Aku Mencintaimu, Orang-orang Indonesia

Dwi Klik Santosa

 

Merah-merah. Muda-mudi. Tumpah ruah.

Begitulah pemandangan yang saya saksikan sejak jam 15.oo hari ini (19/11) di kawasan sekitar Gelora Bung Karno Senayan. Datang ke Senayan dengan izin boss, “yakin nih, akan dapat tiket?” begitu tanya beliau. Hahaha .. saya sikapi dengan ketawa saja. Bagaimana pun kantor kami selama ini pernah berkutat jadi panitia pertan…dingan sepakbola-sepakbola penting di negeri ini. Jadi tentu saja, saya lekas tahu jawabnya. Apalagi dalam kondisi sepakbola kita yang karut marut seperti dewasa kini, pastilah serba semrawut .. Siapa yang lalu bisa menyetop aksi para calo? Begitupun, panitia Sea Games .. halah .. jangan tanya dehhh …

Arkian, setelah mondar-mandir, dapat juga tiket itu lewat seorang calo. Harga bandrol resmi 150 ribu, kena saya beli 175 ribu. Lha, habis gimana, ya .. sedari tiga hari yang lalu pesan lewat rajakarcis.com terblokir terus. Untuk ngantri, kerja kantoran …. Ya, sudahlah, beli sama calo jadilah ….

Tidak sia-sia. Hari ini sesuatu yang indah saya rasakan. Hingga hujan bulan November pun tercurah juga. Tidak dari langit airnya. Tapi mengalir dari kali di mataku …..

Kapasitas Stadiun Gelora Bung Karno, jika dihitung secara maksimal kursi yang boleh ditiketkan barangkali menyentuh angka 88 ribu. Itu jika dua blok atas pojok dekat skoring board Utara dan Selatan itu dikosongkan alias tidak boleh dipakai untuk penonton. Lha ini, semua kursi full. Lalu tangga-tangga masuk menuju kursi-kursi duduk penonton juga berjubelan. Jika dihitung semua kursi maksimal 100 ribu penonton, lalu ditambah jubelan di tangga-tangga itu, waaahh .. pasti lebih dari 100 ribu … Semua hepi. Semua antusias. Semua penuh semangat. Semua mencintai Indonesia. Meski kalah dengan seteru paling seteru barangkali, toh, legawa dan tertib. Terima kasih, Tuhan.

Pertandingan Indonesia – Malaysia malam tadi adalah pertandingan klasik kiranya. Berkelas, karena bermain dengan tempo cepat dan teknik tinggi. Sangat elegan dan dramatis, karena masing-masing saling menjaga fairplay dan sportifitas. Meski, sekalipun ada saja teriak penonton, “maling-maling-maling.” Ya, ya, memang, kekanakan dan kampungan, cara berpikir seperti itu. Emosional dan dangkal. Ini sepakbola, Bung. Mestinya saya teriakkan begitu. Namun, ya, sudahlah, saya nikmati saja, euporia ini. Senyaman mungkin. Seasyik mungkin.

EKSPERIMENTASI COACH RAHMAD DARMAWAN

Kalah memang kalah. Hal yang biasa dalam olahraga. Namun saya sempat mendengar kabar, sehari yang lalu coach Rahmad Darmawan, salah satu pelatih terbaik kita, terlibat dilema. Menang tiga kali dengan jumlah gol yang besar. Melawan Kamboja 6 – 0. Melawan Singapura 2 – 0. Dan melawan Thailand 3 – 1. Adalah prestasi yang luar biasa kiranya. Bagaimana pun Thailand dan Singapura dalam lima tahun terakhir ini adalah momok bagi persepakbolaan Asia Tenggara. Dan mudah saja dilewati dengan berondongan gol yang banyak. Para pemain pun barangkali adalah nama-nama baru. Dan beragam. Bahkan 5 diantaranya dari Papua. Kecuali Okto Maniani dan Titus Bonai, rasa-rasanya nama Lukas Mandowen, Patrick Wanggai dan Stevi Bonsavia masihlah baru di skuad tim nasional U-23. Nama-nama besar dan ngetop, sering mengisi iklan-iklan macam Irfan Bachdim dan Kim Jefrey malah tidak dipakai. “Untuk apa memanggil pemain yang tidak disiplin!” Waoooooww …..

Menghadapi pertandingan terakhir melawan Malaysia, toh, sudah dipastikan Indonesia akan lolos ke Semifinal, akan bagaimanakah? Nah, rupanya, Coach Rahmad, mengambil resiko dengan kebijakannya. Karena memainkan para pemain cadangan atawa lapis kedua.

Formasi : Andritany Ardiyasa (gk), Seftia Hadi/Diego Michiels (KK), Yericho Christiantoko, Mahardiga Lasut/Egi Melgiansyah, Yongky Aribowo (C), Ramdani Lestaluhu (KK), Gunawan Dwi Cahyo, Lucas Mandowen/Oktovianus Maniani, Ferdinan Sinaga (KK), Titus Bonai dan Hendro Siswanto, adalah sangat baru.

Tapi meski begitu, semuanya bermain bagus. Hanya saja, lini tengah yang biasanya ditempati kapten Egi Melgiansyah terasa lengang, dan lebih dikuasai Malaysia. Mahardiga Lasut sebagai playmaker masih belum teruji ketangguhannya di bandingkan Egi. Sedangkan Lucas Mandowen meski lincah, namun beberapa kali serangannya dari sayap kanan selalu membentur tembok pertahahan Malaysia yang kokoh bak Benteng Rotterdam. Okto yang dimainkan di babak kedua lumayan perannya menggantikan Lucas. Setidaknya ada 2 peluang emas. Namun tetap belum menghasilkan gol. Karena sigapnya kiper Khairul Fahmi yang merupakan kiper utama nasional Malaysia. Pemain serba bisa Diego Michiels juga terlambat dimainkan. Saat masuk menggantikan beck tengah Seftia Hadi. Hadirnya Diego, serangan makin gencar .. namun lagi-lagi peluang yang ada, nihil karena tangguhnya kiper Khairul. Kiper kita Andritany juga bermain cemerlang meskipun kemasukan 1 gol. Tidak kalah elok dengan kiper utama Kurnia Meiga yang tidak diturunkan. Namun striker Yongky Aribowo yang biasanya bermain tajam kiranya tak setajam pemain debutan Patrick Wanggai yang disimpan coach Rahmad, yang selama Sea Games berlangsung telah mengoleksi 2 gol. Sehingga, hingga menit terakhir 2 x 45 menit plus injury time 6 menit usai, keadaan tetap 1 – 0 menjadi milik Malaysia.

Dua penyerang Malaysia, Syahrul Ibrahim dan Baddrol Bachtiar bisa disebut bintang pada pertandingan tadi itu. Serangan balik selalu cepat dan membahayakan dari keduanya. Baddrol yang kapten menjalankan perannya bagus sekali sebagai playmaker. Kontrolnya cermat dan umpan-umpannya matang. Memang harus begitu playmaker itu. Maka, jika duel permainan di tengah dikuasai, secara umum tim itu akan menguasai “ball position”. Gol yang lahir dari Syahrul Ibrahim adalah proses serangan balik di babak pertama yang mengejutkan pemain kita. Dengan demikian, layak memang kemenangan itu menjadi milik Malaysia.

Namun, pada babak semifinal, Aabtu besok (19/11) Malaysia masih harus diuji oleh Runner Up dari Gup B, yaitu Myanmar. Dan Indonesia, tentunya dengan tim intinya akan diuji oleh Vietnam yang merupakan juara Grup B. Saya rasa, sangat mungkin, jika mengikuti skema hasil pertandingan di Grup B, pertandingan Indonesia versus Malaysia akan ketemu lagi di Final.

Mari mengikuti alur drama ini sampai selesai. Tumpah ruah lagi di Senayan. Merah menyala menyanyikan “Indonesia Raya” dan gemuruh gema ….. Indonesia! Indonesia! Indonesia!

Pondokaren
18 November 2011

 

8 Comments to "Aku Mencintaimu, Orang-orang Indonesia"

  1. gie  27 January, 2014 at 01:24

    walaupun artikel ini di tulis 3 tahun yang lalu, tapi dengan artikel ini , mengingatkan kita semua untuk tetap mendukung Indonesia Raya..

  2. alfred tuname  23 November, 2011 at 02:38

    nasionalisme pas mantap

  3. Dewi Aichi  21 November, 2011 at 20:47

    mas Dwi…hayo nyenggol nyenggol siapa tuh di belakang…..pantas rajin ke GBK ha ha….ngga ding…bercanda…aku sangat percaya dan salut…semangat nusantara mas Dwi…!

  4. Handoko Widagdo  21 November, 2011 at 10:30

    Mengapa Octo, Andik dan Lucas Mandowen bisa lolos dari sergapan bek lawan? Karena mereka bisa lewat selangkangan para bek tersebut.

  5. Dj.  20 November, 2011 at 18:27

    Orang Jerman selalu bilang ( dalam soal kesepakbolaan atau permainan ).
    Satu kali kita menang dan lain kali orang lain yang menang, itu normal…
    Siapa main lebih baik, layak untuk menang…
    Salam,

  6. Linda Cheang  20 November, 2011 at 15:24

    namanya juga strategi. ada kalanya kalah dulu selangkah untuk kemudian menang telak.

  7. J C  20 November, 2011 at 09:11

    Gelora semangat yang terasa sekali dalam tulisan ini…

  8. Imeii  20 November, 2011 at 09:05

    bacanya aja udah ikut deg2an

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.