Akhir Minggu di Kampung

Anastasia Yuliantari

 

Setiap hari Sabtu menjelang, aku harus segera mempersiapkan barang-barang yang selalu dibawa ke kampung. Buku-buku, pakaian ganti, barang-barang kebutuhan Max (dari ballpoint sampai rokok beserta koreknya), memeriksa apakah baterai-baterai telah terisi penuh, banyak baterai, seperti: baterai handphone agar bisa online dan bercanda ria atau upload foto di jejaring sosial, baterai camera agar segala peristiwa yang menarik perhatianku bisa didokumentasikan dengan baik atau juga mengatasi kebosanan ketika harus menunggui Max di kebun, baterai iPod agar bisa mendengarkan music yang aku suka sambil membaca buku atau sekedar memejamkan mata sambil membiarkan banyak hal melintas-lintas dalam otakku, ya siapa tahu ada ide menarik yang lewat dan bisa kutuliskan, dan baterai lampu agar malam hai tak perlu menggunakan lampu minyak yang membuat paginya hidungku kehitaman karena jelaga, serta makanan kecil karena aku lebih suka ngemil daripada makan tiga kali sehari.

Setelah perjalanan yang selalu membuatku bersukaria, aku selalu lebih menyukai perjalanannya daripada tempat yang dituju, aku akan meminta Max untuk berhenti sejenak di salah satu kebun kami di kampung. Membuka bekal, biasanya biscuit dan guava juice, duduk di atas deker (sebutan untuk tanggul kecil pada saluran air) menikmati kesejukan angin pagi yang bertiup di persawahan, mengambil beberapa foto, baik foto pemandangan atau fotoku, dan berbincang aneka hal.

Makan pagi di atas deker sambil menatap pemandangan dan bergossip.

                Beberapa tetangga yang melintas akan menyapa kami dengan tertawa-tawa. Mereka selalu keheranan melihat kami duduk berdua di atas deker sambil makan dan minum serta berfoto di sana. “Macam orang pacaran saja.” Komentar mereka. Ya, apa bedanya menikah dan pacaran? Toh pasangannya tetap orang yang sama.

Acara tetap yang selalu ada dalam daftarku adalah berjemur sambil membaca buku, belusukan ke belakang rumah untuk memberi makan kambing, ngobrol bersama Mama mertua tentang berita mutakhir di lingkungan rumah, dan menikmati kabut yang selalu datang menjelang sore.

Tapi akhir minggu di kampung juga sering membuatku menemukan hal baru. Hal kecil-kecil yang  membuat setiap minggu berbeda dari waktu ke waktu, seperti acara-acara yang harus kami hadiri minggu ini karena termasuk kewajiban sosial; misalnya undangan dari Amang Kepala Desa, yang ternyata masih termasuk keluarga, untuk memperingati wafat Ibunda beliau beberapa minggu lalu, well di kampung semua warga bila dirunut adalah keluarga, beberapa undangan berkat nikah, dan acara naring lembak (ucapan terima kasih dari pihak lelaki pada pihak perempuan karena bersedia menerima anaknya sebagai menantu) dari tetangga sebelah rumah. Banyak percakapan, minum kopi, dan duduk bersama para ibu sambil mendengarkan cerita-cerita mereka, tentunya dengan perkecualian acara Amang Kepala Desa karena undangannya untuk menghadiri misa. Walaupun akhirnya juga banyak bercakap-cakap karena setelah acara misa kami tetap dijamu makan siang dan minum moke (tuak putih), aku dilewati dalam pembagiannya karena memang tak pernah tahan minuman beralkohol.

  Misa di rumah Amang Kepala Desa

 Amang Gaba Sang Kepala Desa (Kiri) dan Amang Heri (Kanan)

 Moke yang rasanya seperti air tape singkong

                Kebetulan Amang Kepala Desa tinggal dekat dengan Rumah Gendang (rumah adat) dan beliau mengusulkan untuk memotret para tokoh kampung di depan rumah adat kami. Max dengan santai memintaku memotret mereka. Aku tak menyadari sampai aku merundingkan pose mereka dengan Amang Kepala dan mengatur para tetua dan tokoh kampung itu, betapa Max menghargai kemampuanku dan mempersilahkan aku menunjukkan pada mereka bila aku memang lebih baik darinya. Sesuatu yang jarang ditunjukkan oleh seorang suami di daerah ini. Hal-hal kecil inilah yang membuatku mencintai Max lebih banyak dari hari ke hari.

 Salah satu rumah gendang yang ada di Desa Compang Dalo

  Para tetua dan tokoh masyarakat Desa Compang Dalo

 

  Berpose di atas natas

                 Sepulang dari acara itu, masih dengan bersepatu, Max mengajak ke kebun di Ajang. Max tidak pernah perduli apakah istrinya berdandan cantik atau belum mandi setelah bangun tidur, selalu saja acara menengok kebun yang ada dalam kepalanya setiap kaki sudah menginjakkan kaki di kampung. Maka dengan sol sepatu yang menjadi tinggi beberapa senti karena lumpur aku menyusuri jalanan berbatu. Max ke kebun memeriksa bedengan jahe yang baru beberapa hari ditanam, sementara aku memotret gunung yang tampak dari kebun kami, juga beberapa detail kecil yang menarik perhatian. Bunga kopi, kebun tetangga, jembatan kayu dengan air jernih di bawahnya, atau bunga gamal yang indah sekali warnanya.

 Bunga Kopi

  Bunga Gamal

 Bulir padi di sawah

  Jembatan kayu dengan gemercik air

  Pemandangan Poco (Gunung) Likang

                Di tengah jalan salah satu paman Mama mertua datang untuk memamerkan pohon jeruknya yang sedang berbuah lebat. Ema tu’a Frans Dasot berjanji akan mengirimkan beberapa ke rumah bila jeruk-jeruk itu telah cukup matang. Dia agak kecewa saat aku menolak untuk minum kopi di rumahnya. Kemampuanku minum kopi Manggarai hanya secangkir sehari, lebih dari itu bisa tepar karena maag kumat. Kopi di sini disajikan asli tanpa campuran dan sangat pekat. Lambungku tak kuat mencernanya.

                Sesampai di rumah hujan turun bagai ditumpahkan dari langit. Aku duduk di ruang tamu memandangi daun-daun yang basah, batu-batu hitam mengkilap, riak-riak air di cucuran atap, dan garis-garis putih membelah hitamnya langit. Ya, petir cukup banyak melintasi langit saat hujan di daerah ini.

                Ditemani secangkir teh rosella hangat, ubi goreng, dan lagu-lagu manis dari iPod yang terpasang di telinga, sungguh menjadikannya akhir minggu yang sempurna.

 Saung Daeng (Daun Ubi) sayur kegemaran masyarakat Manggarai

 Derai hujan di teritisan rumah

 

 

56 Comments to "Akhir Minggu di Kampung"

  1. SU  30 November, 2011 at 19:44

    Pemandangan seperti ini indah niah. Untuk berlibur boleh, untuk tinggal….aduh rasanya sekarang sdh susah buat saya. Kalau mau ke toko buku jauh ga? Apalagi buat suami……..

  2. Anastasia Yuliantari  25 November, 2011 at 19:07

    Nev, dulu di Manggarai hanya dikenal padi ladang, tapi sejak tahun 1960-an mulai diperkenalkan padi biasa dan mulai dibuka areal sawah secara besar2an.

  3. nevergiveupyo  25 November, 2011 at 10:33

    yo tetep kudu bersyukur nek masalah itu mbak…
    ada sih di pulau Ibu (Nusa ina) persawahan.. dan nggak cuma orang jawa yang bersawah.. orang maluku juga mulai mau dan bisa bersawah loh….

    gunanya Thailand? aku tau mbak : sebagai negara tempat kita ngimpor motor dan mobil dan segala onderdilnya

  4. Anastasia Yuliantari  25 November, 2011 at 10:29

    Nev…ning rak panganan lancar meski ga ada sawah….hehhehe. Apa gunanya Thailand bagi Indonesia?

  5. nevergiveupyo  25 November, 2011 at 10:26

    saya senang makan..dan senang ngemil….

    sayangnya di pulau ambon ndak ada sawah sih….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.