Buku Kehidupanku (7): Antya Gadis Manjaku

Meitasari S

 

Hmmmmm, senyum cerianya memikat hati. Selalu aku ingin menggodanya. Tiada hari tanpa mengganggu gadis kecilku ini. Juga tiada hari tanpa teriakan – teriakan manjanya saat aku goda. Gadis kecilku yang cantik(seperti ibunya….ha ha ha, jangan marah ya mbak!), Gemma Tristadaksa Acintyasakti. Gadis yang kupanggil Antya. Saat balita, gadisku ini seorang anak pemarah dan keras hati. Segala kemauannya harus dituruti segera. Saat Antya berada di dalam kandungan, aku dalam kondisi kejiwaan yang merasa sendirian. Suamiku bekerja di luarkota. Sementara aku harus bekerja dan mengurus kedua kakaknya. Untunglah ada si mbak, yang membantu dan menemaniku mengurus pekerjaan rumah tangga.

Antya kecil adalah gadis yang lucu. Wajahnya seperti bayi indo. Tanteku sering memanggilnya Michelle. Memang wajahnya seperti pemeran film Michelle yang terkenal saat itu. Seperti kedua kakaknya, prestasi Antya pun tak jauh dari 10 besar di kelasnya.  Puji Tuhan, anak-anakku dikaruniai kecerdasan. Antya juga disukai teman-temannya. Dia pandai menghimpun teman-temannya. Rumah kami tak pernah sepi dari kunjungan teman-teman Antya dan juga telpon yang selalu berdering mencarinya, hanya untuk sekedar bertanya, besok pakai baju apa? Ada PR apa? Ha ha ha….

Namun demikian, Antya adalah seorang gadis pemalu dan kurang percaya diri. Dia selalu merasa kurang dan tidak sehebat kakak-kakaknya. Memang Antya ini sering merasa rendah diri. Sering ia merasa dinomerduakan olehku. Ini terungkap saat gurunya bercerita padaku. Hal ini membuatku mengoreksi diri. Pernah setelah retret sekolah, aku menerima surat darinya yang berisi demikian, “Ibu, aku merasa sakit hati pada ibu. Aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan mbak Dita dan kakak.”

Hah?????????

Ternyata, apa yang kupikirkan, bahwa selama ini aku memotivasi Antya justru dianggap membanding-bandingkan olehnya. Mungkin komunikasi kami tidak berjalan dengan baik, sehingga Antya mempunyai perasaan demikian. Aku perlu bicara hati ke hati dengannya.

Suatu sore aku memanggilnya. Kami berbicara empat mata. Aku memberinya pengertian bahwa apa yang kulakukan, sedikitpun tak ada maksud membandingkan dia dengan kakaknya. Aku hanya ingin ia tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tangguh, sesuai dengan namanya yang kuambil dari bahasa Sansekerta, Acintyasakti yang berarti kuat dan tangguh, seperti harapanku pada diriku sendiri yang merasa sendirian saat mengandungnya.

Aku berharap diriku kuat  dan tangguh  merawat anak-anak sendiri. Aku mengatakan padanya, “Mbak, tak ada seorang ibu pun yang berniat buruk pada anaknya. Demikian juga ibu. Jika ibu mengatakan hal yang mungkin kurang enak untukmu, janganlah menganggap ibu merendahkanmu, membanding-bandingkanmu dlsb. Tujuan ibu hanyalah agar mbak Antya tumbuh menjadi anak yang kuat dan tangguh. Tak ada sedikitpun ada niat jelek ibu. Harapan ibu asahlah dirimu menjadi seorang pribadi yang bisa berarti, berguna, paling tidak buat dirimu sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitarmu.”

Sepertinya sejak percakapan saat itu, ia mengerti bahwa ibunya tidak seburuk yang ia kira. Antya mulai mengasah dirinya dengan mengikuti berbagai kegiatan baik di gereja maupun kepramukaan yang mengasah ketrampilan. Ia juga  terlibat dalam kepengurusan OSIS di sekolahnya. Kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Aku bangga padanya.

Namun, ada satu kejadian yang membuat aku trenyuh. Inilah saat pertama kali Antya memelukku dengan airmata dan tangis kesedihan.  Seolah kejadian ini memperkuat keyakinannya, bahwa ia tak sehebat kakak-kakaknya. Kejadian itu adalah saat ia gagal masuk SMA tempat kakaknya sedang menimba ilmu di sana. Sesengukan ia menghampiri aku, seolah mencari kekuatan dan perlindungan.

Hal yang tak pernah dilakukannya. (Memang ketiga anakku tak pernah bermanja padaku. Walau kami sering bercanda tapi mereka tak mau menunjukkan kemanjaan mereka pada orangtuanya. Hanya si bungsu saja yang mau bermanja pada kami.) Walau air mata ini menggantung di pelupuk, tapi aku tertawa. Kataku menghiburnya, ”Kenapa nangis, mbak? Seperti halnya pertandingan, ada yang kalah dan ada yang menang. Demikian juga kamu sekarang ini. Mendaftar di sini berarti kemungkinannya adalah diterima atau tidak. Kita harus siap menghadapinya, kan? Ayo senyumlah. Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk kita. Rencana dan keinginanmu bukanlah RancanganNya.” Tangis Antya mereda.

Aku tertawa. Mungkin pikirnya, ibu ini gila. Anaknya gagal kok malah tertawa. Ya, bagiku hidup bukanlah sekedar belajar tentang kesuksesan, tapi juga kegagalan. Melihat ibunya tertawa, akhirnya Antya pun tersenyum. Demikianlah Antya terus menjalani masa-masa belajarnya di sekolah kehidupan ini.

Aku yakin Tuhan akan selalu menjaganya. Kalau aku saja sebagai orangtuanya sangat menyayangi dia, apalagi Sang Pemiliknya, pasti lebih mengasihi Antya. Satu doa yang mengesankanku adalah doa Jenderal Douglas McArthur yang antara lain begini bunyinya,”

Berikanlah anakku, ya Tuhan, hati yang kuat untuk mengetahui saat dia lemah, dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri ketika ia takut; orang yang akan bangga dalam kekalahan yang jujur, dan rendah hati dan lemah lembut dalam kemenangan.

Bentuklah anakku menjadi manusia yang tangguh dan beriman seorang putra yang akan mengenal Engkau. Bimbinglah dia, bukan di jalan yang penuh kemudahan dan kenyamanan, tetapi di bawah tekanan dan desakan kesulitan dan tantangan. Biarkan dia belajar untuk berdiri di tengah badai; biarkan dia belajar belas kasih bagi mereka yang gagal.

Berikan anakku hati yang bersih, yang tujuan hidupnya tinggi; seorang putra yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum ia berusaha untuk memimpin orang lain; orang yang akan belajar untuk tertawa, namun tak pernah lupa bagaimana menangis; orang yang akan mencapai ke dalam masa depan, namun tak pernah melupakan masa lalu. 

Dan setelah semua hal-hal ini, berikanlah dia cukup rasa humor: sehingga ia dapat selalu serius, tapi tidak pernah mengambil dirinya terlalu serius. Beri dia kerendahan hati, sehingga ia selalu ingat kesederhanaan dari kebesaran, dan kelemah lembutan yang merupakan kekuatan sejati.

Lalu aku, ayahnya, akan berani berbisik, “Hidupku tidak sia-sia.”

 

Ibu sayang kamu, mbak…..

Semarang, 30 Juli 2011

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

34 Comments to "Buku Kehidupanku (7): Antya Gadis Manjaku"

  1. Meitasari S  8 November, 2011 at 03:53

    Akangggg : aduhhh trmksh ya sdh membri smangat. Tx juga buat pelukan seorang bpk yg sabar….Salam jg buat dek sultan n kak ayi. Jg k. Riza

  2. Reca Ence Ar  8 November, 2011 at 00:52

    Anak yang cerdas dan ibu yg bijaksana
    Sebuah buku kehidupan yang begitu indah
    Salam peluk sayang buat mba Antya.
    Semangaaaaaaatttt mba Antya….

  3. Meitasari S  7 November, 2011 at 06:47

    iyo yo mung do jd silent reader. Ya yg sudrun dr u. Kalo aku kan manis n lmah lembut, anteng…

  4. Lani  7 November, 2011 at 06:38

    MEITASARI : aku jg wis ora krasan di CA, selasa balik ke Kona. hehehe anakmu koyok buleleng, nek kowe bulek…….
    nampaknya dirumah ini butuh org sudrun ya, klu ndak jd sepi nyenyet…………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.