Lembur BlackBerry

Anwari Doel Arnowo

 

Trend atau kecenderungan untuk menggunakan alat-alat modern itu sudah dimulai sejak lama. Bukan di abad ini saja, tetapi sudah sejak lama, mungkin sejak jaman batu sekalipun. Yang ingin kita bicarakan sekarang ini adalah sikap hidup yang sedang melanda dunia: di Indonesia, di Pilipina dan Asia pada umumnya, serta pula di seluruh bagian dunia lainnya. Penggunaan alat penunjang hidup itu bukan saja berupa kendaraan yang dikemudikan oleh manusia maupun alat mekanis yang dikemudikan oleh sesamanya sendiri, yakni: mesin.

Saya mendapat informasi bahwa di Kanada saat ini, ada perusahaan kecil tetapi sedang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan besar, untuk produksi-produksi barang yang akan digunakan di masa yang akan datang.

Apa misalnya yang dikerjakannya itu?

Perusahaan yang di dalamnya banyak sekali menggunakan komputer-komputer segala macam jenis, sedang mengolah sistem-sistem eletronik yang akan diterapkan sebagai “nyawa” dari mesin penggerak sebuah jaringan kereta api modern di Republik Rakyat China dan bahkan juga di Eropa. Kereta “Api”? Mungkin harus diganti namanya menjadi Kereta Listrik atau Kereta Magnet atau Kereta Energi, karena penggerak api dari kayu dan batubara itu  bukan lagi sebuah trend yang sesuai dengan jaman sekarang ini.

Kereta Penumpang Massal adalah mungkin sekali akan lebih sesuai.

Kereta ini adalah sebuah rangkaian gerbong berpenumpang massal yang berkeliling tanpa pernah berhenti di sebuah stasiun. Kecepatannya amat tinggi dan mungkin melebihi dari yang sekarang ada di dunia, yang hanya sekitar 200 sehingga 300 kilometer per jam. Di dalam gerbong akan bersuasana amat nyaman dan mungkin saja amat luxurious dan posh atau indah dan mewah serta nyaman.

Lalu apa pasal sampai merencanakan untuk tidak pernah berhenti ber”jalan” (ini sebaiknya juga diganti dengan bergerak me”luncur”) tanpa berhenti dan berangkat di setiap stasiun di mana ada calon penumpang yang akan naik dan  para penumpang yang akan turun?

Begini. Dengan kecepatan yang sekitar 300 kilo meter per jam, hanya untuk melambatkan kecepatan kereta dan menurunkan penumpang, serta setelah penumpang naik kembali, melakukan keberangkatan dari kecepatan nol sampai ke kecepatan normal 300 KM/jam itu, memakan energi dan waktu yang tidak sedikit. Apabila ingin menghemat hal ini dan tetap mendapat penghasilan operasi yang mangkus (effective) maka sitem baru ini harus dipikirkan dan diciptakan secepatnya.

Sekali lagi: berhenti dan menurunkan penumpang dan barang lalu disusul dengan menaikkan penumpang dan barang dengan aman serta berangkat kembali sampai mencapai kecepatan “normal” yang akan digunakan itu, benar-benar boros waktu dan energi. Anda dan saya pada saat ini boleh saja setuju atau tidak setuju, hal ini tidak akan bisa kita tolak kejadiannya. Kitalah yang harus mengubah pola pikir , bahwa yang seperti ini tidak lama lagi pasti akan terlaksana. Tiga ratus kilometer per jamnya? Itu sama dengan Jakarta Surabaya yang ditempuh dengan jangka waktu yang sekitar dua setengah jam saja atau sekitar 150 menit saja. Itu lebih cepat dari apabila kita naik pesawat terbang sekarang. Bagaimana mungkin? Iya mungkin sekali!

Rumah di Pondok Indah, Jakarta menuju ke Lapangan Terbang SukHat di Cengkareng, kalau lancar mungkin 40 menit sampai sudah, kalau macet?? Lalu dari Lapangan Terbang Juanda Surabaya ke kota Surabaya paling beruntung satu jam baru sampai di Jalan Embong Malang. Menunggu pesawat berangkat dan menunggu barang di tempat tujuan? Ditambah lama perjalanan pesawat di udara yang satu jam, silakan jumlahkan sendiri saja! Bisakah bersaing dengan Kereta Listrik atau Kereta Magnet atau Kereta Energi seperti itu?? Apalagi pengangkutan secara massal biasanya membuat ongkos perjalanan menjadi lebih murah.

Bagaimana cara penumpang yang ingin turun dan naik, dari dan  ke atas kereta?? Menurut rencana yang sudah dibocorkan sih, begini: Di setiap setasium disiapkan serangkaian gerbong yang diberangkatkan dan kecepatannya akan disejajarkan jalannya dengan kereta api utama yang berkecepatan tinggi itu. Pada waktu sudah dianggap aman, ketika sudah sejajar dan “berhimpitan berdampingan” jalannya, maka diadakanlah pergerakan  pemumpang dan barang yang naik dan turun seperti di stasiun yang diam dan statis di satu tempat, seperti stasiun yang kita kenal sekarang ini. Selesai prosedur dilaksanakannya hal ini, maka akan dipisah lagi kereta satelit yang menaikkan dan meurunkan penumpang dan barang tadi.

Dengan cara itulah maka Kereta Energi dapat terus menerus berkeliling sepanjang ribuan kilometer dan ini amat mungkin bila di”luncur”kan di negara China yang luas daratannya itu, atau di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika.

Masih belum habis kehebatan dunia mendatang dari penerapan sistem modern yang akan tercipta dan sedang diolah oleh perusahaan Kanada tersebut di atas. Apa itu?

Semua kereta itu tidak akan menggunakan banyak tenaga manusia sebagai penggerak yang menggunakan otaknya sendiri, otak manusia. Semua gerak dan sistem pelaksanaannya akan dikerjakan secara elektronik yang akan amat teliti meniti semua ketentuan dan peratuan mengenai efisiensi dan keselamatan kerja operasi. Apabila ada kelambatan di sebuah tempat penurunan atau penaikan penumpang, sinyal elektronik akan mengatur agar rangkaian kereta berikut yang ada di belakangnya akan mampu menyesuaikan dalam kecepatannya sehingga tidak akan bertumpuk dan membuat jarak yang aman tidak menghambat seluruh sistem.

Pada saat ini sudah ditemukan sistem pengendalian operasi yang demikian akurat sehingga akan mampu, misalnya dalam mengatur tempat berhenti kereta seperti ini tepat di tempat yang ditentukan, dengan kemungkinan yang kesalahannya hanya sepuluh senti meter saja.

Terdengar seperti impian tetapi saya percaya bahwa itu bukan mustahil sama sekali!

Bukankah hampir semua alat di dunia ini dimulai dari impian dan khayalan belaka?

Saya memberi judul tulisan ini karena menengarai gaya hidup sekarang sedang bercampur aduk dari yang paling kuno sampai yang dengan yang paling modern, sedang bersimbiose tetapi kurang mutualistis.

Ada yang sudah biasa menggunakan telepon genggam Blackberry dan ada yang memiliki pesawat telepon sambungan kabel saja seumur hidupnya,  belum pernah merasakan penggunaa telepon selular. Seperti layaknya kakek saya yang lahir pada akhir abad ke 19 saja, seperti Alexander Graham Bell sebelum menemukan alat yang sekarang terkenal dan disebut dengan istilah telephone. Di dalam hidupnya mereka ini malah belum pernah memerlukan telepon. Para pembaca silakan mulai mengamati di sekeliling anda. Apabila di dalam rumah anda sekarang ada seorang yang bekerja sebagai pembantu, yang tinggal bersama, maka mungkin sekali di rumahnya, di desa nun jauh di sana, mungkin saja dia tidak memilik telepon sambungan kabel. Tetapi telepon genggam mungkin saja dimiliki tetangganya yang sering berhubungan ke kota.

Saya juga memperhatikan cucu-cucu saya sendiri yang datang ke tempat tinggal saya, setelah berhaha dan berhihi sebentar, maka apakah itu dimulai dengan dering teleponnya ataukah dia sendiri yang memulai mengaktifkan Cellular telephone-nya, memulai chatting dan email atau sedang browsing di internet. Saya, yang kakeknya dan istri saya yang neneknya, tiba-tiba hilang dari percaturan asyik yang dijalaninya. Mereka sudah sama sekali tidak sadar bahwa saya dan neneknya berpandangan dan tersenyum saja. Cucu saya?

Bukan hanya mereka, semua yang lebih muda pasti tidak akan perduli orang tuanya, siapa saja yang berada di sekelilingnya, apabila Cell phone mulai bekelap-kelip atau bergetar secara aktif.

Yang lebih muda?

Pegawai yang paling rendah sekalipun di dalam sebuah organisasi perusahaan atau instasi, berani dan biasa minta ijin menerima telepon yang katanya amat  penting, dari istrinya dari pacarnya atau bahkan dari tukang tagih uang angsuran utang sekalipun. Maka majikan dan atasannya tiba-tiba juga hilang dari perhatian sang anak buah. Itulah daya tarik yang amat nyata dari telephone Balckberry dan juga lain-lain alat komunikasi baik telepon, email, mini komputer, telepon Tablet, iPad dari Apple dan Play Book dari Blackberry dan lain-lain dan lain-lain.

Dari keasyikan dan kemasyukan menikmati alat elektronik ini ada sesuatu yang mengejutkan saya.

Di Chicago, Amerika Serikat beberapa hari yang lalu. Ada seorang Polisi berpangkat tidak tinggi. Setiap hari dia berangkat dari rumahnya menuju ke tempatnya bekerja. Sesuai peraturan dia bekerja dari jam sekian sampai jam sekian dalam setiap hari kerjanya. Entah apa yang merasuki pikirannya dia mulai menghitung berapa lama dia harus siap melakukan pekerjaannya sebelum waktu kerja, dalam berpakaian dinas polisi. Dia hitung dengan tepat berapa menit dan detik dia memasang pakaian dan sepatu serta memasang peralatan resmi polisi di tubuhnya sampai layak bisa dinyatakan bahwa dia siap bekerja sesuai tugasnya.

Dia menghitung berapa menit sehari dan berapa menit seminggu dan seterusnya mendapat berapa jam setahunnya. Apa yang dilakukannya dengan data itu?? Dia menuntut atasannya secara undang-udang ke”rugi”annya dia dalam mengenakan pakaiannya dan perlengkapannya sebagai polisi, yang dia katakan sebagai menggunakan waktu pribadinya, bukan waktu dinasnya sebagai polisi. Maka dia menuntut ganti kerugian atas waktu pribadinya yang hilang. Apa yang terjadi?? DIA MENANG di pengadilan dan diberi kompensasi berupa fasilitas cuti yang ditambah dan beberapa hal berupa kemudahan lain.

SEBALIKNYA ada juga yang terjadi. Ada manusia-manusia yang begitu gemar dirinya menikmati ke”mudah”an menggunakan alat elektroniknya, sehingga dia mau saja membudakkan dirinya kepada perusahaan tempat dia bekerja dengan cara tetap membuka alat-alat komunikasinya dengan pekerjaannya, di luar jam kerjanya. Melalui alat komunikasi telepon, sms, mms dan email serta chatting yang memberinya dan dia mau menerima   tugas itu, dilakukan seketika atau tidak, tetapi semua kegiatan ini harus dicatat sebagai menggunakan waktu pribadinya.

Apakah dia ini adalah manusia modern yang terikat kontrak kerja?

Ataukan dia ini hanya paku yang merupakan bagian dari mesin besar??

Dia tentunya kan terganggu dalam menikmati waktu pribadinya, dan bekerja secara Lembur (yang gratis) melalui Blackberry?

Ingatlah bahwa Blackberry itu asal muasalnya buatan Canada juga …

Mari kita renungkan …

Silakan Ctrl + click link berikut:

http://anwaridoelarnowo.blogspot.com/2010/08/blackberry-overtime.html

 

Anwari Doel Arnowo

Toronto, 23/08/2010  

 

14 Comments to "Lembur BlackBerry"

  1. nevergiveupyo  10 November, 2011 at 14:40

    saya..akan 2×24 jam bebas dari telpon… (karena kmrn HP saya hilang.. dan hingga hari ini kartu baru penggantinya belum bisa diaktifkan…
    Horai…..
    saya masih sehat!

    makasih Pak Anwari…

  2. Dewi Aichi  10 November, 2011 at 07:42

    Wah yang polisi itu kayaknya terlalu berlebihan, ya harus ada pengabdian sedikitlah…perhitungan banget . Bagaimana kalau dalam keadaan tertentu, karena jabatannya, harus bekerja melebihi jam kerjanya atau kelebihan dikit waktunya?

    Setuju pak Anwari…mari kita memperalat ALAT he he…

  3. Dj.  9 November, 2011 at 00:52

    Cak Doel….
    Terimakkasih sudah memberi satu renungan yang luar biasa…..
    Kadang kita tidak sadar, sudah dibius denngan alat komunikasi ( Black Berry )
    Jadi ingat, kalau tidak salah ditahun `80 an dimana telephone genggam masih baru dan sangat besar.
    Mana mahal sekali, belum banyak yang punya.
    Bukan hanya pesawatnya yang mahal, tapi biaya penggunaannya juga mmamsih sangat mahal….

    Salam sejahtera dari Mainz….

  4. Adhe  8 November, 2011 at 23:23

    bener pakde Anwari, setuju deh kalau kita yg harus “memperalat” alat….hehe. kadang mendengar bunyi cell phone bikin stress…. so matikan aja daripada puyeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.