Sebungkus Pelangi

Ayu Sundari Lestari

 

Pagi ini, kubungkuskan pelangi untukmu Juli.

Lengkap bersama warnanya serta seburat senyumnya yang menganga lebar. Rasanya masih hangat. Cobalah tuk kaureguk. Aku harap saat kau membukanya, semoga kau dapat tersenyum lagi. Senyuman yang hangat seperti dulu.

Kemarin sore, setelah hujan jatuh menimpa bumi kita, aku melihat pantulan cahaya pelangi dari balik jendela. Lantas, kuteringat dirimu. Kau yang sangat menyukai pelangi membuatku nekad untuk mengambilnya.

Jujur, awalnya aku ragu untuk mengambilnya karena aku merasa menjadi manusia yang paling egois di bumi ini. Sifat yang sebenarnya sangat aku benci. Tapi, bagaimana pun aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Melihatmu kembali ceria lagi seceria saat pertama kali aku berjumpa denganmu. Ya, aku merindu canda tawamu yang selalu menghiburku. Aku rindu sorot matamu yang tajam. Aku rindu celutukmu yang mencairkan suasana. Dan aku rindu akan gurat tintamu.

Pertama kali saat kita berjumpa di acara workshop menulis itu, sebenarnya, aku telah menaruh hati padamu Juli. Aku pikir itu adalah getar rasa sesaat. Tapi, setelah kita sering bertemu dan mengobrol, benih itu semakin terpupuk dan berkembang dengan baik. Aku tak mengerti apa rasa itu. Yang aku tahu, aku nyaman berada di sampingmu. Hari-hariku bersamamu adalah hal yang teramat indah untukku. Sebuah kenangan yang akan kuarsipkan di laci sukmaku.

Namun, sayang aku tak memiliki keberanian untuk mengutarkannya padamu Juli. Aku pikir berada di dekatmu, itu sudah cukup bagiku. Aku begitu munafik sehingga aku tak bisa jujur pada diri sendiri atau memang akunya yang terlalu pengecut. Aku selalu mengatasnamakan hubungan kita atas nama persahabatan dan saudara.

Sore itu, saat bulir-bulir air masih bergelantung di dahan dedaunan, aku melangkah keluar. Sejenak mataku berkeliaran memantau keadaan di sekitar rumah. Lantas, aku memenggal pelangi itu dari kelopak langit dengan secarut pisau belati dan segera memasukkannya ke dalam saku kanan celanaku.  Sialnya, aku ketahuan oleh bu Nina, tetanggaku.

“Maling!” teriak bu Nina. Sontak aku terkejut. Wajahku pucat pasih. Tanganku gemetaran. Sumpah! Seumur hidup baru kali ini aku dituding maling. Orang-orang sekampung pun pada berdatangan. Aku benar-benar tak bisa lagi berkelit. Ya, aku seperti maling yang ketangkap basah.

Aku mencari celah untuk melarikan diri. Dengan sigap aku masuk ke mobil dan tancap gas. Aku terus melaju dengan kecepatan di atas 80 KM menuju kota. Yang hanya aku pikirkan adalah lari sejauh-jauhnya dari kejaran masa. Kumelirik kaca spion mobil, khawatir kalau masih ada yang mengikutiku. Mungkin saja pak Lurah telah melapor ke polisi bahwa ada seorang pemuda yang mencuri pelangi. “Alamak! Matilah aku! Bisa-bisa seluruh polisi se-Indonesia memburu keberadaanku” gumalku.

Ah, tak apalah, ini demimu Juli. Demi melihat gurat senyummu mengambang di ujung selendang pelangi. Ya, aku masih ingat bagaimana raut wajahmu saat memandangi pelangi. Matamu berbinar-binar. Senyummu  merekah. Aih! Saat itu kau sungguh sangat cantik Juli.

Kau bilang pelangi dapat menenggelamkan rasa sedih. Seperti harimu yang tiap kali habis diguyur air mata. Kau menerbitkan bias warna di ujung kelopak matamu. Pelangi selalu membawa episode cerita berbingkai warna dalam hidupmu Juli.Serpihan warnanya kerap kali memberimu inspirasi dalam menulis. Ya, gurat tintamu selalu membuat tiap jiwa terkesan dalam kata-kata yang kaurangkai. Persis seperti pelangi.

Aku termasuk di antara banyak manusia yang mengagumi karyamu Juli. Entahlah, tiap aku menikmatinya ada rasa yang tak bisa aku ungkapkan. Seakan-akan pelangi hadir di tanganku untuk kueja.

Hmmm…..warna pelangi itu terus berbinar-binar di dalam sakuku. Pancarannya memantul keluar hingga menembus kaca mobilku. Kuambil sebuah kotak persegi berwarna hijau yang memang sengaja telah aku persiapkan sebelum mengambil pelangi. Kumasukkan pelangi itu ke dalam kotak dan kurekatkan dengan pita dan kutuliskan gurat namamu di atasnya Juli. Alhasil, cahaya pelangi terbungkam.

Ah, Juli kau telah membuat aku gila. Hari ini aku benar-benar menjadi seorang pencuri. Ya, aku tak ingin menyesal lagi. Dulu, karena aku tak memiliki keberanian aku kehilangan dirimu. Semenjak sepotong undangan pernikahanmu mampir ke rumahku, aku tak pernah bertemu denganmu lagi. Kau juga telah meninggalkan dunia imajinasimu demi lelaki itu. Jujur, aku cemburu.

Sirine mobil polisi semakin nyaring kudengar. Dugaanku benar, pak  lurah melapor ke polisi. Dengan tenang aku terus malaju tanpa ada rasa panik. Kugunakan keahlian menyetirku. Dengan gesit aku memotong mobil yang ada di depanku hingga aku yang paling terdepan. Ya, jalan ini seperti arena balapan. Untungnya, aku tahu seluk-beluk jalan raya ini. Dari gang-gang kecil kuterobos hingga jejakku pun tak bisa diikuti polisi.

Juli, aku tak sanggup melihatmu terpuruk dalam kesedihan. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu, agar kau kembali menjadi Juli yang aku kenal. Ya, aku turut berduka cita atas meninggalnya suamimu. Kalimat yang tak sempat aku sampaikan padamu. Bersebab, aku tidak datang melayat.

Sudah cukup tiga bulan lamanya kau terbenam dalam gulana. Ingat, kau tak boleh selamanya menjadi mayat hidup. Hidupmu masih panjang. Masa depanmu sangat indah seperti pelangi ini. Aku rasa pelangi juga merindu dirimu Juli.

Aku berhenti di tempat di mana kau selalu menunggu kedatangan pelangi, warung sate pak Mamet. Seperti biasa aku memesan seporsi sate dan segelas kopi hangat, sama seperti apa yang kerap kau lakukan saat berada di sini. Ya, aku duduk memandang langit yang telah pekat. Hujan kembali jatuh. Tapi, apakah mungkin ada pelangi di malam hari? Entahlah.

Kudengar siaran berita di televisi yang memberitakan bahwa pelangi ada yang mencuri. Gambarku tertangkap kamera. Sontak, mata yang ada disekelilingku tertuju padaku. Melihat gelagat itu, aku segera kembali ke mobil.

“Itu orangnya!” salah seorang menunjuk diriku.

“Cepat kejar!”

“Telepon polisi!”

Entahlah, aku terus melangkah menuju mobil tanpa peduli dengan perkataan manusia itu. Baru hanya satu pelangi yang hilang, bagaimana jika tiap orang mengambilnya untuk kekasih jiwanya. Bukankah bila esok hujan, pelangi akan ada? Dasar manusia selalu begitu suka memperbesar masalah. Apa tidak bisa sabar menunggu hujan turun? Ah, bukankah pelangi juga tidak terlalu penting bagi mereka? Yah, apalagi teruntuk kehidupan orang di perkotaan yang samasekali tak memperdulikan persoalan pelangi. Mungkin yang hanya peduli adalah orang fotografi saja atau para turis.

Bersama sebungkus pelangi aku datang ke rumahmu.  Tepat di depan rumahmu, mobilku berhenti. Ternyata di sana telah banyak polisi berjaga. Aku tak habis pikir mengapa polisi bisa tahu kalau aku akan datang ke sini. Dari kejauhan kumelihat dirimu duduk di teras bersama ibumu. Ha! Tatapanmu masih kosong. Wajahmu terlihat lesu. Guraian rambutmu tak tertata rapi. Segitu parahkah luka yang tersemat di palung jiwamu?

Maaf, Juli kalau aku terlalu mencintaimu. Bahkan, masih mencintaimu saat kau telah menjadi istri orang lain. Akh! Aku tak peduli. Aku hanya akan selalu memberi kebahagiaan padamu meski kau tak pernah tahu rasa yang ada di lubuk hatiku. Aku ingin cintaku adalah penawar lukamu Juli.

Malam itu, kuurungkan niatku untuk memberi sebungkus pelangi ini padamu. Tapi, kau tak usah khawatir. Akan kupastikan esok pagi sebungkus pelangi ini akan berada di tanganmu meski aku tak tahu akankah pagi mempertemukan aku dengan senyummu yang mengambang.

Aku menunggu malam rebah, menunggu pagi, menunggu hujan agar pelangi menghiasi senandung langit. Tapi, ternyata goresan pelangi tidak tercecah. Semua orang pada bertanya-tanya ke manakah pelangi pergi. Senandung langit menjadi pucat tanpa warna. Dan aku pun terbekap di balik jeruji.

Dunia Koma, Oktober 2011

 

Biodata penulis:

Ayu Sundari Lestari, lahir di Medan 21 Agustus. Tercatat sebagai mahasiswi PBSID UMN Al-washliyah Medan. Selain itu, juga bergiat di Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya (KOMA).

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Ayu Sundari Lestari! Make yourself at home…sangat diharapkan artikel-artikel berikutnya ya… Terima kasih Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra sampai ke Medan sana…

 

 

20 Comments to "Sebungkus Pelangi"

  1. Dewi Aichi  18 November, 2011 at 15:40

    Anhar….suit suitttt……prikitiwwwwwww…..!

  2. Ayu Sundari Lestari  17 November, 2011 at 13:32

    wuih! rame ya…

    mbak dewi : percaya koq, kalo mbak elnino tu baik hati dan gk sombong.

    k’anhar : entahlah y… *pura-pura gk tau* terima kasih kulaturkan

    mas Dj : mas Dj gk ush repot-repot, kn uda ayu bungkuskan utk Baltyra. Hehe.. salam kenal, salam hangat

    Mawar09 : salam kenal, salam hangat

    endah : salam kenal, salam hangat

    mas Handoko Widagdo : salam kenal, salam hangat

    mbak Meitasari S: lo, sama donk, mbak! salam kenal, salam hangat

  3. Meitasari S  17 November, 2011 at 09:38

    I like rainbow…..

  4. Handoko Widagdo  17 November, 2011 at 07:29

    Selamat datang ADALES

  5. endah wr  17 November, 2011 at 07:11

    nice…..

  6. Mawar09  17 November, 2011 at 03:07

    Ayu: salam kenal dan selamat bergabung di Baltyra. Tulisannya keren !!

  7. Dj.  17 November, 2011 at 01:22

    Seandainya Dj. biisia membungkus pelangi, maka akan Dj, bagikan untuk seluruh BelTyRaer…..
    Agar semua bisa berseri dengan banyak warna pelangi….

  8. Dewi Aichi  16 November, 2011 at 20:56

    Ayu…..hi hi jangan kuatir, pasti Elnino memaafkan, dia baik hati dan tidak sombong kok, tapi hati hati….jangan sampai ketularan….karena kadang kadang dia kumat he he he….(kabur dulu ahhh….takut ada sandal melayang)….

  9. Ayu Sundari Lestari  16 November, 2011 at 20:52

    ups! jd malu ayu. mf.. ya teruntuk mbak elnino. *diralat*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.