Buku Kehidupanku (8): Vento Sang Penghiburku

Meitasari S

 

Anak bungsuku, terlahir dalam suasana lebaran. Cukup kacau, karena dengan 3 anak yang masih kecil-kecil ditambah lagi pembantu mudik. Alamakkkkk! Bukan cuma itu! Hadehhhhhh, saat melahirkan pun bermasalah. Aku terlalu kuat mengejan dan dokter belum datang. Sehingga memerlukan penanganan khusus yg menyebabkan banyak jahitan harus kujalani. Tak hanya banyak jahitan tapi mungkin diobras juga.

Ha ha ha ha…. Belum selesai juga kekacauannya. Ternyata saat pulang jahitan dokter itu tidak sempurna. Sakit bukan kepalang. Mau kembali ke dokter itu, belum buka, karena sang dokter masih libur lebaran. Oh, my God! Terpaksa mengunjungi dokter di dekat rumah untuk mendapat pengobatan darurat. Apa dia bilang???? “Bu, ini harus dioperasi lagi,” sarannya.“Hah????,” jawabku hampir menangis. Pengeluaran lagi, pikirku. Baru saja melahirkan, lebaran pula. Lebih dari itu rasa sakit yang tak bisa kubayangkan kalau harus dioperasi lagi. Aku hanya menangis dalam hati saja. Dalam keadaan riweh, suamiku pun ikut-ikut panik.

Marah-marah padaku yang kesakitan ini. Yang katanya manja, dlsb. Lengkaplah sudah penderitaanku. Tapi melihat paras Vento yang tampan dan teduh sungguh sangat menghiburku. Dia adalah satu-satunya anakku yang lahir ditunggui dan dilihat ayahnya. Dalam kesakitanku, yang kusebut selalu adalah Sahabat dan Penolongku, juga aku berdoa pada Padre PIO, pelindung orang sakit untuk merayu Tuhan supaya aku tak merasa kesakitan. Ya, begitulah. Orang sakit dan menderita selalu dekat dengan doa, he he he.

Percaya atau tidak, saat aku merasa kesakitan luar biasa tercium bau harum yang tak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Ternyata saat aku baca kembali cerita tentang Padre Pio, seorang Santo yang dikarunia bilokasi dan stigmata, mereka yang mendapatkan karunia kesembuhan melalui perantaraan doa pada Padre Pio mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan. Untuk itulah aku menamai bungsuku ZENA PIO

MEIDI ADVENTO. Yang artinya sang Penghibur yang lahir di masa Advent. Vento tumbuh sebagai anak yang menggemaskan dan cerdas. Hatinya sangat lembut. Bicaranya santun tak heranlah ia dicintai kakak-kakaknya juga teman-temannya. Vento pandai berdoa. Doanya sangat sederhana dan menyentuh. Ada hal lucu dan membuat trenyuh yang tak dapat kulupakan. Yaitu saat Natal. Kami selalu mengadakan ibadat keluarga dan evaluasi bersama. Saat pengakuan dosa dan ucapan syukur, Vento yang saat itu masih berumur 5 tahun mampu mengaku dosa dengan sungguh-sungguh sampai menangis. “Tuhan, ampunilah aku, karena aku tidak patuh pada ayah dan ibu dan suka berantem dengan kakak dan mbak. Ampunilah aku Tuhan”, doanya dengan suara yang terbata-bata sambil berurai airmata. Mendengar suaranya yang serak tentu saja kakak-kakaknya menoleh dan memperhatikan dia sambil menahan tawa.

Demikian juga saat ucapan syukur. Doa Vento membuat kami tercengang. Doa yang sangat sederhana dan penuh makna yang diucapkan dengan lancar untuk anak usia 5 tahun. Jika ditanya, apakah cita-citanya, Ia akan selalu menjawab jadi romo. Ha ha ha……Semoga! Aku sih sebagai orangtuanya, cuma berharap semoga cita-cita itu memang sudah ditiupkan Tuhan dari sejak ia berada dalam kandungan. Vento, anakku yang manis…teruslah menjadi penghibur keluarga anakku, dengan senyum dan kelembutan hatimu…Kami sayang kamu…. Ibu terus mendoakanmu agar boleh mendapat rahmat panggilan dariNya. Amin… Agustus 2011

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

119 Comments to "Buku Kehidupanku (8): Vento Sang Penghiburku"

  1. Handoko Widagdo  12 December, 2011 at 19:58

    Saat bertemu Vento saya merasa bahwa dia adalah anak yang selalu senyum dan penuh percaya diri.

  2. Meitasari S  24 November, 2011 at 10:15

    yu lani : lah ora seru kalo cuma nitip mata. Gak iso ngerjai yu lani. Wkwkwk.

    Yu mslh email ketok e wis ngerti. Tgal praktek. Tx ya mbakyu yg baik hati. Wakakak nyolu..

  3. Lani  23 November, 2011 at 12:56

    MEITA : soal email tanya ke aki buto aja ya…….

  4. Lani  23 November, 2011 at 12:55

    111 MEITA : sori de mori……aku ndak punya fb……..klu mmg pd merencanakan kopdar, dimana, kapan, brp hari hehehe…….aku nitip pandangan mata aja……ndak bs hadir……..adoooooh buangeeeeeeet!
    ++++++++++

    “Jd hamba duit? Ah biar duit yg jd hambaku ajah.
    Lhah masa to yu? Kok kluarnya cm lani? Py to cara ne? Jian gaptek tnan je aku ki. Tinggal klik di nama gt kah yu?”

    ++++++++

    itu soal apa to? aku ndak ngerti…….

  5. Meitasari S  17 November, 2011 at 09:12

    Mb Mawar : buatku merinding sudah berlalu… wkwkwk…

    Iya mbak vento memang sangat teduh…. menentramkan. tx ya…. saya cuma bisa mendoakan….. sisanya biar Tuhan saja yang atur. Karena rencanaNya lebih indah dari rencana saya…. Tx

  6. Mawar09  17 November, 2011 at 00:56

    Meita: baca kisahmu bikin aku merinding (soal jahit menjahit itu lho!). Vento memang kelihatan tenang dan teduh…….. semoga cita-cita nya bisa tercapai. Kadang kan kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Salam!

  7. Meitasari S  16 November, 2011 at 23:12

    akang : hatur nuhun ya kang…tx doa n salam jg buat kak ayi n dedek ya….

  8. Reca Ence AR  16 November, 2011 at 20:23

    Perjuangan berat seorang ibu…….
    Ahhhh jadi inget Ema……………hehehehe
    Mba Mei, kisah yg sangat menyentuh, dan Vento, benar2 sang penghibur
    Salam sayang buat Vento……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.