Pak Bachtiar

Adhe Nita

 

Bangunan tua itu tak layak disebut sekolah, warnanya pudar dan usang. Jendelanya pun tak berkaca lagi, akan tetapi itulah sekolah kebanggaan desa Mulya Sekar karena sekolah ini adalah SMP satu-satunya di sana.

Di sana hanya ada 10 ruang belajar sehingga di bagi menjadi dua shift ada sekolah pagi dan sekolah siang, lapangan di sana juga multi fungsi karena semua kegiatan lapangan pasti ada di sana dari setiap senin upacara bendera, jum`at siang ekstra kulikuler kelas 1 & 2. Semuanya berjalan seperti sekolah maju pada umunya, walau pun sekolah ini jauh dari kota ya kasarnya sekolah ini ada di pelosok desa.

Bantuan dari pemerintah tak kunjung mengalir hanya janji-janji saja, karenanya sekolah ini semakin lama semakin rapuh termakan usia, mungkin hanya menunggu runtuhnya saja. Andai saja ada dermawan yang mau menyumbang untuk sekolah ini, kalau berharap dari orang tua siswa itu tak mungkin karena mayoritas hidup pas-pasan dengan mata pencaharian sebagai petani, celetuk Pak Bachtiar saat di ruang guru.

Pak Bachtiar adalah guru matematika yang sudah renta usianya, tetapi beliau masih mengabdi disekolah tersebut, beliau mengajar di sekolah tersebut sudah kurang lebih 25 tahun. Sejarah sekolah ini pun sedikitnya pasti beliau tahu.

Pak Bachtiar guru yang sabar namun berwibawa dalam mengajar siswanya di kelas walau usia beliau renta tak menjadi penghalang kapur-kapur itu menghiasi papan tulis yang sudah lapuk, kelas pun selalu bernada serta berdecit “kreot. . . krekek. . . ” ya bangku dan meja di kelas sudah sangat tua tak pernah lagi diganti setelah 7 tahun terakhir lalu diganti, akan tetapi anak-anak belajar dengan serius, semangat belajar mereka sangat tinggi dibandingkan dengan semangat belajar anak-anak di kota yang mementingkan penampilan bukan apa yang akan mereka peroleh dari pembelajaran di kelas.

Hari ini, jam menunjukkan pukul 12. 30 wib matahari sedang tepat di atas kepala panasnya amat sangat menyengat bagai api yang membakar, dengan suaranya yang parau dan tangan yang bergetar Pak Bachtiar tetap mengajar dengan sangat santai tapi serius, safari yang dipakainya pun sangat sederhana dan warnanya sudah pudar (mladus), beliau menulis materi yang disampaikan di papan tulis menjelaskan langkah demi langkah . . . kapur itu menari di atas panggung (papan tulis), saat selesai menjelaskan anak-anak pun mengerjakan soal-soal latihan, Pak Bachtiar mengabsen siswanya satu demi satu suara parau itu kembali terdengar memanggil nama siswanya dan menulisnya kehadiran itu di dalam buku absen yang selalu dia bawa bersanding dengan buku daftar nilai di dalam tasnya. Beliau terus mengabsen:

Pak Bachtiar: (absen no. 10) Ani?

Ani: Hadir pa!

Pak Bachtiar: Roni?

Roni: Hadir pa!

Pak Bachtiar: (absen no. 40) Yani?

Sinta: Sakit pa! (sinta adalah teman sebangku Yani).

Waktu berlalu tak terasa jam pelajaran pun berakhir dengan ditandainya lonceng dari besi bekas yang dipukul dengan batu berbunyi sebanyak 3x pertanda jam pulang sekolah tiba. Pak Bachtiar memasukkan buku, buku absen dan daftar nilai ke dalam tasnya. Anak-anak pun bersiap dan Roni sang ketua kelas memimpin berdoa.

Roni: Bersiap, mari teman-teman sebelum pulang kita berdoa menurut agamanya masing-masing, berdoa mulai.

Roni: Berdoa selesai. . .

Roni: Beri salam. . . .

Anak-anak: Assalamuallaikum wr. wb

Pak Bachtiar: Waalaikumsallam wr. wb

Anak-anak pun pulang dengan rapi dan bersalaman pada Pak Bachtiar dengan mencium tangannya.

Setelah siswanya pulang Pak Bachtiar menuju ke parkiran untuk mengambil motor bebek jaman dahulu yang berwarna merah, sekitar 20 menit pa Bahtiar sudah berada di rumah disambut oleh senyum dan salam dari anak dan istri lelah pun takkan terasa bila keluarga menyambutnya dengan hangat, istri dan anaknya membiarkan Pak Bachtiar beristirahat.

Jam di rumah menunjukkan pukul 16. 00wib, Pak Bachtiar sekeluarga melaksanakan sholat ashar berjamaah inilah ciri khas keluarga Pak Bachtiar. Setelah selesai sholat Pak Bachtiar mandi dan setelah rapi beliau duduk di teras rumah untuk menikmati udara sore hari yang sejuk ditemani secangkir teh manis buatan istri tercinta kegiatan ini adalah rutin di sore hari sembari menunggu untuk sholat magrib dan isya tiba.

Setelah ba`da isya Pak Bachtiar menyiapkan bahan ajar untuk esok pagi di sekolah meja ruang tamu adalah meja kerja baginya, pukul 23. 00 wib rumah itu telah sepi tirai tertutup rapi lampu dipadamkan kecuali lampu bagian depan rumah, pintu dan jendela terkunci rapat semua penghuninya telah terbuai dalam mimpi.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Adhe Nita…make yourself at home. Ditunggu tulisan-tulisan yang lainnya ya. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang mengenalkan Baltyra kepada Adhe Nita…

 

 

29 Comments to "Pak Bachtiar"

  1. Handoko Widagdo  24 November, 2011 at 12:10

    Kesejahteraan diperbaiki terus sistemnya ditingkatkan. Dengan demikian maka prestasi akan meningkat.

  2. NEGRO  24 November, 2011 at 11:50

    Pak Han, Mentalnya dulu atau kesejahteraannya dulu yg harus diperbaiki.

    Pemerintah sudah memperbaiki banyak kesejateraan dari APARAT sampai PNS faktanya tdk signifikan efeknya kalo tdk boleh dibilang NOL.

    Nanti kan naik lagi kesejahteraan PNS dan Aparat kalo mau PILPRES

    PEMErasan maRINg tiTAH …injek aja terus rakyak dgn TAX …TAX ..and …TAX

  3. Handoko Widagdo  24 November, 2011 at 11:43

    Ini dia potret Pak Bachtiar yang sesungguhnya:

    http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/24/09561786/Rasio.Jumlah.Guru.Indonesia.Termewah.di.Dunia.tapi.

  4. Meitasari S  24 November, 2011 at 09:26

    mb dew : wis to meneng o. Tak tebar pesona sik to. Wkwkwk.

  5. Dewi Aichi  24 November, 2011 at 08:20

    Nur….meita….iyo padunya kok ndadak kakehan pertingsing(kebanyakan alesan ) wkwkw..

  6. Meitasari S  24 November, 2011 at 08:17

    Wow komen2nya luar biasa dan btul smua. Ha ha ha. Makanya saya merasa tak pantas jadi guru, tak siap dg admnstrs yg sngt ribet. Jg blm siap dg pndptn yg jauhhh dr harapan smntr tuntutan mjd manusia setengah malaikat membuat ht ini melarikan diri dr panggilan mulia. Ha ha ha. Padune wae! Wkwkwk

  7. Dewi Aichi  24 November, 2011 at 07:47

    Pak Handoko, begitu ya, bagaimana praktek lapangannya saya memang tak tau, itu saya sekedar baca berita Jawa pos, termasuk berita tentang Jokowi yang menolak móbil dinas baru, terkait dengan RAPBD solo 2012 yang mengalokasikan dana sebesar 5 M untuk kendaraan dinas.

  8. Handoko Widagdo  24 November, 2011 at 07:39

    Mbak Dewi, tunjangan profesi guru tidak mungkin distop. Sebab ini adalah langkah pertama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. RI memilih untuk memulai dengan peningkatan kesejahteraan, baru kemudian berefek pada mutu.

  9. Dewi Aichi  24 November, 2011 at 07:37

    Tunjangan Profesi Pendidik distop, kemendikbud ultimatun guru nakal sertifikasi-Jawa Pos…

    Nita….selamat datang…salam hangat salam senyum manis, kemana ya nih Nita….!??

  10. Lani  24 November, 2011 at 05:37

    PAM-PAM : klu ngidam makan sate ya beli to yoooooo…..kan ditempatmu banyak yg jual sate…….klu di Kona yo hrs bikin sendiri hikkkkkkkks

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.