Alana Sang Anak Naga

Dian Nugraheni

 

Ketika menatap kelompok cone family tree, kelompok tumbuhan dengan daun berbentuk menjarum, alias keluarga cemara, di kejauhan, lewat kaca jendela yang memburam karena hujan deras di luar sana, anganku melayang kembali ke peristiwa empat tahun silam. Waktu itu, aku baru saja pulang dari belanja, dan aku bermaksud menjemput anak-anakku, Alisha dan Alana yang aku titipkan di rumah Tantenya, alias adik iparku, alias adik kandung dari suamiku.

Langsung aku menuju ruang tengah, di mana Alana dan Alisha berkumpul dengan sepupu-sepupunya yang lain. Dan setelah berpamitan, kedua anakku langsung masuk ke mobil, berdua duduk di jok belakang. Aku, Ibunya, sekaligus sopir mereka, lewat kaca spion, secara reflek menangkap raut muka Alisha dan Alana. Alisha tampak mengantuk, sedang Alana tampak cemberut sedih.

“Alisha, sampai rumah, mandi, terus bobok siang yaa. Alana, Sang Anak Naga, kenapa cemberut, sayang..?” tanyaku sambil menjalankan mobil pelan-pelan.

Bukan jawaban yang aku terima, malah suara tangis Alana pecah dengan suara yang sangat sengsara. Hmm, berantem nih kali sama sepupu-sepupunya. “Wehh, kok nangis.., jangan lama-lama nangisnya ya, sampai rumah, Alana juga mandi, Mamah juga mandi, terus bobok siang yaa…”

“Kenapa adek nangis begitu, Alisha..?” tanyaku.

“Nggak tau Mah, dari tadi juga cemberut melulu di rumah Tante Arin. Kenapa sih, Dek..?” jawab Alisha sambil bertanya pada adiknya.

Aku, tentu saja heran bercampur khawatir, karena tangis Alana sungguh sesenggukan, sangat menyedihkan. Dan aku memacu mobilku sedikit cepat, agar segera sampai rumah.

Tepat sesampainya di rumah, hujan deras segera mengguyur dari langit. Alisha mandi duluan, sedangkan Alana yang belum juga berhenti menangis, terpaksa aku gendong masuk kamar mandi, “Alana sudah 6 tahun lho, beraat.., masih minta digendong…?” Alana tetap sesenggukan meski tangisnya tak lagi meledak.

Setelah semuanya segar, Alisha segera saja tertidur di kamarnya, sedangkan Alana tak mau lepas dariku. Di kamarku, di ranjangku, aku peluk Alana, “kenapa to, Dek, kok nangisnya begitu amat.., berantem sama Nino, ya ?”

Sekali lagi, bukan jawaban yang aku terima, malah Alana menangis lagi dengan kencangnya. Lamaa, setelah itu, baru Alana angkat bicara, “Mamah, benarkah aku bukan anak Mamah ? Benarkah aku anak Naga..?”

Aku ketawa keras sambil memeluknya kembali. “Memang tadi ada Ibu Naga mencarimu ya..? Mau ngajak Alana pulang..?”

“Enggaak…,” teriak Alana.

“Lha kenapa, kok tiba-tiba nanyain Naga ?” tanyaku.

Memang waktu itu, aku suka menggoda Alana. Sejak mereka masih balita, aku selalu menyempatkan waktu untuk mendongeng cerita pengantar tidur. Pernah Alisha bertanya, “Mamah, Kakak keluarnya dari mana, perut Mamah..?”

Jawabku, “yaa, dulu perut Mamah besar sekali waktu Kakak di perut Mamah, soalnya waktu lahir, Kakak sudah segede bayi usia 3 bulan..”

“Kalau aku, Mah, dari mana..? Perut Mamah juga..? Gede juga nggak perut mamah ?” tanya Alana tak mau kalah.

“Enggak Alana.., kamu ini berasal dari sebuah telor naga yang Mamah temukan waktu jalan-jalan ke hutan. Telor itu Mamah ambil, dan sampai di rumah, telornya pecah, ehh, yang keluar Alana..” jawabku.

Sekali, dua kali, Alana marah kalau aku bilang demikian, tapi setelah itu, Alana sudah mahfum kalau Mamahnya cuma menggodanya. Tapi ada apa gerangan hari ini Alana menangis sedih dan menanyakan Ibu Naga ?

“Tadi, tante Arin bilang, aku ini, bukan anak Mamah, atau anak Papah,” kata Alana pelan.

“Hhaa..? Lha kenapa Tante Arin bilang begitu ?” tanyaku terperanjat.

“Katanya, darahku tidak sama dengan darah Kakak, Mamah, atau Papah..,” kata Alana lagi.

“Trus, bilang apa lagi Tantemu..?” desakku, karena aku tau, adik ipar nomer satu ini memang kadang tengil juga.

“Nggak tau Mah, pokoknya begitu deh.., huuu…huuu…,” Alana menangis lagi.

“Hmm…, sini Mamah jelaskan, jangan nangis, diam dulu…duduk yang baik, sandar di bantal sini biar enak,” kataku sambil menumpuk bantal buat sandaran Alana.

“Huuu, kenapa Alana item kakak putih, kenapa Alana rambut lurus kakak keriting…huuu..,” Alana ngamuk lagi sambil menangis. Dalam hati aku mengutuk-ngutuk adik iparku. Kalau pun bercanda, tidak harus sedemikian dalamnya bicara dengan anak usia 6 tahun seperti Alana.

Setelah agak reda tangisnya, aku duduk berhadapan dengan Alana, aku pegang kedua tangannya yang mungil dan lembut, tangan ini yang selalu memelukku di setiap saat, tangan ini yang tanpa disuruh selalu memijit-mijit tubuhku bila aku bilang capek, tangan ini yang selalu memberikan kasih sayang padaku, tangan Alana…

“Alana, semua bayi, berasal dari perut Ibunya, Kakak Alisha, Alana, kalian berdua juga bertumbuh di perut Mamah, sembilan bulan lebih. Kakak Alisha keluar dengan cara biasa saja karena tak ada masalah, sedangkan ketika Alana lahir, perut Mamah harus dibuka, digunting, dioperasi, karena letak Alana di perut Mamah,sungsang. Sungsang itu, tidak dalam posisi yang benar, sehingga Alana tidak bisa lahir tanpa bantuan operasi. Kedua-duanya, baik lahir seperti Kakak, atau lahir seperti Alana, adalah hal yang wajar. Nih, liat perut Mamah, kan ada bekas jahitan panjang, itu waktu Alana lahir..,” kataku panjang lebar sambil menggambar sebuah perut yang di dalamnya ada bayinya dengan letak yang sungsang, untuk lebih menjelaskan pada Alana.

“Waktu perut Mamah digunting, sakit nggak, Mah..?” tanya Alana.

“Enggak terasa kok, nggak ada sakit sama sekali, kan Mamah dibius…,” jawabku.

“Sekarang kenapa Kakak Alisha keriting, ya karena Mamah keriting, kenapa rambut Alana lurus, ya karena rambut Papah lurus, kenapa Kakak Alisha lebih putih, karena dia meniru kulit Mamah. Nah, kenapa Alana coklat..? Kamu enggak hitam lho, kamu coklat.., ya karena Papahmu hitam. Kenapa Alana enggak hitam ? Karena kulit Alana adalah campuran warna kulit Mamah dan warna kulit Papah. Semua anak-anak, biasanya ya akan menjadi seperti Ibunya, seperti Bapaknya, atau seperti Ibu dan Bapaknya..,” kataku lagi.

“Lahh, soal darah yang kata Tante Arin enggak sama itu, maksudnya juga adalah, karena golongan darah Mamah dan golongan darah Papah berbeda, maka golongan darah Kakak Alisha dan Alana, bisa jadi meniru Mamah, atau meniru Papah, atau menjadi golongan darah yang lain, itu nanti akan dipelajari dalam ilmu Biologi kalau kamu sudah gedeeee….”

“Jadi, akhirnya begini, golongan darah kakak Alisha sama dengan Mamah, tapi golongan darah Alana nggak sama dengan Mamah, dan juga tidak sama dengan Papah, karena apa..? Karena Tuhan memberimu istimewa, Alana..,” kataku sambil menatap matanya dalam-dalam, berusaha meyakinkannya.

“Istimewa apa..?” tanya Alana.

“Menurut apa yang Mamah baca, golongan darahmu, adalah golongan darah yang dipunyai oleh para Raja, para pemimpin, dan orang-orang utama lainnya. Golongan darahmu adalah golongan darah orang-orang yang punya banyak bakat.., kamu harusnya bersyukur, Alana..,” kataku.

“Apa aku punya banyak bakat, Mah..?” tanya Alana.

“Hmm, coba liat kamu selama ini, kamu menari, kamu main musik, kamu menggambar, kata Gurumu, kamu wonderful in Math, kamu penulis detil yang hebat dalam usiamu, itu juga kata Gurumu. Gurumu dengan tulus bilang bahwa mereka sangat senang menjadi Guru Kelasmu. Kemudian, kamu sangat baik pada teman-temanmu, kamu punya banyak teman, dan yang paling penting, hatimu sangaaat…baik,” saat bicara ini, aku menangis sesenggukan. Aku tak rela siapa pun dia, menyakiti perasaan anakku yang masih kecil-kecil ini, karena toh mereka belum bisa membela diri, belum tau banyak tentang dunia. Aku harus melindungi mereka, melindungi anak-anakku. Juga dalam hal ini, Alana…

“Kenapa Mamah menangis..?” tanya Alana.

“Karena Mamah nggak tau harus bagaimana caranya bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan, karena Mamah punya anak dengan hati sebaik Alana…,” kataku masih terus menangis.

“Kakak Alisha juga baik, kan, Mah ?” kata Alana. Aku hanya mampu mengangguk-angguk.

Alana segera memelukku ke dadanya, mengelus rambutku, dan bilang, “aku sayaang…deh.., sama Mamah…”

____________________________

Guntur menggelegar, sesaat aku terkaget, dan lebih kaget lagi karena Alana sudah memelukku dari belakang, “wahh, Mamah masih kayak di Indonesia.., sukanya liat hujan…”

Kuputar badanku untuk memeluk Alana, Alana menengadah melihat mukaku, “Kok Mamah nangis..? Kenapa..?”

“Mamah menangis karena Mamah bersyukur, tetap bersyukur, dan selalu ingin bersyukur, karena berada di antara Kakak Alisha dan Alana.., kalian selalu memberi warna-warna indah dalam hidup Mamah..”

“Wi..wi..wi..wiiii…, akulah Alana Sang Anak Naga..,” seru Alana sambil memainkan tangannya di kedua kupingnya, seolah-olah seperti suri sebuah kepala Naga.

“Ha..ha..ha.., kamu sekarang sudah nggak marah ya, kalau dibilang anak Naga ?” tanyaku.

“Enggak, biarin aja aku dari telor Naga, tapi Ibu Naganya kan Mamah sendiri..,” katanya sambil nyengir.

“Di mana Kakak Alisha, Alana ?” tanyaku.

“Kakak sedang siapkan makan malam di dapur, katanya mau bikin nasi goreng buat Mamah..,” jawab Alana.

Hmm.., Tuhan, terimalah rasa syukurku ini, dan tolong tetaplah berikan penjagaanMu terhadap anak-anakku, agar mereka tetap bisa menjadi insan-insan yang baik.

 

(Aku tak punya kata-kata lain selain kata syukur…)

Virginia

 

Ilustrasi: http://www.jackiechankids.com/files/Build_School-About_Logo.html

 

14 Comments to "Alana Sang Anak Naga"

  1. Dian Nugraheni  18 December, 2011 at 03:47

    Wahh, terimakasih semua share komennya ya.., saya sendiri pas bikin Fiksi ini, sempat nangis juga, sempat merasakan juga bagaimana Ibunya Alana yang pastinya, akan mempertahankan Alana, yang dicurigai bukan sebagai anak dari Bapak Ibunya… Yang terpenting memang, orang dewasa harus berhati-hati ketika berbicara kepada anak…baik bercanda atau pun hal2 yang serius, harus disesuaikan dengan wilayah berpikir anak…, karena rentang usia anak dengan para orang dewasa kan jauh, tentu saja cara berpikirnya pun akan banyak berbeda…coba aku cari tau dulu yaa, knapa si Tantenya Alana yang agak tengil itu bilang begitu sama Alana..smoga cerita ini bisa berlanjut….makasih banyak semuanya yaa…

  2. WeX  16 November, 2011 at 14:57

    energi ‘syukur’ & ‘ikhlas’ mampu mengalahkan segala masalah..
    tetap ber-syukur meski kenyataan msh jauh dr harapan..

  3. Seroja  7 November, 2011 at 01:20

    kisah yang begitu menyentuh, anak-anak itu bak telaga dan sepatutnya kita mengisinya hanya kasih sayang..

  4. Anwari Doel Arnowo  6 November, 2011 at 23:23

    Ingat juga saya kepada anak-anak saya ketika seumur mereka berdua.
    Sekarang saya mengamati ke enam cucu saya diasuh orang tua mereka dan saya berdiri sejauh mungkin agar tidak secara ceroboh bisa mencampuri management rumah tangga anak-anak saya itu.
    Wibawa selaku orang tua dari anak-anak mereka, yang adalah cucu-cucu saya, harus dijaga batas-batasnya.
    Pola pikir saya yang cara seperti saya kenal dulu mungkin sekali sudah “kuno” atau Obsolete.
    Dunia selalu berubah.

    Salam,
    Anwari Doel Arnowo – 2011/11/06

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *