Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Engkau Memiliki Kembar Indah

Sunday, 13 November 2011

Viewed 749 times, 1 times today | 7 Comments |

Dwi Klik Santosa

 

Kisah-kisahku yang akan kubukukan ke dalam judul “AKU PULANG, KEKASIH” … Ke dalam kemasan Semi Art, semoga berkenan nanti dibaca dan dikoleksi teman-teman.

—————————————————

SESUATU YANG INDAH itu mungkin saja tidak cantik. Tidak pula selalu mewah atau berlebihan. Baik dari caranya berdandan atau berpakaian. Atau apa saja bahkan sebentuk perhiasan atau asesoris yang mengkilap melekat menjadikannya senampak boneka hidup. Ah, ya, begitulah sejak aku mulai mengenal sesosok figur. Sesuatu yang beda, sesuatu yang agung kurasakan sebagai hal yang jauh-jauh melebihi cakrawala. Sangat jauh, jauh sekali bahkan dari perkiraanku sendiri soal takaran nilai-nilai. Soal kriteria-kriteria. Soal ukuran-ukuran.

Serba kembar. Entahlah, kenapa cenderung aku menemukan itu. Yakni sudut pandang tersendiri yang entah kiranya untuk memberikan penilaian kepada sosokmu. Ya, tak kupungkiri itulah sesuatu yang hebat dan senantiasa menjatuhkan kekaguman dari apa-apa saja hal yang kau punyai. Sesuatu yang nyata dan menyatu sebagai tubuh dan dirimu, sosok dan wujudmu. Yang dalam beberapa hal kuperhatikan secara kebetulan senampak-nampaknya, serasa-rasanya serba sama. Serba indah. Serba menonjol menjatuhkan kagum.

Dua bola mata yang bulat hitam penuh binar. Dua pipi yang pipit dan lucu. Dua helai tangan yang gemulai dan terampil. Dua tungkai kaki yang lincah dan kuat. Dua lubang proporsional yang menopang hidung yang mancung dan mungil. Dan kembar-kembar yang lain, wuih, serba bagus dan memikat. Sehari-hari bisa berdekatan dan dibolehkan dengan leluasa memandang sosokmu, tiada bosan rasanya. Seperti wisata kalbu saja, segala hal yang ada menyatu sebagai dirimu menjadikan hiburan tersendiri, yang teramat mahal kiranya jika harus digantikan dengan nilai-nilai nominal kebendaan.

Berduaan saja denganmu. Itulah menit-menit sorga, kemewahan yang impresif bak melebihi nilai emas murni duapuluhempat karat sekalipun. Dan, setiap kali kesempatan itu datang, betapa ingin kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk memanja mauku. Menggodamu, mencuri perhatianmu, meraih simpatimu, sebanyak-banyaknya. Sekaya mungkin. Dasarnya aku ini peminat dan penggelut medan kreatif. Lalu ada saja caraku untuk kemudian dapat memancing gerakmu, hingga hal-hal yang kukagumi itupun, dapat lagi mengalir dan menjalar bagai tak pernah kau sadari senampak-nampaknya sebagaimana apa yang tergelar dan terlihat. Sedari sukamu, sedari tawamu, sedari ngambekmu, bahkan sedari marahmu. Apa-apa saja pokoknya serba tingkahmu, ahai, selalu saja menjadikan kemudian bahan kagumku.

Tak sudah-sudah. Tak habis-habis, kata-kata usil itu meluncur menjadi bahan kelakar, meski sekedarnya, sekenanya. Namun sekiranya, setidaknya dapat meraup kemudian sebanyaknya keindahan yang kukagumi itu. Dan, hingga tanpa kusadari, sesering-sering decak itu terlepas begitu polos meluncur dari mulutku. Betapa naif. Betapa garingnya. Namun begitu, saat engkau mendengarnya, setipis bibir kembarmu, kedua-duanya, merekah bingar, makin saja menghadirkan lagi kekaguman itu. Oh, bagai kanak-kanak yang polos. Lucu, lugu. Tak kenal bibir itu akan nada dan ucap serapah apalagi kalimat kotor dan nista. Dan, terkadang pula, tatkala kedua sorot matamu yang bening sepenuh kerjap itu membaui hal yang konyol dan aneh-aneh dari polah dan lagakku, maka muncul sebagus-bagus barisan gigimu itu, sederet putih yang rapi cemerlang. Senampak sebatas pandangku sama bentuk, tiada pun seketil beda dari sebaris atas dan bawah. Tiada pun jarak, besar atau kecil. Semuanya sama. Semuanya apik. Semuanya indah.

Dan, pada suatu sore yang gerimis. Saat aku dan kau berduaan saja seperti biasanya, kuikatkan dengan baik kenangan itu atas nama kata-katamu.

“Jika yang kau anggap kembar itu tiba-tiba semuanya tinggal satu. Apakah masih kau akan mengagumi?”

Aku hanya bisa nyengir. Aku merasa kata-katamu ini hanya seperti kelakar saja mengimbangi tengilku. Atau jangan-jangan kau sengaja bahkan ingin mengujiku. Sejauh mana, sejelas apa.

“Bagaimana?” tanyamu agak menekan.

“Apanya?” jawabku.

Wajahmu lalu menegang. Tanpa kata, kau tatapi aku nanap.

“Ya, aku tidak tahu.”

Dan, begitulah. Seperti anak panah dilepas dari regang busurnya. Waktu melaju, tanpa kenal khianat. Kesibukan demi bertahan dan melanjutkan hidup, memaksakan diri harus bergelut dan bergulat sepenuh-penuh. Telah berhari-hari tak terasa, bahkan berminggu-minggu lamanya aku kehilangan sosokmu. Engkau yang serba indah itu lenyap tiba-tiba, pergi entah kemana. Kesibukan hidup, betapa engkau menjauhkan. Betapa amat sangat menjauhkan. Betapa sunyi ini telah menjilmakan kangen. Betapa kangen ini telah menjilmakan sepi. Betapa kenangan akan sosokmu telah mengikatkan secara mendalam akan pentingnya sebuah kebutuhan bernama keindahan.

Keindahan, bukankah itu akar yang menjadikan para penggandrung makna rela bersakit-sakit, bahkan kalau perlu mengarungi samodera masalah atau mendaki gunung aral yang terjal?

* * *

“Jika yang kau anggap kembar itu tiba-tiba semuanya tinggal satu. Apakah masih kau akan mengagumi?”

… si kembar indah. Kata-katamu itu. Ini saja, alasan sejauh ini, kenapa aku harus mencarimu, hingga kerapkali menjatuhkan kangen dan tangis yang meledak-ledak. Dimana sebenarnya kau sembunyi, kenapa tiba-tiba saja kau menjauh dariku?

Satu tempat. Dua tempat. Tiga tempat. Sepuluh tempat. Duapuluh tempat. Limapuluh tempat.

Sembilanpuluhsembilan tempat. Betapa capek aku mencarimu. Hingga ke sudut-sudut, ke pelosok-pelosok tak juga kutemukan sosokmu. Banyak hal yang kembar-kembar memang kusaksikan, kutemui dan kuteliti. Bagus-bagus. Berisi-berisi. Mahal-mahal. Tapi si kembar indah, ah, kemanakah kau kini? Bolehkah aku mengeluh kini. Putus asa dan segera menyudahi saja pencarianku.

Tapi mestikah begitu? Bukankah lebih dari satu dekade hidup kusia-siakan selama ini hanya untuk mengejar, mencari dan menemukanmu. Pekerjaan, kesukaan, kegemaran betapa selama ini kumatikan, kutinggalkan. Semua hanya demi ingin menunaikan amanah hati. Menemukanmu lagi, betapa itu kesukaan, kegemaran, melebihi amanah, dan selalu mampu menggairahkan apa pun yang ingin kulakukan.

Dan tapi kata-katamu itu :
“Jika yang kau anggap kembar itu tiba-tiba semuanya tinggal satu. Apakah masih kau akan mengagumi?”

Betapa semenjak kau katakan itu, lantas sosokmu lenyap menghilang. Begitu saja. Bagai ditelan masa, tak berjejak, tak terendus. Betapa dulu prasangkaku yang dangkal dan tidak peka, telah menyebabkan semua ini? Benarkah kekagumanku disebabkan karena itu? Bagaimana jikasaja, seandainya yang kembar itu tinggal satu. Misalnya mata yang blalak-blalak itu hanya satu saja menyorotkan binarnya. Lalu kuping yang mungil itu buntet atau gerowang satu. Kaki yang jenjang itu timpang atau pincang satu. Tangan yang gemulai itu pengkor atau tanggal satu. Dan yang lainnya, yang lainnya … Ah, ah, ah … masihkah aku mengagumi dan ingin memilikinya?

Si kembar indah. Betapa kini air mataku. Betapa pertanyaanmu itu mengandung suatu yang penting. Suatu yang bernilai. Suatu yang harus kurenungkan dalam-dalam, sungguh-sungguh, sepenuh-penuh. Benarkah perasaan cinta ini bermuasal dari klausul itu? Benarkah jika semuanya hanya tinggal satu, kagum itu akan pudar? Cinta ini akan enyah? Kangen ini akan mandeg?

* * *

Tempat yang keseratus.

Sudah gontai langkahku. Tak sekedar putus asa, bahkan sudah capek kini aku mengeluh dan memboros airmata. Amanah hati; sudah kujalani, telah kuupayakan. Jangan kiranya mengejar-kejar lagi sebagai rasa bersalah.
Dan semilir angin pagi itu telah menjuntai anak-anak rambutku yang panjang dan tak keruan. Bahkan sekukuh wajahku yang tirus kini telah ditumbuhi rambut-rambut lebat dan panjang pula. Mulai memutih dan kusut. Ingin kutinggalkan saja tempat ini. Melangkah lekas, mencoba lagi untuk bertahan dan melangsungkan sisa waktu guna menempuh kewajaran hidup. Melupakan setiris hati yang sunyi. Membunuhnya kalau perlu. Dan juga lalu, memangkas semua rambut menjijikkan ini, yang kini membelantarai sebentuk perupaanku. Dan segera akan kulagukan tegas-tegas, keras-keras, nyanyian sayonara untuk mengusir kepedihan.

Dan tapi, belum seberapa jarak kutempuh …

”Gulali, mari beli gulali. Ini gulali yang enak dan manis khas buatan kota ini,” suara itu kenes. Sangat jelas kutangkap di tengah berisik kerumunan dan desir keramaian. Betapa terasa aneh dan ganjil suara itu di telingaku. Suara itu. Bukankah aku telah mengenal suara itu. Tapi …

Gadis mungil berambut panjang itu, ceria mendukung kotak bawaannya. Kepada setiap pengunjung situs wisata kota tua ini, ia riang menawar-nawarkan sesuatu. Lagaknya lucu. Gesturnya luwes. Ahai, kata hatiku, seperti membaui hal yang entahlah, dari si gadis ini. Segera kudekati. Kuhampiri.

”Ini gulali yang enak dan manis,” katanya, ”ayo beli.”
Begitu kata si gadis itu berbinar-binar matanya. Harapnya sepenuh-penuh menawariku. Dan lalu mata itu … mata itu. Ah, mata itu kembar. Bulat hitam penuh binar. Blalak-blalak. Ah, tapi … Dan, tapi pipi itu, ceking namun kembar pipit dan lucu.

”Mau yang merah berbentuk bunga mawar, atau yang coklat berbentuk menara cinta,” kata si gadis menyodorkan benda mungil itu kepadaku. ”Ini enak lho, tidak mengandung pengawet. Semuanya terbuat dari bahan alami. Dari enau dan aren murni yang tumbuh subur di tengah hutan kami yang kaya.”

Kuterima dua batang gulali itu. Tanpa sedikit pun aku melepas tatapan binar yang bagus itu.

”Dua hanya duaribu,” katanya, ”kalau mau lagi untuk oleh-oleh nanti segera kubungkuskan.”

Aku hanya mengangguk saja. Dan dua gulali itu, satu bungkusnya berbentuk menara cinta kubuka dan kukulum. Manis. Enak. Khas. Hmm … gulali khas kota ini. Akan tetapi dua sorot mata yang binar bagus itu … dan juga sekembang pipit pipinya itu.

”Ada apa?” cekatnya.

Saat aku terus menatapnya, kuperhatikan mimik muka gadis ini mulai resah.

”Mau kubungkuskan gulali ini untuk oleh-oleh?”

Saat kulepaskan senyumku, lebar-lebar. Sepertinya gadis ini mulai mengerti. Ini bukan urusan gulali.

”Matamu bagus,” kataku, ”kembar yang indah.”

Dan, saat mata kami saling bertatapan. Kulihat dengan jelas kedua pipinya yang pipit dan lucu itu kemerah-merahan. Sesaat ia mulai jengah, dan menundukkan wajahnya. Tapi … ah, tapi … lalu ketika ia menengadah lagi, cerianya serta merta hilang. Lenyap. Menjadi murung. Sendu.

”Hei, ada apa? Kenapa?” tanyaku, ”apa aku menakutimu?”
Wajah itu tidak hanya murung. Jadi lebih pilu, karena dari sudut yang menjadikannya indah itu mulai mengalirkan air bening. Seluas bulat hingga ke tepinya berkaca-kaca.
”Kenapa menangis? Apa aku menakutimu …?”

Dihapus airmatanya. Sosok yang semampai itu berkelebat. Lekas-lekas. Cepat-cepat ia berlari meninggalkanku.
”Hai, tunggu!”

Kukejar segera. Dan kembali kutemukan sosok gadis itu. Tepat lagi menghadapku.

”Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu.”

Gadis ini hanya menggeleng. Airmatanya berlinangan. Kedua kembar pipit pipinya hilang. Sembab karena dialiri buliran-buliran itu.

”Tapi kenapa? Ada apa? Kenapa menangis?”

Berkaca-kaca, kedua bulat hitam yang bagus itu, mulai berani menatapku.

”Tidak ada apa-apa. Maafkan aku. Aku hanya sedang bersedih.”

* * *

Matahari meninggi. Angin laut mulai nakal menghembuskan dayanya untuk mengempas daratan. Menyusuri jalan landai menuju bukit rimbun, berceritalah si gadis penjaja gulali kepadaku. Berkibar-kibar rambut kami. Menyaruk-nyaruk langkah kami melaju ke sebuah tempat.

Duabelas tahun yang lalu. Saat itu aku masih bocah. Kami hidup berdua dengan ibu di sudut kota ini. Sejak bayi aku terlahir buta. Kata ibuku itu terjadi karena kecelakaan perawatan medis ketika persalinan. Dan begitulah sejak itu aku menerima nasibku sebagai si orang buta. Nurani adalah kakakku semata wayang. Sejauh aku mengenalnya, ia orang yang sangat baik. Terlampau baik malahan. Begitu ia sangat perhatian dan menyayangku. Apa saja akan dilakukannya demi hanya ingin menyenangkanku.

Lalu, ketika aku tumbuh sebagai bocah, kakak Nurani pergi ke kota untuk bekerja mencari nafkah. Ibuku sehari-harinya hanya bekerja sebagai tukang cuci, tentunya hidup kami sangat pas-pasan. Dan sejak itu, aku jarang bertemu lagi dengan kakak. Sebab ia pergi ke ibukota yang jauh kata ibu dari kota ini.

Ketika aku kangen kepada kakak. Ibu suka menceritakan kepadaku soal apa saja tentang kakak, semuanya itu kiranya demi hanya untuk menghibur hatiku.

”Nur itu gadis yang baik. Meski kita ini hidup serba pas-pasan, tapi kakakmu itu gadis yang periang. Pekerjaan apa saja dilakukannya dengan senang hati. Semuanya dilakukannya agar hati ibu senang,” kata ibuku, ”Nur orangnya tidak cengeng dan suka mengeluh. Meski sebagai gadis yang tumbuh remaja, ia sangat kalah dalam beberapa hal dengan teman sebayanya. Tapi Nur adalah gadis yang sempurna di mata ibu. Selalu ceria, tidak pernah marah, tidak suka ngambeg, tekadnya keras, jujur dan ia begitu sangat istimewa. Ia memiliki sepasang mata yang bagus ..”

Ibuku orang yang baik. Ia sangat hati-hati untuk bicara denganku. Tapi rupanya beliau begitu sangat kangennya, sama sepertiku. Sehingga lalu hal yang dikaguminya dari kakak, dan itu menjadi hal yang paling sensitif bagiku, terlepas juga akhirnya. Ya, memang, apa-apa yang diceritakan ibu tentang kak Nurani selalu menerbitkan iriku. Diam-diam aku suka menangis. Kenapa harus terlahir buta?

Tapi aku selalu menyembunyikan perasaanku itu kepada ibu. Sejauh mungkin, aku tidak ingin kesedihan hatiku ini diketahui ibu. Dan begitulah, meski buta, aku keras melatih diriku agar bisa melakukan apa saja kebutuhanku sendiri. Cerita ibu tentang kak Nurani sebagai gadis yang cekatan dan mandiri, betapa itu telah melecut hatiku untuk mencontohnya.

”Apa selama itu Nurani bekerja di kota tidak pulang ke rumah mengunjungimu dan ibu,” tanyaku.

Tentu saja. Yang selalu dikangenkan kakak, adalah aku dan ibu. Bagaimana mungkin ia tidak pulang mengunjungi kami. Selalu saja ia rela untuk memboroskan uangnya ketika harus pulang. Ia selalu membelikan baju yang bagus-bagus kepada aku dan ibu. Lalu kakak juga memberikan uang yang banyak itu kepada ibu agar dipergunakan untuk memperbaiki rumah tua kami dan membeli perkakas lainnya. Agar hidup jadi lebih baik dan opitimis, begitu kata kakak. Namun, hanya beberapa hari saja, kiranya selalu begitu, kami menerima dan merasakan kehangatan itu dari kehadiran kakak.

Dan, aku masih mengingatnya ketika ibu berpesan kepada kakak. ”Jangan sering-sering pulang, Nur. Hasil jerih payahmu bekerja di kota sudah seharusnya kau tabung untuk keperluanmu sendiri nanti. Semua yang kau berikan ini sudah cukup barangkali bagi ibu dan Fitri.”

Dan, sejak itu. Memang kakak jarang lagi pulang ke rumah, datang mengunjungi kami. Meski sebetulnya kami sangat merindukannya. Hingga pada suatu waktu, kami kaget mendapatkan lagi sosoknya hadir di rumah kami. Betapa senang hati kami, saat kakak bilang akan hidup selamanya dengan kami di rumah ini dan tidak akan kembali lagi ke ibukota.

”Kapan itu terjadi?” tanyaku.

Sekitar lima tahun yang lalu. Dan sejak itu, kami hidup penuh kegembiraan. Tidak ada yang hilang sesuatu pun dari kakak. Perhatiannya, kebaikannya, tidak pernah mengeluhnya. Bagi kami kak Nur adalah anugerah yang terindah.

Akan tetapi … tetapi ….

Suara gadis ini mulai sesak. Seperti sulit lagi suara bening itu mengalir, mengisahkan lanjutannya, yang demi Tuhan, sedari tadi menjadikan jantungku seakan berhenti.
”Akan tetapi kenapa?” kataku. Suasana hening. Bisu. Angin pantai demikian sendu meskipun santar mengobrak-abrik rambut dan perasaan kami.

Ya, maafkan aku. Akan tetapi … kegembiraan kami itu tidak lama. Justru berawal dari ketika niat kakak yang ingin mendonorkan kedua bola kakak itu kepadaku. Ibuku menangisi gagasan kakak itu dan lalu tak urung ibu memarahiku. Ya, ya, aku yang salah. Karena aku sempat terlepas mengatakan iri kepada keadaan Kak Nur yang diceritakan ibu sangat sempurna. Aku yang salah.

Tapi Kak Nur memang orang yang terlalu baik. Apapun kemarahan ibu selalu dapat diredakannya. Sekalipun, penjelasan dari kakak itu, pada akhirnya menjadi pukulan yang keras dan berat dalam benak-benak pemikiran kami. Semuanya menjadi begitu jelas bagi kami. Penuturan kak Nur yang tenang itu. Tentang kanker payudara yang dideritanya. Dan kemungkinan buruk lainnya seperti yang dikatakan dokter, telah jauh menguatkan niatnya untuk nekad memberikan benda berharga dan istimewa darinya itu untuk diberikan kepadaku. Sepasang mata yang indah.

”Uang yang kukumpulkan ini cukup kiranya untuk melakukan operasi, adikku,” kata kak Nur, ”jadi mulai sekarang jangan lagi bersedih, ya.”

Dan begitulah, lalu kami melakukan operasi mata. Setelah kedua mata bagus kak Nur dioperasi, diambil untuk dipindahkan ke mataku. Sejak itu, aku selalu mendengar ibuku menangis. Tapi kata-kata Kak Nur yang tenang dan bagus selalu menguatkan hatiku.

Setelah semua hal tentang operasi dan pemindahan mata itu selesai dilakukan. Dalam harap dan doaku hanya sederhana saja, aku ingin melihat wajah cantik dan sempurna kak Nur, seperti apa yang selama ini dikata ibu.

Ketika operasi itu berhasil dilakukan. Perban-perban yang membungkus mataku dibuka, betapa kaget aku. Ya Tuhan, aku bisa melihat. Bisa memandang. Bisa menyaksikan apa saja yang ingin kulihat. Hanya saja tidak kutemukan sosok ibuku dan Kak Nur. Aku terhenyak dan berlari. Kucari-cari, sekedar ingin kuungkapkan gembiranya hatiku dan terima kasih yang tak terhingga atas anugerah ini.

Pipi gadis ini telah lembab. Sembab. Airmatanya tak sudah-sudah. Mengucur dari asalnya yang paling dalam dan tersembunyi. Tiba di sebuah alam bukit yang asri dan permai, langkah kami terhenti. Hatiku makin tak karuan, karena di alam ini terhampar gundukan makam-makam. Ya, Tuhan …

Gadis penjaja Gulali ini lekas berlari. Ia meninggalkanku. Sosok yang bengong dan berkecamuk remuk. Makin banyak tahu, kian banyak tak mengerti. Adakah yang maha hebat tersembunyi dan akan kau bukakan hari ini , Tuhan? Dera yang berasal dari gemuruh di dadaku ini tak pelak telah menjilmakan airbening ini melinang lagi dari ranahnya yang misteri. Dan seketika, dari kejauhan kulihat sosok Fitri si gadis penjaja gulali yang memiliki sepasang mata dan pipi pipit yang indah itu, sesengggukan menghadap gundukan tanah. Aku pun berjalan cepat. Untuk tahu, cepat tahu, apa yang sebenarnya terjadi dan menjadi ending dari guliran cerita ini.

Sore ini. Cahya surya meredup. Tangis terisak-isak seorang gadis terdengar sangat pilu seolah mengisi seluruh ruang tanah makam di perbukitan ini. Tak lebih diriku sendiri. Tak terasa, linangan air bening ini seperti telah akan menemukan sendiri pilinan akhir kisah ini. Duabelas tahun pencarianku. Dan akan segera terkuak jelas di tempat ini.

Dua bujur tanah menggunduk. Seperti kembar, baik dari ukuran dan susunan jajarnya. Terpancang di bagian atasnya tulisan NURANI BINTI KALBU. Dan gundukan tanah satunya bertuliskan CAHYANI BINTI RAHMAT. Inilah tempat dan prasasti, ibu dan anak yang telah dikebumikan kembali ke haribaan.

Sore ini. Aku dan Fitri, saling bertangisan di tempat ini. Dan inilah akhir dari pencarianku. Menemukan diriku yang remuk. Dan juga seorang gadis penjaja gulali yang hidup sebatang kara. Sepertiku juga. Sebatang manusia yang punya iri, kilaf, kurang peka dan sembrono.

Dan kata-kata :
“Jika yang kau anggap kembar itu tiba-tiba semuanya tinggal satu. Apakah masih kau akan mengagumi?”
HAHAHA …..

Pondokaren
27 Februari 2010

 

Share This Post

Posted by Sunday, 13 November 2011 on 08:25.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

7 Responses to “Engkau Memiliki Kembar Indah”

  1. 7
    Handoko Widagdo Says:

    Kutunggu bukunya DKS

  2. 6
    Lani Says:

    MAS DJ : crita dalan sudrun soko Semarang……..mmg memedenikan…….krn dipaksakan utk dijadikan kembar dampit lagiiiiii hehehe

  3. 5
    Dewi Aichi Says:

    “Jika yang kau anggap kembar itu tiba-tiba semuanya tinggal satu. Apakah masih kau akan mengagumi?”
    HAHAHA …..

    wkwkwkwk…kalimat penutupnya ini aku jadi pingin mbalang baceman teklek sama pentulisnya….

  4. 4
    Dj. Says:

    Kembar….???
    Baru kemarin Dj. dikagetkan oleh si kemnbar…
    Saat duduk bersama istri dan si ragil, tau-tau Dj. melihat seorang wanita cantik yang pernah belajar disawah dimana Dj. ngarit.
    Tapi dia cuek saja melihat Dj., tidak menegur atau berkata hallo…
    Dj. pikir dia sudah menjadi sedikit angkuh….
    Tidak lama kemudian, Dj. awe-awe, dia tetap diam, sehingga Dj. beranikan mendekati dan berkata hallo, apa kabar. Apa sudah dapat kerjaan yang lebiih bagus….???
    Dia sedikit kaget, tapi diapun bereksi cepat….
    O…anda pasti salah orang, mungkin yang anda maksud , adalah saudaraku…
    Haaaach….???
    Tak lama kemudian, datang saudaranya dan langsung terriak…Hallo Herr Paisan…!!!
    Kami berpelukan dan Dj. baru sadar, bahwa yang Dj. tegur sebelumnya adalah saudara kembarnya…
    Benar-benar menarik, karena mereka tidak ada kelainannya sama sekali, baik paras, panjang rambutnya yang ikal, bentuk tubuhnya, semua sama pleg….

    Alangkan indahnya si kembar, asal bukan kembar dampit, seperti ceritanya Mei…hahahahaha…!!!
    Salam Sejahtera dari Mainz….

  5. 3
    Lani Says:

    DA : knp hrs aku yg melengkapi????? pentulisnya lbh puinterrrrrrr………hehehe

  6. 2
    Dewi Aichi Says:

    Dua bola mata yang bulat hitam penuh binar. Dua pipi yang pipit dan lucu. Dua helai tangan yang gemulai dan terampil. Dua tungkai kaki yang lincah dan kuat. Dua lubang proporsional yang menopang hidung yang mancung dan mungil. Dan kembar-kembar yang lain, wuih, serba bagus dan memikat..

    ha ha…mas Dwi…ngapain takut nyebutin yang lain lain….ayo Lani, Anoew….lengkapiii…!

  7. 1
    Lani Says:

    satoe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)