Demam SEA Games 11-22 November 2011 (1)

Adhe Mirza Hakim

 

All Baltyrans ketemu lagi di arena Sea Games 26 di Palembang, minggu lalu ada kesempatan melihat event ini secara langsung, walau tidak bisa merekam semua event disana, minimal ada sedikit tulisan yang bisa aku bagi kepada pembaca setia Baltyra, anggap saja ini oleh-oleh cerita dariku, hayuu disimak…

Sejak gema pesta olah raga antar Negara-negara di Asia Tenggara berkumandang secara gencar baik di media cetak maupun elektronik, yang menyoroti kekhawatiran pemerintah terhadap kesiapan panitia pelaksana Sea Games yang dirundung banyak masalah utamanya kasus Korupsi miliaran rupiah yang terkait dana pembangunan Wisma Atlit, sempat mengganggu kelancaran pencairan dana dari pusat ke daerah Palembang, yang terpilih menjadi tuan rumah Sea Games.

Akhirnya pemerintah mengambil keputusan memindahkan sebagian pertandingan olah raga ke Jakarta. Tindakan pembagian tempat pertandingan ini sangat tepat, karena panitia Sea Games di Palembang belum siap dengan beberapa venue olah raga. Selain itu persiapan tempat penginapan buat para atlit dan official team belum memadai, banyak atlit dan official team yang tidak kebagian hotel akhirnya menyewa rumah-rumah penduduk di seputaran stadion Jaka Baring sebagai tempat menginap.

Palembang yang terpilih sebagai tuan rumah pesta olah raga 4 tahunan ini, sempat membuatku sangsi apa iya Palembang mampu dan siap menjadi tuan rumah untuk event internasional sekelas Sea Games. Sebelumnya di tahun 2004, Palembang pernah terpilih sebagai tuan rumah PON (Pekan Olah Raga Nasional),  Stadion Jaka Baring dipersiapkan untuk pelaksanaan PON, kini di tempat yang sama kembali dipakai untuk event olah raga yang lebih besar. Sebenarnya kesempatan terpilih sebagai tuan rumah Sea Games ini merupakan kesempatan besar buat Palembang untuk dikenal lebih luas di tingkat internasional,  khususnya buat promosi pariwisata daerah Palembang dan sekitarnya.

Terlepas dari segala kekurangan dalam penyelenggaraan event Sea Games, kita tetap harus menghargai semua kerja keras panitia Sea Games baik yang berada di Palembang maupun Jakarta, untuk mensukseskan acara ini dan membawa Indonesia kembali sebagai juara umum, yang dahulu kala pernah merajai event Sea Games. Kita mungkin sudah bosan dengan masa paceklik medali dan sedih dengan kondisi dunia olah raga Indonesia yang semakin merosot, baik dari sisi kaderisasi dan pelatihan sampai masalah management organisasinya, bahkan nasib para atlit olah raga yang dahulu pernah mengharumkan nama bangsa ini dengan medali emas dalam event internasional, banyak yang hari tuanya hidup dalam kemelaratan, pemerintah tidak pernah mau melihat nasib mereka, ibarat habis manis sepah dibuang.

Wajarlah jika kaderisasi para olah ragawan di negeri ini tidak didukung penuh oleh rakyat, karena pemerintah memandang para olah ragawan hanya sebatas “Kepentingan Sesaat”, berbeda dengan penghargaan dari Negara lain terhadap para olah ragawannya, tidak mengherankan kalau ada beberapa olah ragawan kita yang justru hengkang ke luar negeri untuk menjadi pelatih di Negara tetangga, karena perhatian dari pihak pemerintah Negara yang bersangkutan sangat memanjakan dengan beragam fasilitas dan penghargaan yang tinggi. Para orang tua di negeri ini masih menyangsikan nasib anaknya jika memilih cita-cita menjadi olah ragawan, padahal profesi sebagai olah ragawan professional  sangat menjanjikan penghasilannya, baik dari event pertandingan maupun dari iklan dan sponsorship.

Balik ke acara Sea Games 26 ini, anakku yang sulung terus memohon dan meminta berulang-ulang sejak beberapa bulan yang lalu, bahwa jika Sea Games jadi terlaksana di Palembang, dia mau menonton acara Sea Games. Jarak Bandar Lampung – Palembang tidaklah jauh hanya 7 jam perjalanan pakai mobil, naik pesawat malah lebih dekat lagi hanya 25 menit.

Akhirnya aku meluluskan permohonan anakku, kebetulan sekolahnya hari sabtu libur, jadwal weekendays di minggu ke 2 bulan November ini, kami putuskan untuk menonton Sea Games.  Acara pembukaan Sea Games yang berlangsung begitu meriah dan dihadiri oleh pak Presiden, menjadi obat penawar kegalauan hati terhadap kesiapan panitia Sea Games. Aku yang menonton opening ceremony Sea Games pada hari Jum’at tanggal 11 November 2011    via televisi, seakan tidak percaya acara ini dilaksanakan di Palembang, bukankah selama ini kita selalu beranggapan untuk acara sebesar ini hanya mampu dilakukan Jakarta, Surabaya dan Medan, 3 kota besar yang sudah lebih dahulu dikenal.  Menonton acara pembukaan Sea Games secara langsung, tidak memungkinkan buatku dan anak-anak, karena bukan hari libur. Kami baru berangkat ke Palembang pada Jum’at malam.

 

Sabtu, 12 November 2011

Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam (berangkat pukul 22.00 Jum’at malam), pukul 5.00 subuh kami tiba dengan selamat di kota Palembang, orang tuaku sudah menanti kedatangan kami, mamaku selalu senang menyambut kedatangan cucu-cucunya, walau kunjungan kami tidak lama hanya 2 hari saja. Aku yang tidak bisa tidur selama perjalanan, memutuskan tidur selepas sholat subuh. Lumayan bisa tidur selama 30 menit, pukul 6 pagi aku harus siap-siap menjemput mba Umi, kakak iparku di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, beliau bersama suaminya, mas Agus serta satu rekan pecinta olah raga, pak Satim, ingin menyaksikan secara langsung dan memberi support para atlit sepatu roda, kebetulan kakakku sempat aktif di PB Sepatu Roda.

Perjalanan menuju bandara sangat lancar, bahkan sepanjang jalan banyak ditemui polisi dan tentara yang berjaga-jaga, hmmm….pasti pak Presiden beserta rombongan mau pulang ke Jakarta, setelah semalam menyaksikan acara pembukaan Sea Games. Spanduk, Billboard, balon udara yang berbentuk mascot Sea Games si Komo, serta bendera-bendera Negara-negara peserta menghiasi kota Palembang, benar-benar terasa kemeriahan acara pesta olah raga di kota ini. Semua orang membicarakannya, Koran-koran local memberitakan acara pesta pembukaan yang begitu sukses. Aku tersenyum menyaksikan euphoria Sea Games ini, biarlah acara ini menjadi ajang pelipur lara masyarakat terhadap beragam kesulitan hidup, minimal mereka bisa turut berbahagia menyaksikan beragam pertandingan olah raga secara gratisan.

Pukul 7 pagi, rombongan kakakku yang hanya 3 orang, tiba di Palembang, aku tidak langsung membawa mereka ke rumah, tapi mampir menikmati kuliner khas Palembang, menikmati sepiring mie celor kaldu udang, di warung “Mie Celor H. Syafei” yang terletak di daerah 26 Ilir Palembang, sebenarnya warung mie celor ini tidak jauh dari rumahku, hanya berjarak 300 meter. Jarak dari bandara ke rumahku hanya 20 menit jika jalanan lancar lho.  Tiba di warung mie celor, ternyata antriii….berhubung aku sudah biasa makan di sana, aku langsung masuk dan gabung dengan pelanggan yang lain.

Nah…mau tidak mau pelanggan yang sedang makan harus cepat-cepat menyelesaikan makannya hehe…jadi kami bisa menempati meja makan secepatnya. Buat makan berempat orang cukup keluar uang Rp. 72.000,- (4 piring mie celor special, 4 cangkir teh manis anget dan 2 bungkus emping goreng). Kami harus segera pulang ke rumah, untuk meletakkan tas dan menjemput anak-anak. Jam 9 pagi kami menuju stadion Jaka Baring. Sampai di lokasi aku harus berputar-putar hanya untuk sekedar mencari lokasi parkir mobil.

Kakakku dan anak-anak sudah aku drop di pintu masuk, sedang untuk masuk lokasi venue dan stadion harus dengan kendaraan khusus yang disiapkan oleh Panpel Sea Games. Lokasi Parkir letaknya jauh berada di luar stadion, lumayan deh dapat parkir 500 meter dari pintu masuk, hihihi….lumayan deket tuuh!

Kakakku bersama anak-anak menunggu di depan pintu masuk, masuk ke lokasi Sea Games tidak begitu ketat pengawasannya, anak-anak melihat deretan becak Sea Games, langsung memilih minta naik becak daripada naik bus. Awalnya kami tidak bisa naik becak gratisan ini, karena para abang becak ini diprioritaskan untuk mengangkut para atlit dan official team, atau awak pers yang memakai kalung banner penanda peserta Sea Games, tapi kakakku ber 3 memakai kaos timnas Indonesia yang bewarna merah dan berlogo Garuda, berhasil meyakinkan para abang becak untuk mengangkut kami ke wisma atlit, kami ditawari naik becak satu orang untuk satu becak, hihihi….asli enak bener, aku sempat bertanya ke abang becak diupah berapa sehari oleh panpel, kata si abang becak, mereka diberi  Rp.200.000,-/hari tapi dipotong biaya administrasi jadi yang masuk ke kantong mereka hanya Rp.170.000/hari.

Tiba di wisma atlit kami tidak bisa masuk sebelum ada konfirmasi dari atlit dan official team yang bersangkutan, setelah kakakku bicara dengan penjaga pintu masuk, yang terdiri dari seorang tentara dan petugas sipil, melalui handy talkie petugas security menghubungi official Sepatu Roda, sebetulnya kakakku sudah menelfon dan mengkonfirmasikan kedatangan kami ke Pelatih Sepatu Roda, tetapi yang namanya birokrasi tetap harus dilalui. Tak lama, pelatih Sepatu Roda, Bayu menyambut kakakku, barulah kami bisa masuk ke dalam wisma atlit.

Suara helicopter meraung-raung berputar mengitari komplek stadion Jaka Baring, tampak mobil kecil yang biasa dipakai caddy Golf hilir mudik mengantar para Atlit dari venue ke wisma atau sebaliknya, ada ruang laundry yang menyiapkan seprai, selimut dan sarung bantal.

Kalau mencuci baju atlit mungkin tidak ya…karena aku lihat para atlit itu mencuci baju sendiri tampak dari pakaian yang bergelantungan di teras masing-masing kamar.

Hmm…lumayan mewah ini bangunan, walau keadaannya masih agak gersang, karena belum banyak tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Wisma atlit ini satu kamarnya diperuntukkan untuk 4 atlit, tapi kenyataannya harus diisi sampai 6 atlit, maklum ketersediaan kamar dan banyaknya jumlah atlit tidak berimbang.

Kami duduk di ruang tamu yang sudah tersedia beberapa set sofa dan TV layar LCD, kami disuguhi minuman Pocari Sweat gratisan dari pihak sponsor. Setelah berpanas-panas ria di luar, masuk ke dalam ruangan yang adeem ber-AC trus disuguhi Pocari Sweat rasanya segar sekali, hehe…sorry yaa ini bukan iklan terselubung. Kakakku dan rombongannya akan berada di venue Sepatu Roda sampai sore hari.

Panpel juga menyediakan Koran gratisan, baik koran yang berbahasa Indonesia maupun koran yang berbahasa Inggris, untuk semua peserta SEA Games.

Aku memutuskan pulang duluan dan berjanji akan menjemput kakakku sore harinya. Aku dan anak-anak memutuskan mengitari Stadion Jaka Baring, awalnya anak-anak mau naik becak lagi tapi berhubung kami hanya pengunjung biasa, tidak punya hak istimewa untuk naik kendaraan suttle yang katanya gratisan itu, para abang becak ini memprioritaskan para atlit dan official team lebih dahulu. Terpaksa deh harus jalan kaki berpanas-panas ria kembali, untunglah dari rumah, mamaku sudah membawakan kami beberapa botol minuman teh kemasan, juga sebotol Pocari Sweat yang kusimpan buat berjaga-jaga jika kehausan.

bersambung…

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

26 Comments to "Demam SEA Games 11-22 November 2011 (1)"

  1. Adhe  18 November, 2011 at 21:00

    @mba DA, hahaha…..2014, koq kita sepikiran yaaa???…..aku mau numpang nginep kira2 dibukain pintu nggak ya?? hihihihihi…..sambil bawa “sogokan”….sekotak “Pempek Tenda Biru” hahaha.

  2. Dewi Aichi  18 November, 2011 at 20:56

    Ha ha….oke mba Adhe…..laporannya ditunggu terus pokoknya, soal supporter….ya kalau untuk memeriahkan sih ngga apa.apa….masak sepi, kan ngga menarik….tahun 2014….siap siap ke Brasil yaaa…..ongkos ditanggung baltyra ..bossnya tuh ha ha…..kabur ahhh….mo kerja dulu….ngomongin ongkos ntar redaksinya nyiapin gagang sapu ha ha…

  3. Adhe  18 November, 2011 at 20:45

    @mba DA, maksudku bukan Reporter tapi Suporter hihihihi………….kalo Reporter yang satu ini asli reporter gratisan hehe….

  4. Adhe  18 November, 2011 at 20:44

    @mba DA, thanks ya supportnya, soal supporter bayaran, sebenarnya ini ide untuk memeriahkan acara Sea Games dengan mendatangkan anak2 sekolah untuk berpartisipasi dalam acara Sea Games, bayarannya secara materi langsung sih tidak, tapi anak-anak sekolah itu diberi kaos dan atribut buat memeriahkan acara Sea Games. Yang mendapat bayaran mungkin koordinatornya, untuk membawa murid-murid dari sekolahnya kan harus disiapkan mobil angkutannya, hehe….

  5. Dewi Aichi  18 November, 2011 at 20:37

    Mba Adheeee….ciamik laporan langsung dari reporter baltyra yang cantik dan suka memberi he he he…biar diberi duren….wah bener bener berkibar merah putih…kalah menang tetap dukung tim Indonesia…mari beri semangat….tapi itu issue supporter bayaran untuk negara tetangga, apa benar adanya?

  6. Adhe  18 November, 2011 at 19:14

    @cik Lani…..Mahalo juga hihihi………..

    @Nina “El Nino”, siip lanjutannya sudah ada tinggal tunggu jadwal tayangnya hehe…mie celor, hmm enak lho.

    @Fadli, hehe…next time kalo pulkam lagi.

    @Arief, makasih ya bro…

    @mba Matahari, bangunan Wisma Atlit rencananya mau dibuat sekolah olahraga berasrama, mudah2an benar ini rencana.

    @Sasayu, thanks ya dear atas dukungannya, sepertinya Indonesia akan menjadi “Juara Umum”.

    @Pak Han, hahahaha…..atlet lompat tali tepatnya, medalinya cukup permen coklat bentuk mendali emas.

    @bro JC…makasih JC yang selalu setia menayangkan artikel2 se”ada”nya ini, aduuh makasih banget untuk kartu pers nya, semoga terwujud ya, aamiin…

    @Pak de DJ, matur nuwun banget….soal Mie Celor hehe asli enak banget, rasa kaldu udangnya sangat terasa, murah juga kan… kalo soal Becak yang tutupnya pendek, iya bener Becak di Palembang atapnya sangat rendah yang duduk kepalanya bisa kesantuk hehe… buat pak de yang berbadan tinggi kap Becak sebaiknya dibuka saja, resikonya ya kepanasan hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.