Aku Menginginkan Kehadiran Anak

Dewi Aichi – Brazil

 

Julia mulai sering bertengkar di kantor. Danch suami Julia, tidak sepakat dengan keinginan Julia untuk memiliki anak. Pasangan suami istri ini sudah lebih dari 25 tahun hidup bersama, sebelum dan sesudah menikah. Pasangan yang mempunyai karier cemerlang, kehidupan yang mapan sebagai perancang mode. Dan saling menyayangi.

Pertengkaran diawali dengan keinginan Julia memiliki anak tepat di usia Julia yang ke 40. Penampilan Julia sangat anggun, cantik sekali menurutku. Tidak seperti wanita berusia 40 tahun. Sangat ramah kepada staf kantornya. Begitupun Danch suaminya, seorang pimpinan perusahaan yang yang sangat baik.

Julia sudah divonis dokter tidak bisa hamil karena saluran telur (tuba) tersumbat, gangguan ovulasi. Di tambah lagi suaminya yang dinyatakan terdapat antibody anti sperma. Lengkap sudah kesulitan mereka untuk mendapatkan anak. Sebelumnya Julia tidak pernah merisaukan hal ini. Keinginan itu tiba-tiba menggebu di usianya yang semakin tua.

Diam-diam Julia melakukan konsultasi ke klinik yang dokternya adalah teman Julia sendiri. Dokter ini seorang wanita, specialis bayi tabung. Dokter menjelaskan kepada Julia bahwa, kemungkinan sangat kecil untuk mendapatkan anak dari sel telur dan sperma suaminya. Kemudian dicarikan pilihan lain untuk Julia, yaitu sperma dan ovum diambil dari laki-laki lain dan wanita lain, lalu dimasukkan ke rahim Julia. Julia menyetujui saran dokternya.

Niat tersebut dibicarakan kepada suaminya, tetapi Julia tidak menyangka bahwa hal tersebut membuat suaminya marah besar dan tidak menyetujui keinginan istrinya. Dari situlah pertengkaran-pertengkaran sering terjadi. Hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Dengan berat hati, Julia memilih untuk memisahkan diri sementara dari suaminya. Julia tinggal di rumahnya sendiri, sedang Danch suaminya tinggal di apartement milik mereka.

Alasan Danch tidak menyetujui adalah, karena di perut istrinya akan tumbuh seorang bayi, yang entah benih dari siapa. Danch mengatakan, bagaikan mengandung makhluk aneh, alien atau bahkan monster. Itu yang membuat Julia sangat sedih . Memang klinik temannya itu membuat peraturan untuk merahasiakan pendonor, jadi Julia tidak bisa mengetahui siapa yang bersedia mendonorkan. Dan pendonor juga dilarang memberitahukan identitasnya, tetapi dari pemeriksaan medis dan prosedurnya, tentu saja sangat dijamin kualitasnya, riwayat kesehatannya.

Sebuah rumah tangga memang terasa kurang sempurna tanpa kehadiran anak. Namun sayangnya, tidak semua pasangan mampu memiliki keturunan dengan berbagai masalah. Ada beberapa faktor yang membuat pasangan tidak bisa memiliki keturunan. Baik itu dari pihak suami maupun istri. Dalam kasus ini bahkan dari keduanya mengalami masalah.

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

83 Comments to "Aku Menginginkan Kehadiran Anak"

  1. Dewi Aichi  28 November, 2011 at 02:32

    Bu Nunuk…wah ceritanya tragis ya..menyedihkan..walau ada kisah nyata yang tayang di tv Indonesia, kalau ngga salah tahun 2009 pas saya di Indonesia, sepasang suami istri dari Belanda, mengadopsi anak yang ditinggalkan begitu saja di rumah sakit PMI Bogor, setelah anak adopsi sukses menjadi dokter, kedua orang tua angkatnya yang warga Belanda itu menceritakan asal-usulnya, kemudian si anak ke Indonesia mencari bu kandungnya, dan menemukan, si anak memeluk ibunya, menangis, dan berterima kasih, karena mengetahui bahwa si ibu meninggalkan anaknya bukan bermaksud membuangnya, tetapi sebaliknya, agar hdiupnya lebih baik, karena si ibu hanya seorang buruh kasar, yang suaminya meninggal, sehingga tak mampu memberikan nafkah kepada anak-anaknya, si kakak2nya juga hidup serba kekurangan, hanya yang diadopsi oleh warga Belanda itu yang hidupnya baik dan berpendidikan tinggi.

  2. Dewi Aichi  28 November, 2011 at 02:26

    Lani….udah tak baca kok….mau dibalas ngga? nanti aja ya kalau ada berita baru he he he….berita darimu lagi tentunya..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *