Anak-anak Manggarai: Business is business

Anastasia Yuliantari

 

Membantu orangtua dan mencari uang untuk jajan bisa menjadi dua hal yang saling berhubungan. Bila orangtuanya adalah pedagang atau petani mereka membawa hasil buminya ke kota dengan bantuan anak-anak mereka di hari libur. Tak heran saat minggu pagi adalah hari di mana sebagian besar anak-anak membantu orangtuanya membawa hasil bumi ke kota.

Jaman sekarang menjual hasil bumi sudah lebih mudah karena adanya jalan aspal dan angkutan. Beberapa puluh tahu lalu bila menyimak kisah Max saat masih sekolah dasar, dia harus menjunjung beras 10 kg dengan menaiki dan menuruni perbukitan untuk menjajakannya ke kampung-kampung yang kadang cukup jauh. Saat kecapaian mereka akan duduk bahkan sampai tertidur di gua-gua yang ada di sepanjang jalan. Tak heran bapa mertua dan dirinya sering berteduh di Liang Bua tanpa tahu satu dekade berikutnya para antropolog menemukan Homo Floresiensis dalam gua itu.

Para petani sayuran kadang tak menjual langsung hasilnya ke pasar melainkan menjajakan di desa sekitar karena harganya tentu lebih menguntungkan dibandingkan dijual secara borongan ke pasar. Anak-anak akan berteriak, “Ute…ute!” Untuk menjual sayuran itu.

Sang bapak akan menunggui anaknya atau bersama-sama menjajakan hasil buminya di pagi hari, saat matahari baru saja memancarkan sinarnya yang hangat. Selain itu para ibu tentu belum mulai memasak sehingga kemungkinan dibeli lebih besar dibanding bila mereka menjajakannya di siang hari.

Peristiwa khusus atau keramaian karnaval juga menarik minat para pedagang cilik untuk memasarkan dagangannya. Perut lapar para penonton karena atraksi sepanjang hari tentu harus disumpal dengan makanan, hal paling praktis adalah mengudap sesuatu karena dapat dilakukan sambil berdiri di pinggir jalan atau lapangan.

Pisang adalah makanan yang cocok dan relative murah, maka para penjaja pisang pun mendapat keuntungan yang lumayan.

Strategi bisnis juga dimiliki oleh anak-anak ini. Pisang yang dijual sesisir Rp. 5000 ini bisa juga dibeli perbiji. Anak-anak sekolah dengan uang saku terbatas dan ingin menonton atraksi membelinya sebiji Rp. 500. Bila sesisir pisang berisi 20 biji, tentunya lebih untung dijual eceran.

Bisnis lain yang diminati anak-anak adalah menjajakan barang-barang di seputar rumahnya, seperti yang dilakukan oleh Jojo dan temannya ini. Setiap sore hari mereka menjajakan ikan di kampung seputar rumahnya. Ada seorang paman yang menjadi bos ikan, istilah bagi orang yang kulakan ikan dari pembawa ikan dengan mobil pickup dari Labuan Bajo. Jojo mengambil ikan dari Paman Bos ini dan memperoleh persenan darinya sebanyak ikan yang bisa dijualnya.

Tawar-menawar penuh canda tawa terjadi karena setiap kliennya adalah orang-orang yang dikenal. Jojo juga menawarkan bonus untuk pembelian tertentu, tentu saja setelah tawar-menawar yang alot plus sedikit menggerutu, “Oleee…nana, rugi tu’ung eme pika agu hi ende Maria. (Aduh, rugi benar kalau dijual pada Bu Maria)” Tapi setiap kalinya tetap saja dia menjajakan ke rumah itu sehingga si klien tak pernah tersinggung walau dia mengeluh (sambil tertawa-tawa) setiap kalinya. Mereka selalu menganggap keluhan-keluhan seperti sebagai tombo wange (omong main-main).

Beberapa orang menganggap keping-kepingan uang seribuan sebagai sesuatu yang hanya bisa dipakai untuk membayar parkir, namun bagi anak-anak ini selembar ribuan telah bisa membuat senyum ceria melebar pada wajah mereka.

 

77 Comments to "Anak-anak Manggarai: Business is business"

  1. alfred tuname  23 November, 2011 at 02:36

    Itsmi, sayangnya tidak ada orang yang sudi melihat kaca yang retak berkeping untuk melihat diri yang utuh….

  2. agatha  21 November, 2011 at 12:03

    Saya hanya bisa berkomentar bahwa ; Situasi ini sudah terkondisi menjadi “habits”.

    Kondisi masyarakat hasil didikkan dan kebiasaan ratusan bahkan “ribuan” tahun(?)
    Anak di daerah marginal terkondisi untuk tahu-diri membantu orang tua, walau mungkin bawah-sadarnya ingin berlari-lari mengejar mimpi. Eeeeh maksudnya: mengejar layangan, bermain gundu, bermain bekel, atau bermain air di pinggir sungai dan tidak dibebani tanggung-jawab untuk memikul ekonomi keluarga.
    Bahwa anak-anak happy bekerja sejak usia muda..” JELAS karena Mereka perlu belajar untuk “Menyambung Nyawa”.

    Mungkin” karena banyak pengamat bukan dari kalangan “selevel”, tapi sudah “maju dan berkecukupan” lalu (kembali) ke rural tersebut. Jelas “kaum marginal” tersebut akan selalu menjawab bahwa hidup mereka “happy” dan tidak terbeban oleh kerja sejak usia muda tersebut.
    Tapi apakah ada yang mencoba tempatkan diri di sepatu “mereka”… Eeeh… bahkan anak-anak itu ada yang bertelanjang-kaki ya?
    Mungkin (kita) perlu tempatkan diri bukan cuma sekedar sebagai pengamat “berjarak” , tapi mencoba membayangkan sebagai “pelaku sesungguhnya”. Jika (kita) hanya mengamati “berjarak” , kesannya hasil pengamatan dan komentar bagaikan dari “puncak menara gading” ; tinggi , dingin dan jauh di atas awan.

    Maaf jika komentar ini keras… walau kurang keras dibanding kerasnya perjuangan hidup

  3. agatha  21 November, 2011 at 11:37

    Dewi Aichi Says:
    November 16th, 2011 at 08:23
    dunia anak-anak, belajar dan bermain…tetapi yang paling penting, mereka nyaman dengan kehidupannya seperti itu..! Karena tidak semua yang seperti itu dirasakan sebagai penderitaan, kecuali anak anak jalanan di kota besar seperti Jakarta…itu lain lagi..!

    —#—
    Saya pikir… mungkin seperti lagunya Eyang Titiek Puspa ” Kupu-kupu malam” dan film Pretty woman” (Julia Robert & Richard Gere)
    “Mereka hanya tahu untuk menyambung nyawa”

    Dan kata temanku… diskusi kami setelah baca artikel dan sekilas komen di sini….
    Hidup itu koin 2 muka…. Bright side dan sisi lainnya gelap gulita.
    Katanya….. reality is HARSH.

  4. agatha  21 November, 2011 at 11:31

    haha…. serunya
    Sepertinya komen seru berawal dari post no. 13 ya?
    Saling silang pendapat mengenai apakah anak-anak itu happy

  5. J C  20 November, 2011 at 09:01

    Matahari, maaf saya baru lihat komentar anda untuk saya dan baru membalasnya. Bisa jadi memang anda tidak (atau belum) pernah melihat anak-anak yang ikut membantu berjualan di pasar di negara mana saja di Eropa. Tidak usah jauh-jauh, cobalah berkeliling di kota kecil (atau desa?) di daerah Friesland. Kota yang jumlah penduduknya kurang dari 1000, kemungkinan anda masih akan melihat anak-anak yang ikut membantu orangtuanya yang kebanyakan petani hortikultura atau petani dairy farm.

    Tapi bisa juga saya mungkin salah. Yang saya lihat dan alami itu kira-kira 10 tahun lalu.

  6. Oscar Delta Bravo  20 November, 2011 at 04:10

    Itisme,#69,kalau di Holland,juga ada Baltyra,maka Itisme,pasti pakai nama IDnya yaitu Datismy

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.