Tanda Tangan

Dewi Aichi – Brazil

 

Stample, atau hanko/inkan dalam bahasa Jepang, atau carimbo dalam bahasa Portugues. Kalau di Indonesia, sebagian masyarakat menyebutnya “cap”.  Benda ini asal muasalnya dari Mesopotamia lebih dari 5000 tahun yang lalu. Stample kebanyakan digunakan oleh negara di wilayah Asia Timur, terutama di Jepang. Yaitu stample yang fungsinya sebagai tanda tangan atau signature.

Masih ingatkah anda sekalian kapan pertama kali membuat tanda tangan? Mungkin kebanyakan menjelang kelulusan SD ya? Saya ingat waktu dulu pertama kali ingin membuat tanda tangan. Berapa lembar kertas habis buat latihan dan menciptakan tanda tangan yang akan digunakan untuk menandatangani ijasah.

Berapa kali anda ganti tanda tangan? Yang suka ganti-ganti tanda tangan artinya plin plan he he..!  Tapi ya ngga apa-apa sih, kan yang penting puas. Tanda tangan gitu lho….dipakainya seumur hidup dan digunakan untuk keperluan pribadi yang sangat penting.

Setelah coba-coba membuat tanda tangan, maka biasanya akan dipilih sebuah tanda tangan yang paling indah bentuknya. Ada yang mempunyai kemiripan dengan nama, ada yang tidak sama sekali. Tapi yang paling penting, tanda tangan kita adalah merupakan trademark seumur hidup.

Bahkan jika menjadi orang penting, tanda tangannya sangat dibutuhkan dan menjadi sesuatu yang mahal.

Di Brasil, tanda tangan pada umumnya adalah bentuk dari nama masing-masing. Tanda tangan bisa dibaca dengan jelas siapa nama pemiliknya. Biasanya sangat panjang karena terdiri dari nama asli dan nama family. Kalau di Jepang, hal ini tidak berlaku.

Bagaimana sih tanda tangannya orang Jepang? Saya kira ide membuat tandan tangan atau inkan bagi orang Jepang itu menandakan ketidakkreatifan mereka. Eh..ini pendapat pribadi kok he he..! Habis orang Jepang itu menggunakan tanda tangan dengan inkan/cap/stempel.

Inkan adalah salah satu hal yang menarik bagiku. Bagi orang asing yang tiba dan atau akan tinggal di Jepang, akan membutuhkan inkan untuk keperluan dokument seperti KTP (gaikokujin toorokusho). Bahkan inkan digunakan untuk segala sesuatu legalisasi dokument, kontrak kerja, rekening bank, menikah, atau hal-hal lain.

Ada berbagai jenis inkan. Inkan yang digunakan oleh perusahaan berbeda dengan inkan yang digunakan perorangan. Inka  perusahaan biasanya berbentuk persegi dengan ukuran lebih besar, sedangkan untuk masyarakat, biasanya mempunyai dasar bulat dengan nama terakhir yang ditulis di carrier kanji.  Dan untuk orang yang tidak punya marga Jepang, bukan keturunan Jepang seperti saya, inkan memakai huruf katakana.

Orang Jepang sering menggunakan 3 jenis inkan:

  • Hanko mitomein: untuk keperluan sederhana.
  • Hanko ginkoin: untuk keperluan keuangan atau perbankan.
  • Hanko jitsuin: Inkan ini terdaftar di pemerintah, atau balai kota, dan digunakan untuk keperluan yang sangat penting, notaris. Pemilik harus menjaganya karena inkan ini sangat berharga bagi pemiliknya.

Bagi orang asing yang ingin memiliki hanko jitsuin, harus mengurus di balai kota dimana dia tinggal dan menunjukkan hanko dan gaikokujin toorokusho. Proses memerlukan beberapa hari, jika sudah selesai, pemilik akan menerima sertifikat yang disebut inkan shoomeisho.

Itu sedikit tentang pernak pernik di negeri Jepang.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

18 Comments to "Tanda Tangan"

  1. nia  8 December, 2011 at 10:59

    walah… stempel baltyra nongol
    inget dl ada temen org Taiwan yg bikinin kaligrafi buat sy dan temen2. punya sy tak simpen bener2. punya temen2 laen ada yg dibuang… yg bikin marah2 hehehe… alasannya ‘gak liat udah tak stempel?’ wooo ternyata dia gak terima stempelnya gak dihargai

  2. Mawar09  17 November, 2011 at 02:02

    DA: keponakanku punya stempel untuk lukisannya. Soal tanda tangan, disini aku juga tanda tangannya nama kalau di Indonesia lain lagi. Jadi suka kagok sendiri.

  3. Dewi Aichi  16 November, 2011 at 08:02

    Imeii, saya punya bahan dari tulang, berhuruf katakana, dan sangat penting untuk urusan perbankang dan urusan penting lainnya, seperti mau beli HP..

    Meita, nah kan tau, betapa pentingnya itu inkan atau hanko, untuk yang aku punya sekarang masih aku simpan, untuk kenangan, tapi jika aku ke Jepang lagi, itu masih berguna ..

    Hennie, iya memang…bagaimana sih China ? Pakai hanko jugakah? Maksudnya untuk urusan yang sangat penting gitu seperti di Jepang? Memesan stample bias kok di tempat pembuatan stample, bahkan ada yang sudah tersedia dijual, asal kanjinya sama, ngga masalah..

    Lida nah ini….kok iseng lho senengnya he he..

    Lani: ya biarin to…yang bikin judul aku kok, ngeye…wkwkw…oya bener Lani, kalau di CC tidak gunakan stample…tapi banyak yang tanpa PIN, tanpa tanda tangan…tidak aman menurut kita, aku dulu punya beberapa CC di Jepang, kalau ilang…bisa apes…karena bias langsung gesek sudah jadi deh tuh transaksi..Kalau orang Jepang pasti huruf kanji, katakana hanya untuk penulisan di luar bahasa Jepang..!

    Pak Handoko…saya butuh pak….bisa mijet kan he he he he…

    Pak Anwari he he…wah samaan Lida nih untuk iseng iseng, saya hanya punya satu2nya inkan saya bikin di Toyohashi, huruf katakana satu kata nama saya. Dan itu yang saya gunakan untuk keperluan dokumen dan perbankan di Jepang,
    Meterai masih sangat berlaku di Indonesia, semua dokumen dinyatakan sah dengan meterai 6.000 rupiah, jadi saat berurusan dengan apapun, siap siap meterai di dompet he he..di Brasil juga masih mengenal meterai kok…tapi seperti perangko, harga sesuai dengan dokumen, misalnya, saat saya ganti paspor Brasil untuk anak saya, saya ganti di kedutaan Brasil di Jakarta, bayar 200 reais, lalu ditempeli semacam perangko/meterai berharga 200 reais.

    Mas JC, lah…mentang mentang buto….inkannya gede banget..! Ajarin dong bikin di email he he he….iri dot com.

    Bagus itu bikinan Nia..khusus untuk baltyra..

    Silvia…bikin lagi he he..buat kenang-kenangan atau iseng..!

    Pak DJ ha ha….bagus tuh…Njawani namanya..!

    Linda, nah ..aku juga minta diajari nih…

    Sakura, saya punya tertuliskan katakana, karena ngga punya nama Jepang, meski menikah dengan orang yang marga Jepang, tapi saya bersikukuh tidak akan menambahkan nama marga suami ke nama saya He He…awalnya bermasalah, tapi semua sudah lewat…kalau suami inkannya memang kanji.

    Lani há há….boleh boleh…mahal lho yaaa….untuk ngecap jidat?

  4. Lani  16 November, 2011 at 07:10

    11 MAS DJ : maksud-e pake hanacaraka?????? aku melu pesen siji klu yg di Brazil bs bikin hehehe………

  5. sakura  16 November, 2011 at 06:58

    Inkan saya bukan ditulis Katakana, tapi Kanji. Karena dalam bhs Jepang namaku ada artinya, jadi dibikinin Kanjinya sekalian..hihihi….

  6. Linda Cheang  15 November, 2011 at 22:12

    aku juga punya seal yang kayak punyanya Buto. Tapi buat tekenan di e-mail hehehe. kan, Buto yang ajarin.

  7. Dj.  15 November, 2011 at 16:55

    Anwari Doel Arnowo Says:
    November 15th, 2011 at 14:59

    Katanya yang sukan dengan meterai selain Indonesia juga di Jerman, apa benar mas DJ ??
    Anwari – 2011/11/15
    ——————————————————————————-

    Cak Doel….
    Slamat Pagi dari Mainz….
    Bisa jadi demikian, tapi yang jelas Dj. tidak pernah lihat adanya metrai, walau disurat resmi dimanapun.
    Juga disawah dimana Dj. ngarit, tidak kami kenal…..
    Terimakasih dan salam manis untuk belahan hati dan anak-cucu cak Doel semuanya….

  8. Dj.  15 November, 2011 at 16:46

    Dj. hanya mau kalau ada yang bisa bikin dengan huruf Jawa saja….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.