Kembalinya Kebudayaan ke Kementerian Pendidikan

Handoko Widagdo – Solo

 

Salah satu alasan mengapa Kebudayaan dikeluarkan dari Kementerian Pariwisata dan dikembalikan ke Kementerian Pendidikan Nasional adalah karena SBY gundah. “SBY gundah melihat kasus korupsi begitu marak. SBY juga gundah atas kasus moralitas yang menonjol di kalangan elite di Indonesia.

Selain kebobrokan moral, kasus-kasus radikalisme dan SARA semakin meningkat akhir-akhir ini. Kasus-kasus besar korupsi, kasus anggota DPR yang selingkuh, tertangkap basah sedang membuka situs porno dan kasus-kasus radikalisme atas nama agama dan kasus kebohongan public membuat SBY melakukan refleksi”, demikian penuturan teman saya yang berada di kalangan dekat dengan beliau.

Respon pertama terhadap kebobrokan moral oleh pemerintah adalah dengan memberikan pendidikan karakter dan budaya bangsa. Materi pendidikan karakter dan budaya bangsa dimasukkan sebagai salah satu kategori program sekolah. Bahkan Menteri Pendidikan menekankan supaya materi ini segera dilatihkan kepada semua tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Itulah sebabnya pelatihan kepala sekolah yang merupakan bagian dari penguatan sekolah untuk pengelolaan dana BOS juga ditambahi materi ini.

Respon melalui materi khusus dirasa kurang cukup. Oleh sebab itu pada momentum reshuffle, SBY ’mengembalikan’ kebudayaan berdampingan dengan pendidikan. Jadilah Kementerian Pendidikan berubah nama menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebenarnya, sektor kebudayaan berdampingan dengan pendidikan sudah terjadi diawal republik. Sejak tahun 1946 – saat Sjahrir menjadi perdana menteri, nama Kementerian Pengajaran berubah menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Meski sempat kembali menjadi Kementerian Pengajaran pada tahun 1947-1948, sektor kebudayaan hampir selalu berdampingan dengan Pendidikan. Sektor kebudayaan pernah hilang dari kementerian saat Gus Dur jadi presiden. Namun oleh Megawati, sektor kebudayaan dikembalikan ke kabinet berdampingan dengan sektor pendidikan.

Sejak SBY memegang tampuk kepemimpinan nasional, beliau memindahkan kebudayaan berdampingan dengan sektor pariwisata. Kebudayaan dimaknai sebagai kesenian yang cocok untuk dijual sebagai atraksi pariwisata. Namun kegundahan beliau menyebabkan dikembalikannya sektor kebudayaan berdampingan dengan sektor pendidikan. Kesenian tetap bisa dijual untuk atraksi pariwisata, namun istilahnya bukan lagi kebudayaan, melainkan’ekonomi kreatif’.

Berdasarkan penuturan teman saya tersebut, saya lalu bertanya. Apakah benar pemisahan sektor kebudayaan dari sektor pendidikan adalah penyebab maraknya korupsi dan dekadensi moral di kalangan elite, serta radikalisme beberapa kelompok masyarakat negeri ini? Bukankan mereka yang memerintah negara sekarang ini adalah produk dari kurikulum 1975 atau sebelumnya dan setelahnya dimana saat itu sektor kebudayaan berada bersama dengan sektor pendidikan? Artinya para elite mendapatkan pendidikan serta kebudayaan di sekolah saat mereka masih remaja? Jadi?

Meski saya tidak melihat tautan antara pemisahan sektor kebudayaan dari sektor pendidikan menjadi penyebab utama kebobrokan moral para elite serta sikap radikal sekelompok masyarakat, saya menyambut gembira penyatuan kembali kedua sektor ini. Dengan kembali menyatunya dua sektor ini maka pendidikan Indonesia bisa kembali diwarnai dengan budaya.

Pendidikan Indonesia dikembalikan kepada jalur ’pembangunan manusia seutuhnya’, bukan sekedar mengejar kemampuan akademik saja. Demikian pula kebudayaan tidak dimaknai sebagai kesenian yang ’layak jual’ saja. Kebudayaan dikembalikan sebagai pembangunan kultur berbangsa dan bernegara. Sektor kebudayaan bisa kembali menekuni pembangunan kebangsaan dan meningkatkan sikap toleran yang konon sudah dimiliki oleh Bangsa Indonesia sejak dulu kala.

Sayangnya, meski sudah berada dalam satu rumah, kamar kebudayaan dan kamar pendidikan masih terpisah rapat. Kedua sektor ini masih dikepalai oleh masing-masing wakil menteri. Semoga ini hanyalah alasan praktis di masa peralihan. Dengan masih terpisahnya dua sektor ini maka sinergi antara kebudayaan dan pendidikan tidak segera akan berhasil.

Saya berharap pada reshuffle berikutnya, jika ada, sektor kebudayaan dan pendidikan tidak lagi dipimpin oleh dua wakil menteri, tetapi langsung ditangani oleh menteri (tidak perlu ada wakil), sehingga sinergi pendidikan dan kebudayaan bisa cepat dilakukan (kembali).  Sehingga elite politik dua puluh tahun lagi adalah elite yang tidak korup, tidak suka selingkuh dan buka situs porno di saat sidang DPR. Sehingga generasi yang kita hasilkan dua puluh tahun lagi adalah generasi yang tidak melarang saudaranya berbakti kepada Tuhan dengan keyakinan yang berbeda. Sehingga dengan demikian, generasi duapuluh tahun yang akan datang bisa konsentrasi untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah untuk kesejahteraan rakyatnya. Semoga.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

76 Comments to "Kembalinya Kebudayaan ke Kementerian Pendidikan"

  1. Handoko Widagdo  14 November, 2011 at 05:29

    Lani, dirimu kan ahli kebudayaan, seharusnya ikut menyumbang pemikiran bagaimana supaya kebudayaan tidak sekedar menjadi pelengkap.

  2. Lani  12 November, 2011 at 12:51

    HAND : dlm hal ini aku ora melu2 ah……krn ora mudenk dgn situasi, kondisi, disini saat ini…….aku nyumbang mingkem wae yo bolehkan?????? karo mesam mesem…….

  3. Meitasari S  12 November, 2011 at 12:16

    nuchan n matahari. Ah snangnya…. Bs mlht kalian senyum.

    Yg brdarah2 kambing n sapi kmrn pas idul adha. Hag hag hagz…happy week end ya…

  4. Nuchan  12 November, 2011 at 12:05

    Hai Mba Meitasari hahahaha aje gila nga sampai berdarah2 kog mbak hahaha…:
    Halah halah lebay banget kalo sampai berdarah2 hahaha hari gini?

    Saya memang suka menggoda si Itsmi dan Bp.Handoko hahhahha…
    Karena saya sudah menduga bahwa Bp. Handoko ini cukup tangguh menghadapi serba-serbi komen yg masuk makanya saya godain beliau…

    Kalo Itsmi ini memang diberi tugas yg jelas yaitu membuat suasana jadi panas sehingga komennya pun ya seputar Tuhan dan agama hahahhaa saya bertugas juga menjadi kipas sich hahhahahhahaa ngakak nie nulisnya…

    Ini cuma permainan kata-kata mbak,mungkin nga sampai berdarah2 sich cuma kalo kata si Itsmi sich jadi kayak olah raga otak hahhahahha

    Memang orang Atheis itu suka fitness dan olah raga otak katanya hahhahhaha..

    Okay mba Meita met berakhir pekan ya..salam buat si kecil yg manisssss bgt…

  5. matahari  12 November, 2011 at 01:42

    Meitasari…saya setuju…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.