Pahlawanku, Aku Malu

Masopu

 

Galau menyusur jalan berbatu

Terpelanting pada sebuah kata Malu

Terbit dari sanubari yang terbuai pilu

Melihat bangsaku terlupa sejarah lalu

Tentang perjuangan dan pengorbanan para pendahulu

 

Resah kata terendap rasa

Melihat mereka yang terbaring di sana

Jasad-jasad tertelan cacing dan serangga

Seperti jasa mereka yang terlupa masa

Hingga tahta buat  katarak mata hati kita

Saat harta berkuasa

Tak malukah kita pada Soedirman yang bergerilya

Tak malukah pada jasad-jasad tanpa nama yang terbaring di sana

Mereka berjuang untuk satu kata “MERDEKA”

Saat khianat merasuk qolbu

Tak malukah kita pada Soedirman yang berjuang dengan paru-parunya yang tak utuh

Hingga kita bangga diperbudak nafsu

Labrak norma dan jasa mereka dengan wajah membatu

Atas nama solidaritas pelajar lempar batu

Atas nama solidaritas pemuda perang kayu, hingga jasad terbujur kaku

Sementara di masanya, mereka berjuang dengan senjata bambu

Melawan penjajah dengan mimis-mimis menanti tubuh diterjang peluru

 

Ahh aku malu

Pada Soedirman yang tak takut ngilu

Pada Soepriyadi yang tak tentu pusaranya

Pada nisan-nisan pejuang tak bernama

Yang tergeletak tanpa pamrih apa-apa

Hanya untuk satu kata “MERDEKA”

Aku malu

Kala Gayus bangga dengan harta korupsinya itu

Kala pengadil hanya jadi boneka kayu, yang mengabdi pada kuasa semu

Aku malu
Kala muncul wajah-wajah Kahar Muzakkar baru

Berkedok agama mengadu domba bangsaku

Menebar kebencian atas nama syariah semu

 

Aku malu

Kala presidenku hanya bisa mencipta lagu

Seperti Ebiet dengan lagu cintanya yang sendu

Mendayu-dayu di telingaku selalu
Hingga buat hatiku tergugu ngilu

Aku malu ternyata menteriku mabuk jabatan

Tak mau mundur saat kompetensinya dipertanyakan

Aku malu saat partai pun mabuk kekuasaan

Hingga lupa apa yang diperjuangkan

Sungguh aku malu

Pada para pejuang pendahulu

Aku malu

Denpasar,0112011.0207

Masopu

Note :

Aku pakai nama Soedirman dan Soepriyadi, karena menurutku mereka yang masih bersih tanpa sempat tersangkut ambisi berkuasa. Sama seperti para pejuang tanpa nisan-tanpa pusara.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Masopu. Make yourself at home! Terima kasih kepada Alexa yang mengenalkan Baltyra kepada Masopu…

 

57 Comments to "Pahlawanku, Aku Malu"

  1. Dj.  17 November, 2011 at 01:12

    Masopu Says:
    November 16th, 2011 at 23:51

    @Pak Dj
    Saya sudha dapat beberapa info tentang bapak dari seseorang di Baltyra ini pak
    Menarik sekali kisah hidup bapak yang dibagikan oleh teman tersebut
    ——————————————————————————————–

    Mas Masopu….

    Waaaaaaaw…sudah dapat info tentang Dj. ????
    Info apaan itu….???
    Dj. hanya manusia biasa, yang setiap hari ngarit disawah dan sebentar llagi akan pensiun.
    Di Jerman pensiun umur 65, malah generasi muda, harus ngarit sampai umur 67 tahun.
    Sebelum banyak yang diberitahukan oleh teman tersebut, baiklah Dj. cerita seadanya, agar tidak salah paham.

    Dj. orangnya keras kepala, tapi penuh kasih sayang…
    Sangat percaya adanya TUHAN dan berusaha hidup damai dengan siapa saja.
    Suka akan lingkungan yang bersih dan aman.
    Tidak suka berdiakusi, tapi selalu ada waktu untuk sharing…
    Suka marah, kalau lihat yang tidak benar, tapi bukan pendendam ( sekarang marah, 5 menit lagi sudah tidak mau mengingat lagi.
    Untuk Dj. yang sudah beralu, ya berlalu sebagai pelajaran saja.
    Tapi yang akan datang, harus lebih bijaksana mengerjakannya….
    Tidak suka membaca, baru belajar menulis di Ko-Ki dan BalTyRa ( karena selama sekolah, tidak pernah punya buku. Tidak suka nonton pilem, tidak suka permainan ( kartu atau game yang lainnya, karena hanya buang waktu )
    Tapi banyak hobbby, seperti pelihara ikan, bonsai, menggambar, mancing, juga olah raga.
    dan yang paling Dj. suka, ngebanyol, asal yang masih masuk akal…..

    Itu teman punya nama atau tidak ya…??? hahahahahahahaha….!!!
    Mudah-muudahan hanya yang baiknya saja, karena istri Dj. sendiri, belum mengenal Dj. 80%.
    Berusaha menjadi Ayah dan kakek yang baik dan mengajarkan mereka, untuk hidup takut akan TUHAN.
    Karena itulah awal dari HIKMAT dan hidup gahagia bersama orang lain.

    Nah, itulah Dj.
    Semoga tidak menyesal mengenal Dj.
    Hahahahahahaahaha….!!

    Salam Sejahtera dari Mainz….

  2. Masopu  16 November, 2011 at 23:51

    @mbak Anastasia
    Ooo gitu to mbak.
    Dek rema kabare kak?
    Aku sebenarnya malah gak begitu bisa bahasa madura mbak Anas
    Ya gak tahu, mungkin memang aku lemah di bahasa kayaknya
    @ mbak Matahari
    Maaf mbak kalau dialog kita dengan bahasa daerah membuat mbak gak nyaman.
    Tapi sejujurnya kadang saya merasa lebih enak berdialog dengan bahasa daerah saya ketika bertemu dengan oranh yang sedaerah.
    Sejujurnya saya suka ngeri dengan kenyataan orang asing malah sibuk belajar bahasa daerah kita, tetapi kita yang berkepentingan malah enggan mempelajarinya. Itu kenapa saya suka bicara dengan bahasa daerah saya sewaktu ada diperrantauan entah itu di Bali ataupun di Bogor. Tapi tetap saya belajar bahasa lokal juga. Meski tak mahir, yang penting ngerti maksudnya

    @Pak Dj
    Saya sudha dapat beberapa info tentang bapak dari seseorang di Baltyra ini pak
    Menarik sekali kisah hidup bapak yang dibagikan oleh teman tersebut

    Mbak @lani

    Iya mbak EGP saja ya
    Alexa sudah cerita tentang mbak kok
    Gak usah takut pecicilan sama saya mbak. saya suka mecicil juga kok kalau lagi serius
    hehehehehe

    @ all
    Maaf baru sempat balas komentarnya, lagi mengerjakan sesuatu saat ini. edit naskah lomba tulis
    Minta bantuan Doanya saja semoga apa yang saya lakukan nantinya berhasil karena saat ini lagi bersaing dengan peserta lainnya.
    Salam

  3. Lani  15 November, 2011 at 07:21

    MATAHARI : tidak perlu meminta maaf, santai aja……malah saya bangga, dgn keaneragaman negara Indonesia dgn banyaknya bhs daerah……saya asal Jawa, jd cm ngerti boso jowo, ngoko, dan yg menengah klu yg kromo inggil saya tdk begitu ngerti………buatku, klu ndak ngerti ya tanya……..klu ndak mau nanya ya udah di skip saja…..pilih yg gampang saja…….ndak usah merasa berkecil hati, tersinggung, anggap saja dirumah ini punya kakak, adik, ibu, tante, om, bapak, bang, bung, sanak sodara yg beraneka ragam asalnya…….dr seantero nusantara…….

    istilah dr Gus Dur……..EGP aja, ndak usah dibawa ke ati……..life is too short utk mikir yg serius2, berat2…….enjoy hidup aja…….

  4. matahari  15 November, 2011 at 05:16

    Terimakasih pak Djoko untuk response dan ceritanya.Saya salut istri Bpk bisa bukan hanya bahasa Indonesia tapi juga bahasa Jawa..

    Mengenai pemakaian bahasa daerah di komen2..dalam hal ini bahasa Jawa sebenarnya karena pengalaman saya disini…Sering di pesta ulang tahun .saya berjumpa dengan teman teman sesama Indonesia dan kami secara tidak sadar langsung berbahasa Indonesia..tidak mikirin teman teman kami lainnya yang sama sekali tidak mengerti.Suami saya dulu sering menegur saya secara halus bahwa yang kami lakukan itu sangat tidak sopan..dia selalu ingatkan saya supaya memakai bahasa yang di mengerti semua orang kalau duduk di meja yang tidak semuanya orang Indonesia…Akhirnya saya terbiasa untuk tidak memakai bahasa Indonesia walau teman saya omong Indonesia tetap saya jawab dalam bahasa asing untuk menghormati teman teman bule yang tidak mengerti sama sekali..Kalau ada teman yang baru menetap dan belum bisa bahasa setempat…saya ajak teman teman lain berbahasa Inggris agar teman saya itu bisa ikut ngobrol juga…saya kasian juga melihat dia bengong..

    Selamat malam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.