Si Pencuri Cerita

Alexa – Jakarta

 

Seorang teman menuliskan status di FB mengenai rasa harunya saat menemukan buku karya kakaknya (1990an) tercantum dalam koleksi suatu website tentang buku-buku. Dia merasa terharu karena sang kakak sudah meninggal…ini membuatku teringat pada awal aku tergugah untuk menggali kemampuan menulis.

Saat membaca alasan Clara Ng yang semula merupakan pekerja di bidang HRD memilih menjadi penulis, “sebab tulisan adalah Immortal (abadi – tak akan mati)”...maka  aku sangat sepakat dengannya dan menetapkan bahwa aku ingin menulis dan  ingin sebagian dariku immortal.  Awalnya sama seperti penulis-penulis lain, ingin sekali aku menjadi seorang Novelis…aku menghadiri beberapa kelas penulisan, membaca tip-tips menulis bahkan sampai membeli dua eksemplar  majalah Chic yang special membahas mengenai masalah Penulisan.

Tapi ternyata menulis fiksi itu tak mudah bagiku…aku tak pernah bisa memulai suatu tulisanpun sampai pada akhirnya aku memutuskan menuliskan ceracau mengenai kehidupan di sekitarku…baik kehidupanku, maupun kehidupan orang-orang di sekitarku. Dan kemudian tuts keyboard menjadi teman setiaku apalagi menulis secara online membuatku memiliki kebebasan untuk mengupload tulisan kapan saja. Bukannya aku tak pernah mencoba menulis ke media cetak, beberapa tulisanku dimuat di majalah Chic, Female, Investor bahkan pernah memenangkan lomba menulis di majalah Pesona. Tapi aku makin memahami diriku sendiri bahwa aku tak mahir bermain di area fiksi dan ternyata aku lebih suka pada kebebasan berekspresi di media online…lebih mudah menuliskan yang nyata dan terjadi di sekitar dibandingkan mensintesa rasa-rasa menjadi rangkaian diksi yang indah. Ah sudahlah, kupikir…menulis ya menulis saja.

Dan kita adalah pencuri cerita, kata Anggun-si penyanyi mengutip nasehat alm. Darto Singo – bapaknya yang juga produser acara televisi.  Mengenai kiat-kiatnya menuliskan lagu, cerita yang “dicurinya” adalah cerita hidupnya sendiri ataupun cerita hidup orang lain…demikian juga Anang mengatakan hal yang nyaris sama mengenai lagu-lagunya….”sesuatu yang nyata terjadi.”

Tulisan demi tulisan hingga 200an menyadarkan aku…sampai dimana “visi dan misi”ku untuk immortal telah tercapai? Oke dalam dunia online…suatu tulisan juga bisa abadi maka RS Omni begitu gusar pada imel Prita yang telah menyebar ke seantero negeri. Maka mulailah episode mengirimkan naskah pada berbagai penerbit termasuk Gramedia. Dalam jangka waktu 3 bulan, terkirim ke rumahku surat-surat penolakan…dari yang singkat dan lugas, hingga yang panjang lebar membuka kekurangan-kekurangan tulisanku…aku sangat berterimakasih dengan surat dari GagasMedia itu.

Kalimat penutup dari GagasMedia yang berbunyi, “anda bisa memperbaiki tulisan sesuai saran kami, ataupun tidak.” Di situ aku merasa diberi peluang tapi entahlah setelah itu aku tak pernah berpikir untuk membukukan tulisanku dulu…aku lebih mengikuti passion untuk menulis, menulis dan menulis. Dan entah kenapa, besar keyakinan akan tiba masanya karya menjadi buku. Untuk itu aku harus mendisiplinkan diri sendiri, tak terpengaruh pada hal-hal di luar penulisan, ini sulit sebab sering juga dapat fitnah bin fitnul di sana sini.

Thank u to Admin yang penuh pengertian, teman-teman yang suportif.  Perlu ketetapan sikap buat fokus sebagaimana yang dikatakan Agnes Monica yang selalu menjadi inspirasi…”When haters were busy talkin’, I was busy making it happen, When they were busy mocking,  I was busy walking. When they were busy laughing I was busy running And they’re STILL wondering why they’re left behind…

Hingga akhirnya seorang editor dari grup Gramedia menghubungi. Ternyata dia membaca tulisan-tulisanku di Baltyra dan Kompasiana. Baru aku tau kalau Gramedia itu luuuuuaaaas, ditolak di sini – diundang di sana. Naskah yang kumasukkan berbeda dari naskah pertama yang ku-kirim-kirim itu…aku belajar dari beberapa saran GagasMedia.

Pertemuan dengan Editor juga membuka wawasanku bahwa genre penulisan belakangan ini makin beragam, di luar novel-novel…buku-buku “petualangan” seperti Miss Jinjing, the Naked Traveler, serial Boss Dodol dan tentunya Tips Menjadi Kaya membuktikan bahwa genre di luar novel juga bisa eksis.

Dan kemarin Rabu (26 Oktober) menjadi hari bersejarah bagiku saat buku itu masuk ke toko-toko Gramedia….

Sempat mencelos dan lemes juga saat tak menemukan buku tersebut pada deretan New Arrival display, ah perjuanganku belum berakhir rupanya. Arggh, segera menepok jidat sendiri…baru juga sehari dah stress. Kadang-kadang opiniku yang terlalu tajam membuatku nyaris lupa bersyukur pada momen yang sedang terjadi….aku terbiasa untuk terus berlari maka aku berterimakasih sekali pada seseorang yang mengingatkan bahwa opiniku bisa membunuhku…dan membunuh dia. Untungnya aku teringat cerita  Donny Dhirgantoro penulis buku 5 CM  yang membuatku menerapkan beberapa ide darinya.

Sebenarnya aku masih memiliki beberapa ide promo lagi yang sudah kusampaikan ke pihak Kompas-Gramedia, dan yang menyenangkan pihak di sana sangat antusias untuk support beberapa ide dariku. Dari yang tadinya aku akan maju sebagai sosokku sendiri…aku jadi bisa berjalan bersama pihak Kompas Gramedia. Hei ini adalah semacam pengingat pada diri sendiri untuk selalu bersyukur….

Moga-moga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang ingin membukukan tulisannya…carilah warnamu, pelajari “dunia penulisan” sekitar…begitu banyak ide dan alternatif. Ditolak penerbit…jangan khawatir, dunia tak seluas daun kelor…demikian juga Gramedia….mereka besaaar banget dan seringkali mereka tak berhubungan satu sama lain.

 

29 Comments to "Si Pencuri Cerita"

  1. Dewi Aichi  4 November, 2011 at 16:45

    Sepakat dengan komen mas JC dan teman-teman…banyak sekali penulis baltyra yang ternyata sangat handal, dan profesional, melahirkan buku2 bagus, Alexa telah menunjukkan tanduknya..(lho kok tanduk ya) he he..Tia Yuliantari, bu Ida, dan buanyakkkkk lagi….hampir 40 % telah menerbitkan buku..aku kapannnnnn???? Tabok jidad….(susah menulis yang mengkhayal-khayal gitu) hi hi….padune ora bakat kok..

  2. Linda Cheang  4 November, 2011 at 16:21

    hehe, kapan, ya tulisanku bakal terbit jadi buku trus dibaca semua orang?
    untung ajah ada Baltyra dan media on line lain.

  3. Meitasari S  4 November, 2011 at 13:49

    wowwwwwwwwwwwwwwwwww alexa, senang membacamu artikel mu yg inspiratif…. senang juga bisa berkenalan dengan seorang penulis di Baltyra ini.

    Tx alexa……..

  4. J C  4 November, 2011 at 12:47

    Makin banyak saja penulis baru bermunculan. Penulis yang dulunya di dunia online (aku tidak pernah berpikir, berpendapat dan bilang dunia maya), sekarang menjadi penulis “sebenarnya” dengan dicetaknya menjadi buku.

    Menambah semangat saja untuk juga mulai menggali dan meneruskan ide-ide dalam kepala ini. Kalau kita berkutat dan bergulat dengan masa lalu, meratapi yang sudah lewat, mengagumi masa lalu, ya akhirnya memang tidak sampai ke mana-mana. Setuju banget dengan kutipan dari Agnes Monica itu.

    Baltyra sungguh senang dan bangga. Beberapa kontributornya dari penulis di sini, kemudian melaju menjadi buku yang sesungguhnya…

    Pak Hand, mbok-ya-o itu naskah zygote’nya dikirimkan ke sini, khan bisa dimuat berseri. Aku yakin kok sekarang banyak pengunjung yang silent readers tapi juga memperhatikan dan mengikuti setiap artikel di sini. Lha itu si Alexa saja Editor dan pemburu naskah dari Gramedia dapatnya juga karena membaca artikelnya di Baltyra…hehehe…

  5. Handoko Widagdo  4 November, 2011 at 12:34

    Thanks Mbak Alexa untuk tips-nya. Bagiku tulisan adalah anak yang tak pernah sempurna untuk lahir sampai akhirnya aku membunuhnya saat sudah terbit dimana saja. Ketika tulisan sudah muncul (dimana saja) artinya saya telah membunuh anak saya sendiri (ide) karena saya sudah tidak bisa lagi menyentuhnya. Sudah menjadi sedemikian adanya dengan seluruh kecacatannya. Saya punya banyak tulisan yang sudah lebih dari lima tahun gak pernah saya berani publish karena merasa masih berbentuk zygote.

  6. anoew  4 November, 2011 at 12:30

    carilah warnamu, pelajari “dunia penulisan” sekitar…begitu banyak ide dan alternatif

    Siiiip…!
    Warnaku sudah jelas malah cenderung tak terlihat karena, selalu berputar pada yang “bening-segar dan padat

  7. tantripranash  4 November, 2011 at 12:25

    tulisan yg membuat saya semangat lagi untuk melanjutkan naskah novel yg sekian lama tergeletak … ga sabar baca bukumu Mbak … sayang belum sempet ke gramedia nih …

  8. Dj.  4 November, 2011 at 12:19

    Alexa….
    Selamat Pagi dari Mainz….
    Terimakasih….
    Ini dia, karena Dj. tidak peprnah belajar bagaimana seharusnya menulis, olehnya, Dj. hanya bisa bikin oret-oretan saja.
    Salam manis dari Mainz….

  9. SU  4 November, 2011 at 09:03

    Selamat ya. Smg laris manis dan cetak ulang terus.

    Pengen ngerjain hal2 yg jadi minat saya, tapi selama ini masih kalah terus sama prioritas keluarga. Jadi masih ditunda dulu.

  10. [email protected]  4 November, 2011 at 08:44

    Ditunggu tulisannya yaaa….
    absen pagi hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.