Ini Bukan Curhat, Kawan

Muhammad Anhar

 

Manusia adalah sebuah umpama, ia disebut manusia karena ada mahluk lain yang berbeda dari wujud, sifat atau sisi lainnya-batin juga fikiran.

Begitulah, perumpamaan selalu melekat di diri manusia, bahkan dari nenek moyang kita selalu berumpama, maka tak heran banyak ujar tua mengumpamakan manusia. Kita  bahkan  berumpam alewat cerpen,puis juga teater. Chairil Anwar mengumpama diri binatang jalang, Rendra mengumpama diri Merak. Ya, sedikit menarik benang merah, kita adalah perumpamaan itu sendiri.

Sahabat, ijinkan saya berumpama kisah ini:

Dinding dan paku

Suatu saat sebuah dinding yang kokoh berdiri tegak di sebuah rumah. Indah ia terlihat, hingga suatu saat,  satu, dua, tiga, lima, tujuh paku tertancap di dinding itu. Dinding mengeluh, tapi itu untuk kebaikan seisi rumah, lihatlah kini berbagai lukisan terpajang indah. Sekalipun perih, dinding diam, dinding menahan, walau ia masih merasa ditusuk tajamnya paku.

Waktu terus bergulir, hingga suatu saat si pemilik rumah berniat pindah rumah dan  melepas segala lukisan indahnya. Ia juga melepas semua paku yang ia tanam di dinding.

Dinding lega, tapi sebentar.

Ia kini melihat tubuhnya tidak mulus lagi. Ada bekas-bekas paku di sekujur tubuhnya.

Pemilik rumah paham, ia membeli semen dan melapis lagi dinding yang  tlah berlubang. Ia ingin penghuni yang baru nanti  tidak melihat  bahwa dulu tidak ada lubang di itu.

Yah, dinding senang, tapi sebentar. Ia tercekat.

Sebagus apapun dempulan tukang, dinding yang telah berlubang itu tak akan kembali seperti sedia kala- sebelum satu, dua, tiga, lima, tujuh paku tertancap padanya.

Dinding menangis. Bukan, bukan meratapi diri yagn tak lagi mulus, bukan juga karena pemilik rumah meninggalkannya, bukan. ia memaklumi itu.

Ia menangis, besebab pemilik rumah menggenggam paku- menuju dinding rumah barunya.

 

Kawan, perumpamaan ini  datang kala kulihat dinding kamar…moga ada manfaat..

 

9 Comments to "Ini Bukan Curhat, Kawan"

  1. Fatimah Saurina Purba  1 December, 2011 at 21:35

    paku itu apa ya??
    sepertinya sejenis penyakit kulit ya??

    hahaha pisssssssssss fren

    mantap story

  2. anoew  23 November, 2011 at 16:13

    Umpama dia jadi milikku.
    Umpama itu jadi milikku..
    Umpama ini jadi milikku..
    Umpama..

    Jan’e umpama kiy opo tho?

  3. [email protected]  22 November, 2011 at 17:09

    Pakailah 3M….. nempel… kuat, tanpa perlu melobangi dindingnya

  4. NEGRO  21 November, 2011 at 16:42

    “DINDING PALSU JANGAN DI PAKU “

  5. agatha  21 November, 2011 at 13:25

    Hiiikss…..
    Dinding berlubang kena paku…
    Perih duung…..
    Bagai hati teriris ribuan sembilu…. hiksss…

    Tapi.. JIKA
    Dinding.. Jika tidak boleh dipaku pemiliknya…
    Bagaikan LILIN yang tidak boleh dinyalakan. Bagaikan jalan yang tidak boleh dilewati juga…..

    Jika demikian .. apa GUNAnya mereka ADA?
    Katanya.. No Pain ..No Gain
    Bukankah lilin berguna karena di NYALAkan?
    Bukankah pensil berguna setelah diserut?
    Dan bukankah garam LARUT … menjadikan makanan menjadi lezat?

    …..walau garam jangan dikonsumsi banyak.. bisa darah tinggi

  6. Dj.  21 November, 2011 at 12:25

    Hhhhhmmmmm…..
    Perumpaan yang sangat bagus…..
    Dindingpun merasa perih kena paku…..
    Apalagi tangan yang kena…..waaaaw…..!!!
    Salam,

  7. Handoko Widagdo  21 November, 2011 at 10:46

    Anhar mengumpamakan dirinya sebagai dinding. Anhar si Dinding!

  8. Linda Cheang  21 November, 2011 at 09:52

    ya, begitulah

  9. J C  21 November, 2011 at 09:05

    Bang Anhar…renungannya mantap kali lah ini…gimana kabar Sumatera Utara?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.