[Cinta di Atas Awan] Vancouver

Hennie Triana Oberst – Jerman

 

Artikel sebelumnya:

[Cinta di Atas Awan] Suatu Ketika

[Cinta di Atas Awan] Alberta

 

Ketika tiba di depan apartemen Hazel, aku lihat ia melambaikan tangannya dari balik jendela. Aku memang telah mengabarkan kira-kira jam berapa aku tiba. Beberapa hari ini dia sengaja mengambil libur kerja.

Aku saling mengenalkan mereka satu sama lain, walaupun aku bisa menangkap mimik keheranan di wajah Hazel. Kemudian kuucapkan terima kasih pada Marc atas kebaikannya. Ia memelukku dan memberikan ciuman di kedua pipiku, dan membisikkan,

Jangan lupa telfon aku ya. Take care“.

Ia kemudian berjalan dan memasuki mobilnya sambil melambaikan tangannya dan tersenyum.

Hennie, siapa laki-laki itu?” tanyanya mencecar ketika kami baru saja memasuki rumahnya. Sepertinya dia sudah tak sabar dari tadi ingin menanyaiku.

Aku tertawa sambil menceritakan bagaimana aku berkenalan dengan Marc.

Sepertinya ia lelaki baik, pasti dia jatuh cinta padamu“, ia melanjutkan kata-katanya.

Mungkin, tapi bisa jadi dia memang baik“, jawabku mengelak. Tak ingin membangun rasa ge-er yang lebih tinggi lagi.

Hati-hati kamu ya, pilih laki-laki yang baik. Ingat tidak waktu kita terbang bersama?”, ia berusaha menasehatiku dan mengingatkanku akan seorang lelaki yang mendekatiku ketika kami terbang bersama suatu kali.

Aku kemudian tertawa lepas. Yah, lelaki tersebut memang mendekatiku, ditambah lagi kami (lagi-lagi kebetulan) bekerja di perusahaan yang sama. Hubungan telfon Vancouver-Jakarta akhirnya bukan masalah, ada alasan hubungan kerja.

Ray, maksudmu kan? Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya. Tak lebih hubungan kerja kok“, kalimatku mencoba menerangkan hal sebenarnya. Si lelaki lembut dan tampan itu memang sangat menyukaiku. Tetapi dia lelaki beristri dan memiliki anak satu. Bukan salahku kalau ia menyukaiku dan (mungkin) membuatnya bersikap lain dari biasa. Aku tak tahu apa yang terjadi, hingga suatu hari seorang wanita menelfonku, ia memperkenalkan diri sebagai istri Ray.

Mimpi apa aku, kali kedua dilabrak istri orang. Apa aku berwajah pengganggu suami orang? Aku katakan pada wanita itu bahwa aku bukan siapa-siapa suaminya, dan tak pernah ingin mendekati lelaki itu. Kalau akhirnya si istri mengaku bahwa suaminya berubah, itu bukan urusanku. Ah, mengurus hidupku yang masih sendiri saja aku masih belum sempurna, mana mungkin aku ingin menambah kesibukan mengurusi rumah tangga mereka.

~~ OOO ~~

Waktu yang kulewati bersama Hazel sangat menyenangkan. Kami lebih banyak mengisinya  dengan menyusuri kota, berjalan santai, atau hanya masak bersama di rumahnya dan mengobrol segala hal. Aku juga tak berencana mengelilingi kota seperti ikut wisata kelompok. Lagian ini adalah kali ketiga aku berada di negeri Daun Maple yang menurutku sangat indah dan romantis. Aku memang jatuh cinta pada negeri ini. Ikatan emosi lainnya yang tidak sengaja hadir dan mengenal begitu banyak orang-orang baik yang hadir dan mampir di hidupku. Mungkin juga hanya perasaanku yang terhanyut ketika berada pertamakalinya di keindahan warna-warni daun di musim gugur di negeri ini.

Negeri ini membuatku tertawa dan menangis, tapi entah kenapa aku selalu ingin kembali menjenguknya. Kali ini aku putuskan hanya ingin bersantai, menghibur hati yang masih terombang-ambing, sedang merasa kecewa dan menganggap bahwa Tuhan kadang tidak adil.

~~ OOO ~~

Suatu kali aku diajak Hazel mengunjungi tempatnya bekerja. Menapakkan kaki di ruang yang luas, hangar pesawat dan memasuki badan pesawat yang sedang ditelanjangi. Kesempatan seperti ini tak akan kuhadapi tiap hari. Pengalaman yang membuatku takjub, menyaksikan bagaimana isi perut pesawat. Biasanya aku hanya tahu pesawat yang telah siap dan bersih untuk menerima para penumpangnya. Kami habiskan waktu bersama beberapa rekan kerjanya, tentu hampir semua pekerja di sana adalah pria. Seperti sudah diingatkan sebelum kami menuju tempat kerjanya, memasuki „Sarang Penyamun“.

Hazel, wanita pertengahan 40 adalah seorang Ibu dari dua orang anak yang memasuki usia remaja. Ia pindah dari Philipina ketika masa muda dulu, sekolah dan menikah dengan pemuda asal Philipina juga. Sayangnya pernikahan mereka harus putus di tengah jalan. Tapi menurutnya hubungan dengan mantan suaminya masih baik terjaga seperti layaknya teman, hal tersebut membuatnya bahagia karena hubungan anak-anaknya dengan Ayah mereka tetap terjalin hamonis. Aku mengenalnya ketika dalam perjalanan liburan ke Kanada sebelumnya, sedang ia baru saja kembali dari berlibur di negara asalnya dan akan pulang ke Kanada. Wanita yang sangat ramah dan cukup lucu walaupun agak sedikit pendiam.

~~ OOO ~~

Hari ini adalah hari terakhir aku menginap di rumah Hazel. Marc telah berjanji menjemputku dan menyediakanku tempat di rumahnya sampai kami terbang bersama ke HongKong beberapa hari lagi. Tapi malam terakhir nanti akan kuhabiskan waktu di hotel yang ada di bandara. Selain memang sudah aku pesan sebelum berangkat, juga karena tidak ingin repot menuju bandara ketika akan pulang nanti. Memang tanggal check-in sempat aku ganti sesuai jadwal keberangkatanku yang berubah, tapi untuk membatalkan rasanya agak riskan.

Aku peluk erat Hazel dan mengucapkan kata perpisahan. Ada keharuan yang hadir di antara kami. Entah kenapa kami berdua seperti sahabat yang sudah saling mengenal lama. Membayangkan jarak yang terbentang di antara kami tentu akan sulit merencanakan kapan bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama lagi.

Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik ya“, begitu pesannya sambil memelukku sekali lagi.

„Tolong kabari aku tentang apa saja yang terjadi, jangan sungkan untuk telfon“, dia menambahkan sekali lagi pesannya dengan nada tersendat.

Aku hanya bisa mengangguk karena mataku mulai panas berair, tak sanggup mengucapkan kata-kata. Sangat berterima kasih atas kebaikan dan waktu dan perhatiannya untukku.

~~ OOO ~~

Marc membantu mengangkut koper kecilku. Aku selalu berusaha membawa koper kecil kalau bepergian sendiri. Belajar dari pengalamanku sebelumnya, yang pernah setengah mati repot gara-gara koper besar.

Cuaca siang itu sangat hangat. Satu yang juga membuatku suka di kota ini adalah cuacanya yang tidak beku.

~~ to be continued ~~

 

 

72 Comments to "[Cinta di Atas Awan] Vancouver"

  1. HennieTriana Oberst  14 November, 2011 at 18:36

    Adhe, terima kasih sudah mampir membaca. Berterima aksih nih aku pada redaksi yang sudah memilih foto yang apik, jadi bisa untuk obat kangen terhadap negara indah itu. Serinya nggak bakalan banyak-banyak kok, lanjutannya segera meluncur.
    Baltyra emang mantapsss, hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *