Ke Sekolah Jalan Kaki

Dewi Aichi – Brazil

 

Catatan kecil tentang pengalaman anak ketika sekolah di Jepang. Sepertinya sederhana saja, tetapi ada nilai yang sangat luar biasa di sana. Sehingga dengan demikian, bagi saya maupun anak saya, itu adalah pelajaran yang sangat berharga.

Pagi-pagi, anak saya yang ketika itu umur 7 tahun, keluar dari pintu apartement menuju ke bawah. Di bawah sudah ada beberapa anak Jepang berseragam sekolah. Ditempat itu sudah ditentukan oleh pihak sekolah (atas kesepakatan wali murid bersama pihak sekolah), untuk dijadikan tempat berkumpul anak-anak yang akan berangkat sekolah.

Dalam setiap post, ada seorang ketua yang memimpin ketika hendak berangkat sekolah. Biasanya dari anak yang usianya paling tua. Anak-anak kemudian berangkat bareng ke sekolah, dengan berjalan kaki, dan beriringan sangat teratur. Pakaian seragam SD di tempat anak saya sekolah adalah putih biru. Juga tas seragam berbentuk ransel yang cukup berat menurut saya. Tas ransel yang cukup bagus yang memang didesain agar tidak cepat rusak dan tidak basah ketika musim salju dan musim hujan badai.

Jarak dari tempat tinggal saya sampai sekolah kira-kira 2 km. Rasa iba saya sebagai ibu, sering muncul ketika melepas anak yang tubuhnya begitu kecil, berjalan kaki sejauh hampir 2 km. Membawa beban berat di punggung. Masih ditambah ketika musim dingin, turun salju, ataupun ketika hujan deras disertai angin. Anak saya, dan juga anak-anak Jepang lainnya tetap berjalan kaki dalam basah, memakai jas hujan, dan tambahan sepatu sebagai ganti.

Seandainya di Indonesia, pasti orang tua akan mengantar anak sampai di sekolah, dengan kendaraan, maupun mobil dan bahkan sopir pribadi. Senyaman mungkin. Apalagi jika situasi tidak memungkinkan seperti hujan deras.

Sayapun berpikir, apakah ini pendidikan Jepang? Dari usia dini sudah digembleng secara fisik dan mental. Begitu disiplin dan teratur. Tahan banting. Tidak cengeng dan tidak manja. Tidak berbeda dari anak yang orang tuanya kaya, dan anak yang orang tuanya miskin. Semua jalan kaki. Itulah mungkin salah satu sebab cepatnya anak bisa mandiri.

Saya lanjut dengan mengamati anak-anak bersekolah jalan kaki. Pemimpin kelompok biasanya membawa bendera warna kuning. Digunakan ketika akan menyebrang jalan, atau pas di lampu merah. Masyarakat umum sudah tahu jam berangkat dan jam pulang sekolah anak-anak, sehingga pada jam tersebut, kecepatan mobil maksimal 30/jam di jalur hijau yang itu tau adalah untuk anak-anak sekolah.

Atau dari pihak sekolah memberi jadwal kepada orang tua, atau masyarakat lingkungan, untuk bersedia menjadi penyeberang bagi anak-anak sekolah. Meskipun dijamin aman, tetapi ini adalah bentuk dari tingginya kesadaran masyarakat Jepang.

Sambil mengucapkan “Ohayo Gozaimasu”, setiap bapak/ibu(ojisan/obasan) yang sedang piket di pagi hari untuk menyeberangkan bagi  anak-anak yang lewat tanpa mengenal capek, padahal bisa membutuhkan lebih dari 30 menit, sampai anak-anak semua masuk sekolah.

Sekolah jalan kaki juga didukung oleh mutu sekolah yang merata. Sehingga orang tua anak tidak akan menyekolahkan anak di luar wilayah. Juga ini sudah peraturan dari pemerintah. Tidak boleh anak disekolahkan di luar wilayah tempat tinggalnya. Sehingga dengan jalan kakipun, anak-anak masih sanggup. Satu lagi, di Jepang tidak ada ujian masuk sekolah tingkat selanjutnya. Semua lulusan SD akan masuk SMP.

Ketika pulang sekolah, semuanya berkumpul di lapangan, duduk, sampai semua anak-anak tidak ada yang ketinggalan. Setelah berkumpul, anak-anak secara otomatis mengelompok sesuai dengan rumah tinggal masing-masing. Dan akan ada pemimpin kelompok, seperti di saat berangkat sekolah. Setiap wali kelas, akan mengecek masing-masing kelompok. Jika semuanya sudah sesuai, maka pintu gerbang sekolah akan dibuka, dan guru-guru berjejer, sambil mengucapkan sayonara, mata ashita, itte kudasai, ki o tsukette, intinya mengucapkan selamat jalan, hati-hati, sampai ketemu besok.

Begitulah setiap harinya. Dan sekelumit pengalaman, mudah-mudahan akan terukir dalam hidup saya, anak saya, dan pelajaran sangat berharga.

Dengan berjalan kaki saya bisa sekalian melatih otot-otot kaki agar tidak malas.

Sambil berjalan kaki saya sering mengamati hal-hal yang sebenarnya klasik & simple tapi sering luput & terlupakan dari pengamatan kita.

Sambil berjalan kaki saya sering menjumpai hal-hal baru yang tak pernah terduga sebelumnya.

Sambil berjalan kaki saya banyak menemukan sisi kehidupan & suasana jalanan dengan segala hiruk-pikuknya.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

78 Comments to "Ke Sekolah Jalan Kaki"

  1. Harin Waelah  9 February, 2014 at 09:09

    Kerenn…

  2. Dewi Aichi  11 March, 2012 at 10:33

    Sh00cie terima kasih….lho kok pengen jadi orang Jepang sih? Alasannya?He he…orang Jepang memang hebat ya…etos kerjanya perlu di contoh, disiplin dan tepat waktu ..selain itu budaya malu Jepang juga menjadi faktor sangat menentukan kemajuan bangsa Jepang..

    kalau era samurai sangat terkenal dengan harakiri, kini di era modern, pejabat mengundurkan diri jika(diduga), melakukan penyimpangan, baru diduga lho…

  3. sh00cie49  11 March, 2012 at 10:12

    pingin bgt………jd org jepang

  4. Dewi Aichi  21 November, 2011 at 06:40

    Hadhimas, sejak jaman dulu masyarakat Jepang sudah mengenal istilah bushido yang merupakan konsep pengabdian diri yang juga memuat nilai nilai yang kau sebutkan di komen sebelumnya, kejujuran, kesopanan, kesetiaan, kehormatan, kebajikan dan keteguhan hati. Awalnya bushido ini merupakan konsep pengabdian diri total dari bawahan kepada atasan, atau dari anak buah kepada tuannya. Bahkan waktu jaman samurai itu, pengabdian mutlak juga berlaku saat tuannya bunuh diri, anak buah ikutan bunuh diri.
    Dari konsep bushido ini menjadi bagian sejarah peradaban Jepang sampai jaman modern, maka bagaimanapun modernnya Jepang, tetap membudaya jiwa mengabdi kepada bangsa, . Itulah yang diterapkan sampai sekarang di segala sudut kehidupan sosial masyarakat Jepang
    Seperti diketahui, Jepang adalah negara yang paling banyak didera pengunduran diri pejabat. Budaya malu dan merasa bersalah begitu kental dalam kehidupan mereka. Jika seorang pejabat publik bersalah, secara otomatis ia akan mengundurkan diri dari jabatannya. Terakhir, Perdana Menteri (PM) Yoshihiko Noda baru saja terpilih untuk menggantikan PM Naoto Kan. Dengan demikian, PM Noda menjadi pemimpin baru keenam bagi negara itu dalam waktu lima tahun saja.
    Di Indonesia terbentur oleh budaya Malu yang semakin hilang dari para penguasa negara ini. Pertanyaan yang berhubungan dengan kerajaan atau kekaisaran aku tidak tau, apa iya dan seandainya…mungkin pembaca lain bisa memberikan penjelasan…!

  5. hadhimas  20 November, 2011 at 17:30

    Baca kalimat “sejak jaman samurai” sy jadi malah tambah bingung mba, gemana cara mereka kok bisa mengalihkan semangat “pertarungan pedang” ke dalam berbagai bidang kehidupan (industri, ekonomi, sosial, teknologi)….?….. #@$%#&^bingung ngonversinya#&^##$*&$….

    Kalo di pikir-pikir lg hampir semua negara maju Asia berasal dari kerajaan/kekaisaran yg satu ya mba,? kyk china, jepang, india dan korea, sehingga saat sistem pemerintahan mereka berubah, etos pengabdian tetep bisa tumbuh subur di masyarakatnya karena memang punya akar yg sama…

    Nah, apa mungkin penyebab ke Statisan perkembangan Negara ini akibat kurangnya etos pengabdian pada negara yang ada kemungkinan di sebabkan oleh penyatuan banyak kerajaan/kesultanan dalam satu negara.? sehingga negara ini tidak memiliki akar sejarah pengabdian yg sama dengan kerajaan maupun kesultanan sebelumnya, selain jogja tentunya.. he..he.. ^_^,

    Coba seandainya aja dulu tiap-tiap kesultanan maupun kerajaan nusantara memproklamasikan kemerdekaan negaranya sendiri-sendiri mba, mungkin saja masyarakat nusantara akan bisa lebih memiliki etos pengabdian pada negaranya, layaknya jepang dengan semangat samurainya dan jogja dengan semangat abdi dalemya…. he..he.. ^_^,

  6. Dewi Aichi  19 November, 2011 at 17:29

    Hai mba….Adhe…abis jalan kaki sore sore ya? Untung lho jadi orang yang ngga malas jalan kaki, dulu suamiku saat di Jepang malas jalan kaki, sekarang justru di Brasil dia gila jalan kaki ha ha…apa jangan jangan banyak cewe cantik jalan kaki juga ya? Ha ha…biarin aja…kan biar matanya juga sehat ..! Nilai nilai yang disebut Hadhimas sebelumnya itulah yang tertanam dalam sejak dini, maka tak heran dari generasi ke generasi..orang Jepang sangat layak dicontoh….banyak yang ngga bagus,dari masyarakat Jepang, tapi yang baik memang harus diakui he he..

  7. Adhe  19 November, 2011 at 17:13

    Kereeeen mba DA, jalan kaki membuat disiplin pad anak2 utk menghargai waktu sjk dini. Ssssttt…..aku juga hobby jalan kaki, hehehe.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *