Sebuah Pilihan Untukmu

Ayu Sundari Lestari

 

Bila guratan ini membuatmu meradang maka maafkanlah aku. Aku tak mampu lagi menahan perasaan yang sudah lama terpendam. Tak ada maksud untuk menggurui dirimu karena aku juga masih mengeja. Bukanya aku mau sok pintar atau sok tahu, apalagi sok menasihati. Tapi yang aku tahu ini menyimpang.

Meskipun ini terlalu naif untuk aku utarakan padamu. Tapi, harus tetap kuutarakan padamu. Aku tak ingin engkau menyimpang terlalu lama dari jalur yang semestinya. Satu hal yang harus diingat. Tempat ini bukanlah ajang fashion show, hair style apalagi ajang cari jodoh. Di sini tidaklah dunia entertaimant, kawan. Namun, bila itu inginmu kutak melarang. Tapi sesungguhnya engkau dalam keadaan yang rugi.

Pandangilah garis kerut senja pada wajah orang tuamu dan kulit yang legam terbakar matahari. Tidakkah engkau tergugah?  Mereka rela banting tulang demimu. Tak ada keluh yang terlontar. Hanya satu harapannya agar engkau memiliki masa depan yang lebih cerah daripada mereka. Jadi, apa engkau akan membuat harapan itu menjadi pupus. Jangan kawan, jangan kecewakan orang tuamu.

Benahilah  kembali niatmu. Tanyakan pada hati nurani yang terdalam. Untuk apa engkau datang ke sini? Apa yang kau kejar? Apa yang cari?

Aku yakin jauh di liang sukmamu pasti ada terselip sebuah mimpi. Hidup tak akan disebut kehidupan bila hidup tak memiliki mimpi. Sadarkah engkau, sebenarnya mimpi itu dekat. Bahkan, sangat dekat. Nah, sekarang semuanya tergantung pada dirimu apa mau berjuang atau tidak untuk meraihnya.

Aku tahu tak ada jalan pintas untuk meraih mimpi. Pasti akan banyak aral dan kerikil tajam di depan. Lihatlah, bagaimana proses pembuatan tembikar. Ia rela digiling, diinjak, dibentuk lalu dijemur. Setelah itu, ia dibakar. Sampai akhirnya ia menjadi tembikar yang indah dan mempunyai harga yang mahal. Padahal ia hanya berasal dari tanah liat. Lihat juga metamorfosis kupu-kupu. Yang semulanya hanya seekor ulat lalu berubah menjadi kepompong hingga menjadi kupu-kupu yang menawan. Jadi, proses itu mutlak diperlukan. Tidak ada kesuksesan yang instan kawan. Kuncinya kita harus sabar.

Aku juga tak mau jadi sosok munafik. Kadang kala aku pun tergiur pada kesenangan semu yang engkau jalani itu. Namun, diri ini tak mau kalah dari tembikar dan kupu-kupu. Aku akan berproses. Sekarang maukah engkau melangkah bersamaku?

Kini engkau pun mulai meragu. Kusarankan sebaiknya kembali tanyakan pada hatimu. Ingin terus tenggelam dalam kesemuan atau bangkit mengejar mimpi. Hidup ini terlalu berharga untuk diisi dengan bayang semu. Rangkailah mimpi menyosong masa depan yang lebih cerah. Jangan pernah takut bermimpi kawan karena  seperti tadi kuujar mimpi itu dekat. Bila engkau bertanya bagaimana caranya. Aku pun tak bisa memberi solusi sebab yang paling mengerti dirimu adalah dirimu sendiri.

Waduh, raut wajahmu berubah jadi bingung. Tenang kawan, merangkai mimpi itu mudah. Apalagi jika engkau telah berhasil pasti akan ketagihan. Bahkan, menjadi pecandu berat. Nah, bila dirimu telah bisa merangkai mimpi datanglah padaku agar kita melangkah bersama mewujudkannya.

Sebuah pilihan kini ada dihadapanmu. Engkau pun berada di tempat yang rumit. Aku yakin apapun pilihanmu pasti itulah yang terbaik. Namun, bila pilihan itu diambil berdasarkan hawa nafsu alhasil semuanya bisa berbuah penyesalan. Jadi. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan.

Bagaikan bom atom meledak dibenakku. Saat sepucuk undangan pernikahanmu mampir di tanganku. Aku tak menyangka ini pilihanmu. Seragam putih abu-abu berujung di pelaminan akibat engkau telah berbadan dua. Sungguh ironis memang ketika aku mendapatkan ijazah engkau justru memperoleh surat nikah plus calon buah hati. Dan maaf bila aku tak bisa melangkah bersamamu karena mimpi itu bukanlah mimpi yang ingin kuwujudkan sekarang.

 

 

9 Comments to "Sebuah Pilihan Untukmu"

  1. toni  9 March, 2014 at 19:02

    sippppppppppppp

  2. Kornelya  23 November, 2011 at 20:43

    Sekali memilih, jangan pernah menyesali diri, karena pilihan datang bersama sahabat setianya bernama resiko. Salam

  3. [email protected]  23 November, 2011 at 09:21

    Facebook?

  4. Lani  23 November, 2011 at 09:07

    AKI BUTO……….dia abis kejedug ama dingklikmu wakakak…….itulah hebatnya pengaruh dingklik!

  5. J C  23 November, 2011 at 09:07

    Alexa abis kejedug di mana ya, bisa komentar begini…

  6. Lani  23 November, 2011 at 09:07

    2 XA betooooool klu dihadapkan hrs memilih mmg sulittttttt……..sukaaaaaar……….tp mau tdk mau hrs memilih ya kan? gimana ini kok langsung mandeg japrinya?

  7. Linda Cheang  23 November, 2011 at 08:58

    yah, kalau dalam hidup tidak mau memilih, maka jangan hidup saja, lah.

  8. Lani  23 November, 2011 at 08:29

    satoeeee

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.