Dongeng Untuk Norma

Wesiati Setyaningsih

 

kalau teman-teman upload cerita yang kemarin sudah dibahas, aku upload yang kemarin tidak jadi dibahas aja. aku sudah bikin dongeng dan cerita, tapi yang dipakai yang satunya. padahal aku suka sama yang ini. jadi aku upload yang ini saja. inilah tulisanku, cerita anak, hasil workshop literasi media tanggal 7-8 oktober 2011, lespi.

 

Hari ini Ratih pamit pada ibunya akan bermain ke rumah Norma sepulang sekolah. Dengan berat hati ibunya mengijinkan karena Norma anak yang baik dan sudah lama Ratih  ingin dia main ke rumahnya sepulang sekolah. Kebetulan rumah mereka juga berdekatan. Ratih melewati rumah Norma kalau pulang sekolah. Jadi Ratih kali ini ingin mampir ke rumah Norma.

Masuk ke rumah Norma mereka harus melewati gerbang dengan pintu besar dan sebuah halaman yang cukup luas tertata rapi.

“Ke kamarku saja, yuk,” ajak Norma begitu mereka masuk rumah.

“Aku belum cuci kaki. Kamar mandinya mana?”

“Ah, di kamar ada kok. Di sana aja,”

Di kamar Norma ada kamar mandi. Jadi Ratih langsung masuk kamar dan mencuci kaki dan tangan di kamar mandi yang ada di dalam kamar tidur Norma. Ratih sudah terbiasa mencuci kaki dan tangan dengan sabun setiap kali masuk rumah dari bepergian atau pulang sekolah. Tidak enak rasanya kalau tidak mencuci kaki dan tangan begitu datang dari sekolah. Di sekolah dia memegang apa saja. Bola yang terlempar ke lapangan penuh debu, meja yang sudah dipakai bertahun-tahun, juga spidol papan tulis.

Keluar dari kamar mandi, Norma tidak ada di kamar. Sambil menunggu Norma kembali, Ratih melihat-lihat isi kamar. Selain tempat tidur dengan bed cover yang indah, ada lemari dengan tiga pintu, satu meja belajar di atasnya ada benda kotak seperti mainan yang berbentuk layar berbingkai, televisi di sebuah meja tersendiri dengan sebuah lemari kecil di bawahnya, lalu sebuah meja rias. Lengkap sekali kamar ini, pikir Ratih. Dia teringat kamarnya sendiri yang hanya berisi tempat tidur dan laci plastik. Kamar tidurnya hanya cukup untuk dua benda itu, jadi dia belajar di ruang tamu. Meja belajarnya hanya cukup untuk diletakkan di sana.

“Aku baru saja minta dibikinin pisang goreng sama bu Sum, “ kata Norma yang tiba-tiba masuk.

“Oh,” Ratih kaget.

“Bu Sum baik banget ya,” kata asal karena tadi sedang asik melamun.

“Hahahah…. Iyalah. Bu Sum sudah kaya pengganti mamaku kalau mamaku sedang tak ada di rumah,”

“Mamamu kerja?”

“Ya, sampai sore,”

Ratih teringat ibunya yang juga membantu berjualan di toko kain milik tetangga, dekat rumah. Karena dekat rumah, ibunya masih bisa pulang sesekali menyiapkan makan siang untuknya. Lalu kembali lagi ke toko. Ratih harus mengatur dirinya sendiri kalau ibunya kembali ke toko. Biasanya setelah makan siang Ratih akan mengerjakan PR, lalu tidur.

“Kamu pengen nonton film apa? Aku punya vcd Barbie banyak. Semua ada. Lengkap,” kata Norma.

Ratih berpikir. Dia tak terlalu suka nonton film. Televisi di rumah jarang dihidupkan. Tiap malam setelah makan dia akan belajar untuk pelajaran besok. Bapaknya yang pulang sore dari mengajar dan memberi les untuk murid-muridnya yang ingin les privat, biasanya menemani di dekatnya sambil membuat soal atau sesekali membaca buku. Ibunya biasanya menyeterika atau menyiapkan bahan masakan untuk besok.

Setelah belajar Ratih akan meminta bapaknya mendongeng untuk dia. Bapaknya akan bercerita tentang apa saja. Entah itu dongeng, wayang atau cerita masa kecil bapaknya. Ratih sangat menikmati ketika imajinasinya berkelana  ke dalam dongeng yang diceritakan bapak. Dalam pikirannya seolah kata-kata bapak menjadi sebuah film yang dia ciptakan sendiri.

Ratih tidak tahu film apa yang ingin dia tonton. Tapi mengatakan tak ingin menonton film, dia tidak sampai hati. Sepertinya Norma ingin memperlihatkan film yang dia punyai.

“Apa saja, “ kata Ratih akhirnya.

Dia tak ingin mengecewakan Norma. Norma memilih salah satu lalu memutarnya di vcd player. Film tertayang, tapi baru lima menit Ratih sudah bosan. Dia ingin melihat-lihat rumah Norma.

“Aku ingin melihat tamanmu,” kata Ratih.

“Kamu tidak suka nonton film?” tanya Norma sambil memencet remote.

“Bukan, taman di rumahmu bagus sekali. Di rumahku tidak ada taman, “ Ratih tersenyum.

Dia melihat Norma juga tidak menonton film yang dia putar. Sejak tadi dia asik dengan benda kotak yang tadi diletakkan di meja belajar..

“Boleh. Ayo keluar. Nanti biar pisang goreng dan minumannya dibawa ke teras saja. Kamu mau di luar atau di samping? Ada kolam ikan di halaman samping,”

“Kolam ikan!” hati Ratih berteriak girang. Ratih sangat senang melihat ikan.

“Halaman samping saja,”

Mereka keluar kamar menuju teras samping. Norma membawa benda yang dari tadi dia pegang. Di teras samping Ratih melihat pohon alpukat yang sudah mulai berbuah. Lalu ada kolam ikan di dekatnya. Bagus sekali. Ikan yang belang-belang orange, hitam dan putih di badannya. Ikan besar-besar itu berenang ke sana ke mari. Ratih senang melihatnya. Ah, di situ ada ayunan juga. Ratih suka ayunan. Di rumah dia tidak ada ayunan.

Norma asik dengan mainannya. Entah apa yang dia kerjakan, Ratih tak tahu. Maka didekatinya Norma.

“Itu apa sih yang kamu pegang dari tadi?”

“iPad,”

“Apa itu?”

“Semacam komputer, tapi kecil,”

“Terus, itu ngapain?”

“Fesbukan,” kata Norma pendek.

“Apa itu?”

“Ah, susah jelasinnya kalau kamu enggak ngerti,”

Ratih diam. Mungkin dia juga tidak akan mengerti kalau dijelaskan. Jadi memang dia tak perlu tahu.

“Papamu pulang jam berapa?” tanya Ratih.

Siapa tahu saja tiba-tiba bapak Norma pulang siang itu.

“Ah,  papaku pulang malam,”

“Malam? Jadi kalau malam kamu belajar sama mamamu?”

“Kadang-kadang,”

“Tidak tiap malam?”

“Enggak lah. Kalau enggak ada PR ya aku mending nonton tivi,”

“Nonton tivi? Memang acara apa yang bagus?”

“Lhoh, sinetron itu bagus-bagus lho! Kamu enggak pernah nonton sinetron?”

“Jarang,” kata Ratih.

Padahal maksud Ratih adalah : tidak pernah.

“Aku tidak terlalu tertarik. Banyak orang yang berteriak-teriak di sinetron. Aku tak suka,” kata Ratih menambahkan.

Mereka berdua diam. Ratih duduk di lantai teras, asik memandang ikan-ikan di kolam yang riang kian kemarin di air yang bening. Norma duduk di kursi, asik dengan iPadnya.

“Mamamu mendongeng untukmu?” tanya Ratih ingin tahu.

Norma tercenung. Mendongeng? Untuk apa mamanya mendongeng untuknya? Dia sudah dibelikan banyak vcd dongeng-dongeng. Dia ingat apa yang mamanya lakukan. Malam kalau mama menemani dia belajar sambil memencet-mencet BBnya. Benda itu seperti tak pernah lepas dari tangan mama. Kalau tidak ada PR Norma tidak mau belajar dan mama senang saja. Mamanya tak pernah lagi mendongeng untuknya. Mama asyik dengan dunianya.

“Buat apa? Aku bisa nonton vcd. Banyak film kok,” sebenarnya hatinya perih.

Tapi dia berusaha menepiskannya. Dia punya banyak hal yang tidak dipunyai anak-anak lain. Jadi buat apa mengeluh?

“Ah, tapi beda. Senang rasanya didongengi. Aku bisa membayangkan apa yang didongengkan. Waktu bapakku mendongeng atau bercerita apa saja, seperti ada film yang berputar di kepalaku. Aku menciptakan film itu dalam pikiranku. Kalau kamu menonton film, orang lain yang menciptakannya untukmu. Semua sudah ada di situ,”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Bapakku. Itulah kenapa di rumah tivi jarang dihidupkan. Bapak bilang, lebih baik aku punya mimpi sendiri daripada aku dicekoki mimpi orang lain lewat sinetron dan film-film di tivi. Apalagi kata bapak film-film anak-anak di tivi juga tidak semua baik,”

“Ya, kan bapak kamu guru. Pandai bicara. Pandai mendongeng. Papaku kerjanya bikin rancangan bangunan gitu. Enggak pandai bicara, apalagi mendongeng. Aku tidak mungkin meminta papaku mendongeng untukku. Tapi dulu papa dan mama bergantian membacakan aku dongeng sebelum aku tidur waktu aku masih kecil,”

Ratih diam. Benar juga, pikirnya.

“Membacakan dongeng juga bagus. Kamu bisa membayangkan apa yang dibacakan,”

Norma tidak menjawab. Tapi dalam hati dia mengiyakan.

“Bapak kamu pernah mendongeng?” tanya Norma.

“Tiap malam,”

Tiap malam? Pikir Norma. Betapa senangnya. Papa dan mama hampir tak pernah mendongeng. Dulu waktu masih TK dan papa belum sesibuk sekarang dan mama belum punya BB, mereka bergantian membacakan buku dongeng sebelum dia tidur. Norma senang sekali dibacakan dongeng. Tapi setelah papa sering pulang malam dan mama punya BB, mereka tak pernah membacakan dongeng lagi.

“Kamu sudah SD. Sudah besar. Bisa tidur sendiri tanpa dibacakan dongeng,” kata mama waktu itu.

Bu Sum masuk dengan membawa pisang goreng dan es sirup. Hari beranjak makin siang. Jadi Ratih segera pamit pulang ketika dia selesai makan satu pisang goreng dan menghabiskan minumnya.

“Besok ke sini lagi, ya?” kata Norma ketika mengantar Ratih ke gerbang.

“Iya. Kapan-kapan lagi ya?” kata Ratih.

***

Sejak dari rumah Norma begitu banyak yang berkecamuk di dalam pikiran Ratih. Semua yang dipunyai Norma, itu adalah benda-benda dambaan anak-anak. Televisi dengan vcd player dan vcdnya, iPad yang bisa untuk internetan. Bukankah itu semua teknologi modern? Hidup Norma benar-benar hebat. Entah kenapa Ratih justru merasa ada yang kurang. Tapi apa? Dia tak juga menemukan jawabannya.

Ketika dia selesai belajar malam hari, dia menceritakan apa yang dia alami siang tadi di rumah Norma. Ratih bercerita tentang taman dengan pohon alpukat yang sedang berbuah, tentang ayunan, tentang kolam ikan. Juga tentang semua yang dimiliki Norma di kamarnya.

“Apakah Norma suka melihat ikan juga?” tanya ayahnya.

“Tidak. Dia asyik dengan iPadnya,”

“Sayang sekali ya. Itulah kalau kita dikendalikan teknologi. Tanpa sadar kita sudah dipengaruhi untuk terus menerus menghibur diri dengan teknologi. Padahal alam juga bisa menghibur kita. Hatimu senang kan, waktu melihat ikan-ikan di kolam?”

Ratih mengangguk. Dia bahagia waktu melihat semuanya. Pohon alpukat dan buahnya yang menggantung, ayunan, ikan-ikan.

“Itulah. Menikmati keindahan alam, meski hanya ikan di kolam, bukan sebuah lautan luas, atau melihat pohon alpukat meski bukan pegunungan dengan hutan-hutannya, bisa membuat hati tentram dan bahagia,” kata bapaknya.

Ratih tercenung. Benar. Dia bahagia meski tidak punya televisi dan iPad di kamar. Setidaknya dia tidak kehilangan waktu untuk menikmati alam sekitarnya.

“Mari cerita pak. Giliran bapak cerita untukku. Aku tadi sudah cerita tentang rumah Norma,” kata Ratih tersenyum.

Bapaknya juga tersenyum.

“Bapak cerita tentang wayang, ya. Tentang Kumbakarna..”

***

Malam itu Norma makan bertiga dengan papa dan mamanya. Kebetulan papa bisa pulang lebih awal jadi bisa makan malam bersama mereka. Biasanya Norma makan lebih dulu karane papa pulang larut malam. Mama yang menunggu papa makan malam dan mereka akan makan berdua saat Norma berangkat tidur ditemani bu Sum.

“Tumben papa pulang awal,” kata Norma.

“Iya, pekerjaan sudah selesai sore tadi. Mestinya papa bisa sampai rumah agak sore kalau saja jalanan tidak macet. Setiap sore jalanan macet sekali,”

“Jadi nanti papa bisa mendongeng untuk aku?”

Papa menatap mama. Kenapa tiba-tiba Norma minta didongengi lagi?

“Tumben kamu minta didongengi,”

“Iya, Ratih tadi ke sini. Teman sekelasku yang rumahnya dekat toko itu. Dia bilang tiap malam bapaknya mendongeng untuk dia,”

“Lalu kamu juga mau?”

“Iya, dulu mama dan papa kan sering juga membacakan dongeng untukku sebelum tidur. Sekarang aja mama sibuk dengan BBnya sementara Papa juga pulang malam terus,”

Papa dan mamanya terdiam. Tidak ada suara lagi sampai mereka menyelesaikan makan malam mereka.

Malam itu Norma berangkat tidur diantar mamanya.

“Mama mau mendongeng untukku?” tanya Norma ketika mamanya menarik selimut untuk menutup badannya.

Malam itu Norma tidur dengan sebuah mimpi indah.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Dongeng Untuk Norma"

  1. Mama Deora  9 January, 2012 at 16:30

    Mampir yuk dan liat seperti apa buku Dongeng Mama, ceritanya unik dan menarik lho…………bisa menambah kegemaran membaca anak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *