Demam SEA Games 11-22 November 2011 (2)

Adhe Mirza Hakim

 

Aku mendatangi beberapa venue dari Tennis, Atletik  dan Renang, karena letaknya berdekatan satu sama lain, anak-anak sempat berfoto dengan boneka si Komo yang berkostum pemain Tennis. Venue Tennis masih lengang pagi itu, aku mengintip dan memotret walau tidak lama tetapi lumayanlah buat tambahan informasi jika aku perlu membuat tulisan.

Anak-anakku sudah mengeluh kelelahan dan minta pulang, aku sempat membujuk mereka untuk menyaksikan pertandingan renang di Aquatic Stadium, tapi percuma saja, anak-anak tetap ngotot mau pulang, si sulung malah mengajak nonton film ke bioskop.

Di dalam stadion banyak  ditemui anak-anak sekolah yang memakai baju kaos yang beratribut lambang bendera salah satu Negara peserta, pihak Panpel menyediakannya khusus untuk memeriahkan dan mensupport Negara peserta yang diwakilinya, istilahnya supporter bayaran, anak-anak sekolah ini dikoordinir oleh guru sekolah masing-masing (khususnya guru olah raga).

Hadeeew….maklum anak-anak kalo sudah ada maunya asli maksa, akhirnya daripada eyel-eyelan dengan mereka, aku ngalah meninggalkan Aquatic Stadium yang adem. Perjalanan menuju pintu keluar stadion lumayan jauh apalagi siang hari udara begitu terik, kami mencoba menyetop mobil angkot, bus BBG dan becak, semuanya pada somse (ngutip istilah mas ISK hihi..) sama kami, hiikkss…akhirnya kami harus berjalan kaki beberapa ratus meter, anak-anakku merengek minta naik becak, aku hanya bisa membujuk mereka agar tetap bersabar sambil terus berjalan.

“Anaknya ya bu…?” sapa seorang anak muda yang berjalan beriringan dengan teman-temannya yang sama-sama tidak kebagian angkutan gratisan. “Iya, adik mahasiswa ya?” jawabku sambil balik bertanya, “Iya bu, kami ditugaskan untuk membantu panitia Sea Games mengawasi keadaan dan lingkungan Jaka Baring ini, yah semacam intel begitulah,” jelasnya, “sudah lamakah direkrut untuk membantu acara Sea Games ini?” pikirku mungkin saja para mahasiswa ini sudah dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya, “belum lama bu, baru 5 hari menjelang pembukaan Sea Games,” hahaha…aku langsung mau ketawa tapi kutahan biar terkesan tidak meremehkan mahasiswa itu, “Oh begitu,”sahutku singkat.

Kemudian para mahasiswa yang memakai kaos seragam warna merah dengan gambar symbol Sea Games berlalu dengan sopan, aku yang masih menahan senyum hanya bisa berpikir “Inilah Indonesia, selalu menyiapkan sesuatu dengan cara instan dan serba dadakan, 5 hari baru merekrut para intel muda ini, apa bisa ya mereka memastikan keadaan lingkungan aman tidak ada ancaman dari para penyusup?”. Halaaah lupakanlah ini toh urusan para petinggi keamanan, semoga saja tidak ada masalah dari sisi kriminal maupun terorisme.

Di saat kami masih terus berjalan tiba-tiba si Sulung anakku menyetop becak kosong yang kebetulan lewat tidak jauh dari kami, anakku memohon kepada abang becak itu agar mau mengangkut kami, apalagi keringat sudah bercucuran dari wajah kedua anakku, “Tidak bisa dek, abang sudah narik becak berkali-kali siang ini, abang haus dan lapar, ini saja belum sempat minum dari tadi, mana udara panas,” alasan si abang becak panjang lebar berusaha menolak mengangkut kami.

Aku faham si abang becak tidak mau menerima bayaran uang, karena kalau ketahuan pihak Panpel mereka yang sudah dibayar bisa kena sangsi, lalu aku perhatikan wajah si abang becak yang penuh peluh tidak ada bedanya dengan wajah anak-anakku yang tampak kelelahan. Teringat aku masih memiliki sebotol Pocari Sweat boleh dapat gratisan dari Wisma Atlit, “Bang, kalau kami tidak boleh membayar abang dengan uang, bolehlah kami memberi abang dengan sebotol minuman dingin ini ,” kataku sambil menyodorkan sebotol Pocari Sweat yang masih terasa dinginnya, wajah si abang becak berubah gembira, “Nah kalau dapat minuman seperti ini enak juga, hayuu naik.” Si Abang becak mempersilahkan kami untuk segera naik. Syukurlah diselamatkan oleh sebotol Pocari Sweat hihihi…..

Dari stadion Jaka Baring kami menuju 21 Cinema, menghabiskan waktu untuk menonton film, anak-anak tampak senang setelah dipenuhi keinginannya, kami pulang ke rumah dahulu dan berniat ke Jaka Baring selepas Maghrib. Kami kembali ke Jaka Baring untuk menjemput kakakku sekalian menonton pertandingan yang digelar malam hari. Alih-alih mau nonton pertandingan yang ada kami terjebak di dalam kemacetan total karena system buka tutup jalan yang dilakukan polisi lalu lintas di sekitar Jaka Baring, plus ditambah hujan lebat yang mengguyur kota Palembang.

Aku menelpon kakakku yang ternyata sudah pulang ke rumah, daripada maksa menonton pertandingan dengan resiko kehujanan, kami putuskan untuk pulang ke rumah juga. Perjalanan pulang tidaklah mudah, kami benar-benar terjebak di dalam kemacetan, untuk menghindar blockade buka tutup jalan kami harus melalui komplek perumahan penduduk di seputar Jaka Baring, ternyata di jalan komplek perumahan masih ditemui kemacetan juga, banyak para penonton Sea Games yang memarkir kendaraan mereka di komplek perumahan penduduk.

Sempat sih aku mendengar keluhan pemilik rumah yang merasa terganggu dengan kondisi ini. Rumah-rumah penduduk di Jaka Baring banyak juga disewa oleh tim official, tidak heran banyak ditemui orang-orang yang berkostum olah raga hilir mudik di sana. Akhirnya setelah susah payah menembus kemacetan yang panjang, sampai juga kami di jalan besar di luar stadion Jaka Baring. Kakakku malah menyewa bajaj (sisa armada PON yang lalu) untuk keluar dari lokasi Jaka Baring dengan ongkos Rp. 150.000. untuk diantar sampai rumah, hahaha….buseet dah mahal amir ngalah-ngalahin naik Taxi.  Para penumpang bus dan angkot yang banyak protes disuruh turun sama pak sopir, karena pak sopir juga pusiing….sudah macet diomelin pula hahaha. Inilah serba serbi Sea Games.

 

Minggu, 13 November 2011

Pagi hari kami sudah bersiap-siap menuju stadion Jaka Baring, mau menonton final Sepatu Roda yang dijadwalkan berlangsung pukul 9.00 pagi. Kali ini kami memakai supir, biar aku tidak pusing memikirkan posisi parkir mobil. Setelah turun di pintu masuk, rombonganku yang hanya terdiri dari 6 orang kesulitan untuk mendapat kendaraan Shuttle, mau naik bus BBG (bahan bakar gas) tidak bisa alasannya harus menunggu rombongan atlit dahulu, mau naik becak gratisan tidak ketemu sama becaknya, terpaksa menanti mobil angkot gratisan, ini juga tidak mudah, beberapa kali ketemu angkot sudah duluan diserbu para pengunjung lainnya.

Hadeeew….alamat jalan kaki lagi nie, “Nggak apa-apa bu jalan kaki pagi-pagi justru sehat penuh vitamin D dari sinar matahari,” jelas si Sulung, hahaha….”tumben ini bocah bisa nasehatin yang bener,” pikirku.

Tak lama berjalan tiba-tiba ada angkot kosong melintas, kakakku langsung menyetopnya, langsung kami berenam naik ke dalam, supir angkotnya masih muda dan sopan penampilannya, dia menanyakan kami mau turun dimana, kakakku langsung menyebut venue Sepatu Roda, karena mau menonton final sepatu roda, semoga tidak telat, jam di tanganku menunjukkan pukul 08.45 Wib.

Kami tiba tepat waktu, tribun penonton sudah penuh dengan supporter Indonesia dan Malaysia, bahkan ada ketua supporter Malaysia seorang bapak bertubuh tambun dengan membawa genderang kecil dan bendera Malaysia yang wajahnya mirip badut, hihihi….yang berseloroh lucu sampai para penonton tertawa melihat tingkah polahnya.

Pertandingan segera dimulai, si Sulung langsung berteriak-teriak memberi semangat kepada atlit sepatu roda Indonesia, aku tersenyum memandang anakku, syukurlah akhirnya dapat juga nonton pertandingan Sea Games, aku mengabadikan moment pertandingan ini melalui cameraku. Akhirnya Indonesia menang dengan menyapu bersih semua medali emas dalam cabang sepatu roda ini.

 

Alhamdulillah….victory lap dilakukan oleh atlit sepatu roda sambil mengibarkan bendera Merah Putih oh bahagianya, semoga perjuangan atlit-atlit muda ini tidak sia-sia hanya sampai di pesta olah raga ini, kedepan semoga hidup para atlit yang sudah mengharumkan nama bangsa ini bisa lebih baik.

Para penonton bubar dengan tertib, semua meninggalkan venue sepatu roda menuju venue lainnya. Kami melihat ada keramaian di Aquatic Stadium, kami segera berjalan ke sana, sayang…sayang…seribu kali sayang…ternyata pertandingan renang sudah selesai, penonton sudah bubar semua. Kami memutuskan untuk menuju Volley Ball Stadium yang berada di luar komplek Stadion Jaka Baring, letaknya berada di tengah kota Palembang, di GOR Kampus.

Kami kebagian bus BBG gratisan saat keluar dari Aquatic Stadium, kondisinya seperti naik busway adem pula, jadi lengkap sudah naik suttle gratisan dari Becak, Angkot dan Bus. Kami sempat mampir ke stand penjual souvenir di dekat gerbang masuk stadion Jaka Baring, kebanyakan penjual kaos-kaos Sea Games dan Food Court.

Keluar arena Sea Games, kami harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, hampir 1 kilo hanya untuk ketemu sama mobil dan supir kami. Lagi-lagi system buka tutup jalan membuat mobil harus berada jauh dari lingkungan arena Sea Games, kecuali mobil-mobil panpel ya…atau punya stiker khusus bisa masuk arena Sea Games. Aku menelpon supirku untuk bertemu di Masjid yang berada di komplek perumahan dekat stadion Jaka Baring, biar kami tidak terlalu jauh berjalan.

Jalan kaki melalui komplek perumahan tidaklah semulus yang kami bayangkan, sempat harus melalui jalan yang becek dan berlumpur, si Bungsu protes berat “Ibu jangan jalan cepat-cepat, sandal adek penuh tanah,” aku tersenyum sambil menjawab “tenang ‘Dek, nanti sandal adek dibersihkan di toilet masjid,”.

Bangunan masjid Chengho berdiri megah di depan kami, warna masjid ini lumayan kinclong, Ungu boow…biasanya warna masjid itu kombinasi warna hijau, coklat dan warna-warna natural lainnya. Warna Ungu menggambarkan keceriaan dan sangat eye catching, dari jauh sudah kelihatan bangunan masjid ini. Mobil kami sudah terparkir di depan masjid, sebelum naik ke mobil kami membersihkan kaki kami terlebih dahulu.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Volley Ball Stadium, syukurlah tidak mengalami kemacetan yang berarti, karena arus yang padat justru mengarah ke Jaka Baring, sedang yang keluar justru ramai lancar. Volley Ball Stadion bewarna oranye sebenarnya ini bangunan Gelanggang Olah Raga (GOR) Kampus sudah cukup tua.

Tapi dengan sentuhan dan polesan ulang dari para tukang bangunan, jadilah bangunan ini tampil kinclong dan menarik mata. Kami masuk ke dalam dan melihat team volley ball putri Indonesia sedang bersiap-siap untuk bertanding melawan team putri Timor Leste, tunggu punya tunggu di dalam stadium  yang dingin banget ini… ternyata team putri Indonesia menang W.O, alias menang tanpa bertanding, sebab team putrid Timor Leste berhalangan hadir tanpa sebab yang jelas. Mungkin atlitnya pada sakit perut kebanyakan makan kuah pempek hihihi…..uuupppss sorry just kidding.

Setelah memastikan tidak ada pertandingan volley ball putri kami keluar dari stadium, dan memutuskan untuk makan siang dahulu. Kami memilih satu rumah makan khas Palembang “Mahkota Indah”, buat teman-teman yang sempat mampir di kota Palembang, jangan lupa mampir ke sini ya..dijamin masakannya enak banget….khusus penggemar masakan melayu, benar-benar sesuatu banget hehe.

Kami memutuskan pulang kembali ke Lampung siang hari, karena besok Senin, anak-anak sudah harus masuk sekolah kembali, senangnya sudah bisa menonton Sea Games walau hanya beberapa jam saja. Kami berpisah di jalan dengan rombongan kakakku, mereka meneruskan kembali menonton Sea Games ke Stadion Jaka Baring, karena minggu sore masih ada partai final sepatu roda. Sedang kami melajukan mobil ke arah luar kota, bye..bye…sayonara Palembang.

Tepat pukul 24.00 tengah malam kami tiba di rumah dengan selamat. Selesai juga menemani anak-anakku yang “Demam Sea Games” hehe…tiada senyum yang paling indah selain senyum kegembiraan dari anak-anakku, aku sudah memberikan obat penawar “demam” nya dengan menyempatkan diri melihat langsung acara Sea Games, walau hanya sekejap tapi sangat berkesan. Semoga semangat berolah raga akan menumbuhkan mental kuat dan sportif pada anak-anak kita semua, tabik.

 

*AMH, BDL 16112011

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

26 Comments to "Demam SEA Games 11-22 November 2011 (2)"

  1. Adhe  23 November, 2011 at 22:30

    @Adri, makasih ya bro…sudah sempatin baca tulisan ini, ya next time semoga ijin cuti bisa keluar saat Palembang jadi tuan rumah Asian Games 2018 hehehe…..ntar aku buat liputannya lagi, soal makanan yg enak hehe…asliii….loh.

    @mba Nina, thanks so much….itu foto Udang emang sengaja aku posting dg maksud “menggoda” mu hahaha…inget kan?? waktu aku ke Banjarmasin, mba Nina pernah bilang makan udang gede2 disana, sedang aku tidak sempat mencobanya, kini balasan makan udang kutemui di Palembang hehe…. soal mba SU….iyaa aku sebut Bunda karena comment nya bijak bestari. Kapan2 mau juga kopdar dengannya, hayuu…..

  2. elnino  23 November, 2011 at 08:21

    Selalu menyenangkan baca reportase wartawati baltyra van BDL ini. Pernak perniknya bikin tambah seru… Dan jepretannya makin ciamik

    Tapi aku ‘gak seneng’ baca n liat foto masakan Melayunya, hahaha… Bikin ngiler abis!! Itu coba, udang segede bagong mejeng di atas piring dengan genitnya. Aduuuuh…

    Sssttt, kenapa panggil Silvia dengan ‘bunda’? Dia beberapa tahun di bawah kita, hihihi…. Abis SU keibuan sih ya? Cool n wise. Biarin yg diomongin panas kupingnya

    Ayooo, lanjut cik Dhe dg liputan yg lain….

  3. adri budiman  23 November, 2011 at 08:02

    serasa ada di lokasi, makasih ya Dhe liputannya, pengen banget kesana pas acara kemarin, apadaya ijinnya ga turun

    makanannya bikin ngiler hehehehe…

  4. Adhe  23 November, 2011 at 07:31

    @mba Kornelya…..makasih yaaa…..sudah mampir baca, sama aja kan dg mba Kornelya yang juga selalu menyenangkan hati anak2, salam sayang dari BDL.

    @mba Mawar, …….matur nuwun….senang bisa ajak jalan2 mba Mawar walau hanya lewat tulisan dan foto2, perjalanan darat dari Lampung – Palembang, lumayan melelahkan tapi kalau sudah ketemu tempat makan yang enak lupa deh lelahnya, hehe….salam sayang dari BDL.

  5. Mawar09  23 November, 2011 at 00:01

    Adhe: terima kasih liputannya. Asyik banget diajak jalan-jalan, foto2nya bagus dan paling suka lihat foto mesjid yang warna warni itu, makanannya bikin ngiler. Suatu hari ingin juga jalan-jalan ke Lampung dan Palembang.

  6. Kornelya  22 November, 2011 at 22:30

    Mba Adhe keren banget reportasenya apalagi ditemani anak-anak tercinta. Kenangan yg tak anak mereka lupakan. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.