit itu buat modal hidup di desa. Sekarang, dapat sejuta saja susah,” Aku Mat Sanir pahit. Padahal kebutuhan hidup makin membumbung.

Juragan yang baik dan jujur tak hanya memberi pinjaman, namun juga membeli garam mereka sesuai harga. Sayangnya, ada juragan yang membeli garam murah ketika harganya mahal. Ada yang memotong pinjaman plus bunganya. Maka makin melaratlah buruh garam. Bukan uang yang didapat, melainkan hutang.

Kadang juragan juga dihadapkan pada kenyataan pahit, tatkala harga garam jatuh sangat murah. Bingung dia hendak hargai tenaga buruhnya berapa. Garam lalu ditimbun di gudang, menunggu harga membaik.

Soal harga, pemerintah sangat punya andil. Benar kalau ada yang bilang penggaram rakyat di Indonesia dimiskinkan oleh sistem, sistem yang dibuat oleh pemerintah. Bukannya dilindungi kehidupannya, malah dilindas tuntas hingga mati lemas.

Belakangan, tren permintaan garam rakyat –bukan pabrik—juga didorong maraknya industri kosmetik. Garam rakyat menjadi bahan pembuat scrub, lulur mandi yang laku dijual mahal. Bayangkan saja, scrub berukuran 200 gr laku dijual antara Rp. 20.000-Rp50.000. Padahal bahan utamanya, garam rakyat, hanya seharga maksimal Rp 800 per kilo. Belakangan, garam rakyat asal Bali malah diekspor ke Amerika, dan di negeri paman sam ini dijual sekitar 10 dolar per 300 gram. Nah, andai penggaram dikaryakan buat industri lulur ini, mungkin mereka mau rajin menggaram lagi. Ahaha..!

 

 

20 Comments to "Matinya Tambak Garam"

  1. Yunisa Anugrahwati  22 December, 2013 at 17:57

    hmmm semoga cepat ada inovasi baru untuk memperbaiki semua ini
    anugrah.student.ipb.ac.id

  2. Mawar09  5 November, 2011 at 04:31

    AH: begitu banyak masalah yang ngga pernah ada solusinya. Abis ada yg sibuk ngatur siasat korupsi, ada yg sibuk cari ide bikin lagu, ada juga yg sibuk mau menang sendiri. Terima kasih ya sudah berbagi disini, ditunggu tulisan berikutnya. Mungkin bisa di posted di depan gedung DPR dan Istana dengan huruf yg besar sehingga bisa dibaca

    DA……… aku ikutan kalau mau ke Cikeas ya!!

  3. atite  5 November, 2011 at 00:10

    haaah?? jd garam aja import?? asiin… betul2 asin…!!
    kl gitu sy bakal diet garam (ceritanya bentuk protes & sering2 luluran saja
    salam kenal…

  4. Dj.  3 November, 2011 at 23:54

    AH Says:
    November 3rd, 2011 at 19:20

    DJ : garam kan ga melulu dikonsumsi dalam makanan, tapi juga industri kosmetik, farmasi, dan pengawetan makanan. biasanya yg mesti diet garam kan yg kena hipertensi karena pola hidupnya ‘kurang sehat’. kalo orang biasa, apalagi di pedalaman, nggak ada masalah makan garam seberapa, karena aktivitas fisik mereka juga tinggi :-p
    ——————————————————

    Yuuuuuup….!!!!
    Sangat setuju….!!!

  5. Oscar Delta Bravo USA.  3 November, 2011 at 23:47

    Bung AH jadi ingat thn 50 an ketika Sekolah Rakjat sebelum jadi Sekolah Dasar bahwa nama lain dari P.Madura yaitu “Pulau Garam”,barangkali sekarang sudah jadi mubasir? yyaaa ,???Salam dari Florida

  6. Handoko Widagdo  3 November, 2011 at 21:48

    Kita tunggu apa komentar Candra Sasadara tentang artikel ini.

  7. elnino  3 November, 2011 at 21:12

    Eh, udah dibahas di komen no.11 ya… Ada kendala secara alam memang utk kita bisa swasembada garam. Pernah kutulis di komen artikel garam-nya Hariatni Novitasari. Nanti ku copas lagi di sini, hehe…
    Masalahnya, apakah pemerintah memilih mencari solusi atas kendala itu, atau secara gampang milih impor saja…

  8. elnino  3 November, 2011 at 21:02

    Pernah ngobrol sama mantan direktur PT Garam, sebenarnya yg banyak diimpor itu garam untuk industri, bukan garam konsumsi. Dan secara jumlah, belum bisa dipenuhi oleh produksi garam dalam negeri karena keterbatasan kapasitas.

  9. Dewi Aichi  3 November, 2011 at 20:53

    ke Cikeas yuk rame-rame…! heran deh…

  10. AH  3 November, 2011 at 19:20

    DJ : garam kan ga melulu dikonsumsi dalam makanan, tapi juga industri kosmetik, farmasi, dan pengawetan makanan. biasanya yg mesti diet garam kan yg kena hipertensi karena pola hidupnya ‘kurang sehat’. kalo orang biasa, apalagi di pedalaman, nggak ada masalah makan garam seberapa, karena aktivitas fisik mereka juga tinggi :-p

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.