Perang

Anwari Doel Arnowo

 

Sudah pernah saya tanyakan di Ask Yahoo!: Pernahkah Planet kita yang tercinta yang bernama Bumi ini, biarpun untuk hanya satu minggu lamanya, bebas dari perang ??? Ternyata jawaban yang masuk, sebagian besar, mengatakan tidak pernah !! Ngeri, ya?

Penyebab perang itu bisa saja diberi kategori: Iri Hati, Kemarahan, Beda Ideologi dan Beda Kepercayaan atau Agama serta perebutan kekayaan alam.

Yang disebabkan hal terakhir itu, kepercayaan atau Agama menempati porsi yang cukup besar biarpun sebelum masa Kristus lahir di dunia sekalipun. Lihat saja pada jaman Nabi-Nabi dahulu kala di Timur Tengah, Pharaoh dan Nabi Musa. Pada jaman Majapahitpun sudah ada “perang” antara agama Hindu dan Islam yang merangsek masuk menyerbu sampai pada akhirnya menghancurkan Majapahit.

Agama penyebab perang? Ya memang mungkin saja.

Bukankah ada perang antara Iran dan Irak yang berbeda dalam ke-Islamannya??

Tetapi benarkah dunia ini diisi oleh kaum agama saja?

Tentu saja tidak benar sama sekali.

Biarpun semua agama di dunia ini amat percaya bahwa Tuhan masing-masing agama itu diakui sebagai pencipta Alam Semesta dan Isinya. Alam Semesta itu isinya apa saja??

Kita coba merinci yang “baik” dan yang “tidak baik” .

Ada Polisi dan ada Penjahat, ada Pastor dan ada Pendosa, ada Demokrasi dan ada kediktatoran. Ada negara Vatican, negara paling kecil seperti Liliput tetapi pengaruhnya sangat besar mencakup pengikut Katholik yang lebih dari satu miliar manusia selama berabad-abad.

Tetapi ada Negara lain yang terbesar di dunia dalam jumlah penduduknya yang 1 koma 4 miliar manusia yang secara RESMI masih menganut komunisme, yaitu Republik Rakyat China.

Kedua adalah agama Islam yang akhir-akhir ini, tahun-tahun ini, telah melampaui jumlah ummat Katholik berbeda beberapa ratus juta orang. Kedua agama ini bila dijumlahkan maka jelas masih menjadi jumlah yang kurang dari 3 miliar manusia.

Penduduk Bumi sekarang sudah melampaui 7 miliar.

Sisa 4 miliar ini termasuk golongan apa?

Saya tidak akan mampu merinci apa golongannya dan apa kepercayaannya, tetapi saya memasukkan golongan yang heterogen ini ada juga yang besar dalam jumlah: yakni komunisme di China dan di negara-negara lain. Di luar komunis maka ada juga yang mayoritasnya diam-diam saja tidak terlalu bersuara, Mereka itu adalah yang tidak percaya kepada adanya Tuhan, yang menurut ajaran Islam disebut dengan istilah Kafir, karena kata bahasa Arab ini mewakili mereka yang tidak mau percaya dan tidak mengakui Tuhan itu, juga lazim dikenal dengan Atheist.

Silakan membuka link berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=6o97qHxX12Y&feature=related

Lalu ada juga yang tidak kecil jumlahnya yaitu De Vrij Denker atau Pemikir Bebas, yang tidak mau masuk ke dalam golongan manapun kecuali dirinya sendiri.

Yang perlu disebut itu adalah sebuah golongan lain yang mirip: AGNOST. Kaum agnostic ini ada yang mempercayai adanya Tuhan tetapi tidak mau menggunakan agama dalam bentuk apapun untuk dirinya sendiri dalam melakukan apapun, terhadap kepercayaannya itu.

Apa kesimpulan yang bisa diambil dari kondisi demografi seperti itu dan bagaimana kita akan bisa hidup di dunia dengan kondisi dan fakta nyata yang ada seperti itu, selama ini?

Mari kita lihat catatan yang bisa ditulis dengan urutan seperti di bawah ini:

1.     Di dalam Alam Semesta ini sudah terbukti terdiri dari bermiliar benda-benda ruang angkasa berupa Planet yang BESAR luar biasa dan juga yang kecil seperti meteor dan pecahan-pecahannya. Hampir tidak ada yang sama atau kembar bentuk dan isinya.

2.     Sampai saat ini kita hanya mengetaui adanya makhluk di Planet Bumi saja, karena yang lain-lain masih dalam dugaan saja. Manusia inipun bentuk dan ragamnya serta perbedaannya amat mencolok satu dengan lainnya.

3.     Melihat ukuran dan besaran serta macam dan jenis benda angkasa serta makhluk yang ada di Planet Bumi saja, kepala kita sudah pusing  tujuh keliling dengan perbedaan.

4.      Para pembaca boleh menambahkan kesimpulan sendiri sesuai dengan nalar masing-masing bila mendalami apa yang tersebut di atas. Padahal pasti bisa dimengerti bahwa itu masih merupakan sebagian kecil saja untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul.

Terlihat sekali betapa beragamnya benda, bentuk pikiran serta isi hati makhluk serta perilaku mereka yang tercipta menjadi isi Alam Semesta ini. Hampir tidak mungkin menyeragamkan yang beragam itu, kecuali pakaian seragam kaum militer. Bisa kita mulai mengamati saudara kembar kita sendiri, kalau kita ini terlahir sebagai bayi kembar. Samakah? Serupakah?

Hasil wawancara saya dengan mereka yang kembar adalah: mereka itu hanya serupa tetapi tidak bisa sama. Yang mengatakan bahwa orang kembar itu serupa dan sama, adalah mereka yang melihatnya dari luar saja dan tidak mendalami. Ternyata mereka itu tidak sama seperti robot, karena robot memang bisa dibuat dan diciptakan dengan hasil akhir sama dan sebangun, serupa dan semacam, PERSIS !

Untuk itu alangkah nyaman dan nikmat apabila kita bisa menerima perbedaan di manapun kita sedang berada, tanpa perlu serta tidak usah mencari tempat di mana sekeliling kita adalah lingkungan yang sepaham dan sekehendak dengan kita. Tempat yang seperti itu TIDAK ADA DI DUNIA INI  !!

Hindarilah berpendapat bahwa kita itu paling benar, karena yang paling benar di dunia ini pun TIDAK ADA. Hindarilah juga terlalu mencerca dan mencela orang lain, itu akan sia-sia saja.

Dengan bersikap seperti ini maka kita bisa ikut sebagai peserta yang secara jelas dan positif bisa mengurangi kemungkinan berperang.

Perang atau marah berlebihan adalah akibat tidak berhasilnya komunikasi antara beberapa pihak baik secara verbal maupun berbentuk tulisan. Tetaplah bisa berkomunikasi dengan sesama makhluk di dunia ini dengan melakukannya secara manusia utuh yang beradab, bijak serta penuh dengan kepantasan.

 

Anwari Doel Arnowo – 12/11/2011

No Legacy is so rich as honesty

 

21 Comments to "Perang"

  1. Handoko Widagdo  18 November, 2011 at 07:49

    Negro, saya belajar ilmu serangga. Dalam ilmu serangga, misalnya rayap, mereka akan menstabilkan populasi dengan membunuh individu saat terjadi kelebihan jumlah ideal. Sebab kalau mereka tidak membunuh kelebihan individu maka akan berakibat pada kerusakan seluruh populasi.

    Berdasarkan pemahaman tersebut teori perang sebagai mekanisme pertahanan spesies manusia dibangun.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.