Sumba Nan Eksotik

Handoko Widagdo – Solo

 

Perkenalanku dengan Sumba terjadi pada tahun 1992. Saat itu saya diundang oleh salah satu LSM Internasional yang bekerjasama dengan LSM lokal mengembangkan proyek pertanian. Sejak kunjungan pertama tersebut, saya kembali ke Sumba beberapa kali.

Kesan pertama saya tentang Sumba adalah alamnya yang gersang namun eksotik. Lahan berbukit-bukit dengan sedikit pohon yang saat kemarau merangas adalah pemandangan indah di hampir setiap jengkal Pulau Sumba.

Minimnya sarana transportasi dan sulitnya medan menyebabkan kuda menjadi andalan untuk melakukan perjalanan.

Meski alamnya gersang, namun penduduk Pulau Sumba adalah pekerja keras yang berupaya menyediakan pangan bagi dirinya. Jagung dan ubi kayu (cassava) adalah sumber pangan utama penduduk Sumba. Berbeda dengan petani di wilayah basah yang menyimpan jagung di dalam ruangan, Orang Sumba menyimpan jagung di pohon-pohon. Jagung diikat ke pohon atau di tegakan kayu. Jika membutuhkan baru jagung tersebut diambil dengan cara memanjat pohon. Sedangkan ubi kayu disimpan di dalam rumah.

Setiap keluarga harus bisa menyediakan bahan pangan untuk hidup selama setahun penuh. Sebab musim tanam mereka hanya satu kali setahun. Kegagalan panen berarti bencana bagi seluruh keluarga.

Orang Sumba juga sangat rajin menanam pohon. Mereka menanami lahan yang gersang dengan berbagai pohon kayu.

Kerasnya alam dan sulitnya memproduksi bahan pangan, di tahun 90-an, menyebabkan banyak istri yang memaksa suaminya menikah lagi. Dengan bertambahnya istri, berarti bertambah jumlah tenaga kerja yang bisa membantu di lahan untuk menyiapkan bahan pangan. Adalah umum seorang lelaki memiliki lebih dari dua istri. Seringkali jumlah istri lebih banyak daripada jumlah anak.

Sumba juga terkenal dengan peninggalan megalitik. Sampai dengan tahun 90-an prosesi penguburan masih dilakukan dengan adat yang sangat kuat (meski dibeberapa tempat sudah diwarnai Agama Kristen).

Selain alam dan peninggalan megalitik, Sumba juga menawarkan kain nan cantik.

Sumba adalah salah satu tujuan wisata yang perlu dipertimbangkan. Tidak susah untuk mencapai Sumba. Ada penerbangan langsung dari Denpasar. Ada juga penerbangan dari Kupang. Bandaranya pun kini telah mampu didarati pesawat bermesin jet. Jadi, jika punya waktu, cobalah untuk ke Sumba.

Terima kasih kepada Mas Edy Hartono yang telah menyumbangkan beberapa foto dalam artikel ini.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

64 Comments to "Sumba Nan Eksotik"

  1. Handoko Widagdo  22 November, 2012 at 18:54

    Itu foto di Sumba Timur saat transit sebelum ke Flores.

  2. lutfi Firdausi  22 November, 2012 at 18:48

    foto yang terakhir di floresss bukan di sumba

  3. Handoko Widagdo  10 December, 2011 at 07:21

    Mbak Wiwien, senang bahwa tulisan saya memberi kegembiraan bagimu. Kini saatnya Mbak Wiwien share pengalaman dari Kalimantan Barat dan pengelolaan pekerja anak dan perdagangan anak. Ada Mas Odi yang mempunyai minat serupa lho.

  4. wiwien  9 December, 2011 at 17:28

    Terimakasih pak handoko …lama saya pengen komentar semua yang pak handoko share ke saya….semua keren dan menambah wawasan saya…contohnya aja sumba nih…minimal meskipun belum kesitu..melalui cerita bapak..sudah seperti di sumba lo hihihi…ma kasih pak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.