Fragmen Sudut Kopitiam, Jam Sembilan Malam

Kurnia Effendi

 

Pada akhirnya kita sadar, terlalu banyak waktu terbuang, ketika
berujung pada kesedihan. Tak mudah menyambung hati yang
patah, lebih tak mudah menahan hubungan ini tak menyerah
Cinta, seperti nyala tungku, harus selalu disorong kayu
Salah satunya bernama rindu

Senja sudah jadi malam, seperti rumah jaga yang kelam:
bunga-bunga kenangan begitu cepat ingin dipendam
Tapi, sungguh tak mudah mengusir wajahmu dari ruang hatiku
Jika air mata jadi hujan yang menyiram seluruh perjalanan, kuharap
arusnya menghanyutkan semua ingatan tentangmu

Di Kopitiam kita membuka cerita, di meja marmer yang sama
kita menutup cinta

Kurnia Effendi
Kopitiam Oey, Jl. Sabang, 24 Oktober 2010

 

Ilustrasi: http://www.pbase.com

 

 

5 Comments to "Fragmen Sudut Kopitiam, Jam Sembilan Malam"

  1. Handoko Widagdo  14 November, 2011 at 06:59

    Sebuah karunia dari Kurnia

  2. HennieTriana Oberst  12 November, 2011 at 16:24

    Sendu…
    Suka sekali dengan rangkaian kata-kata yang indah ini.

  3. Dj.  12 November, 2011 at 15:41

    Bung Kurnia…..
    Terimakasih….!!!
    Jujur, Dj. sering keheranan dengan orang-orang seperti anda, yang bisa mengukirkkata-kata menjadi sangat indah…. HEBAT….!!!

    Sayang, di Mainz tiidak ada Kopitiam, adanya Eis Koffe Florenz.
    Salam,

  4. matahari  12 November, 2011 at 15:10

    Saya pernah dengar kalau kata Tiam itu dari bahasa Hokkian yang artinya kedai…shop…Sdr Kurnia,,,senang baca tulisan anda….teringat masa masa rindu dengan kekasih tapi sekarang sudah gak rindu lagi karena sudah bersama terus.Have a great weekend..

  5. [email protected]  12 November, 2011 at 09:53

    pikir…kopitiam singapura

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.